SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Baik baik saja


__ADS_3

"Jujur saja aku juga sudah tidak perjaka lagi!" ujar Revan


"Jika tidak melakukan enak-enak dengan kekasih mu, jadi kau melakukan dengan siapa?" tanya Kaivan bingung.


"Dengan Zhao lie!" bisik Revan.


"What?! you play with Lady Zhao lie?! Oh My God! You are very crazy!!!"


"Apa kau tidak tahu betapa bebasnya pergaulan Lady Zhao lie itu?!" ujar Kaivan merasa tak percaya.


"I know, but I have no other choice!"


"Aku melakukan itu juga hanya untuk memuluskan rencana ku!" ujar Revan.


"Apa kau tahu, Van? Lady Zhao Lie itu seorang pemain terhebat, dia sangat terkenal di negara J! jadi aku merasa aneh mendengar mu pernah bermain dengan nya! jorok sekali!"


"Meskipun aku seorang Casanova tapi jika melihat Lady Zhao lie bertelanjang bulat sekalipun aku tidak akan tertarik padanya!!!"


"Dia sudah bermain dengan banyak pria dan terkenal akan permainan nya yang sangat hebat!" ujar Kaivan.


"Sial! apa yang harus aku lakukan sekarang?" ujar Revan frustasi.


"Kau harus memeriksakan diri ke dokter! aku takut terjadi sesuatu dengan mu!" ujar Kaivan.


"Baiklah! aku akan menghubungi Angga!" ujar Revan mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana nya dan menghubungi dokter Angga.


Panggilan terhubung


📱 : Halo Ngga, kau ke apartemen ku sekarang juga. Bawa alat kesehatan yang lengkap, aku ingin melakukan pemeriksaan secara keseluruhan!


📲 : Apa kau masih sakit, Van?


📱 : Sudah jangan banyak bicara! cepat kesini.


📲 : Baiklah.


Panggilan pun dimatikan.


"Bagaimana? Angga mau kesini?" tanya Kaivan.


"Ya!" ujar Revan.


"Aku tinggal sebentar, kekasih ku sedang kurang sehat!" ujar Revan.


"Iya!" ujar Kaivan.


Revan berjalan memasuki kamar Rania dan melihat Rania sedang duduk sembari memainkan ponsel nya.


"Sayang! Apa perut nya masih sakit, hm?" tanya Revan setelah mendudukkan dirinya di sebelah Rania.


"Masih nyeri dikit sih kak,"


"Kenapa kakak disini? apa teman kakak sudah pulang?" ujar Rania.


"Belum, tapi aku ingin mengecek keadaan mu!" ujar Revan.

__ADS_1


"Aku udah mendingan kok tadi udah dikompres air hangat sama udah minum teh manis!"


"Kakak temenin aja temannya, kasihan sendirian!" ujar Rania.


"Ya udah kakak keluar lagi, kalau masih sakit panggil kakak!" ujar Revan sembari mencium pipi Rania.


"Iya Kak!" ujar Rania tersenyum.


"Tidak ada niatan ngasih ciuman nih!" goda Revan menunjuk bibir nya.


"Tidak!" ujar Rania.


"Udah sana keluar! bosen liat kakak terus!!!" ujar Rania mendorong tubuh Revan sedikit kuat hingga terhuyung ke belakang keluar dari kamar nya dan mengunci pintu kamar nya.


Revan terperangah melihat kelakuan kekasih nya yang mengusir secara kasar diri nya keluar dari kamar.


"Ada apa dengan nya? kenapa aku diusir dari kamarnya? dan apa katanya tadi, dia bosan melihat ku?" gerutu Revan.


Hahahaha…


Hahahaha…


Hahahaha…


Hahahaha…


Terdengar tawa renyah dari tetangga yang seperti nya melihat saat-saat dirinya di usir dari kamar kekasih nya.


Revan berbalik dan terlihatlah, Kaivan bersama Angga, Vino, dan juga Farhan sedang duduk di sofa ruang tamu dengan tawa yang belum reda.


"Kenapa disini ramai sekali? aku hanya menyuruh Angga kesini!" ujar Revan mendudukkan dirinya di sofa single.


"Kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Revan menatap Vino dan Farhan tajam.


"Saya kesini untuk mengantar kan berkas yang harus anda tanda tangani, tuan!" ujar Farhan.


"Baiklah! oh iya Farhan, apa kau lupa ini diluar kantor?" ujar Revan.


