
"Tentu saja! apapun akan saya berikan untuk mu, by!" ujar Revan dengan santai nya.
"Ih kak, nyebelin banget sih bercanda terus!!!" ujar Rania cemberut
"Aku serius by!"
"Aku akan selalu membuat mu bahagia by! bagaimanapun cara nya, aku akan berusaha membahagiakan mu!" ujar Revan penuh keyakinan
Rania terdiam mendengar ucapan Revan yang penuh keyakinan akan membuat nya bahagia.
"Aku harus berusaha membuka hati ku untuk kak Revan, bagaimanapun cara nya! dia sudah menyayangi ku dengan tulus." batin Rania
Rania berinisiatif memeluk Revan, dan hal itu tentu saja membuat Revan terkejut namun hati nya langsung menghangat dan membalas pelukan Rania.
"Ayo sekarang kita dinner dulu!" ujar Revan
"Iya kak!" ujar Rania patuh
Revan mengajak Rania ke meja makan yang sudah dihias sedemikian rupa, Revan menarik kursi untuk di duduki Rania.
"Silahkan duduk tuan putri!" ujar Revan yang tanpa sadar mengulas senyuman tipis.
"Ih!!! apaan sih kak!" ujar Rania langsung terdiam memandangi wajah tampan Revan lekat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, by?" ujar Revan gugup saat Rania menatap nya dengan intens.
Rania tersenyum dan malah berjalan mendekati Revan.
"Kakak nggak sadar apa?" tanya Rania
"Tidak sadar kenapa? tentu saja aku masih sadar, by!" ujar Revan bingung
"Kata siapa kakak sadar? kakak itu nggak sadar kalo kakak sekarang udah bisa senyum lagi walaupun masih sangat tipis senyum nya." ujar Rania mendongakkan kepala nya menatap Revan lekat, entah itu karena Rania yang terlalu mungil atau Revan yang terlalu tinggi.
"Benarkah? saya tadi tersenyum! kau pasti sedang berhalusinasi by, mana mungkin saya tersenyum!" ujar Revan
"Aku nggak bercanda kak!" ujar Rania
"Tapi saya memang sudah lama tidak tersenyum jadi itu sangat mustahil." ujar Revan tidak percaya.
"Kalau begitu aku akan membuktikan jika kakak masih bisa tersenyum!" ujar Rania dengan senyum nya yang manis.
"Baiklah! jika kau bisa membuktikan nya maka aku akan memberikan yang kau inginkan. Namun jika sebaliknya kau harus menuruti apa yang aku inginkan." ujar Revan
"Baik!" ujar Rania menuruti perkataan Revan
"Aku yakin kak Revan masih bisa tersenyum, tapi kesepian nya membuat hati nya membeku dan menjadi sosok yang kejam." batin Rania
__ADS_1
"Semoga aku bisa merubah sikap nya." batin Rania
"Sudah by jangan mikirin senyuman ku terus sekarang duduk dan makan!" ujar Revan dengan tegas
"Iya kak!" ujar Rania langsung kembali ke tempat nya untuk duduk.
Mereka berdua pun makan dalam kesunyian hanya suara sendok garpu yang saling beradu.
Setelah selesai makan, Revan dan Rania kembali ke apartemen. Karena terlalu kelelahan, Rania tertidur di pelukan Revan. Sungguh posisi Rania seperti anak kecil yang mengantuk dan tertidur di pangkuan ibu nya.
"Kau sangat menggemaskan, by!" ujar Revan mengecup pipi Rania.
"Tidak ku sangka jika aku bakalan jatuh cinta dengan gadis cerewet dan menyebalkan seperti nya, bahkan dulu aku selalu bertengkar dengan nya!" lirih Revan membayangkan dirinya dan Rania yang seperti Tom and Jerry jika bertemu.
Revan mengeratkan pelukannya sembari mengusap puncak kepala Rania.
Sesampainya di apartemen Revan menggendong Rania menuju kamar nya membaringkan Rania di atas tempat tidur dengan lembut dan hati-hati.
"Good night my girl, i love you!" bisik Revan sembari mengecup kening Rania.
