
"Ada yang bisa dibantu, tuan?"
"Em…itu…pembalut!" ujar Revan pelan.
"Pembalut luka?" tanya karyawan supermarket.
"Bukan! pembalut wanita maksud ku!" ujar Revan.
Semua pandangan mata langsung tertuju kepada Revan. Seorang pengusaha sukses yang latar belakang nya sangat tertutup itu tercyduk membeli pembalut wanita? benar-benar menggemparkan sekaligus mengagumkan!
"Mau yang wings atau yang bukan, tuan?" ujar karyawan.
"Ha? wings? apa bisa terbang?" tanya Revan dengan polos.
"Maksudnya wings pencegahan anti bocor, tuan!" ujar karyawan memberi pengertian.
"Berikan yang terbaik!" ujar Revan.
"Mau beli berapa, tuan?" tanya karyawan.
"Pokoknya yang terbaik saya beli semuanya!" ujar Revan.
"Baik tuan!" ujar karyawan supermarket.
Setelah membeli pembalut dan beberapa cemilan, Revan berjalan menuju parkiran.
Saat hendak memasuki mobil nya, tiba-tiba seseorang yang memarkir mobil di sebelah nya memanggil namanya.
"Hai Revan! lama tidak bertemu!" ujar orang itu.
"Astaga! kenapa harus bertemu dia sih?" batin Revan.
"Kau Revan kan?" tanya orang itu.
"Bukan!"
"Hehe! masih sama seperti dulu ternyata kau Van, datar dan kaku!" ujar Seseorang itu yang tak lain adalah Kaivan Rainer.
Kaivan Rainer merupakan teman semasa kecil Revan. Kaivan merupakan anak dari sahabat papa Danu.
"Sedang apa kau disini, Van?" tanya Kaivan.
"Kau bisa lihat sendiri jika aku habis berbelanja, tidak mungkin kan aku habis bayar hutang!" ujar Revan kesal.
"Santai aja kali Van! Eh tunggu… itukan pembalut, untuk apa kau membeli pembalut sebanyak itu?"
"Jangan-jangan wanita mu datang bulan saat kau sedang bermain! Oh My God! tidak bisa aku bayangkan, pasti saat ini kepala atas dan kepala bawah mu cenat-cenut!" ujar Kaivan.
"Ngomong sama orang yang mengejar kenikmatan dunia emang susah! pikiran nya hanya naik gunung turun lembah!" batin Revan.
"Hei bro, kau jangan berpikiran kotor tentang ku yang masih polos ini! Aku tinggal di negara I yang melarang hal diluar batas jadi jangan kau samakan dengan mu yang tinggal di negara J yang sangat bebas!" ujar Revan kesal.
__ADS_1
"Tapi aku rasa kau tidak sepolos itu, Van!" ujar Kaivan menggoda Revan.
"Terserah!" ujar Revan masuk kedalam mobilnya.
"Hei, aku ikutlah ke rumah mu!" ujar Kaivan.
"Baiklah, tapi kau jangan bicara yang aneh-aneh nanti!" ancam Revan.
"Sip!" ujar Kaivan.
Mobil Kaivan pun mengikuti mobil Revan sampai di basement apartemen.
"Jadi, kau tinggal di apartemen?" tanya Kaivan setelah selesai memarkirkan mobilnya.
"Ya!"
Revan berjalan menuju unit apartemen nya diikuti dengan Kaivan di belakang nya hingga masuk ke dalam apartemen Revan.
Kini Revan dan Kaivan sudah duduk di sofa ruang tamu apartemen Revan.
"Itu tadi pacar mu, Van? cantik juga ya!" ujar Kaivan setelah melihat Rania yang menyuguhkan minuman dan camilan kepada nya.
"Mata mu benar-benar tidak bisa melihat orang cantik ya! awas aja kalau kau berani mendekati pacar ku, bonyok tuh muka mu!" ujar Revan.
"Santai kali bro, aku hanya bercanda!" ujar Kaivan terkekeh.
"Oh iya Van, aku ingin bertanya sesuatu kepada mu tapi kau jangan tersinggung dulu!" ujar Kaivan.
"Kemarin aku kan sedang lari pagi terus tidak sengaja menabrak seseorang dan saat aku melihat wajah orang itu terlihat seperti om Danu! pria itu sungguh sangat mirip dengan om Danu tapi tubuh nya nampak kurus dan berpakaian lusuh, aku pikir ayah mu bangkrut!" ujar Kaivan.
"Apa?!"
"Dimana kau melihat nya?" tanya Revan terkejut.
"Di taman yang tak jauh dari perusahaan mu!" ujar Kaivan.
"Mencurigakan!" pikir Revan.
"Bisakah kau membantuku, Kai?" ujar Revan.
"Tentu saja! kau bahkan dulu sangat banyak membantuku disaat perusahaan ku bangkrut dan aku ditinggal kekasih ku hanya kau yang menolong ku. Bahkan aku meminta bantuan kepada om Danu langsung ditolak mentah-mentah!" ujar Kaivan.
"Kai, aku ingin meminta pendapat mu!" ujar Revan.
"Silahkan!"
"Menurut mu sifat papa saat kita masih kecil dengan sikap papa belakangan berbeda atau tidak?"
"Sangat berbeda, Van! dulu om Danu sangat baik bahkan dia menganggap ku seperti anak nya sendiri tapi pas aku udah besar aku meminta nya menyuntik dana untuk perusahaan ku yang bangkrut saja malah aku dimarahi dan diusir dengan kasar!"
"Sifatnya papa sangat bertolak belakang! aku juga merasa semenjak papa akan mengusir mama dari rumah papa seperti menunjukkan gelagat aneh tapi dulu aku tidak terlalu memikirkan nya!" ujar Revan.
__ADS_1
"Atau mungkin om Danu punya dua kepribadian atau yang biasa disebut kepribadian ganda!" celetuk Kaivan.
"Itu tidak mungkin! entah mengapa aku merasa jika papa yabg sekarang itu bukan papa yang dulu!"
"Maksud mu mereka dua orang yang berbeda, begitu?"
"Ya, tapi aku juga tidak yakin sih!" ujar Revan.
"Kai, apa kau bisa membantuku memecahkan masalah ini?" tanya Revan.
"Tentu saja, kebetulan aku akan berada disini selama sebulan! aku pastikan sebelum aku kembali ke negara J masalah ini akan terselesaikan!" ujar Kaivan.
"Terimakasih!"
"Ya, sama-sama tidak perlu sungkan!"
"Kalau begitu aku pulang dulu takut ganggu kegiatan enak-enak mu dengan kekasih mu, besok aku datang lagi!"
"Berhenti berpikiran kotor! sejak ditinggal kekasih tercinta mu itu kau jadi pemuja surga dunia!" ujar Revan kesal.
"Up to me, okay! thanks ceramah nya!"
"Aku doakan suatu saat kau tunduk dan takluk pada gadis yang tidak tersentuh!" ujar Revan.
Kaivan mencebik, menyepelekan ucapan Revan.
"Seorang Kaivan tidak akan tunduk pada seorang gadis, karena setiap gadis akan tunduk dan takluk di bawah kungkungan ku!" ujar Kaivan penuh percaya diri.
"Kumat lagi otak nya! hah! bagaimana bisa aku berteman dengan orang yang pikiran nya hanya naik gunung turun lembah!" batin Revan.
"Kenapa pikiran mu sekarang jadi sangat kotor sih?" tanya Revan kesal.
"Karena aku sudah tidak mempercayai gadis manapun lagi! karena semua gadis sama, murahan!" bisik Kaivan karena tak ingin kekasih temannya mendengar ucapan nya.
"Tapi tidak seharusnya kau merusak masa depan seorang gadis!!!" ujar Revan memberi nasihat.
"Heh! semua gadis itu sama, mereka murahan dan rela menjual dirinya dengan uang!!!"
"Kau sangat munafik, Van! kau tinggal di sebuah apartemen dengan seorang gadis cantik, tentu saja kau tidak akan jajan diluar!" ujar Kaivan.
"Astaga!!! rasa nya aku ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding biar pikiran naik gunung turun lembah nya segera sirna!!!" batin Revan kesal.
"Hei! kau jangan sembarangan menuduh ya! aku tidak pernah merusak masa depan kekasih ku bahkan sampai sekarang dia masih ORI!!!" ujar Revan.
"Halah! pura-pura masih ORI, paling dia juga sama sudah second!!!" ujar Kaivan pelan namun menekan.
"Andai saja kau bukan teman ku sudah ku masukan kau ke kandang macan biar ***** saja dengan macan!!!"
"Aku memang bukan pria baik-baik tapi setidaknya aku masih menjaga kehormatan kekasih ku!!!"
"Jujur saja aku juga sudah tidak perjaka lagi!" ujar Revan.
__ADS_1