
Setelah selesai menelpon seseorang, Revan kembali duduk di samping brankar sembari pandangan mata nya tidak pernah lepas dari sosok Rania
"Syukurlah Rania menerima tawaran ku, dengan begini aku akan tetap berdekatan dengan Rania dan mendapatkan perhatian dari nya." batin Revan
"Rania!" ujar Revan
"Iya pak! ada apa?" ujar Rania
"Saya minta mulai sekarang kau jangan memanggil saya 'pak' jika di luar kantor." ujar Revan
"Terus saya harus memanggil anda apa?" tanya Rania
"Terserah kau, yang penting jangan panggil saya 'pak' jika di luar kantor. Kau bisa memanggil saya dengan nama saya saja." ujar Revan
"Jika saya memanggil anda dengan nama anda langsung, saya rasa itu kurang sopan soal nya anda lebih tua dari saya. Gimana kalau saya memanggil anda 'kak'?" ujar Rania
"Boleh!" ujar Revan
"Walaupun aku lebih senang dan aku menginginkan kau memanggil ku sayang, tapi tidak apa-apa saya akan tetap berusaha membuat mu jatuh cinta." batin Revan
"Oh iya pak, kapan saya di ijinkan keluar dari sakit?" ujar Rania
"Kenapa kau memanggil saya 'pak' lagi?" ujar Revan
"Hehe, maaf lupa." ujar Rania terkekeh
"Saya ulangi." ujar Rania
"Oh iya kak, kapan saya di ijinkan keluar dari rumah sakit?" ujar Rania mengulangi perkataan nya
Ingin rasa nya Revan tertawa, hati nya sungguh merasa geli saat mendengar Rania mengulangi perkataan nya lagi. Namun, sayang sekali. Revan tidak bisa tersenyum ataupun tertawa, karena masa lalu nya yang suram membuat nya menjadi pribadi yang tegar seperti karang
"Ingin rasa nya aku tertawa, namun ekspresi ku terlalu kaku karena sudah sangat lama aku tidak merasakan tertawa lebih tepat nya kebahagiaan
"Kata dokter, besok kau sudah bisa keluar dari rumah sakit ini." ujar Revan
"Benarkah!" ujar Rania dengan mata yang berbinar
"Kau sungguh menggemaskan sekali Rania." batin Revan saat melihat Rania
Hingga tanpa sadar Revan mendekat kan wajah nya ke wajah Rania dan…
Cup
__ADS_1
Revan mencium bibir Rania, ******* nya dengan lembut sampai seseorang masuk ke dalam ruangan itu membuat Revan menghentikan ciuman nya
"Wah wah wah, sang bebek jantan liar memang tidak pernah melihat kondisi ini. Oh iya ya dia kan bebek jadi tidak tahu kondisi jika sedang di rumah sakit. Bebek kan memang kerjaan nya nyosor di mana-mana." sindir Vino yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rania bersama Lili
Sedangkan Rania kini ekspresi nya sangat tegang. Bukan hanya karena di cium oleh Revan tapi juga karena kepergok sahabat nya dan sahabat dari bos nya jika dia dan Revan sedang ciuman
"Aduh!!! bos kejam ini kenapa main nyosor aja sih? udah kayak bebek beneran aja. Rasa nya ingin menghilang dari dunia ini. Malu banget!!! pakai kepergok sama Lolipop dan pak Vino lagi." batin Rania
"Ingin rasa nya aku menimpuk wajah tampan bos kejam ini dengan high heels satu lusin biar tau rasa." batin Rania
"Ini nih sahabat pengacau, tidak tahu apa jika sahabat nya sedang menikmati suasana romantis. Pakai acara ganggu saja." batin Revan
"Ya ampun…so sweet banget sih…pakai acara ciuman." batin Lili baper
"Tunggu…berarti ciuman pertama mama Rania di berikan sama pak Revan dong. Owh…terharu deh ciuman pertama Rania udah di berikan kepada orang yang mencintai nya. Lah aku, ciuman nya masih utuh. Nasib jadi jones mah selalu iri sama orang lain, ngenes banget deh aku." batin Lili
"Ekhem! benar-benar ini, dunia serasa milik mereka berdua yang lain ngontrak." ujar Vino yang sudah mendekati Revan
"Kau selalu saja mengganggu orang lain, sebegitu tidak ada kerjaan kah kau Vin." ujar Revan kesal
"Siapa bilang aku tidak ada kerjaan? kerjaan ku banyak, maka dari itu aku masih bisa melihat kondisi sekitar dan tidak seperti kau yang kurang kerjaan." ujar Vino meledek Revan
"Benarkah? mungkin kau iri dengan ku karena ciuman pertama kau masih utuh alias belum ada yang kau cium selama ini." ujar Revan gantian meledek Vino
"Itu karena aku yang sangat polos jadi belum tahu masalah ciuman." ujar Vino
"Hei tuan Revan Pratama! ingat ya, kau juga jomblo. Dasar jomblo gak ada akhlak. Jomblo teriak jomblo kakak." ujar Vino
"Ini anak menyebalkan sekali, susah menang jika debat dengan dia. Mulut nya sudah seperti emak-emak tukang ghibah." gumam Revan yang masih bisa terdengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu terutama Vino
"Apa kau bilang bro? kau ini sungguh terlalu, orang seganteng Vino Mahesa yang tiada tandingannya ini di bilang seperti emak-emak tukang ghibah!!!" ujar Vino kesal
"Aku pikir kau tidak mendengar nya." ujar Revan
"Sudah tahu kalau berdebat dengan ku tidak akan menang tapi masih ngajakin debat." ujar Vino
"Siapa juga yang ngajakin debat?" ujar Revan
"Tentu saja kau. jika bukan kau siapa lagi." ujar Vino
"Jaga sedikit itu mulut, jangan sembarang bicara ya. Kau dulu yang mancing aku untuk berdebat pakai acara nuduh orang lain." ujar Revan
"Kau dulu!" ujar Vino
__ADS_1
"Tidak! kau dulu!" ujar Revan
"Kau…" ujar Vino
"Kau…" ujar Revan
"Kau…" ujar Vino
"Kau…" ujar Revan
"Kalian berdua bisa diam nggak sih!!!" teriak Rania dan Lili bersamaan
"Berisik banget sih kak, masalah kecil aja pakai di perdebatkan. Jadi pusing lagi nih dengerin kalian berdua." ujar Rania
"Sama! aku juga pusing. Kak Vino sama pak Revan kenapa sih? udah besar tapi tingkah laku nya kayak anak kecil yang berebut mainan. Sadar nggak sih kalau kalian ada di rumah sakit! Gara-gara kalian ruangan ini udah kayak pasar, untung saja nggak ada yang menggerebek kalian karena berisik." ujar Lili
"Aduh!!! Capar ku aura keibuan nya sudah sangat terlihat, memang sangat cocok menjadi ibu untuk anak-anak ku nanti." batin Vino
"Iya Loli, saya minta maaf." ujar Vino
"Mendingan kalian saling memaafkan satu sama lain aja deh." ujar Rania kepada Revan dan Vino
"Maaf bro." ujar Vino
"Iya, aku juga minta maaf." ujar Revan
Revan dan Vino saling berpelukan khas sesama lelaki. Hal itu membuat Rania dan Lili tanpa sadar mengangkat kedua sudut bibir nya
"Nah gitu dong saling memaafkan, kan adem di lihat nya. Nggak kayak tadi yang udah seperti Tom and Jerry." ujar Rania terkekeh
Semua orang yang ada di situ tertawa keras saat mendengar perkataan Rania termasuk Rania sendiri. Tapi tidak bagi Revan yang hanya bisa melihat orang lain tertawa. Sungguh diri nya ingin seperti orang lain yang bisa tersenyum dan tertawa. Tapi masa lalu nya sudah sangat menyedihkan yang membuat nya tidak bisa tersenyum ataupun tertawa
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
__ADS_1
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah