
Lia berjalan dengan anggun meliukkan tubuhnya bak model sembari membawa nampan. Lia mendekati Rania menyajikan minuman nya.
Byur…
Lia dengan menyiramkan air minuman berwarna oranye itu mengenai wajah dan tubuh Rania, hal itu membuat semua orang terkejut.
Revan langsung naik pitam melihat kekasih nya di siram oleh Lailat.
"APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA KEKASIHKU, HA?!" bentak Revan dengan suara yang menggema di apartemen itu.
Tatapan Revan sangat tajam, seolah membunuh siapapun yang melihatnya. Hal itu membuat Lia sangat takut.
"KAU SUDAH SANGAT KETERLALUAN!!!"
"AKU TAHU KAU BERASAL DARI KELUARGA YANG KAYA, TAPI TIDAK BERARTI KAU KETERLALUAN DENGAN KEKASIH KU!!!"
Revan mendekat ke arah Lia berdiri dengan tatapan yang masih sangat tajam.
"Lailat Sunandar, seorang putri tunggal dari keluarga Sunandar yang sengaja masuk dalam kehidupan ku hanya untuk ingin mendapatkan perhatian ku!"
"Kau bahkan rela menjadi seorang ART demi berdekatan dengan ku!" ujar Revan dengan wajah datar dan terlihat mengerikan.
"B-bagaimana kamu bisa tau?" ujar Lia gugup.
"Kau pikir aku bodoh yang dengan mudah nya menerima mu bekerja disini! aku sengaja menerima mu bekerja di sini karena aku ingin melihat seberapa berani nya kau!" ujar Revan
"Seluruh rencana ku gagal semua, bagaimana ini? semua ini gara-gara gadis miskin itu!!! lihat saja nanti aku akan merebut Revan dari mu!!! baru pacaran kok bangga....maklum sih dari keluarga miskin makanya merasa bangga menjadi pacar nya Revan. palingan sebentar lagi Revan bosan dan akan mencampakkan nya!" batin Lia yang masih dipenuhi tipu muslihat.
"Dengar baik-baik! meskipun nanti kau akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan ku dan Rania, aku tidak akan memilihmu dan tetap akan mempertahankan cinta ku kepada Rania!" bisik Revan menekan membuat hati Lia meradang.
"Apa sih keunggulan gadis kampungan itu?!" ujar Lia dengan suara meninggi.
Revan benar-benar geram dengan kelakuan Lia, jika saja di situ tidak ada kekasih nya maka sudah dapat dipastikan Revan akan menyeret Lia dan membawa nya ke markas nya untuk diberi pelajaran.
"Lili! saya minta kau bawa Rania ke kamar!" ujar Revan
Lili mengangguk dan membawa Rania ke kamar.
Setelah pintu kamar Rania tertutup, Revan yang sudah sangat murka menatap Lia dengan tatapan membunuh.
"Tenang Van, kendalikan emosi mu!!!" ujar Vino berusaha menenangkan kemarahan Revan yang siap meledak.
"Kau jangan melampiaskan kemarahan mu di sini! aku takut Rania ilfeel melihat kebrutalan mu!!!" lanjut Vino.
"Vino! hubungi Fin untuk membawa anak buah ku kesini!" ujar Revan sembari menarik nafas dalam-dalam.
Vino segera menghubungi Fin tangan kanan mereka di markas. Ya, sebenarnya Revan dan Vino merupakan seorang mafia. Karena persahabatan mereka yang sangat dekat, mereka membuat sebuah klan mafia yang dipimpin oleh Revan dan Vino. Mereka hanya mafia tanah jadi tidak terlalu terkenal di dunia hitam.
Tak berselang lama Fin datang bersama anak buah nya.
"Bawa dia ke markas!" perintah Revan menunjuk sembari menunjuk Lia.
"Baik Bos!" ujar para anak buah nya kompak.
__ADS_1
Fin dan anak buah nya langsung membawa Lia ke markas sesuai perintah Bos nya. Sementara Revan masih terdiam di tempatnya.
"Hei! kenapa kau masih diam disitu?" ujar Vino
"Memangnya aku harus kemana?" tanya Revan
"Astaga ini anak benar-benar membuatku emosi!!! untung saja kau sahabatku, jika bukan mungkin sepatuku ini akan flying ke muka mu itu!!!" ujar Vino geram
"Bukanya tadi kau yang tidak bisa menahan emosi mu, kenapa sekarang kau tidak menghukum anaknya pak Sunandar itu?!" ujar Vino.
