SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Kemiripan


__ADS_3

"Ganteng banget sih kalau mulai senyum walau senyum kecil. Mungkin ini alasan kenapa kak Revan jarang senyum karena senyum nya mampu membuat gula, permen, coklat, madu, semut dan lebah malu melihatnya!"


Tak lama kemudian, ponsel Revan berbunyi menandakan ada panggilan telepon.


📱 : Halo Han! ada apa?


📲 : Perusahaan XX tidak ingin meeting nya di wakili oleh ku, mereka ingin meeting bersama dengan Anda langsung. Saya minta Anda segera pulang hari ini juga karena besok Anda harus datang meeting dengan perusahaan XX.


📱 : Biarkan saja lah! perusahaan XX memang sangat keras kepala.


📲 : Jika kita membatalkan kerjasama dengan perusahaan XX maka saham perusahaan kita akan anjlok tuan. Perusahaan XX memiliki banyak koneksi.


📱 : Baiklah. Saya siap-siap dulu!


Tut…


Farhan memutuskan panggilan secara sepihak. 'Sopan sekali dia, oh tentu saja karena jika Revan macam-macam maka Farhan akan menyembunyikan Rania dari Revan.' cerdik sekali bukan…


"Sebenarnya siapa bosnya disini?" gerutu Revan.


"Ada apa kak?"


"Baby, sorry! Aku sangat sibuk sekarang, ada perusahaan yang meeting dengan perusahaan kami tapi mereka tidak mau diwakili oleh yang lain."


"Terpaksa aku harus kembali ke kota J!"


"Ya udah nggak papa kak."


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" usul Revan.


"Baiklah! Aku kembali ke tempat WO dulu buat minta izin ke Bu Ren!" ujar Rania menyetujui nya.


Revan pun menemani Rania kembali ke tempat WO nya. Kini Revan tampak duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.


Di dalam Ruangan, tampak dua manusia sedang mengobrol.


"Bu, Rania pamit pergi sama temen Rania ya?"


"Baiklah, tapi apa nak Dafa nggak cape seharian kerja dan sekarang mengajak mu pergi?" tanya Bu Reni bingung.


"Aku nggak pergi sama Dafa Bu!"


"Lah terus sama siapa?"


"S-sama temen lama ku yang ada di kota J!"


"Cowok atau cewek?" Ibu Reni memang sangat protektif dengan Rania.

__ADS_1


"Em…Cowok Bu!"


"Kenapa nggak dikenalkan dengan Ibu?"


"Soalnya temen Rania itu cuman sebentar disini, besok udah mau kembali lagi ke kota J."


"Ya udah, kamu hati-hati. Pulangnya jangan kemalaman! Kalau ada apa-apa hubungi Ibu!"


"Siap Bu Bos!"


"Rania pergi dulu Bu!" Rania pun menyalami Ibu Reni dan dibalas dengan Bu Reni yang mencium pipi nya.


Rania sudah keluar dari ruangan nya. Sedangkan Ibu Reni menatap pintu yang sudah tertutup rapat dengan cemas.


"Aku harus lihat teman nya Rania itu seperti apa! Setidaknya walaupun kita belum berkenalan tapi aku sudah tahu wajahnya seperti apa!" Ibu Reni pun keluar dari ruangan nya.


Ibu Reni melihat Rania dan sosok pria gagah dan tampan yang sedang mengobrol dengan nya.


"K-kenapa wajah pria itu terlihat tidak asing bagiku?" apa sebelumnya aku pernah melihatnya?" Ibu Reni pun hanya bisa menatap punggung Rania dan pria disebelahnya dengan pikiran yang melalang buana.


"K-kenapa wajah pria itu mirip dengan mas Danu? Apakah…" Ibu Reni menutup mulutnya dengan tangan. Tanpa sadar air mata nya keluar dengan derasnya.


"Mungkinkah…Mustahil itu terjadi!" Ibu Reni berusaha untuk mengelak dengan apa yang dilihatnya.


Pikiran nya kini berada di beberapa tahun yang lalu, disaat Ibu Reni terakhir kali bersama putranya.


"Mama mau kemana?" tanya Revan kecil dengan wajah polosnya.


"Revan mau ikut mama kerja! Revan nggak mau sama Papa!" rengek si kecil Revan seolah mengetahui kegundahan hati Mamanya.


