
"Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi mu dengan segenap jiwa ku, aku tidak akan membiarkan air mata mu menetes kecuali air mata kebahagiaan. Akan ku buat kau menjadi wanita yang paling bahagia Rania." batin Revan
Beberapa menit kemudian, Rania sudah selesai makan dan hendak bangkit untuk membereskan piring dan gelas kotor yang digunakan nya tadi.
"Mau kemana? sudah saya bilang kalau kau sudah tidak saya ijinkan melakukan pekerjaan rumah." ujar Revan menarik tangan Rania dan membuat nya duduk kembali
Rania hanya diam tanpa menjawab, hati nya merasa kesal dengan sikap posesif dan perlakuan manis kekasih nya itu.
"Hei! kenapa diam saja? kau marah dengan saya?" tanya Revan memandangi wajah kekasih nya yang terlihat menggemaskan saat cemberut
"Iya! aku kesal sama kakak!" ujar Rania dengan ketus
"Memang nya apa salah saya dengan mu?" tanya Revan
"Kakak nyebelin!" ujar Rania
"Nyebelin tapi sayang kan!" goda Revan
"Siapa bilang?" tanya Rania
"Saya yang bilang by." ujar Revan
"Ih!!! nyebelin!!!" ujar Rania kesal
Melihat kekasih nya yang sedang kesal membuat Revan langsung mengangkat tubuh Rania dan mendudukkan nya di atas pangkuan nya.
"Kau tahu by, jika kau sedang marah seperti ini justru kau terlihat semakin cantik." bisik Revan dengan suara yang sensual.
"Apa?! kok bisa? aku kan sedang marah, kenapa dia bilang aku semakin cantik…" batin Rania
"Tunggu dulu…kenapa seperti ada yang aneh?" batin Rania yang tidak sadar jika saat ini diri nya sedang duduk di pangkuan Revan dengan posisi yang berhadapan.
Mata Rania melebar dengan mulut yang sedikit terbuka, dia sungguh terkejut dengan posisi nya dengan Revan yang termasuk intim.
Revan yang melihat wajah terkejut kekasih nya malah muncul ide nakal dalam otak nya. Revan dengan gerakan cepat langsung menarik tengkuk Rania dan menyatukan bibir nya dengan bibir mungil Rania, ******* nya dengan lembut. Revan terus memperdalam ciuman nya hingga ciuman yang awal nya lembut kini menjadi ciuman panas yang menggairahkan.
Ciuman itu terus berlanjut sampai pada akhir nya Revan merasakan nafas Rania tersengal, akhir nya Revan melepas pagutan nya.
Revan mengusap bibir Rania yang basah dan sedikit membengkak akibat ulah nya.
"Bibir mu sensitif sekali, by." goda Revan
__ADS_1
"Sensitif gimana maksudnya?" tanya Rania bingung
"Hanya di cium sebentar saja sudah sedikit membengkak. Seperti nya kau memang harus banyak berlatih!" ujar Revan dengan wajah yang serius
"Berlatih apa kak?" tanya Rania
"Berlatih mencium saya setiap hari!" ujar Revan
"What!!!" teriak Rania dengan wajah terkejut nya.
"Tidak perlu berteriak seperti itu by, nanti kalau tetangga dengar bagaimana?" ujar Revan sengaja membuat Rania panik
"Nanti mereka mengira kita sedang berbuat yang iya-iya, terus mereka langsung menyuruh kita menikah," ujar Revan
"Apa kau mau menikah dengan saya secepat itu?" tanya Revan
"Maaf kak! aku nggak bermaksud untuk berteriak dan aku nggak mau menikah muda." ujar Rania dengan kepala tertunduk
"Memang nya kenapa kau tidak mau menikah secepatnya? bukankah umur mu sudah cukup matang?" tanya Revan
"Umur 23 tahun memang sudah cukup matang menurut aturan, tapi aku belum bisa kak." ujar Rania
"Why? apa alasan mu belum ingin menikah." ujar Revan
"Aku juga nggak pantas menjadi kekasih kakak, jadi mending kakak menjauh saja dari ku." lanjut Rania
"Deg…" jantung Revan serasa tersentak, jantung nya terasa sakit saat mendengar perkataan kekasih nya.
