SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Sangat geram


__ADS_3

"Kenapa kamu harus muncul lagi di hadapan ku, kak? bukankah urusan kita sudah selesai dan impas? kenapa tidak cukup kau muncul di dalam lamunan ku dan mimpiku setiap hari nya?" batin Rania.


"Jujur saja sampai saat ini perasaan ku masih sama. Walaupun aku terlambat menyadari perasaan cinta ku pada mu, tapi itu tetap tidak mengurangi rasa cinta ku. Kak Revan....aku mencintai mu! semoga kamu menemukan sosok yang lebih dari segala nya dibandingkan aku!!! aku akan mencoba melupakan mu!!! terima kasih untuk kasih sayang dan cinta yang telah kamu berikan!!!" batin Rania.


"Sudah sampai!" ujar Dafa membuyarkan lamunan Rania.


Rania masih diam, Dafa pun membukakan pintu mobil nya untuk Rania.


Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung apartemen.


Dafa mengantarkan Rania pulang ke apartemen nya setelah melihat kesedihan di mata Rania tadi.


Rania dan Dafa pun masuk ke dalam salah satu unit apartemen itu.


"Sekarang sudah tidak ada orang, jadi kau sudah bisa menangis sepuasnya!" ujar Dafa setelah duduk di sofa ruangan tamu apartemen itu.


Hua…


Rania menangis keras meluapkan kesedihan yang di tahan nya. Dafa pun langsung memeluk dan menenangkan Rania.


Setelah cukup lama menangis, Rania pun melepaskan pelukan Dafa.


"Kenapa dia harus kembali, Fa?"


"Disaat aku berusaha keras melupakannya, tapi dia malah muncul di hadapan ku!" ujar Rania masih sesenggukan.


"Kalau dilihat-lihat sih, sepertinya takdir kalian terhubung!" ujar Dafa.


"Maksudnya?"


"Kalian memang ditakdirkan berjodoh!" ujar Dafa.


"Itu tidak mungkin! aku dan dia banyak perbedaan." ujar Rania.


Tring…


Ponsel Rania berbunyi, menandakan ada seseorang menelponnya.


"Rania, ini ada klien yang ingin menggunakan jasa WO kita. Bagaimana mau diterima atau tidak?" ujar Reni.


"Ya ampun Bu…Kalau ada klien langsung diterima aja, nggak perlu nunggu persetujuan Rania!" ujar Rania.


"Tapi kan kita harus terbuka nak. Ibu nggak mau mengambil keputusan sendiri, takut nya nanti terkesan memaksa mu! bagaimanapun juga WO itu kita bangun bersama!" ujar Reni.


"Terserah ibu saja deh, Rania nggak maksain!"


"Udah dulu ya Bu, ada yang harus Rania urus!" ujar Rania.


"Iya kamu selesain urusan mu dulu, nak. Nanti langsung pulang ke apartemen saja!" ujar Reni.


"Siap!"


Panggilan telepon pun terputus.


"Ada apa?" Dafa bertanya kepada Rania.

__ADS_1


"Ada klien baru, Fa!" Rania berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.


"Dafa! klien baru nya dari kota J. Itu berarti aku harus kembali ke kota J. Aku belum siap! aku harus bagaimana, Fa?" Ucap Rania setelah mengambil minum dan kembali duduk di sofa.


"Aku dan Tante Reni akan ikut dengan mu! aku tidak akan membiarkan kau ditindas lagi oleh pria brengs*k itu lagi!" Dafa menggenggam tangan Rania untuk memberi semangat kepada Rania.


"Makasih udah mau menolong ku. Mungkin jika tidak ada kamu dan Tante Reni, aku masih dalam keadaan terpuruk." Pikiran Rania memutar saat dirinya baru datang ke kota S.


"Sama-sama!" ujar Dafa tersenyum manis.


"Melihat Dafa tersenyum membuat ku jadi mengingat saat kak Revan kembali tersenyum. Senyumnya sangat manis!" batin Rania.


"Dafa, anterin aku balik ke tempat WO ya!" ujar Rania.


"Iya, ayo!" ujar Dafa.


Dafa dan Rania pun keluar dari apartemen itu tanpa menyadari ada seseorang yang memantau.


"Tuan, nona Rania dan pria itu tampak keluar dari sebuah unit apartemen!"


