SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Kisah kelam Revan


__ADS_3

Deg


"Aku tidak mungkin mempunyai kekasih lagi honey, aku bahkan sangat membenci orang yang berbohong dan berkhianat!!!" ujar Revan berusaha tenang.


"Aku kira kakak bakal menyesal dan bicara jujur kepada ku, tapi ternyata tidak! aku baru ingat jika kak Revan orang yang egois!!!" batin Rania.


"Benarkah? kakak nggak bohong kan? awas saja kalau berani bohong maka aku akan pergi menjauh dari kakak!" ujar Rania setengah menyindir.


"Perkataan mu sungguh membuatku gelisah, by." batin Revan.


"Iya, kakak tidak akan berbohong kepada mu, sayang!" ujar Revan berusaha tenang.


"Kamu sungguh hebat dalam menutupi kebohongan, kak!" batin Rania.


"Oh iya, aku ke kamar dulu, sayang. Aku sudah berjanji dengan Vino untuk melakukan meeting online membahas tentang pembangunan gedung mall di kota A. Nanti aku kesini lagi dan pergi makan siang." ujar Revan.


Revan kembali ke kamar nya dan bersandar di dinding membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai.


"Maafkan aku Rania!"


"Aku sekarang merasa tidak pantas bersama mu,"


"Tapi aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Aku sangat mencintaimu!"


"Apa yang harus kulakukan?" ujar Revan.


Revan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut nya. Pria yang terkenal akan kekejaman dan wajah tanpa senyum nya kini terlihat rapuh bahkan menangis terisak.


Kemana Revan yang kejam tak berperasaan? Kemana Revan yang tidak pernah menangis? sosok itu bahkan hilang dalam dirinya.


"Aku tidak mau kehilanganmu, Rania!"


"Kau seperti pelangi yang mewarnai hidupku yang sudah di penuhi keabuan. Aku tidak mau kehilangan pelangi ku!!!" ujar Revan.


Revan menghancurkan benda disekitarnya, bahkan tangannya sudah di penuhi darah yang sudah menetes di lantai. Revan kembali terduduk di lantai setelah memecahkan barang-barang.


"Aku tidak bisa menyembunyikan kebohongan ini lebih lama!"


"Tapi aku juga takut Rania akan pergi setelah aku berkata jujur padanya."


"Aku sungguh takut kehilangannya!!!" ujar Revan kembali menangis terisak.


Hari sudah malam, waktu kini menunjukkan pukul 9 malam, namun Revan belum menampakkan batang hidungnya bahkan melupakan untuk mengajak Rania makan siang di luar.


"Kenapa kak Revan belum keluar dari kamarnya?"

__ADS_1


"Bahkan dia melewatkan makan siang dan makan malam!"


"Kenapa aku jadi khawatir seperti ini?"


"Apakah aku membuat nya tersinggung?" ujar Rania merasa khawatir dan bersalah kepada Revan.


"Sudahlah, aku ke kamar nya saja!" ujar Rania berjalan ke kamar Revan.


Gadis itu membuka pintu kamar yang tidak terkunci, tapi dikarenakan kamar itu kedap suara membuat orang yang berada di luar tidak mendengar keributan yang Revan lakukan.


"Astaga!!! kak Revan!!!" ujar Rania berlari ke arah Revan yang terduduk di lantai.


"Kak Revan bangun!!!" ujar Rania merasa sangat panik kala memegang tangan Revan yang mengeluarkan darah.


"R-rania maafkan aku!" gumam Revan.


"Iya kak, aku sudah memaafkan kakak!" ujar Rania.


Revan tersenyum, perlahan mata nya tertutup. Rania panik seketika.


"Kak Revan bangun! kakak jangan seperti ini, kakak bilang kakak mencintai ku jadi kakak jangan seperti ini kak!!!" ujar Rania menangis.


"Kakak superhero ku!!! kakak bilang akan membuat ku bahagia!" ujar Rania.


Rania yang panik pun tersadar dan segera mengambil ponsel Revan.


"Dokter, tolong periksa kak Revan dok, aku takut!" ujar Rania ketika melihat dokter Angga.


Dokter Angga segera memeriksa keadaan sahabat menyebalkan nya itu. Dokter Angga menghela nafas setelah memeriksa kondisi Revan.