Revan langsung mendekap tubuh Rania erat seolah memberikan rasa aman dan kekuatan untuk kekasih nya.
"Hei by, kenapa kau berbicara seperti itu?" ujar Revan yang kini sudah melepaskan dekapannya
"Bagiku kau sudah lebih dari segala nya, saya merasa sangat beruntung bisa menjadi kekasih mu. Ayah mu itu hanya terhasut terhadap ucapan orang lain," ujar Revan sembari menghapus air mata Rania
"Saya mohon by, lihat aku dan percayalah pada ku bahwa kau itu sudah sempurna. Saya yakin sekali jika kau adalah jodoh yang diberikan Tuhan kepada ku, maka dari itu saya akan senantiasa menjaga mu." lanjut Revan
"Tapi kak, aku sama sekali nggak pantas buat kakak karena aku…" ujar Rania langsung dipotong oleh Revan
"Stop! meskipun kau pergi menjauh dari ku, saya akan tetap mencari mu ke seluruh negeri!" ujar Revan dengan tegas
"Tapi, jika kita memang di takdir kan untuk berpisah…apa boleh buat, kita udah nggak punya pilihan lain." ujar Rania
__ADS_1
"Saya akan selalu memperjuangkan rasa cinta saya kepada mu, meskipun itu harus mengubah takdir sekalipun." ujar Revan
Rania terdiam dengan tubuh bergetar menahan air matanya supaya tidak tumpah, namun usahanya sia-sia karena sedetik kemudian Rania menangis kencang bahkan sampai sesenggukan.
Revan yang melihat gadis nya menangis pun langsung membawa kekasih nya itu kedalam dekapannya.
Rania semakin menangis di dalam pelukan Revan yang hangat. Entah mengapa Rania merasa terharu dengan semua perlakuan Revan yang romantis dan sedikit berlebihan. Sejujurnya Rania bingung, bagaimana cara nya membalas semua kebaikan Revan kepada nya? Hati dan pikiran Rania sungguh bimbang.
Revan memeluk Rania erat sembari mengelus rambut Rania dengan penuh kasih sayang dan tanpa ia sadari menitikkan air mata.
Kini sepasang kekasih itu atau bisa dibilang calon sepasang kekasih itu hanyut kedalam pelukan hangat yang mereka ciptakan. Rania yang sudah merasa tenang setelah mendapatkan pelukan hangat dan mencium aroma tubuh Revan yang menenangkan pun tertidur di pelukan pria itu.
Revan yang menyadari gadis nya itu sudah mulai tenang memilih menatap wajah gadis nya dan merasa sedikit terkejut saat melihat Rania tertidur dengan nyaman nya di pelukan nya.
"Syukurlah dia tertidur, aku pikir Rania akan menjauh dari ku." ujar Revan merasa sedikit lega
"Tidur lah dengan nyenyak, sayang. aku akan memberi mu libur bekerja hari ini dan kita akan menghabiskan waktu libur bersama." ujar Revan yang sebenarnya sudah merencanakan untuk memberikan libur bekerja untuk kekasih nya.
Revan kini sedang memangku Rania di meja makan.
"Sebaiknya aku membaringkan nya di tempat tidur karena tertidur sambil duduk seperti ini pasti sangat tidak nyaman apalagi ini di meja makan." ujar Revan
Revan dengan perlahan menggendong tubuh Rania menuju kamar nya dan membaringkan nya dengan sangat hati-hati.
Revan duduk di tepi tempat tidur Rania sembari memandangi wajah cantik kekasih nya yang tengah terlelap dengan nyaman nya.
"Entah mengapa sejak kau hadir ke dalam hidup ku hatiku terasa lebih tenang. Sampai kapan pun aku akan selalu memperjuangkan cinta kita." batin Revan
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
__ADS_1
bisa di follow ig nya yah