"Nanti saja setelah berpamitan dengan my love my heart!" ujar Revan
"My heart my love kali biar bernada!" ujar Vino setengah menyanyi.
"Kalau itu lagu!" ujar Revan menatap Vino datar.
"Hehehe! lagian kau sekali bucin lupa segalanya!" ujar Vino
"Makanya cari pacar!" ujar Revan santai.
"Heh! apa aku masih terlihat seperti seorang jomblo?!" ujar Vino
"Iyalah kalau tidak jomblo kenapa masih sendiri?!" ujar Revan
"Apa dari tadi kau menderita virus unicorn, sehingga yang terlihat hanya wajah Rania saja?!" ujar Vino
"Maksudnya? apa kau--"
"Apa kau berpacaran dengan nenek Sawiyah tetangga mu itu?"
"Hei! yang benar saja! namanya nenek Sawilah bukan Sawiyah, kalau Sawiyah itu anak cicak!"
"Jadi kau benar-benar berpacaran dengan--"
"Yang benar saja aku berpacaran dengan nenek Sawiyah, aku ini tampan dan mapan. Aku itu berpacaran dengan Lili!" ujar Vino kesal
"Jadi kau berpacaran dengan Lili dan kau tidak memberitahu ku! apa kau sudah tidak menganggap ku?!" ujar Revan
"Bukan seperti itu! aku tidak memberitahu mu karena aku baru jadian semalam!" ujar Vino
"Aku kira sudah lama jadiannya!" ujar Revan
"Sudahlah! aku mau menemui Lili dulu, bye!" ujar Vino berjalan dengan santai nya menuju kamar Rania.
"Hei!!! kenapa jadi kau yang pergi duluan?!" ujar Revan bergegas menyusul Vino.
Saat Revan masuk kedalam kamar Rania, dia melihat Lili sedang mengobrol dengan gadis nya dengan Vino yang sudah bersandar di pundak Lili.
Revan kesal karena niatnya yang ingin pamer kemesraan nya dengan Rania kepada Vino harus gagal karena kini Vino yang pamer kemesraan di depan nya.
"Sahabat sialan!!! rencana pamer ku jadi gagal!" batin Revan
Revan segera mendekati Rania dan memeluk gadis nya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Kenapa kak?" tanya Rania.
"Aku kesal dengan dia!" ujar Revan menunjuk Vino.
"Kenapa kesal sama kak Vino?"tanya Rania.
"Dia sangat menyebalkan!!!" ujar Revan.
"Heh! jangan percaya dengan nya Ran, dia itu hanya iri melihat ku dan Lili jadian!" ujar Vino.
"Kenapa harus iri kak?"
"Ya karena kita bersaing!" ujar Revan
"Kenapa harus saingan coba?!" ujar Rania
"Karena dia menantang ku!" ujar Revan.
"Hei!!! siapa yang menantang mu?!" ujar Vino.
"Jadi kakak bohong?!"
"Bukan begitu by! dia sangat menyebalkan jadi rasanya ingin menceburkannya ke dalam empang!!!" ujar Revan.
"Kak Revan!!!"
"Kakak jahat banget!!!" ujar Rania.
"Bercanda by!!!" ujar Revan langsung menunduk.
"Pawang nya marah baru bisa diam kau!" ujar Vino tertawa.
Dua pasang kekasih itu pun saling bercanda dan tertawa dengan Revan dan Vino yang masih tetap bersaing kemesraan.
...****************...
Waktu berlalu dengan cepat hingga kini hubungan Rania dan Revan sangat dekat bahkan Revan menjadi sosok yang penurut terhadap kekasih nya.
Sementara Lailat Sunandar berhasil kabur saat dibawa ke markas oleh Fin dan kini dia menghilang entah kemana bak ditelan bumi.
"KAK REVAN!!! BANGUN!!!" ujar Rania sedikit meninggi saat membangunkan kekasih nya yang masih terlelap.
"Ada apa sih by, masih pagi sudah teriak-teriak!" ujar Revan masih setia memejamkan matanya.
"Pagi apanya? ini udah jam 7 kak, niat kerja nggak sih?!" ujar Rania.
"Apa kau lupa jika--"
"Aku bos nya!!!" ujar Rania memotong dan menirukan ucapan andalan Revan.
"Aku tau kak, tapi apa salah nya sih kalau berangkat ke kantor pagi? memangnya bos di wajibkan berangkat siang gitu!!!
"Iya by, kan bos jadi tidak ada yang akan memarahi!" ujar Revan.
__ADS_1