
Revan kesal mendengarnya, namun berusaha untuk tetap tenang.
Revan beranjak dari duduk nya hendak keluar.
"Hei Nyet! kau mau pergi kemana?!" ujar Vino.
"Menjemput Rania lah, begitu saja tidak tahu!" ketus Revan.
"Kalau kau bukan sahabat ku mungkin sudah ku kirim ke planet Mars!" ujar Vino.
"Hei Van, kenapa sejak Rania pergi kau jadi bertambah bodoh!" ujar Angga menimpali.
"Mungkin itu sebuah kutukan dari Rania!" ujar Kaivan
"Bukankah dia sudah bodoh dari kecil!" ujar Vino menimpali.
"Sialan kalian semua!!!" ujar Revan beranjak pergi.
"Tuan! Anda harus melanjutkan acara pertunangan nya!" ujar Farhan.
"Batalkan saja pertunangan nya!" ujar Revan.
"Bagaimana bisa dibatalkan? apa tuan ingin menghancurkan rencana kami?!" ujar Farhan kesal.
"Rencana apa maksud mu?" tanya Revan.
Farhan membisikan sesuatu kepada Revan. Revan pun menyetujui rencana mereka.
"Baiklah!" ujar Revan pasrah.
Tak berselang lama, seseorang nampak masuk ke dalam kamar Revan.
"Revan sayang, ayo turun, Zhao Lie sudah menunggu di aula!" ujar Melinda.
"Baiklah Ma, sebentar, Revan ingin berbicara dengan Farhan dulu!" ujar Revan.
"Ya sudah, Mama turun duluan." ujar Melinda keluar dari kamar Revan.
"Aku muak melihat Melinda yang sok baik itu! cih! sangat manipulatif! bermuka dua!" batin Revan.
"Farhan! tolong kau ambil alih pekerjaan ku selama beberapa hari ke depan! aku ingin setelah acara ini langsung pergi ke kota S!" perintah Revan.
"Baiklah!" ujar Farhan.
Revan langsung keluar dari kamarnya dan pergi ke aula.
"Kau benar-benar akan membantu Revan?" tanya Vino kepada Farhan.
"Ya! saya akan membantunya di perusahaan!" ujar Farhan.
"Semangat!" ujar Kaivan.
"Apa kau tidak ada niatan untuk kembali ke negara J secepatnya, Kai?" ujar Angga.
"Kenapa memangnya? kalian jahat, mengusirku dari negara ini!" ujar Kaivan.
"Ya, aku merasa kasihan saja dengan asisten dan sekertaris mu itu yang harus bekerja keras mengurus perusahaan!" ujar Angga.
"Ini yang dinamakan memanfaatkan kemampuan asisten dan sekertaris! kalau tidak dipakai kemampuan nya maka akan sia-sia!" ujar Kaivan santai.
__ADS_1
"Sudahlah! lebih baik kita ikut turun dan melihat acara pertunangan Revan dan Zhao Lie!" ujar Vino dan disetujui oleh yang lain.
Acara pertunangan pun berlangsung, Revan tengah memasangkan cincin berlian di jari manis Zhao lie.
Revan dengan sengaja menjatuhkan cincin berlian itu, hal itu membuat semua yang melihat langsung ribut.
"Kau bagaimana sih Van? masa cincin nya bisa jatuh begitu!" ujar Danu kesal.
"Maaf Pah!" ujar Revan.
Revan pun mencari cincin itu, hingga tak berselang lama, Revan menemukan cincin itu dan segera memakaikan nya kepada Zhao lie.
'Cium…cium…cium' teriak semua orang gemuruh.
Namun di luar dugaan, Revan malah berjalan pergi dari aula gedung.
"Revan…kau ingin kemana?!" teriak Melinda.
"Dasar anak tidak tahu diri! sudah di rawat dengan baik malah bikin malu orang tua!!!" ujar Danu marah.
Revan sama sekali tak menghiraukan teriakan kedua orang tua nya. Revan terus berjalan menuju mobil nya terparkir.
"Jalan!" ujar Revan setelah duduk di dalam mobil nya.
"Baik tuan!" ujar sang sopir.
Revan berniat menjemput Rania nya kembali, namun sebelum itu, dia ingin menemui ayah kandungnya dulu.
Kini mobil Revan telah sampai di sebuah Villa mewah yang berada di dalam hutan.
Revan keluar dari mobil nya dan segera masuk ke dalam Villa mewah itu menuju sebuah ruangan.
"Papa!" lirih Revan, tubuh nya serasa membeku di tempat.
"Revan!" ujar pria tua itu.
"Hei! kalau rindu peluk aja lah, nangis juga boleh. Pakai acara drama kayak film India aja!" cetus Angga.
