
"Bentar…" ujar Rania langsung meraih wajah Revan dan menatap lekat wajah tampan bos kejam nya
"Ada apa by? kenapa dengan wajah ku?" tanya Revan
Rania mengernyitkan dahinya saat menatap wajah tampan Revan.
"Kenapa by?" tanya Revan semakin penasaran
"Kok muka kamu bisa mirip sih sama pria paruh baya yang nolongin aku?" ujar Rania dengan wajah bingung
"Apa maksud mu by?" tanya Revan
"Muka mu mirip banget sama orang yang udah nolongin aku kak." ujar Rania
"Benarkah? perasaan aku tidak memiliki kembaran by." ujar Revan tampak berpikir
"Siapa juga yang bilang itu kembaran kamu kak?" ujar Rania
"Kau yang bilang!" ujar Revan
"Aku kan bilang nya mirip bukan nya kembar kak!!" ujar Rania yang gemas dengan bos kejam nya yang tidak paham juga maksud perkataan nya
"Oh!" ujar Revan
"Apa kakak punya saudara yang mirip dengan kakak?" tanya Rania
"Seperti nya tidak!" jawab Revan
"Atau mungkin muka kakak mirip sama orang tua kakak!" ujar Rania
"Kalau wajah ku sih memang mirip dengan papa!" ujar Revan dengan santai
"Sebentar…apa mungkin papa yang menyelamatkan mu, by?" ujar Revan
" Mana ku tahu. Aku aja nggak tau seperti apa muka papa nya kak Revan!" ujar Rania
"Saya punya foto papa. Sebentar!" ujar Revan sembari mengeluarkan handphone nya dari saku celana nya
"Apa dia yang sudah menolong mu, by?" tanya Revan sembari menunjuk foto papa nya yang ada di handphone nya
"Iya kak! bener banget! bapak ini yang sudah nolongin aku!" ujar Rania sembari menunjuk ke arah foto yang ada di handphone Revan
"Kapan insiden itu terjadi?" tanya Revan
"Lima tahun yang lalu kak!" ujar Rania
__ADS_1
"Kalau nggak salah bertepatan dengan hari kelulusan sekolah ku!" ujar Rania
"Kalau benar yang menolong mu papa ku, tapi itu tidak mungkin karena saat itu adalah hari peresmian perusahaan ku dan saat itu papa ku datang ke hari peresmian perusahaan ku. Acara peresmian nya pun diadakan dari pagi sampai malam hari!" ujar Revan
"Tapi yang menolong ku memang orang yang ada di handphone kakak tadi!" ujar Rania
"Apa maksud nya ini? bukankah saat itu papa menghadiri acara peresmian perusahaan ku, tapi kenapa bisa papa yang menolong Rania? ada yang tidak beres!" batin Revan
"Ini memang sedikit aneh by, tapi kau tenang saja, aku akan mencaritahu tentang insiden yang mencurigakan ini!!!" ujar Revan
"Iya kak!" ujar Rania
"Sekarang kau jangan terlalu memikirkan insiden itu!" ujar Revan membawa Rania kedalam pelukan nya
"Kenapa pelukan bos kejam selalu membuatku merasa nyaman sekaligus aman? aku merasa bos kejam adalah pelindung ku, penghibur ku disaat aku bersedih dan juga sandaran hidup ku disaat aku tidak memiliki tujuan." batin Rania
"Apakah ini saat nya aku membuka hati ku untuk kak Revan? apakah aku memang sudah jatuh cinta dengan kak Revan?" batin Rania
Tok
Tok
Tok
"Kak! ada orang yang mengetuk pintu tuh!" ujar Rania mendorong dada bidang Revan agar melepaskan pelukan nya
"Kak, turunin aku!" ujar Rania memberontak
"No!"
Revan tidak mendengar kan ucapan Rania dan langsung membukakan pintu kamar.
