
"Maaf!"
"Maafkan aku yang selama ini begitu bodoh mengendalikan emosi!"
"Rania, maukah kau memaafkan ku!" ujar Revan.
"S-saya udah memaafkan anda tuan, jadi saya mohon lepaskan saya!" ujar Rania menangis tersedu-sedu.
"Tidak! sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu. Kau milik ku! tidak ada seorang pun yang boleh memiliki mu selain aku!" ujar Revan.
"Tuan Revan, saya sungguh menyesal pernah bertemu dengan anda. Saya menyesal pernah menjadi kekasih anda. Apa anda tahu? Anda adalah satu-satunya orang paling egois yang pernah saya temui!" ujar Rania marah.
"Diam! aku tidak membutuhkan pendapat mu karena aku akan selalu mendapatkan apapun yang ku inginkan!" ujar Revan menyeringai.
"Ternyata kak Revan benar-benar sudah berubah! aku pikir dia akan memperjuangkan ku dengan segenap jiwa layaknya pemeran wanita dalam novel yang pernah ku baca yang pemeran pria nya rela melakukan apapun untuk mendapatkan hati wanita nya. Hei Rania! sadarlah! bangunlah dari mimpi mu itu, kau hanyalah seorang gadis malang yang tidak pernah dianggap kehadirannya, jadi tidak perlu berhalusinasi setinggi harapan bunda!!!" batin Rania sedih.
"Rania sayang! kau sangat cantik malam ini! maukah kau menikah dengan ku!" ujar Revan mengikis jarak di antara keduanya. Nafas Revan terdengar memburu.
"Astaga!!! apa kak Revan habis mabuk? aroma alkohol nya sangat menyengat. Aku jadi pusing dengan aroma nya!!!" batin Rania.
Revan meraih wajah Rania dan mencium bibir manis mantan kekasih nya itu dengan menuntut.
"Emmpphh!" Rania yang terkejut pun hanya pasrah saja dan berusaha mengimbangi ciuman mantan kekasih nya itu.
"Bibir mu sangat manis, sayang! apa pria brengs*k yang dengan mu tadi pernah mencium mu? kalau iya, maka aku akan menghapus jejak bibir jelek nya itu! kurang ajar sekali berani mencium kekasih ku ini!" ujar Revan yang mulai meracau tidak jelas. Bahkan penglihatan nya mulai kabur efek dari terlalu banyak meminum wine tadi.
Cup
Cup
Cup
Revan mengecup bibir Rania seolah ingin menghilangkan jejak pria lain yang mungkin pernah menikmati manis nya bibir mantan kekasihnya itu.
"Kau hanya milik ku! jangan pergi lagi! aku benar-benar seperti orang gila saat kau pergi!" Revan merengek layak nya anak kecil yang takut ditinggal pergi ibu nya.
"Sepertinya aku harus mengikat mu agar kau tidak bisa pergi! aku tahu aku salah, sayang! aku minta maaf! tolong maafkan aku, hiks…" Revan terus meracau, merengek bahkan menangis keras.
"Sayang! jawab! kau tidak akan meninggalkan ku kan?" ujar Revan terus merengek dan memeluk Rania erat.
"Perasaan apa ini? kenapa aku selalu luluh dengan perlakuan lembut bos kejam ini? apakah kini pun aku akan luluh dan menyerah dengan nya lagi?" batin Rania ikut meneteskan air mata nya.
"Sayang…jawab!" rengek Revan terus bergelayut manja di pelukan Rania.
"Maaf tuan, saya tidak bisa! saya mohon lepaskan saya!" ujar Rania berusaha melawan hati nya.
__ADS_1
"Tidak! aku tidak akan melepaskan mu! kau jahat sayang! kau jahat! kenapa kau selalu ingin pergi dari ku! apa kau sudah tidak menyayangi ku?!" rengek Revan mulai meracau tidak jelas dan memeluk Rania erat.
"Rania sayang! tidakkah kau kasihan dengan ku? lihatlah aku yang tampan ini. Yang tampan tapi bernasib malang ini!" ujar Revan.
"Apa yang harus aku lakukan? bukankah kak Revan sudah meminta maaf? haruskah aku berbaikan dengan nya?" batin Rania.
