
"Jangan dilanjut kan atau kau akan menyesal!!!" ujar Vino menatap Revan dengan sangat tajam
"Gila!!! tatapan nya pak Vino serem banget!!!" batin Lili bergidik ngeri
"Gila!!! itu orang tatapan nya tajam bener serasa menusuk ke jiwa raga ku!!!" batin Rania
"Baiklah! tidak akan ku lanjutkan!" ujar Revan dengan santai nya
"Pak Revan sama sekali nggak takut sama tatapan nya pak Vino, sungguh mereka satu hati. Sama-sama menyeramkan!!!"batin Lili
"Revan nggak waras atau gimana, dia sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam teman nya itu." Batin Rania
Rania dan Lili menatap Revan dan Vino dengan tatapan aneh dan bingung, hal itu membuat yang di tatap saling pandang
"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" bisik Revan kepada Vino
"Entahlah! mungkin mereka bingung karena kau tidak merasa takut melihat tatapan ku tadi." bisik Vino
"Mereka tidak tahu saja kalau bang Revan ini tatapan nya lebih menyeramkan dari ku." bisik Vino
"Apa kau bilang!!!" ujar Revan cukup keras yang berhasil membuat Rania dan Lili kaget
"Hei kau tidak perlu berteriak bang, karena pendengaran ku masih tajam," ledek Vino
"Jika tidak ingin aku berteriak lagi, maka lebih baik kau diam!" ujar Revan dengan wajah serius
"Baiklah bang aku mengalah!" ujar Vino dengan raut wajah sedih
"Berhenti memanggil ku dengan sebutan 'abang' , aku geli mendengar nya!"ujar Revan
"Tapi kau lebih tua 2 bulan dari aku."ujar Vino
"Hei!!! hanya 2 bulan saja di permasalahkan!!!" ujar Revan
"Kan takut tidak sopan kepada orang yang lebih tua." ujar Vino menyindir Revan
"Kenapa tidak dari dulu!!!" ujar Revan kesal
"Jika kau masih meledek ku terus lebih baik kau pulang saja." ujar Revan
"Kalau aku pulang nanti yang akan menceritakan kronologi kejadian tadi siapa?" ujar Vino mencari alasan
"Masih ada dia!" ujar Revan menunjuk ke arah Lili, hal itu membuat Lili terkejut
"Siapa nama mu?" tanya Revan kepada Lili
"Saya Lili Sasmita pak." jawab Lili dan mendapat anggukan dari Revan
"Masih ada Lili yang bisa menceritakan nya." ujar Revan dengan santai
"Hehe, maaf bro!!! aku tidak akan meledek mu lagi, jadi jangan usir aku ya…" ujar Vino
"Baiklah! tapi, jika nanti kau meledek ku lagi maka aku tidak akan segan-segan menyeret dan menendang mu dari apartemen ini." ujar Revan serius
"Siap bro." ujar Vino
__ADS_1
Sedangkan Rania dan Lili hanya bisa menelan ludah dengan susah payah sembari mendengarkan perdebatan dua orang yang menyeramkan
"Jadi, tadi bagaimana penyelidikan kalian?" ujar Revan dengan wajah yang sangat penasaran
"Benar!" ujar Vino
"Maksud nya benar apa?"ujar Revan menaikan alis nya sebelah
"Yang kau pikirkan selama ini benar." ujar Vino
"Jadi mereka sungguh mengusir gadis itu dari rumah!" ujar Revan yang tidak ingin Rania tahu bahwa mereka sedang menyinggung nya
"Tepat sekali! bahkan mereka sampai menghina gadis itu." ujar Vino yang mengerti maksud Revan menyebut 'gadis itu'
"Keterlaluan sekali mereka!!!" ujar Revan dengan emosi yang sudah meluap
"Apa yang akan kau lakukan selama ini?" ujar Vino kepada Revan
"Tentu saja aku akan mengikuti permainan mereka dengan berpura-pura menjadi orang yang bodoh." ujar Revan menyeringai
"Oh iya, aku ingin tahu apa alasan mereka mengusir gadis itu?" ujar Revan
