
"Kau tidak sedang bermimpi!" ujar Revan menggenggam tangan Rania yang tadi mencubit pipi nya sendiri.
"Saya mencintai mu dengan sungguh-sungguh, Rania." ujar Revan penuh keyakinan.
"Sejak kapan kak? sejak kapan kakak suka sama aku?" ujar Rania
"Entahlah, saya tidak ingat sejak kapan saya mencintai mu. Yang pasti saya benar-benar mencintai mu entah itu sejak tadi, kemarin, dulu atau kapan pun itu, mulai detik ini saya melamar mu menjadi kekasih ku!" ujar Revan menatap kedua bola mata Rania yang mulai basah.
"Kenapa harus aku kak? kenapa kakak harus menyukai ku?" ujar Rania yang akhir nya menumpahkan air mata nya yang sudah tak bisa ditahan.
"Karena kau yang di takdir kan menjadi pendamping ku, Rania." ujar Revan, tangan nya mulai terangkat untuk menghapus air mata Rania
"Sudahlah jangan menangis, saya tidak ingin melihat orang yang saya cintai menangis." ujar Revan
"Tapi kak…aku takut jika orang tua kakak tidak merestui hubungan kita." ujar Rania
"Kau tidak perlu memikirkan mereka. Sekarang saya ingin tau apakah kamu menerima cinta ku?" ujar Revan
"Kalau masalah itu sih bisa di pertimbangkan kak, cuman kakak melamar nya nggak ada romantis nya sih." ujar Rania mengerucutkan bibir nya
"Jadi kau ingin yang romantis…baiklah, nanti malam akan saya persiapkan." ujar Revan dengan santai nya
"Apa! nanti malam! semudah itu!!!" ujar Rania
"Aku kira dia akan lama mempersiapkan acara romantis nya, ternyata malah secepat ini. Gimana ini? kenapa perasaan gak menentu sih?!" batin Rania
"Tentu saja! lebih cepat lebih baik bukan!" ujar Revan tanpa rasa bersalah
"Bos kejam ini benar-benar ya!!!" batin Rania geram
"Apa kau keberatan?" tanya Revan
"Tentu saja saya keberatan kak!" jawab Rania
"Jika kau keberatan, maka nanti siang saya akan melamar mu dengan romantis." ujar Revan
"Apa!!!" pekik Rania
"Kenapa?" tanya Revan
"Nggak papa!" ketus Rania
"Jadi kau ingin dilamar kapan? nanti siang atau nanti malam?" ujar Revan
"Apa nggak ada pilihan lain lagi kak?" ujar Rania
"Tidak ada! pilihan lainnya sudah habis!" ujar Revan santai
"Ih!!! nyebelin banget deh rasa nya pengin aku buat sendal jepit ku ini terbang ke wajah nya itu." batin Rania geram.
"Baiklah! saya rasa sudah tidak ada lagi yang kau tanyakan lagi." ujar Revan hendak melangkah keluar kamar.
"Kakak mau kemana?" ujar Rania
__ADS_1
"Kenapa? apa kau takut jika aku pergi jauh dan kau akan merindukan ku?" ujar Revan dengan kepercayaan diri di atas batas normal.
"Nggak! siapa bilang?!" elak Rania.
"Kau tenang saja, saya hanya pergi ke dapur untuk memasak." ujar Revan
"Biar aku aja yang masak kak." ujar Rania.
"Tidak boleh! hari ini kau menjadi ratu ku dan semua kebutuhan mu saya yang menyiapkan." ujar Revan
"Tapi kak, aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat bekerja. Jadi, aku bantuin ya kak," ujar Rania
"Saya sudah bilang tidak ya berarti tidak. Kalau kau bosan di kamar kau bisa ikut saya ke dapur, tapi ingat di sana kau hanya melihat!" ujar Revan
"Iya deh kak, terserah kakak!" ujar Rania
Cup
"Kak!!!" pekik Rania saat Revan mencium pipi nya.
"Iya, maaf." ujar Revan
"Sebenarnya aku males maafin kakak, tapi takut dosa jadi aku maafin." ujar Rania
"Baiklah my Queen, let's go to the kitchen." ujar Revan tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh mungil Rania dan menggendong nya menuju dapur.
"Kak…turunin aku." ujar Rania dengan kaki yang terus meronta meminta di turunkan.
Setelah sampai di dapur, Rania di dudukan di meja dapur.
"Kak, kenapa aku duduk di sini? turunkan aku." ujar Rania kesal
"Tidak mau, kalau ingin turun, turun saja sendiri." ujar Revan mulai fokus dengan alat masak.
"Gila ya kak! tinggi gini aku di suruh turun sendiri." ujar Rania
"Kau tahu itu tinggi, maka dari itu kau tetap duduk di situ." ujar Revan
"Tapi nggak enak kak duduk di sini," ujar Rania
"Kan memang kau tidak sedang makan, jadi memang tidak enak," ujar Revan
"Kau tenang saja by, nanti saya buatkan makanan yang enak." lanjut Revan
"Sampai kapan kak aku tetap di sini?" ujar Rania
"Sampai saya selesai memasak, sayang!" ujar Revan
"Apa?! aku nggak salah denger! bos kejam ini memanggil ku sayang bahkan tadi memanggil baby." batin Rania
"Kenapa serasa di dunia novel ya setelah di panggil sayang dan baby sama bos kejam itu?" batin Rania
"Hei sadarlah Rania!!! kenapa kamu malah merasa senang di panggil sayang dan baby sama bos kejam itu? nggak mungkin kan aku cinta sama bos kejam itu!" batin Rania menggelengkan kepala nya menyingkirkan segala pikiran nya.
__ADS_1
"Kau kenapa by?" ujar Revan yang merasa aneh melihat Rania yang melamun kemudian menggelengkan kepala nya.
"Nggak papa kak." ujar Rania
Revan langsung mengangguk percaya dengan ucapan Rania.
30 menit berlalu, kini Revan sudah selesai menyiapkan sarapan.
"Sarapan nya sudah siapa my Queen, kau mau langsung makan?" ujar Revan saat sudah berada di hadapan Rania.
"Nggak kak, aku mau mandi dulu." ujar Rania
"Baiklah!" ujar Revan langsung menggendong Rania menuju kamar nya.
"Kak, udah ih jangan menggendong ku terus, aku bisa jalan sendiri." ujar Rania
Revan tidak mendengar kan ucapan Rania dan terus menggendong Rania kembali ke dalam kamar nya.
Sampai saat sudah sampai di dekat tempat tidur, tubuh Revan berasa sangat lemas, kepala nya terasa pusing dan…
Bruk…
Revan yang tak kuasa menahan lemas yang di rasakan nya, akhir nya terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi Rania yang berada di bawah tubuh Revan.
"Kak, kakak kenapa?" ujar Rania panik di campur cemas melihat posisi nya sekarang dan keadaan Revan yang seolah sudah tak memiliki tenaga.
Rania dengan susah payah berusaha mendorong tubuh Revan agar menyingkir dari atas tubuh nya. Setelah itu membaringkan tubuh Revan dengan benar di atas tempat tidur nya.
"Kak, apa kakak masih bisa mendengar ku?" ujar Rania sembari mengusap pipi Revan berusaha menyadarkan pria itu.
"Rania, tubuh saya tiba-tiba merasa lemas." lirih Revan.
"Oh astaga! kakak sejak tadi malam belum makan." ujar Rania mengingat tadi malam tubuh Revan terasa sangat dingin, mungkin itu di sebabkan karena pria itu belum makan semalam.
"Bentar kak aku ambil kan makanan dulu." ujar Rania bergegas pergi ke dapur namun tangan nya di cekal oleh Revan.
"Jangan lama-lama!" lirih Revan
"Iya kak, aku nggak lama kok cuma mengambilkan makanan untuk kakak." ujar Rania langsung beranjak pergi ke dapur setelah Revan melepaskan cekal an tangan nya.
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
__ADS_1