SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Merawat Revan


__ADS_3

"Kak Revan!"


"Kakak sudah sadar?" ujar Rania langsung memeluk Revan erat.


"Ekhem! bisa di periksa dulu tidak?" ujar Angga.


"Iya kak!" ujar Rania.


Angga memeriksa kondisi Revan demam nya belum sembuh total diakibatkan infeksi di tangan nya.


"Gimana kak keadaan kak Revan?" ujar Rania.


"Demam nya masih belum turun tapi mental nya sudah tenang." ujar Angga.


Rania kembali memeluk Revan.


"Rania!" ujar Revan mengusap rambut Rania.


"Kakak semalam kenapa? kenapa tangan kakak terluka?" tanya Rania.


"Tidak kenapa-kenapa!" ujar Revan berusaha duduk dengan dibantu Vino dan Angga.


"Bohong!" ujar Rania.


Mendengar kata itu, ingatan Revan langsung menuju kejadian tadi malam disaat dia merasa frustasi karena dirinya telah melakukan kebohongan.


"Rania kenapa kau mengatakan kata bohong lagi? itu membuat Revan mengingat kejadian semalam!" bisik Angga.


"Maaf kak, aku nggak tau!" bisik Rania.


"Aduh Rania!!! mulut mu ini seperti tidak ada rem nya!!!" batin Rania kesal dengan diri sendiri.


"Vino, Angga, bisakah kalian keluar sebentar?" ujar Revan.


"Ya!" ujar Vino sembari menarik tangan Angga keluar dari kamar itu.


Setelah pintu tertutup, Revan menggenggam tangan Rania dan menatapnya dengan intens.


"Rania! aku kira kau akan pergi meninggalkan ku!" ujar Revan.


"Nggak kak! aku akan tetap disini bersama kakak." ujar Rania tersenyum.


"Sungguh! kau tidak akan meninggalkan ku?" ujar Revan.


"Iya kak Revan sayang!" ujar Rania tersenyum manis.


Revan langsung menarik tangan Rania dan membawa nya kedalam pelukan nya. Dia merasa bersyukur Rania masih berada di sisi nya.


"Kakak mau makan apa?" tanya Rania.


"Aku tidak ingin makan, hanya ingin kau berada di sisi ku!" jawab Revan.


"Jangan gitu kak! kakak dari kemarin belum makan terus sekarang kakak demam kalau nggak makan nanti tambah sakit dan kalau sakit aku akan pergi!" ujar Rania kesal.


"No! kau jangan pergi! baiklah, aku ingin makan sup ayam." ujar Revan.


"Sebenarnya aku ingin merasakan sup ayam seperti buatan Mama dulu saat aku kecil, tapi disini tidak ada Mama jadi kau saja yang buatkan!" ujar Revan.

__ADS_1


"Kakak jangan sedih lagi ya, nanti kalau kakak udah sembuh, aku bantu kakak bantu cari Mama kakak." ujar Rania berusaha menenangkan Revan.


"Mama sudah pergi entah kemana dan Mama bahkan tidak menepati janjinya untuk menemui ku." ujar Revan.


"Kak Revan harus positif thinking ya … mungkin Mama nya kak Revan lagi sibuk atau ada masalah jadi kakak nggak boleh negatif thinking begitu. Suatu saat kakak pasti akan bertemu sama Mama." ujar Rania.


"Sekarang kakak harus makan yang banyak biar cepat sembuh karena biasanya seorang anak pasti memiliki ikatan batin dengan Ibunya, jadi kalau kakak sakit nanti Mama nya ikut sakit. Apa kakak mau melihat Mama nya kakak sakit?" ujar Rania.


"Tidak mau! sudah cukup dulu mama kesakitan. Baiklah, aku akan makan yang banyak supaya Mama tidak sakit." ujar Revan.


"Ya udah, aku masakin sup ayam dulu, ya walaupun masakan ku tidak seenak masakan Mama nya kakak." ujar Rania tersenyum.


Rania pergi ke dapur untuk memasak, sementara Vino dan Angga menemani Revan.


Setengah jam kemudian, Rania sudah selesai memasak sup ayam dan membawanya ke kamar Revan.


"Vin, bagaimana penyelidikan mu? apa Reno semakin bertindak?" tanya Revan.