"Apa?! tak bisa dibiarkan!!! terus ikuti mereka!"


"Baik tuan!"


Revan tampak sangat geram mendengar laporan dari anak buah nya tentang Rania dan Dafa.


"Brrngs*k!!! beraninya kau mendekati Rania ku! tak bisa ku biarkan!!!" ujar Revan.


Ting…


Ting…


Ting…


"Halo Ma!"


"…"


"Apa?! seminggu lagi!!!"


"Kenapa harus secepat itu ma?!"


"…"


"Baiklah, lusa Revan kembali!"


"…"


"Bye ma!"


Revan mematikan panggilan telepon nya.


"Aarrgghh!!!"


"Kenapa jadi seperti ini?!"

__ADS_1


"Semua rencana ku gagal total!!!"


"Semua karena Zhao lie dan pria brengs*k itu!!!"


Revan sangat marah dan menghancurkan semua barang yang ada di apartemen itu.


"Apakah ini akhir dari kisah ku dengan Rania?! Apakah aku dan Rania tidak di takdir kan untuk bersama?!"


"Tidak!!! itu tidak mungkin!!! Rania jodoh ku!!! hanya aku yang boleh memiliki nya!!!"


Revan berteriak dan menangis meratapi nasib nya dan tidak terima dengan keadaan yang ada.


Penampilan pria tampan yang terkenal dingin dan kejam itu kini tampak berantakan dan acak-acakan. Hilang sudah wibawanya sebagai seorang CEO.


"Aku harus mengajak Rania bicara!"


"Aku tidak akan melepaskan nya begitu saja!"


Revan segera menghubungi anak buahnya yang menjaga Rania untuk membawa gadis itu ke hadapannya.


Malam harinya, Revan sedang duduk disebuah sofa single menatap pemandangan kota S dengan tatapan tajam nya. Tangan pria tampan itu tampak memegang segelas wine dan di sekitar nya terdapat beberapa botol wine yang berserakan bahkan pecah.


Pria tampan itu terlihat sangat tenang saat menyesap wine nya, namun genggaman tangan erat pada gelas wine itu tak dapat membohongi jika amarah pria itu sedang meluap-luap.


"Bos! nona Rania sudah berhasil kami bawa, sekarang beliau sudah ada di kamar anda!" ujar salah satu anak buah nya.


"Kalian tidak menyakiti nya kan saat membawa nya kemari?! jika sampai ada goresan sepucuk kuku di tubuh gadis ku, maka nyawa kalian taruhannya!" ujar Revan dengan suara serak nya.


"Tenang Bos, nona Rania aman tanpa kekurangan sesuatu apapun!" ujar anak buah Revan.


"Tetap jaga di depan pintu kamar ku sampai gadis ku sadar!"


"Siap Bos!" anak buah Revan langsung menjalankan perintah.


Revan melanjutkan kegiatannya yang sedang menyesap wine.


Setengah jam kemudian, Rania sudah sadar. Gadis cantik itu nampak kebingungan melihat keadaan sekitar yang sangat asing ditambah dengan suasana ruangan itu yang gelap.


"A-aku dimana?" Tubuh Rania bergetar ketakutan.


"A-apa aku di culik? oh no! aku gak mau! aku harus keluar dari sini!!!" ujar Rania segera turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu.


Pintu terkunci, Rania menggedor pintu dengan kuat hingga tangannya memerah. Tubuh Rania merosot dan menangis bersandar di dinding dekat pintu.


Ceklek


Pintu terbuka, hingga terlihat lah seorang pria tampan dengan penampilan yang berantakan.


"Hai sayang!"


"K-kamu? aku dimana?" ujar Rania ketakutan melihat penampilan Revan yang sangat berbeda.


"Lepasin aku!!! aku takut!!!" ujar Rania menundukkan kepalanya dan menangis.


"Aku lebih takut kehilanganmu, by!" suara serak Revan membuat Rania semakin ketakutan ditambah Revan yang sudah berada di hadapan nya.

__ADS_1


"Hiks…lepasin aku!!! aku takut!!! bukankah aku tidak pernah mengganggu kehidupan mu lagi, hiks…jadi untuk apa kau mengganggu ku…" tangisan Rania bertambah keras dan terdengar memilukan.


"Maaf!"


__ADS_2