"Gadis itu sudah difitnah oleh adik tiri nya dan dengan bodoh nya, ayah mereka mempercayai omongan adik tiri dari gadis itu." ujar Vino
"Memfitnah bagaimana maksud nya?" ujar Revan
"Rania difitnah bahwa dia sudah sering melakukan hubungan **** dengan banyak orang." bisik Vino
"Apa!!! sungguh keterlaluan mereka, lihat saja nanti akan aku buat mereka menderita dan menangis darah di hadapan gadis itu." ujar Revan dengan emosi
"Seperti nya kau memang jatuh cinta dengan Rania bro!" batin Vino
"Baiklah! terima kasih." ujar Revan
"Sama-sama! santai saja bro." ujar Vino
"Lili! apa kau bisa membantu ku?" ujar Revan kepada Lili
"Tentu saja bisa pak!" ujar Lili dengan ekspresi gugup
"Apa kau bisa membuat gadis itu sadar?" ujar Revan
"Sadar? apa maksud pak Revan, dia ingin meminta bantuan ku untuk membantu Rania mengingat masa lalu nya kembali?" batin Lili
"Siap pak! saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyadarkan gadis itu." ujar Lili dengan senyum yang merekah di bibir nya
"Saya percayakan dia kepada mu!" ujar Revan
"Baik pak!" ujar Lili
"Oh iya, sekarang sudah malam. Apa kalian mau makan malam di sini?" ujar Revan
Setelah mendengar ucapan Revan, Lili dan Vino saling pandang
"Kenapa dengan dia? apa sahabat gak ada akhlak ini sedang demam tinggi?" batin Vino
__ADS_1
"Kenapa pak Revan jadi baik banget, nggak seperti biasa nya." batin Lili
"Kebetulan tadi Rania memasak cukup banyak, apa kalian berdua mau makan malam disini?" ujar Revan
"What!!! kenapa Rania dan pak Revan seperti sepasang suami istri saja ya!" batin Lili
"Ini anak benar-benar sedang jatuh cinta, tidak seperti biasa nya dia peka terhadap orang lain." batin Vino
"Baiklah!" ujar Vino dan Lili bersamaan
"Aduh!!! kenapa harus barengan lagi sih ngomong nya, untung aja Rania masih lupa ingatan kalau nggak kan bisa parah aku di ledekin!" Batin Lili
"Kenapa aku ngomong nya bareng terus ya dengan Lili, apa ini yang dinamakan satu hati!" batin Vino terkekeh
"Kalian berdua janjian atau bagaimana? sejak tadi ngomong nya bareng terus." ujar Revan
"Tidak pak!!! hanya kebetulan!!!" ujar Lili menjawab dengan cepat
"Em!!! kalian ini sepasang kekasih ya…sejak tadi seperti nya ngomong nya barengan terus, kayak satu hati gitu!!!" ujar Rania yang angkat bicara
"Bukan kok!!!" ujar Lili dengan cepat
"Walaupun dia lupa ingatan tetapi dia masih bisa meledek ku. Mungkin jiwa meledek nya sudah menjalar sampai ke hati dan batin nya kali ya." batin Lili
"Kirain kalian sepasang kekasih!" ujar Rania terkekeh
"Mending kita makan malam, aku sudah lapar nih!" ujar Vino
"Dasar sahabat gak jelas, di rumah orang seperti sedang di rumah sendiri." ujar Revan
"Biasa nya kan tuan rumah selalu berkata 'anggap saja rumah sendiri', jadi aku menganggap ini apartemen sendiri" ujar Vino dengan enteng nya
"Tapi aku tidak pernah bilang seperti itu kepada mu!!!" ujar Revan
"Bilang apa maksud nya?" ujar Vino
"Bilang 'anggap saja rumah sendiri' " ujar Revan kesal
"Baiklah! terima kasih, aku akan menganggap apartemen ini sebagai apartemen sendiri!" ujar Vino terkekeh
"Kau sedang mempermainkan ku ternyata!!!" ujar Revan mulai mengeluarkan aura menyeramkan nya
"Hehe, ampun bro!!! kau kan sahabat terbaik ku." ujar Vino
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
__ADS_1
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah