
"Baik pak! kalau begitu saya permisi." ujar Lili beranjak dari duduk nya menuju toilet
Sesampai nya di toilet, Lili mulai menangis mengeluarkan semua rasa sakit di hati nya
Lili menangis terisak demi melepaskan rasa sakit di hati nya
"Aku nggak tau apa yang aku rasakan kepada kak Vino, tapi mendengar kak Vino sudah memiliki seseorang yang di cintai nya dan akan memperkenalkan nya pada ku entah mengapa hati ku sangat sakit." ujar Lili menangis terisak
"Apakah aku pantas jika berjuang mendekati kak Vino?" ujar Lili sembari menatap cermin besar yang ada di dalam toilet itu
"Aku merasa nggak pantas untuk mendekati kak Vino. Apakah aku harus mundur dan menjauhi kak Vino?" ujar Lili lirih
Sementara Revan dan Vino sekarang sedang mengobrol
"Hei bro! aku lihat kau sekarang semakin dekat dengan Lili." ujar Revan sedikit berbisik
"Memang nya sangat terlihat jika aku sedang dekat dengan Lili?" tanya Vino
"Iya! kau sangat jelas jika sedang jatuh cinta walaupun aku baru melihat seorang Vino Mahesa jatuh cinta." ujar Revan
"Dari mana kau tahu jika aku baru jatuh cinta?" tanya Vino dengan tatapan menyelidik
"Astaga!!! apakah orang yang sedang jatuh cinta bisa menjadi bodoh? kau lupa atau bagaimana? bukankah kita selalu bersama dari kecil sampai sebesar ini!!!" ujar Revan sembari menggeleng kan kepala nya habis pikir dengan sahabat nya itu
"Iya juga ya, kau lah sahabat ku satu-satunya yang gak ada akhlak." ujar Vino
"Cih! kau juga sama gak ada akhlak nya Vino Mahesa!!! introspeksi diri coba!" ujar Revan
"Siapa bilang aku gak ada akhlak!" ujar Vino menutupi rahasia nya
"Heh! kau pikir kau bisa menutupi kebohongan mu dari ku! kau pikir aku tidak tahu jika seorang Vino Mahesa memilih hidup mandiri karena di paksa untuk berpacaran dengan Elvira." ujar Revan
"K-kau tahu dari mana? jangan sembarangan bicara!" ujar Vino masih berusaha menutupi kebohongan nya
"Cih! jangan munafik kau bro! bilang saja kau pergi dari mansion keluarga mu karena ingin memperjuangkan cinta mu untuk Lili kan, tidak perlu kau tutupi semua kebohongan nya karena mama mu sudah menceritakan semua nya kepada ku!" ujar Revan
"Mama bilang apa kepada mu?" ujar Vino
"Mama mu bilang kata nya kau langsung marah setelah kedua orang tua mu membicarakan tentang hubungan mu dengan Elvira dan kau langsung ingin pergi meninggalkan kedua orang tua mu dengan alasan hidup mandiri! itu yang mama mu ucapkan kepada ku." ujar Revan
"Kau tenang saja dan tidak perlu menutupi perasaan mu ke Lili di depan ku, aku akan selalu mendukung semua keputusan mu dan bila di perlukan aku bisa menjadi pak Comblang antara hubungan kau dengan Lili." ujar Revan menepuk bahu Vino
"Terima kasih bro! kau selalu mengerti semua keinginan ku dan tujuan ku." ujar Vino
"Tidak masalah! mungkin ini menjadi giliran ku untuk mendukung dan membantu mu karena selama ini kau yang selalu mendukung dan membantu ku." ujar Revan
__ADS_1
"Kau sungguh sahabat gak ada akhlak yang baik hati kepada ku!" ujar Vino
"Sebenarnya nya kau memuji ku atau menghina ku bang!" ujar Revan
"Hei! kenapa kau enteng sekali saat memanggil ku ' Abang ' hah!! kau harus introspeksi diri jika kau itu lebih tua dari ku!" ujar Vino tidak terima
"Heh! hanya selisih dua bulan saja menjadi masalah!" ujar Revan
"Bukanya jadi masalah, cuma aku takut orang lain akan mengira ku lebih tua dari mu padahal kenyataan nya kau lebih tua dari ku!" ujar Vino
"Baiklah! untuk kali ini aku mengalah kepada orang yang sedang jatuh cinta." ujar Revan dengan suara yang sedikit meninggi
"Shut!!! jangan keras-keras, aku ingin merasakan PDKT dulu dengan nya!" ujar Vino sedikit membisik
"Baiklah!" ujar Revan
"Oh iya bro, apa kau tidak bosan membohongi status mu kepada Rania? kenapa kau tidak mengungkapkan perasaan mu saja langsung secara resmi? ujar Vino
"Mungkin setelah ingatan Rania kembali aku akan mengungkapkan perasaan ku secara resmi kepada Rania, aku juga tidak ingin hidup dalam kebohongan terus-menerus." ujar Revan
"Syukurlah jika kau sadar dengan kebohongan mu kepada Rania." ujar Vino
"Iya! aku juga tidak ingin mengecewakan nya." ujar Revan
"Baguslah!" ujar Vino
"Aku nggak nyangka ternyata kak Vino pergi dari rumah demi mengejar cinta nya untuk ku!" ujar Lili menangis bahagia
"Bahkan dia sampai menentang keputusan orang tua nya demi mendapatkan cinta dari ku." ujar Lili
"Apakah aku pantas mendapatkan cinta kak Vino? apakah aku pantas untuk di perjuangkan?" ujar Lili
"Entah mengapa aku merasa kecil dan tak sebanding dengan kak Vino, apa mungkin karena perbedaan di antara kita? aku merasa sama sekali nggak cocok dalam segi apapun dengan kak Vino." ujar Lili
"Lili! kamu harus mencoba berjuang bersama kak Vino, jangan sampai kau mematahkan semangat nya untuk mendapatkan hati mu!!!" ujar Lili sembari menghapus air mata nya yang sudah tumpah ruah di pipi nya
Lili membasuh wajah nya dengan air, dia tidak ingin orang lain terutama Biji mengetahui jika dia habis menangis
Lili keluar dari toilet dan berjalan menemui Rania yang sedang berada di balkon kamar nya karena tidak ingin mengganggu pembicaraan antara Revan dan Vino
"Lili!" ujar Rania saat mengetahui Lili berdiri di samping nya
"Kenapa wajah mu sembab dan mata mu merah? apa kamu habis menangis?" ujar Rania yang khawatir dengan Lili
"Nggak kok! aku nggak habis nangis cuma tadi ada debu yang masuk pas aku kesini." ujar Lili berusaha menyakinkan Rania
__ADS_1
"Oh!! aku kira kamu habis nangis, sekarang mata kamu masih perih apa nggak?" ujar Rania
"Nggak kok!" ujar Lili tersenyum
"Syukurlah kalau udah nggak perih." ujar Rania sembari tersenyum
Tak berselang lama mata Lili kemasukan debu sungguhan.
"Aduh…" ujar Lili sembari memejamkan mata nya
"Kamu kenapa Li?" ujar Rania khawatir
"Mata ku kemasukan debu lagi Ran, perih banget!!!" ujar Lili merengek sembari mengeluarkan air mata
"Kok bisa sih! coba aku liat." ujar Rania mendekati Lili dan melihat kondisi Lili
"Aish! kenapa kepala ku pusing!!!" ujar Rania saat hendak melihat keadaan Lili
"Kamu kenapa Ran?" ujar Lili dengan suara yang sedikit keras dan masih memejamkan mata nya
Karena mendengar suara Lili yang cukup keras membuat Vino khawatir
"Ada apa dengan Lili? seperti nya terjadi sesuatu dengan Rania!" ujar Vino
"Kita lihat keadaan mereka!" ujar Revan yang ikut khawatir dengan gadis nya
Revan dan Vino langsung berlari menuju balkon kamar Rania
"Ada apa?" ujar Revan dan Vino bersamaan
"Ini pak, Rania kepala nya pusing dan sakit." ujar Lili berusaha menolong Rania namun karena mata nya perih jadi sedikit kesusahan
"By, kau kenapa?" ujar Revan mencoba menopang tubuh Rania yang hendak terjatuh
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
__ADS_1
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah