
"Hey sayang! kenapa menangis, hm?" tanya Revan.
"Nggak papa kak!" ujar Rania segera menghapus air matanya.
"Sudah ya, jangan sedih lagi!" ujar Revan.
"Iya kak." ujar Rania berusaha tersenyum.
"Bagaimana jika kita jalan-jalan?" ujar Revan.
"Tapi kakak masih sakit. Aku tidak ingin jika kakak sakit." ujar Rania.
"Tapi aku ingin tetap sakit biar dimanja oleh mu!" ujar Revan.
"Jangan bilang gitu kak!" ujar Rania.
"Tapi aku ingin terus dimanja oleh mu!" rengek Revan layak nya anak kecil yang minta dibelikan mainan.
"Kenapa kakak jadi manja gini sih?" ujar Rania menatap Revan bingung.
"Pengin merasakan rasa nya di sayangi, kau tau kan sejak mama pergi aku sudah tidak mendapatkan kasih sayang lagi! bisa dibilang aku ini haus akan kasih sayang!" ujar Revan.
Hati Rania merasa sakit mendengar ucapan Revan. Dirinya merasa lebih beruntung sebab lebih lama mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya.
"Ya sudah mulai sekarang kakak tidak perlu jaga image lagi jika bersama dengan ku. Kakak boleh bersikap manja dan kakak boleh bersikap terbuka dengan ku, aku siap menjadi pendengar atas cerita kakak!" ujar Rania tersenyum manis.
"Terimakasih Rania! aku merasa beruntung mendapatkan hati mu! aku usahakan setelah urusan ku selesai kita menikah!" ujar Revan memeluk Rania erat.
"Menikah?!"
"Iya menikah! aku juga ingin memiliki mu seutuhnya, aku tidak ingin ada orang lain yang mengambil mu dari hidup ku!" ujar Revan.
"T-tapi kak…"
"Tidak ada tapi-tapi!" ujar Revan memotong perkataan Rania
"Kalau orang tua kakak tidak merestui hubungan kita bagaimana?" ujar Rania.
"Yang terpenting kan restu orang tua mu, by! apalagi kau masih memiliki wali nikah jadi restu kedua orang tua mu itu jauh lebih penting." ujar Revan.
"Tapi aku takut ayah tidak merestui hubungan kita kak!" ujar Rania.
"Percaya sama kakak, ayah mu pasti merestui hubungan kita. Siapa sih yang bisa menolak pesona Revan Pratama yang tiada tanding ini?" ujar Revan dengan percaya diri nya.
"Masa sih?"
"Kau tidak percaya?"
"I don't believe!"
"Jahat kau Rania!"
"Biarin!" ujar Rania menjulurkan lidahnya.
"Mulai nakal ya!" ujar Revan gemas melihat Rania langsung menggelitik tubuh gadis nya.
Hahahaha…
Hahahaha…
"Geli kak, stop!"
__ADS_1
"Aku udah nggak kuat lagi!"
"Stop kak! lemes udah nggak kuat ketawa lagi."
Hahahaha…
"Panggil sayang dulu, baru mau berhenti!" ujar Revan.
"S-saya…"
"Syang…"
"Sayag…"
"Sayan…"
"S-sayang!"
Hah…hah…hah…
Nafas terengah-engah, begitu syulit memanggil sayang kepada Revan ditambah pria itu yang tak berhenti menggelitik nya.
"Memanggil sayang saja pakai typo segala, sesulit itukah by?" ujar Revan setelah selesai menggelitik Rania.
"Iya lah, nggak kayak kamu yang dengan mudah nya memanggil sayang!"
"Oh iya kak, aku mau nanya boleh nggak?" ujar Rania.
"Kamoe nanya?"
"Ih kak yang bener deh jangan bercanda terus!!!" ujar Rania kesal.
"Cantik saja tidak cukup! yang terpenting adalah kecantikan hatinya bukan kecantikan wajah nya, dan menurut ku kau jauh lebih cantik dari nya!"
"Menurutku kau gadis paling cantik dan paling baik yang pernah aku temui walaupun dulu kau sangat cerewet dan menyebalkan!" ujar Revan.
"Sebenarnya kamu lagi memuji ku atau menghina ku, kak?" ujar Rania menatap tajam Revan.
"Memuji mu lah! kalau tidak memuji mu nanti aku tidak bisa manja-manja dengan mu lagi!" ujar Revan.
"Hari ini kakak tidak boleh manja-manja dengan ku! sana kembali ke kamar kakak sendiri!" ujar Rania.
"Apa? kenapa kau mengusir ku, by? apa salahku?" tanya Revan terkejut dengan ucapan Rania.
"Kakak sudah menghina ku jadi sekarang kakak keluar dari sini!" ujar Rania.
"Aduh, salah lagi kan!!! sensitif amat sih Rania Aprilia kayak orang lagi PMS aja!!!" batin Revan.
"Sayang, jangan jahat seperti ini please! aku tidak akan menghina mu dan nakal lagi deh, jangan kayak gini!"
"Kalau sering marah nanti cepat tua loh, nanti cantik nya hilang, gimana?" ujar Revan.
"Hua…"
"Hua…"
"Eh, kenapa jadi nangis? aduh nih mulut tidak bisa diajak kerja sama. Disuruh memohon tapi malah tambah bikin nangis anak orang!" ujar Revan.
"Sayang, sudah ya jangan nangis…maafkan kakak ya, mulut kakak memang kadang rem nya suka blong. Kau tetap cantik kok bagaimana pun keadaan nya." ujar Revan berusaha menenangkan Rania dengan memeluk nya.
"Hua…"
__ADS_1
Bukanya tenang, tangisan Rania justru semakin keras. Hal itu membuat Revan kalang kabut.
"Kakak peri jangan nangis, nanti kami jadi ikutan nangis! bukankah kakak peri bilang kalau kita tuh nggak boleh cengeng kan, kalau nggak percaya tanya saja sama pak haji!" ujar Revan menirukan suara anak kecil di film kartun.
"Hiks…hiks…"
"K-kak!"
"Iya sayang! ada apa, hm? kenapa nangis?" ujar Revan.
"Perutku sakit, hua…"
"Kenapa bisa sakit? sebentar kakak telepon dokter dulu!" ujar Revan.
"Nggak perlu kak!"
"Nggak perlu bagaimana? kalau sakit nya tambah parah bagaimana?" ujar Revan cemas.
"Aku seperti nya kedatangan tamu bulanan deh kak! sakit banget perut nya!"
"Hah! maksud nya? dimana tamunya?" ujar Revan bingung.
"Astaga kak! maksud ku itu aku lagi datang bulan kayak nya kak!"
"Kamu didatangi sama bulan? jadi kamu punya teman lagi selain Lili?"
"Ya ampun kak!!! aku tuh sepertinya lagi PMS kak!" ujar Rania kesal.
"Oh PMS!" ujar Revan yang baru paham dengan maksud ucapan Rania.
"Iya kak, bisa tolong pergi belikan pembalut nggak?"
"Pembalut? mana yang luka?" ujar Revan syok.
"Pembalut untuk orang PMS loh maksud nya kak!" ujar Rania.
"Seperti apa bentuk pembalut itu, by?" ujar Revan.
"Nanti tanya aja di sana!"
"Sekarang pergi beli kak!" usir Rania.
"Iya sayang, aku cuci muka dulu!" ujar Revan.
"Ya udah cepetan!" ujar Rania.
"Iya sayangku, cantikku!" ujar Revan langsung keluar dari kamar Rania.
"Galak amat ya orang yang lagi PMS! serem deh!" ujar Revan.
Revan langsung masuk ke dalam kamarnya, mencuci muka dan gosok gigi. Revan tidak mandi karena takut Rania akan marah menunggunya kelamaan. Revan berganti pakaian dan langsung tancap gas menuju supermarket terdekat.
Saat memasuki supermarket, Revan menjadi pusat perhatian karena muka bantal nya yang justru menambah kadar ketampanan nya.
"OMG! ini beneran Revan Pratama? ganteng banget ya ampyun!!!" ujar salah satu pengunjung.
"Pagi-pagi dah liat yang ganteng, rejeki nomplok banget nih!" ujar pengunjung lain.
Para pengunjung supermarket langsung riuh saat melihat Revan memasuki supermarket sementara Revan berlalu melewati para pengunjung dengan wajah datar nya.
"Ada yang bisa dibantu, tuan?"
__ADS_1