"Ya. Kau tahu sendiri kan seperti apa karakter Reno, saat kita diam makan dengan cepat dia bertindak!" ujar Vino.


"Suruh anak buah mu untuk memperketat penjagaan markas!" ujar Revan.


"Iya, sudah!" ujar Vino.


"Sip lah!" ujar Revan.


"Van, Vin. Sekarang tidak ada pekerjaan lab untuk ku lagi kah?" ujar Angga.


"Sementara belum Ngga. Mungkin sebentar lagi kau akan sibuk di lab kesayangan mu itu!" ujar Vino.


"Kenapa? kau kan bisa bersih-bersih di lab kesayangan mu itu!" ujar Revan terkekeh.


"Ya kali seorang ilmuwan seperti ku masuk lab cuma bersih-bersih kan tidak keren." ujar Angga.


"Kau kan memang tidak keren dan amatiran!" ujar Revan dan Vino hampir bersamaan.


Vino tertawa sementara Revan hanya mengangkat bibirnya tipis. Dan Angga, pria itu mendengus kesal.


"Jahat kau Van, mentang-mentang sudah punya pacar seenaknya mem-bully ku!!!" gerutu Angga.


"Kau juga ikutan mem-bully ku, kita itu sama-sama jomblo jadi jangan menghina!!!" ujar Angga kepada Vino.


"Siapa bilang aku masih jomblo?" ujar Vino tidak terima.


"Kan memang kau masih jomblo!" ujar Angga.


"Aku sudah punya kekasih tahu!" ujar Vino.


"Siapa?" tanya Angga.


"Kapan-kapan aku kenalkan!" ujar Vino.


Rania mengetuk pintu kamar Revan yang sedikit terbuka.


"Masuk saja Ran!" ujar Vino.


Rania masuk ke dalam kamar Revan bersamaan dengan Vino dan Angga yang keluar.

__ADS_1


"Mau kemana kak?" tanya Rania kepada Vino dan Angga.


"Mau keluar lari pagi!" ujar Angga.


"Oh, nanti kalau udah pulang lari pagi bisa sarapan kak. Aku sudah buatkan sandwich." ujar Rania.


"Baiklah, terimakasih!" ujar Angga dan Vino.


Rania meletakan nampan yang berisikan sup ayam dan air putih di atas nakas kemudian duduk di sebelah Revan.


"Kau sudah selesai membuatkan ku sup ayam, by!" ujar Revan.


"Iya kak, aku suapin ya!" ujar Rania.


Rania mulai menyuapi Revan dengan telaten sampai tanpa sadar makanan telah habis.


"Minum obat dulu kak!" ujar Rania memberikan obat dan segelas air putih kepada Revan. Revan langsung meminumnya.


"Gimana udah mendingan kak?" tanya Rania.


"Iya." ujar Revan.


"Sup ayam buatan mu tidak kalah enak dari buatan Mama dulu!"


"Terimakasih by sudah mau merawat ku jika aku sedang sakit!" ujar Revan.


"Kakak tidak perlu berterima kasih. Aku akan merawat kakak dengan sepenuh hati, jadi tidak perlu berterima kasih." ujar Rania.


"I Love you, baby!" ujar Revan.


"I Love you too!" ujar Rania.


Hati Revan menghangat, kekhawatirannya jika Rania akan pergi meninggalkan nya perlahan sirna.


"Aku ke dapur dulu kak!" ujar Rania menutupi kegugupan nya.


"Mau apa? disini saja, jangan keluar dulu!" ujar Revan menarik tangan Rania hingga terjatuh di pelukan Revan.


"Kau bilang akan menemani ku. Jadi disini saja jangan kemana-mana," ujar Revan memeluk Rania erat.


"Aku belum mandi kak, masih bau kecut!" ujar Rania mencari alasan.


"Siapa bilang kau bau kecut? kau masih wangi, by!" ujar Revan mencium bahu Rania.


"Tapi kak--"


Cup…


Cup…


Cup…


Revan langsung mencium kening, pipi, dan bibir Rania membuat gadis itu langsung terdiam.


Revan menarik tipis sudut bibir nya melihat pipi Rania yang sudah sangat merah merona itu.


Rania kesal kepada Revan yang dengan seenaknya mencium tanpa izin.

__ADS_1


__ADS_2