Setelah itu Revan keluar dari kamar Rania menuju kamar nya.
Namun langkah nya terhenti saat mendengar suara gadis nya yang sedang mengigau.
"Jangan pergi!"
Revan langsung berbalik dan berlutut duduk di lantai sembari memandangi wajah gadis nya yang nampak gelisah dengan kening mengkerut walau mata nya tertutup.
"Ibu…jangan tinggalin Rania sendiri, Rania takut. Ibu dimana Rania sendiri, jangan tinggalin Rania Bu!"
"Rania takut Bu! ibu di mana? Rania sendirian! ayah juga pergi!"
Rania terus mengigau memanggil ibu nya dengan keringat yang membasahi kening nya.
Revan yang panik langsung memeluk Rania dengan erat. Revan terkejut saat mendapati suhu tubuh Rania yang sangat panas.
"Astaga! ternyata dia demam!" ujar Revan dengan wajah khawatir.
Revan langsung keluar dan berteriak memanggil Bi Ijah.
"Bi! Bi Ijah!" teriak Revan dengan wajah panik.
"Iya tuan, ada apa ya?" sahut Bi Ijah dengan langkah tergesa-gesa.
"Tolong siapkan air dingin dengan sapu tangan terus bawa ke kamar Rania." ujar Revan
"Baik tuan!" ujar Bi Ijah langsung pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu yang di butuhkan tuan nya.
__ADS_1
"Sabar by, tenanglah! kau tidak sendiri!" ujar Revan memeluk Rania berusaha menenangkan gadis nya.
"Ini tuan, air dan sapu tangan nya!" ujar Bi Ijah
"Astaga! apa yang terjadi dengan non Rania?" ujar Bi Ijah terkejut.
"Rania sakit Bi!" ujar Revan mengambil sapu tangan dan membasahi nya dengan air dan menempel kan nya pada dahi gadis nya.
"Permisi tuan, Bibi mau buatin obat tradisional buat non Rania." ujar Bi Ijah
"Iya Bi." ujar Revan
"By, kau tidak sendiri! aku akan selalu menemani mu!" ujar Revan
"Jangan pergi Bu! Ibu jangan pergi meninggalkan Rania sendiri! Rania takut Bu!"
"Kenapa dia terus mengigau? padahal tadi saat aku mengungkapkan perasaan ku dia tersenyum bahagia, apa yang terjadi?" ujar Revan
Ting…Ting…Ting…
Handphone Rania berbunyi Revan yang mendengar nya langsung mencari nya.
Setelah ketemu, Revan membuka nya dan membaca pesan yang dikirim oleh Lili.
Alangkah terkejutnya dan panik nya saat membaca pesan yang berbunyi.
'Permisi pak Revan, saya tau pasti anda akan merawat sahabat ku yang sedang sakit dan pasti anda akan membaca pesan saya walau saya mengirim nya lewat handphone Rania.'
'Sebelumnya saya meminta maaf karena kelupaan baru mengabari nya, mungkin anda khawatir mengetahui Rania yang demam secara tiba-tiba, tapi itu memang wajar dia alami pada tanggal dimana Ibu nya meninggalkan nya untuk selamanya.'
'Saya harap anda bisa menemani nya dan merawat nya.'
"Jadi Rania sakit dikarenakan faktor trauma saat ditinggalkan orang yang sangat di sayangi nya." ujar Revan.
"Baik! aku akan menemani nya semalaman!" ujar Revan
Rania terus saja mengigau dan Revan dengan setia memeluknya dengan erat.
"Permisi tuan, ini Bibi sudah buatkan teh jahe untuk non Rania." ujar Bi Ijah di ambang pintu.
"Masuk saja Bi!" ujar Revan
"Tuan, bisa tolong bantu Bibi agar non Rania duduk!" ujar Bi Ijah.
Revan pun mendudukkan Rania dengan posisi masih memeluk nya erat.
Bi Ijah pun dengan telaten meminumkan teh jahe kepada Rania.
__ADS_1
Setelah itu, Bi Ijah kembali ke dapur.
"Malang sekali nasib mu by!" lirih Revan