"Maaf tuan mengganggu! ini ada titipan dari anak buah anda!" ujar Bi Ijah sembari menyerahkan sebuah paper bag kepada tuan nya
"Terimakasih Bi," ujar Revan
"Iya tuan, kalau begitu saya kembali ke dapur lagi!" ujar Bi Ijah yang sebenarnya malu melihat tuan nya yang sedang bermesraan dengan kekasih nya
"Silahkan Bi!" ujar Revan
Bi Ijah langsung undur diri dan Revan langsung masuk ke dalam kamar.
Revan mendudukkan Rania di tepi tempat tidur dan berlutut di hadapan Rania.
"Ini untuk mu, by." ujar Revan sembari menyerahkan paper bag tadi kepada kekasih nya
__ADS_1
"Apa ini kak?" tanya Rania
"Buka saja!" ujar Revan
Rania langsung membuka paper bag itu dan terlihat sebuah gaun indah berwarna peach yang terlihat sangat cantik beserta aksesoris rambut dan kotak sepatu.
"Apa gaun ini untuk ku, kak?" tanya Rania memastikan
"Tentu saja, pakailah untuk nanti malam!" ujar Revan
"Memang nya nanti malam ada acara apa kak?" ujar Rania
"Kau lihat saja nanti!" ujar Revan
"Ih!!! kakak nyebelin!!! kenapa nggak dikasih tau sekarang aja sih?!" ujar Rania kesal sembari mengerucutkan bibir nya
Cup
"Kalau saya kasih tau sekarang nanti tidak jadi surprise dong!" ujar Revan setelah mengecup bibir Rania
"Nyebelin!" ujar Rania
Rania melihat harga gaun dan sepatu yang ada di paper bag itu dengan mulut menganga
"Ya ampyun kak! mahal banget harga nya! masa iya sebuah gaun harga nya 25 juta terus sepasang sepatu harganya 15 juta!!!" ujar Rania syok dengan harga yang gaun dan sepatu nya
"Itu belum sebanding dengan mu, sayang!" ujar Revan
"Tapi kak, aku nggak suka kalau kakak bersikap konsumtif seperti ini. Ini nggak baik!" ujar Rania
"Bersikap konsumtif sama kekasih sendiri itu tidak masalah, by." ujar Revan
"Tapi aku tidak suka jika kakak bersikap boros seperti ini. Aku tidak terlalu membutuhkan kemewahan kak." ujar Rania
"Yang aku butuhkan itu hanya orang yang menyayangi ku dengan tulus. Mungkin itu terdengar kekanakan, tapi memang itu yang aku butuhkan. Aku sedari umur 5 tahun tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, aku sangat merindukan ibu!!" ujar Rania meneteskan air mata
Revan langsung membawa Rania ke dalam dekapan nya.
"Aku sangat merindukan ibu, kak. Meskipun terakhir kali aku melihat nya itu saat aku masih kecil, tapi aku masih mengingat jelas wajah nya kak." ujar Rania
"Jujur saat ibu meninggal dan ayah menikah lagi aku merasa sedikit bahagia karena bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu lagi. Tapi…aku salah…bukannya mendapat kasih sayang tapi aku malah mendapat perlakuan kasar…" ujar Rania menangis kencang
"Maksud mu perlakuan kasar bagaimana, by?" tanya Revan yang mulai naik pitam mendengar curahan hati Rania yang pernah di perlakukan kasar oleh ibu tiri nya
"Aku sering dipukul sama ibu tiri ku padahal aku dari kecil sudah mulai melakukan pekerjaan rumah tapi ibu tetap menyakiti ku…awal nya aku berpikir itu perlakuan yang wajar dari seorang ibu karena anak nya nakal, tapi seiring berjalan nya waktu aku menyadari jika ibu tiri ku tidak bisa memberikan ku kasih sayang layak nya seorang ibu." ujar Rania menangis sesenggukan
__ADS_1
"Tenanglah by, saya akan selalu memberikan mu kasih sayang!" ujar Revan berusaha menenangkan kekasih hati nya.