"Sayang…" Revan terus merengek.
"Baiklah! tapi anda harus memenuhi syarat yang saya berikan." ujar Rania.
"Apapun itu pasti aku penuhi, sayang!" ujar Revan.
"Anda harus merubah sifat dan sikap anda menjadi lebih baik dalam waktu satu Minggu ke depan!" ujar Rania.
"Baiklah!" ujar Revan.
"Terimakasih sayang!" ujar Revan memeluk Rania.
Cup
Revan mencium bibir Rania dengan penuh kasih sayang dan kelembutan tanpa adanya hasrat.
"Mulai sekarang panggil aku seperti dulu lagi, aku tidak mau dipanggil tuan dan anda lagi!" ujar Revan sebal.
"Iya kak!" ujar Rania tersenyum.
"Memang nya aku pernah seperti itu, by?" tanya Revan tak sadar diri.
"Tadi aku lihat kamu nabrak Ibu Ren, kamu yang salah tapi malam Ibu Ren yang minta maaf duluan sedangkan kamu tanpa merasa salah dan dosa langsung pergi dengan sombongnya. Sumpah ya kalau aku di posisi Ibu Ren mungkin muka mu udah bonyok!" ujar Rania.
"Maaf!"
"Galak banget dah pacarku ini!" gumam Revan namun masih terdengar oleh Rania.
"Kamu bilang apa tadi!" ujar Rania.
"Tidak bilang apa-apa!" ujar Revan.
"Oh iya sayang! apa kau sudah makan?" tanya Revan.
"Belum lah, orang aku tadi mau belanja malah di culik sama anak buah mu itu!" Rania kesal dengan tingkah Revan.
"Kita makan malam dulu! aku sengaja pesan makanan tadi, tinggal dipanaskan lagi makanannya!" ujar Revan.
"Ayo!" ujar Rania bersemangat.
__ADS_1
"Kak! buka pintunya!!!" rengek Rania kesal karena pintunya masih dikunci.
"Bentar sayang!" ujar Revan mengacak-acak rambut Rania gemas sembari membuka pintu kamar nya.
Mereka pun melangkah ke meja makan. Di sana sudah tersedia banyak makanan dan minuman.
"Banyak banget kak!" ujar Rania antusias.
Revan tersenyum tipis sekali melihat Rania yang antusias.
"Silahkan dimakan!" ujar Revan.
Rania mengangguk dan langsung menyuapkan makanan nya ke dalam mulut.
Selesai makan, mereka berdua duduk di balkon dengan Revan yang memeluk Rania dari belakang.
"Kau tahu…saat kau pergi meninggalkan ku rasanya hidupku sudah tak memiliki arah lagi, aku merasa menjadi orang bodoh yang dengan mudah dimanfaatkan oleh orang lain, kemudian Farhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu, dia memberitahu ku tempat tinggal mu sekarang. Hingga akhirnya aku bertemu kembali dengan mu!" ujar Revan.
"Aku sangat bahagia sayang karena kau mau memaafkan kesalahan ku!" ujar Revan memeluk Rania erat.
"Jangan senang dulu, kamu belum lulus tes kak!" ujar Rania.
"Maksudnya?"
"Kan aku bilang akan memaafkan kakak jika kakak udah merubah sikap kakak selama seminggu ke depan." jelas Rania.
"Sayang, aku sudah baik loh. Apa kurangnya coba? udah tampan, baik hati, suka menabung." ujar Revan memasang ekspresi wajah lucu.
"Mana ada orang baik ngaku baik! kalau orang baik ngaku baik yang ada surga penuh!" ujar Rania terkekeh.
"Salah dong!"
"Baiklah! aku pasti akan lulus tes. Lihat saja!" ujar Revan bersemangat.
"Nah gitu semangat!"
"Oh iya kak, anterin aku pulang!" ujar Rania.
"Ngapain pulang, menginap disini saja lah!" ujar Revan.
"Nggak mau!"
"Please sayang, menginap di sini saja!" rengek Revan.
"Baiklah! malam ini aku menginap di sini." ujar Rania.
__ADS_1
"Terimakasih sayang!" Revan memeluk Rania sangat erat.