
Rania kesal kepada Revan yang dengan seenaknya mencium tanpa izin.
"Memang nya masalah jika aku mencium mu?"
"Masalah! kak Revan bau mulut belum gosok gigi!" ujar Rania.
"Hei, kau menghinaku by? apa kau tau pasta gigi yang kau pakai itu harga nya sangat mahal? bahkan jika kau tidak menggosok gigi selama lima hari pun mulutmu masih tetap wangi!" ujar Revan dengan percaya diri nya
"Terserah!" ujar Rania berlalu pergi.
"Kau ingin kemana, by!" teriak Revan.
Rania terus berjalan keluar kamar dengan kesal. Sementara Revan terkekeh melihat tingkah kekasih nya.
"Dia sangat menggemaskan! sangat menyenangkan jika membuat nya kesal," ujar Revan.
Tak lama kemudian, ponsel Revan yang berada di atas nakas berbunyi. Revan langsung menjawabnya.
Panggilan terhubung.
📱 : Halo Farhan! ada apa? apa ada masalah di kantor?
📲 : Maaf tuan, saya ingin melaporkan sesuatu!
📱 : Iya silahkan!
📲 : Sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, tuan karena kinerja saya yang sedang buruk ini. Kerja sama perusahaan R'P Group dengan perusahaan P Corp dibatalkan, mereka tidak jadi menanam saham di perusahaan kita.
📱 : Bagaimana bisa? bukankah kemarin pihak P Corp tinggal tanda tangan kontrak, kenapa bisa dibatalkan?
📲 : Mereka terpengaruh dengan perusahaan Alvaro' Group yang menawarkan keuntungan besar kepada perusahaan P."
📱 : Sudah kuduga, pasti semua ini ulah Reno. Terus awasi mereka, jangan sampai lengah!
📲 : Baik tuan, saya pasti akan selalu memantau pergerakan mereka.
📱 : Aku selalu percaya dengan kinerja mu! oh iya, aku ingin kau jangan memanggilku tuan lagi!
📲 : Terus saya harus memanggil anda siapa?
📱 : Kamoe nanyea? kamu bertanya-tanya? kamu nggak tau aku siapa? biar aku kasih tau ya!
📲 : Lah! mendadak mengikuti perkembangan zaman!
📱 : Aku Revan Pratama!
📲 : Heh, saya juga sudah tau nama anda!
📱 : Tadi kau bilang tidak tau, ya sudah aku kasih tau!
📲 : Maksudnya selain memanggil Anda tuan, saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?
📱 : Kak atau lainnya! kau sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, jadi jangan buat kakak kesal!
📲 : Baiklah! saya akan memanggil Anda kakak!
__ADS_1
📱 : Nah seperti itu!
📲 : Oh iya kak, aku dengar Rania sekarang tinggal di apartemen anda.
📱 : Kau tahu dari mana?
📲 : Kan saya punya banyak chanel ngobrol.
📱 : Si paling banyak chanel!
📲 : Hehe, jadi malu!
📱 : Biasanya juga bikin malu!
📲 : Sudahlah kak, aku mau on the way kantor dulu!
📱 : Iya hati-hati, hari ini aku tidak berangkat, kau terus awasi pergerakan Reno!
📲 : Siap Bos!
Panggilan pun dimatikan.
"Huh! ternyata dia masih ingin bermain-main dengan ku!" ujar Revan dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku kira Reno akan berdamai, ternyata semakin menjadi-jadi!" ujar Revan.
Tak berselang lama, Vino dan Angga kembali masuk.
"Ada apa dengan wajah mu? kenapa jadi semakin jelek!" ejek Vino yang melihat raut wajah kesal Revan.
"Sabar dikit ngapa!" ujar Vino.
"Hei! kalian bisa tidak usah berdebat terus tidak sih! serius dikit lah. Kau kenapa wajahnya ditekuk gitu, Van?" ujar Angga yang selalu jadi penengah antara Revan dan Vino.
"Reno kembali mengibarkan bendera permusuhan dengan ku!" ujar Revan.
"Maksudnya?" tanya Vino.
"Reno berhasil merebut klien ku!" ujar Revan dengan wajah sangat kesal.
"Apa?!" teriak Vino dan Angga bersamaan.
