
"Aku terhura please!!!"
Selesai Membersihkan diri masing-masing. Kini Rania dan Revan sudah duduk di meja makan. Rania mengambilkan makanan untuk Revan layak nya seorang istri.
"Jadi tidak sabar untuk menjadikanmu istri, sayang."
"Apaan sih!" pipi Rania langsung merona.
Selesai sarapan, Revan mengantarkan Rania ke gedung WO yang berada di sebelah apartemen nya. Memang terkesan aneh, dekat saja pakai di antar. Begitulah orang kasmaran yang tidak ingin pisah dengan pujaannya. Suka Suka Revan lah!
Kini Revan sudah berada di apartemen nya dan mengecek laporan perusahaan dari Farhan melalui laptop yang sengaja di bawa nya.
Tak terasa waktu sudah sore, tandanya Revan sudah lama mengecek pekerjaan nya namun tak membuat nya terpisah dengan laptop kesayangan nya.
Tok…
Tok…
Tok…
Revan segera membukakan pintu hingga terlihatlah sosok yang dinantikan nya.
"Sayang!" Revan memeluk Rania erat.
"Bagaimana kerja nya hari ini, babe? kau terlihat sangat lelah!" bisik Revan masih memeluk Rania erat.
"Setidaknya biarkan aku masuk dan duduk dulu baru mengobrol."
Revan melepaskan pelukan nya dan menuntun Rania untuk duduk di sofa ruang santai dan menyalakan televisi. Rania mengganti Chanel TV nya dengan drama kesukaan nya.
"Itu apa yang ada di dalam kresek hitam?"
"Nih cemilan buat menemani kita nonton."
Revan membuka bungkusan itu dan memakan sesuatu di dalam nya. Kebetulan perut nya juga lapar tadi terlalu fokus dengan cinta pertama nya, laptop dan komputer.
"Hah! Hihang hoheng nya nanas tayang! hah hah!" Revan yang makan terburu-buru tanpa mengecek suhu makanan nya panas pun kelabakan, lidahnya terasa seperti terbakar.
"Hahahaha! kakak lucu banget sih!" Rania tergelak mendengar Revan yang tidak jelas dalam berucap.
Revan yang terbiasa jika sudah memakan sesuatu harus langsung dihabiskan pun tetap menghabiskan pisang goreng coklat keju nya.
"Hihang hoheng nya nak tayang api nanas!"
__ADS_1
"Please kak jangan ngomong dulu, nggak kuat lucu banget hahaha!"
Setelah selesai memakan satu pisang goreng, Revan kembali bicara.
"Pisang goreng nya enak tapi panas! astaga lidah ku serasa terbakar."
"Hihang hoheng nya nak? tentu saja dong kan buatan ibunda Ren."
"Kau sedang meledekku, Rania!"
"B-bukan gitu kak, aku--"
"Ehmmpptt…" Ucapan Rania melayang di udara saat Revan membungkam mulut nya dengan bibir tebal nya.
"Manis sayangku!" ujar Revan tersenyum tanpa dosa.
"Nyebelin!"
"Sayang! jadi kau akan tidur disini lagi kan?"
"Ya jelas … nggak lah. Aku dimarahi sama Ibu Ren karena berani tinggal satu atap dengan lawan jenis. Ibu Ren khawatir jika terjadi apa-apa dengan ku!"
"Sebentar… sebenarnya Ibu Ren itu siapa? bukankah ibu mu sudah meninggal? apa beliau kerabat mu?" ujar Revan bingung.
"Jadi gini…Ibu Ren itu nama asli nya Reni P, nggak tau P itu apa? beliau orang baik yang sudah nolongin aku selama di kota ini! bahkan kami merintis jasa WO bersama!" ujar Rania tersenyum.
"Sayang! Ibu Reni itu asli orang sini atau pindahan?" ujar Revan penasaran.
"Ibu Ren itu berasal dari kota yang sama dengan kita kak! kota J."
"Kakak tahu nggak, Ibu Ren itu punya masa lalu yang menyedihkan, aku juga sangat kasihan dengan nya!" ujar Rania.
"Kasihan gimana sayang!" ujar Revan semakin penasaran.
