
"Tapi aku tidak mau seperti itu! aku ingin makan siang bersama mu dan aku ingin memelukmu jika sedang rindu!"
Kini Revan menjadi manja jika bersama Rania, sungguh image kejam nya luntur seketika jika bersama gadis nya.
"Tapi kak, kan peluk nya bisa saat pulang saja!" cetus Rania
"Ups! m-maksud ku…nggak usah peluk-peluk!" ujar Rania
"No! i don't like it! jika kau ingin tetap bekerja maka kau harus menuruti ku!!!" ujar Revan yang tidak ingin jauh dari Rania apalagi di perusahaan nya banyak karyawan laki-laki yang masih lajang. Tentunya Revan tidak ingin gadis nya dilirik lelaki lain.
"Aku nggak mau ada lelaki lain yang melihat kecantikan mu dalam waktu lama!!!" ujar Revan
"Kak…"
"RANIA APRILIA!!! saya tidak menerima
bantahan darimu!!!" sentak Revan.
Hal itu membuat Rania terkejut dan langsung menundukkan kepala nya. Revan yang tersadar telah membentak gadis cukup keras menarik nafas nya dalam guna meredakan emosi nya.
"Aku sudah ngelunjak bersikap nya, pasti setelah ini aku dimarahin panjang lebar dan pasti dia nanti akan berubah menjadi bos kejam lagi!"
"Kenapa mataku jadi lembab sih?! please deh jangan nangis! air mata menyebalkan, datang di saat yang tidak tepat!!!" batin yang tanpa sadar refleks menitikkan air mata nya.
"By, jangan menangis!" ujar Revan langsung memeluk Rania erat. Namun, Rania semakin terisak di dalam pelukan Revan.
"Aku minta maaf ya… tadi aku khilaf by!" ujar Revan
Namun Rania masih menangis sesenggukan dan menyembunyikan wajah nya di dada bidangnya. Hal itu membuat Revan meraih wajah Rania dengan lembut agar bisa bertatapan dengan nya
"Apa kau tidak mau memaafkan saya?" tanya Revan menatap Rania intens.
Rania terdiam.
"Baiklah! tidak apa-apa jika kau masih marah kepada ku!"
"Aku akan tetap membujuk mu!" ujar Revan
Revan menghapus air mata Rania yang membasahi pipi nya.
"Sudah ya…jangan menangis lagi, nanti cantik nya hilang!" ujar Revan berusaha membujuk Rania.
"Iya kak! maaf mood ku lagi jelek makanya tiba-tiba nangis." ujar Rania.
"Kalau begitu saya lanjutin buat cake nya lagi!" ujar Revan menarik sudut bibir nya tipis mendengar bahwa gadis nya menangis karena badmood bukan karena diri nya membentak Rania.
Revan melanjutkan kegiatan nya yang sempat tertunda, sementara Rania duduk manis sembari menatap Revan dan tersenyum.
Satu jam kemudian, cake buatan Revan pun jadi dan sudah dihias sedemikian rupa oleh Revan.
__ADS_1
"Ini silahkan nona dicoba cake buatan chef Revan khusus untuk nona Rania!" ujar Revan membawa cake buatan nya untuk dimakan oleh Rania.
"Aku coba ya kak!" ujar Rania yang tidak sabar untuk memakan cake buatan bos kejam tercinta.
"Bagaimana rasanya?" ujar Revan saat Rania sudah menyuapkan cake buatan nya ke dalam mulutnya.
"Enak kak!" ujar Rania tersenyum manis.
"Benarkah?" ujar Revan tak percaya.
"Beneran. Kalau gak percaya, nih cobain." ujar Rania menyuapkan cake nya kepada Revan.
"Enak kan?" ujar Rania
Cup…
"Sangat enak dan manis!" ujar Revan setelah mengecup bibir Rania.
"Kak Revan!!!" teriak Rania
"Ada apa sayang?"
"Tidak usah teriak, kau bisik-bisik juga aku dengar!" ujar Revan terkekeh.
"Nyebelin!!!" ujar Rania dengan bibir mengerucut.
"Apa sih kak?! nggak lucu tau!!!" ujar Rania kesal.
Revan terkekeh. Perdebatan sengit pun terjadi, dan tanpa mereka sadari balok es di hati Revan yang membeku kini mulai mencair.
Hari-hari selanjutnya nya dilewati mereka dengan bersenang diiringi dengan sikap posesif Revan yang akut, seperti hari ini dimana Revan yang terus menatap Rania tajam saat meeting antar divisi dilakukan. Hal itu dikarenakan Rania duduk berdekatan dengan salah satu pegawai laki-laki nya.
"*Apa-apaan ini? gadisku berdekatan dengan pegawai sialan itu!!!"
"Heh! apa kau pikir bisa merebut gadisku?! tidak akan pernah bisa!!!"
"Dilihat dari manapun juga aku lebih unggul. Aku tampan, kaya raya dan yang jelas sudah menjadi kekasihnya Rania*."
Gumam Revan menatap tajam ke arah gadis nya seolah memberi ancaman.
"*Astaga!!! tatapan nya tajam bingits seolah mengacang kuliti aku."
"Eh, maksudnya menguliti. Kenapa jadi kacang kulit ya? kambuh lagi laper nya*."
Batin Rania yang merasa takut sekaligus gugup saat ditatap begitu tajam oleh Revan setajam pisau dua belas mata.( Dua belas mata gak tuh! canda dua belas mata 🤣)
"Kenapa mereka laporan nya sangat lama?!"
Batin Revan kesal sendiri karena pegawai nya sangat lama laporan bulanan nya. Padahal karena divisi nya banyak, Revan saja yang tidak sabar untuk mengakhiri meeting.
__ADS_1
Hingga kini tiba saatnya bagian divisi marketing yang laporan bulanan dan saat itu yang mewakili adalah Rania karena ketua divisi marketing sedang berhalangan hadir dan yang dipilih oleh Farhan untuk menggantikan nya adalah Rania.
Kini Rania sudah duduk di dekat Revan yang menatap nya tajam.
" Duh kak!!! please deh ngeliatin nya jangan *tajam-tajam deh natap nya,"
"Serem banget!!!"
batin Rania dan berusaha mengesampingkan rasa gugup nya dengan memulai laporan nya.
"Ini laporan bulan ini pak,"
"Pemasukan bulan ini meningkat dari bulan sebelum nya." ujar Rania
Revan menatap Rania lekat dan mendekat ke Rania sembari berbisik.
"Kenapa kau duduknya dekat-dekat dengan pegawai lelaki itu?!" bisik Revan kesal.
"Dekat juga nggak kok kak!" elak Rania karena memang dia tidak dekat dengan manager pemasaran yang memiliki nama Fendy.
"Saya melihat nya, by!"
"Kau mengobrol dan tersenyum kepada nya!" bisik Revan
"Dia atasan aku sebelum kakak, jadi wajar jika aku mengobrol dengan pak Fendy karena dia sama-sama dari bidang pemasaran." balas Rania.
"Tunggu saja hukuman dariku!!!" bisik Revan penuh ancaman membuat Rania menelan ludah dengan susah payah.
Setelah selesai meeting bulanan nya, Rania hendak kembali ke ruangan nya melihat semua pegawai lainnya sudah keluar dari ruangan meeting
"Siapa yang menyuruh mu kembali?!" suara bariton itu menghentikan langkah Rania.
"P-pak saya harus kembali, nanti saya bisa dimarahi sama pak Fendy!" ujar Rania setelah berbalik badan dan berhadapan dengan Revan.
"Dia tidak berhak memarahi mu tanpa seizin ku!" .
"Apa kau lupa jika saya CEO di perusahaan ini?!"
"Aku yang berhak menghukum mu!!!" ujar Revan penuh penekanan
"T-tapi kan aku nggak salah pak!!!" ujar Rania
"*Apakah kak Revan memiliki kepribadian ganda?"
"Mood nya sangat cepat berubah seperti orang yang sedang PMS aja*!"
Batin Rania, jujur dia takut dengan kemarahan Revan saat ini. Entah mengapa membuatnya sedikit takut.
Revan berjalan mendekati Rania, dan itu membuat Rania panik hingga dirinya langsung mundur.
__ADS_1