"Revan nggak boleh ikut sayang, kalau Revan ikut nanti Mama kerjanya nggak fokus dong!" Mama Reni terus berusaha membujuk putra semata wayangnya.


"Kenapa mama harus kerja, apa uang dari papa masih kurang? Kenapa Mama nggak tunggu Revan gede? Revan janji bakal rajin kerja biar bisa. buat Mama bahagia!" ujar Revan dengan air mata yang sudah tumpah di pipi nya.


"Ya. Revan harus tepatin janji mu bila udah besar nanti ya. Revan harus bisa jadi orang yang sukses. Buat Papa mu bangga ya nak! Tapi Mama harus tetap pergi nak."


"Mama janji saat umurmu 25 tahun Mama akan datang menemui mu dan memberi mu hadiah sayang!"


"Revan jangan nakal ya, nurut apa yang dikatakan Papa mu, jaga diri baik-baik sayang. Mama pergi dulu!" ujar Mama Reni memeluk dan mencium wajah putra kesayangannya untuk terakhir kalinya.


Mama Reni pun pergi meninggalkan putra nya yang sangat dia sayangi.


"Mama!!!!!!!!!!!!"


"Mama!!!!!!!!!!!"


Revan berteriak memanggil Mamanya.

__ADS_1


"Mama janji akan menemui mu nak. Hidupmu akan jauh lebih baik bersama Papa mu daripada bersama Mama mu yang tidak berguna ini sayang!"


Ya. Ibu Reni teringat dengan putra kesayangannya itu....


"Revan sayang, kamu pasti sekarang sudah besar dan sukses nak. Mungkinkan kamu sudah menikah atau bahkan sudah punya anak! Mama doakan semoga kamu bahagia nak. Maafkan Mama mu yang sudah jahat meninggalkan mu ini. Mama sangat sayang dengan Revan!" ujar Ibu Reni sembari memegangi liontin kecil berbentuk hati yang di dalamnya terdapat fotonya bersama dengan putranya. Liontin itu selalu dibawanya kemana-mana meskipun tidak pernah dipakai nya.


Sementara di tempat lain tampak seorang pria tampan sedang memegangi dada nya yang mendadak merasa sesak.


"Kakak kenapa?" tanya Rania.


"Tidak apa-apa. Kakak hanya sedikit merasa sesak saja."


"Sesak bagaimana? Ayo kita ke rumah sakit periksa." tanya Rania cemas.


"No! Aku tak apa! Aku hanya merasakan sesuatu yang aneh, entah apa itu!"


"Ya udah kita makan malam dulu aja!"


Rania pun mengajak Revan untuk makan malam di cafe dekat taman.


"Perasaan macam apa ini? Kenapa aku merasakan rindu yang menggebu-gebu? Perasaan ini sama seperti saat pertama ku berada di kota ini. Mungkinkah Ibu Ren itu sungguh Mama! Seperti nya aku harus segera memastikan nya." batin Revan.


"Sayang, bolehkah malam ini aku bertemu dengan Ibu Reni?" tanya Revan lirih.


"Hah?! Mau ngapain kak?"


"Mau silaturahmi aja!"


"Baiklah, aku akan menghubungi Ibu Ren supaya jangan pulang dulu dari WO!" Revan mengangguk. Rania pun menghubungi Ibu Reni.


Tak terasa waktu sudah semakin malam. Kini Revan dan Rania sudah berada di mobil untuk pulang.


"Sial! Jantung ku berdetak semakin kencang. Damn it!!!" batin Revan


Jantung Revan terus berdetak begitu kencang nya. Bahkan kini sampai mengeluarkan keringat dingin.


"Memalukan sekali diriku ini! Mau bertemu dengan sesama manusia aja udah keringat dingin serasa bertemu hantu aja!" batin Revan terus menggerutu.


Hingga kini mobil yang dikendarai Revan sudah memasuki area gedung Rani WO dan sedang diparkir..


Revan dan Rania keluar dari mobil dan memasuki gedung itu. Tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang duduk di ruang tunggu sembari membaca majalah.


"Rania sayang, kamu sudah pulang nak?" ujar Ibu Reni memeluk Rania setelah menyadari keberadaan gadis itu.


"Iya Ibu! Oh iya kenalin ini Kak Revan Bu!"


Pandangan Revan dan Ibu Reni bertemu. Keduanya terperangah.

__ADS_1


"Revan!"


"Mama!!"


__ADS_2