"Beliau bilang katanya Ibu Ren diusir dari rumah suaminya di saat putranya masih berusia lima tahun. Bahkan saat beberapa tahun belakangan Ibu Ren hendak mengunjungi putranya pun dihalangi oleh mantan suami nya itu. Alhasil Ibu Ren sampai sekarang belum pernah bertemu putra nya!" jelas Rania.
"Kalau boleh tahu berapa umur putranya Bu Reni itu?" ujar Revan.
Perasaan Revan semakin tidak enak. Revan menerka-nerka dalam hati.
"Tumben kakak kepo banget! biasanya cuek, nggak peduli terhadap sekitar."
"Umur putranya seumuran kakak, 28 tahun!" ujar Rania santai.
__ADS_1
"Mungkinkah Ibu Reni yang Rania maksud itu Mama! jadi Mama selama ini mencari ku!" batin Revan.
"Kenapa muka kakak tegang gitu?" tanya Rania heran.
"Tidak apa-apa! memangnya muka ku tegang kenapa?" ujar Revan berusaha bersikap biasa.
Rania menggeleng. "Kayak tegang aja keliatan nya! apa lidahnya masih kepanasan habis makan pisang goreng?" Rania terkekeh.
"Bukan hanya kepanasan saja, lidahku bahkan sudah keriting rasanya, sayang!" Revan kesal Rania terus meledeknya.
"Ouh! kasihan banget sih!" Rania tertawa melihat Revan merajuk.
"Ketawa aja terus!" sindir Revan bersedekap dada.
"Habis kak Revan lucu sih!" Rania gemas dengan Revan.
"Lucu darimana nya? orang aku tampan, keren, berkarisma, berwibawa, seksi dan misterius begini di bilang lucu!" Revan tak habis pikir dengan kekasihnya yang mengatakan diri nya lucu. 'What? gak salah? yang bilang Revan lucu harus periksa mata deh kayaknya! orang dia serem and misterius gitu.'
"Walaupun kakak bilang kalau kakak serem dan bahkan nyamuk pun takut dengan kakak, tapi menurutku kak Revan tuh lucu kalau lagi ngambek kayak tadi!" ucap Rania dengan tangan usil nya yang mencubit pipi Revan dengan gemas.
"Benarkah? terimakasih sudah membuatku terhibur!" Revan merasa suasana hatinya menjadi lebih baik dengan keberadaan Rania di dekatnya.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, tanya aja!" Rania menjawab sembari memakan pisang goreng nya.
"Apa menurut mu Mama masih menyayangi ku?"
"Pertanyaan macam apa itu? semua orang tua pasti menyayangi anaknya apalagi seorang Ibu!" jawab Rania santai.
"Tapi kenapa Mama tak kunjung menemui ku juga. Mama bilang akan menemui ku saat usia ku 25 tahun. Tapi sekarang apa? usiaku bahkan sudah 28."
"Mungkinkah Mama sudah melupakan ku? seperti nya begitu! apa sih yang mereka harapkan dariku? tidak ada! aku hanya anak buangan!"
"Mama meninggalkan ku dan papa tidak menganggap keberadaan ku!" Setelah mengatakan itu entah mengapa perasaannya semakin yakin jika Ibu Ren adalah Mama nya.
"Kakak bicara apa sih? jangan ngelantur deh! percaya padaku jika Mama nya kak Revan tuh sangat menyayangi kak Revan. Mungkin saja beliau ada alasan tersendiri yang membuatnya belum bisa menemui kakak."
"Aku yakin Mama nya kak Revan sangat bangga dengan pencapaian kak Revan. Menjadi CEO perusahaan ternama di usia muda tanpa bantuan keluarga." Rania berusaha meyakinkan Revan. Rania tidak ingin Revan kembali tertekan dengan beban pikiran nya dan membuatnya kembali drop.
"Kenapa kehidupan ku sangat rumit ya? bahkan banyak sekali kejanggalan dalam keluarga."
"Nikmati saja hidup ini kak. Rileks, tenang, jalani hidupmu apa adanya. Jangan terlalu memforsir pikiran."
__ADS_1
"Baiklah sayang ku, aku sudah seperti berada di psikiater saja!" Revan terkekeh.
"Ganteng banget sih kalau mulai senyum walau senyum kecil. Mungkin ini alasan kenapa kak Revan jarang senyum karena senyum nya mampu membuat gula, permen, coklat, madu, semut dan lebah malu melihatnya!"