"Bisa diam tidak! kepala ku sedang pusing tapi kalian bukan nya menghibur justru membuatku tambah pusing!" ujar Revan sembari memijat pelipisnya.
"Itu Reno benar-benar kerjaan nya cari masalah saja!" ujar Vino ikut geram.
"Yeay!!! akhirnya sebentar lagi aku kembali mengunjungi laboratorium kesayangan ku lagi!!!" ujar Angga.
Sementara Revan dan Vino menatap horor ke arah Angga membuat pria itu tersenyum kikuk.
"Hehe, maaf kelepasan bicara!"
"Angga! kau sangat menggemaskan sampai membuatku ingin melempar mu ke kutub utara biar tinggal bersama beruang kutub!" ujar Revan geram.
"Bener tuh!" ujar Vino.
__ADS_1
"Kalian berdua jahat! teganya kalian menyuruh ku pergi setelah apa yang aku lakukan untuk kalian!"
"Aku bahkan belum menikah tapi kalian sudah mengusir ku!" ujar Angga mendramatisir.
"Kau bisa menikah dengan beruang kutub betina!" celetuk Vino.
"Jahat!" ujar Angga.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak drama! kalian serius sedikit!" ujar Revan yang sudah mengeluarkan aura menyeramkan nya.
"Baiklah!" ujar Vino dan Angga langsung terdiam.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Reno itu tipe orang yang nekat jika kau terus berdiam dia bisa menghancurkan perusahaan mu!" ujar Vino.
"Kau pikir aku sebodoh itu dengan membiarkan mereka menghancurkan perusahaan ku? No! aku akan mengikuti permainan nya!" ujar Revan.
Apa kau sudah mempunyai rencana?" tanya Vino.
"Tentu saja!" ujar Revan.
"Kau memang selalu berpikir kritis! dalam waktu beberapa menit sudah mempunyai rencana!" puji Angga.
"Jangan terlalu memuji ku! karena tanpa kau puji pun aku sudah mengetahui keunggulan ku!"
"Sebagai sahabat yang baik dan pengertian, aku berterima kasih atas pujian mu itu dan sebagai imbalan nya kau bisa memasuki laboratorium kesayangan mu itu!" ujar Revan penuh percaya diri.
"Haha, kau memang paling tahu tentang ku bro! My laboratory i'm coming!" ujar Angga.
"Jadi hanya Angga yang di anggap baik. Dasar sahabat haus pujian!!!" ujar Vino.
"Kalian berdua sahabat baik ku semua! terimakasih sudah mensupport dan mendukung ku hingga bisa sukses di dunia bisnis ini!" ujar Revan.
"Semua itu juga karena kepandaian mu dalam dunia bisnis, Van!" ujar Vino.
"Tapi jika tidak ada kalian, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Aku merasa selalu mempunyai hutang dengan kalian. Andai saja aku dulu tidak dibantu sama om Mahesa, mungkin aku masih berada di bawah tekanan papa. Jika dulu om Putra tidak memberiku pengertian dan mengeluarkan ku dari keterpurukan. Kalian sudah sangat berjasa untuk ku, aku bahkan merasa bingung bagaimana cara membalas kebaikan kalian!!!" ujar Revan.
"Cukup dengan melihat mu bahagia!!!" ujar Vino.
"Iya benar, apalagi jika bisa membuat mu tersenyum manis seperti dulu lagi, itu sudah cukup!" tambah Angga.
"Seperti nya aku sudah tidak bisa mengekspresikan wajah lagi! aku tidak mungkin bisa tersenyum seperti dulu lagi!" ujar Revan.
"Kau pasti bisa, Van. Yakinlah!" ujar Vino memberi semangat.
"Benar, kau harus yakin jika tidak ada yang mustahil di dunia ini! kau sudah bisa mencintai seseorang itu tandanya kau bisa mengendalikan emosi." ujar Angga.
"Dengar tuh kata pak dokter!" celetuk Vino.
"Baiklah!" ujar Revan.
"Oh iya Van, aku pamit ada pasien yang harus ditangani!" ujar Angga.
"Bukankah kau pemilik rumah sakit Putera hospital, memangnya tidak ada dokter lain yang bisa menangani pasien itu!" ujar Revan.
"Ya, aku hanya tidak ingin ilmu yang kudapatkan sia-sia!" ujar Angga tersenyum cengengesan
__ADS_1
"Mencurigakan!"