"Harimau mana harimau! ini anak kek tidak berperikemanusiaan sekali! seperti nya renyah jika dijadikan santapan harimau!" ujar Kaivan.
"Betul tuh!" timpal Vino.
"Tapi kan apa yang aku katakan benar! kelamaan tahu kalau cuma pandang-pandangan!" ujar Angga.
"Bisa diam gak?" ujar Revan kesal.
Keadaan pun sunyi seketika. Revan langsung berjalan ke arah pria tua itu dan memeluknya.
"Papa!" ujar Revan dengan air mata yang dengan lancang nya keluar membasahi pipi nya.
"Revan!"
"Papa kemana saja? dan siapa orang yang mirip dengan papa!" ujar Revan melerai pelukan nya.
Pria tua itupun menceritakan kronologi kejadian nya.
"Jadi orang yang mirip papa itu memang kembaran papa yang bernama Dani!" ujar Revan.
"Iya! sejak kau masih berusia tiga tahun, Dani menyekap papa dan mengancam papa jika dia akan membunuh mu jika papa berani kabur!" ujar papa Danu.
__ADS_1
"Kurang ajar!!!" ujar Revan dengan kilatan kemarahan.
"Papa tidak punya pilihan lain, jadi papa tunduk dengan Dani. Papa tidak ingin kau kenapa-kenapa, papa juga tidak berdaya." ujar papa Danu.
"Oh iya, dimana Mama mu?" ujar papa Danu.
"Mama diusir oleh bajing*n itu saat aku masih berusia 5 tahun! mama bilang akan menemui ku saat usia ku sudah 25 tahun. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar. Mungkin sekarang mama sudah punya keluarga baru!" ujar Revan.
"Sudah lah pa, lupakan saja mama. Mungkin Mama sekarang sudah bahagia dengan keluarga baru nya!" ujar Revan.
"Mama Reni bukan orang yang seperti itu Van, percayalah mungkin sebentar lagi mama berkumpul lagi dengan kita!" ujar papa Danu.
"Sudahlah pa, untuk apa menunggu seseorang yang tidak pasti? buang-buang waktu saja!!!" ujar Revan.
"Revan! kau jangan berbicara sembarangan nak!" ujar papa Danu.
"Sudahlah pa, mungkin Mama sudah tidak sayang Revan lagi jadi untuk apa kita menunggu orang yang sudah tidak menyayangi kita lagi!" ujar Revan.
"Ya elah si monyet buntung! kata-kata lu kek pujangga! sadar nggak sih kalau kau juga menunggu seseorang yang tidak pasti?" ujar Vino.
"Menunggu Rania yang mungkin sudah tidak sayang kepada mu lagi!" ujar Angga.
"Betul sekali!" ujar Kaivan.
"Kalau Rania beda konsep!" ujar Revan kesal.
"Sama saja!" ujar Angga, Vino dan Kaivan serempak.
"Lihat saja nanti, setelah aku menjemput nya, pasti Rania akan luluh dan jatuh ke pelukan ku lagi!" ujar Revan penuh percaya diri.
"Bagaimana kalau kita taruhan?" ujar Vino.
"Baik, siapa takut!" ujar Angga dan Kaivan.
"Jika Rania langsung mau kembali ke sini, kita akan membiayai pernikahan mu, tapi jika Rania tidak mau kembali maka kau harus membiayai pernikahan kami!" ujar Vino.
"Baiklah!" ujar Revan menyetujui.
"Oh iya, bagaimana keadaan papa? papa sehat kan?" ujar Revan cemas.
"Om Danu kurang asupan gizi dan nutrisi. Mungkin karena kelamaan di sekap dan telat diberi makan membuat kondisi kesehatan om Danu menurun. Kau tenang saja, aku akan memberikan infus suntikan vitamin dan nutrisi!"ujar Angga.
"Terimakasih kalian semua sudah membantu ku!" ujar Revan.
"Sama-sama!" ujar Vino, Angga, Kaivan serempak.
"Om, Kai pamit tidak bisa menjaga om dan membantu Revan banyak. Soalnya Kai harus mengurus perusahaan Kai yang di negara J!" ujar Kaivan
"Iya hati-hati Kau, terimakasih telah membantu membebaskan Om!" ujar Papa Danu.
"Iya Om, sama-sama!" ujar Kaivan tersenyum.
"Bilang aja udah kangen sama kekasih baru mu itu!" ujar Revan.
"Jangan berisik!!!" ujar Kaivan. Kaivan pun pergi dari tempat itu.
"Oh iya Pa, Revan pamit dulu mau menjemput masa depan Revan dulu!" ujar Revan.
"Kau seperti nya harus alih profesi, Van! sudah seperti pujangga saja!" ujar Vino
__ADS_1