"Maaf kak!" ujar Farhan.


"Kau sedang apa disini?" tanya Revan.


"Aku membantu Angga membawa peralatan nya!" ujar Vino.


"Alasan!!!" ujar Angga, Kaivan, dan Farhan serempak.


"Sebenarnya kak Vino itu khawatir dengan mu kak!" adu Farhan.


"Sialan kau Han, sekarang kau jadi jahat dengan ku! pasti karena pengaruh bos mu itu kan!" ujar Vino kesal.


"Farhan kan memang asisten ku yang paling setia."


"Bonus bulanan mu aku naikan bulan ini!" ujar Revan.


"Terimakasih kak!" ujar Farhan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Positif thinking aja, mungkin Farhan takut biaya sekolah Hana dipotong!" ujar Vino.


"Rasanya aku ingin menenggelamkan mu ke dalam sungai Amazon biar berteman dengan ikan piranha jika tidak mengingatmu sahabat ku!!!" ujar Revan.


"Hei Nyet! bisa tidak sih kalian berdua akur sebentar, cenat-cenut kepala ku dengerin kalian adu mulut!" ujar Kaivan menengahi adu mulut Revan dan Vino.


"Bukankah kepala mu cenat-cenut jika tidak naik gunung turun lembah!" sindir Revan.


"Itu kan lain! lagipula selama ini aku tidak pernah cenat-cenut karena itu. Dan perlu kalian ingat jika Kaivan Rainer tidak pernah kekurangan wanita!!!"


"Bahkan semua gadis rela menyerahkan mahkota nya demi menaiki ranjang ku!" ujar Kaivan dengan percaya diri nya.


"Apakah dia benar-benar temanku? oh astaga otak nya hanya berisi hasrat bercinta saja!!!" batin Angga.


"Sadarlah wahai pemuja lembah kenikmatan!!!" batin Vino.


"Baru juga disindir, udah kambuh lagi pikiran naik gunung turun lembah nya!" batin Revan.


"Kenapa aku harus datang ke sini disaat yang tidak tepat? otak ku bisa tercemar oleh pembicaraan mesum Kai yang mencemari pikiran polos ku ini!!!" batin Farhan.


Selama ini justru Farhan yang sangat akrab dengan Kaivan. Bahkan mereka bersahabat karena hanya Farhan yang paling mengerti dengan otak mesum Kaivan.


"Ini yang katanya mau periksa jadi apa tidak? aku sudah membawa peralatan banyak loh!" ujar Angga mengalihkan pembicaraan dari perdebatan Revan dan Kaivan.


"Ya sudah! aku ingin pemeriksaan menyeluruh!" ujar Revan.


"Baiklah!"


Revan pun mengajak Angga masuk ke dalam kamar tamu, Vino, Farhan, dan Kaivan.


"Kenapa kalian bertiga ikut masuk?" tanya Revan kesal.


"Kan kita kepo dengan hasil pemeriksaan mu!" ujar Vino.


"Sudahlah Van, biarkan saja para kutu kupret ikut masuk!" ujar Angga.


Revan pun hanya pasrah. Setelah sekitar satu jam melakukan pemeriksaan, akhirnya hasil pemeriksaan keluar.


"Bagaimana? kau baik-baik saja kan?" tanya Vino cemas.


"Revan baik-baik saja! kondisi fisik nya sehat!" ujar Angga.


"Kau masih selamat, Van! untung saja tidak ada penyakit aneh di tubuh mu!" ujar Kaivan.


"Berhentilah bermain dengan Lady Zhao lie jika ingin tetap sehat!" ujar Kaivan lagi.


"Maksudnya kau…" Angga, Vino, dan Farhan menatap Revan tak percaya.


"Ya, aku pernah bermain bersama Zhao lie tapi itu semua karena terpaksa!"


"Aku hanya ingin memuluskan rencana ku saja, jadi aku terpaksa bermain dengan nya." ujar Revan.


"Kami harap anda tidak melakukan nya lagi tuan! perbuatan seperti itu hanya akan menambah masalah dan mungkin bisa menjadi boomerang untuk diri anda sendiri."


"Saya lihat nona Zhao sangat agresif jadi tidak menutup kemungkinan nona Zhao akan berbuat nekat."

__ADS_1


"Dan jika itu sampai terjadi maka anda akan menyesal!" ujar Farhan.


__ADS_2