"Gimana keadaan kak Revan?"


Gimana keadaan Revan?"


tanya Rania dan Vino hampir bersamaan.


"Tangan Revan yang terluka mengalami infeksi, seperti nya trauma masa lalu nya kambuh!" ujar Angga.


"Pasti Revan lupa tidak meminum obatnya." ujar Vino.


"Apa yang kalian berdua maksud? kak Revan sakit apa?" ujar Rania.


"Kau Rania?" tanya Angga.


"Iya dok!" ujar Rania.

__ADS_1


"Panggil Angga saja!" ujar Angga.


Angga dan Vino sepakat menceritakan apa yang selama ini Revan alami, betapa menderitanya Revan setelah ibu kandung nya yang merupakan orang yang paling Revan sayangi pergi meninggalkan nya, setelah diusir oleh ayahnya karena saat itu ibunya sedang sakit dan tidak bisa melayani hasr*t ayah Revan yang sangat tinggi, membuat sang ibu pergi diusir dari mansion. Ibunya ingin membawa Revan bersama nya namun diurungkan karena tidak ingin putra semata wayangnya hidup menderita bersama nya. Ibu Revan berjanji kepada Revan kecil jika pada saat usianya menginjak 25 tahun maka ibunya akan menemuinya. Dan Revan masih menunggunya hingga sekarang. Sementara ayah Revan menikah lagi dengan Melinda yang seorang Disainer sukses. Revan kecil setiap hari nya dianiaya oleh Melinda yang sangat membenci Revan kecil.


"Jadi seperti itu ceritanya…" ujar Vino dan Angga setelah menceritakan kehidupan Revan.


"Aku tidak menyangka ternyata kehidupan kak Revan lebih menderita dari kehidupan ku!"


"Kak Vino, kak Angga! aku jadi merasa bersalah sama kak Revan."


"Aku tidak mempercayai cinta kak Revan yang sangat tulus untuk ku!" ujar Rania menangis terisak.


"Kau tahu Rania, sebenarnya Revan tidak bisa bersikap romantis dan perhatian tapi Revan selalu berusaha menjadi sosok yang romantis dan perhatian karena melihat mu yang selalu ceria dan peduli terhadap sesama." ujar Vino.


"Revan juga bukan orang yang bisa mengekspresikan perasaan nya lewat raut wajah setelah kejadian masa lalu nya. Tapi Revan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengekspresikan wajah nya." ujar Angga.


"Dia sangat mencintaimu, Rania!" ujar Vino.


"Aku mohon padamu, Rania. Revan sudah ku anggap seperti saudara kandung ku, jadi aku mohon kau jangan kecewakan dia!" ujar Vino.


"Iya Rania, kau jangan sampai kecewakan Revan!" ujar Angga.


"Iya kak! aku akan membuka hati ku sepenuhnya pada kak Revan." ujar Rania.


"Kau jangan tinggalkan dia karena itu akan membuat trauma nya semakin parah. Aku percayakan kepada mu untuk menghapus trauma di hati Revan!" ujar Angga.


"Baik kak, aku akan berusaha menghapus trauma yang kak Revan alami!" ujar Rania.


Rania berjalan mendekat ke arah tempat tidur, Rania berjongkok memandangi wajah tampan Revan yang kini terlihat pucat. Tangan Rania terulur mengelus rambut Revan dengan sayang.


"Good night my Cruel Boss!" ujar Rania.


"Rania disini dingin, kau naik ke tempat tidur saja!" ujar Vino.


"Tapi kak …"


"Sudah, tidak apa-apa." ujar Vino


Rania mengangguk dan naik ke atas tempat tidur.


Sementara Vino dan Angga, duduk di sofa. Mereka masih khawatir dengan keadaan Revan yang belum sadar dari pingsan nya, membuat kedua sahabatnya itu memutuskan menginap.


Keesokan harinya, Revan belum juga sadar. Rania, Vino dan Angga masih setia menunggu. Tanpa mereka sadari, tangan Revan mulai bergerak menandakan dirinya segera sadar.


Perlahan Revan membuka matanya.

__ADS_1


"Kak Revan!"


__ADS_2