
Revan yang merasa lega karena gadis nya ternyata sedang bersama Farhan pun akhirnya memutuskan untuk kembali keruangan nya.
Kini Revan sudah duduk di kursi kebesaran nya.
"Aku sungguh tidak menyangka ternyata Farhan menganggap Rania sebagai adiknya, aku pikir dia menganggap Rania sebagai calon pacarnya."
"Aku sudah jahat karena berburuk sangka dengan nya."
"Pantas saja si Farhan merasa khawatir saat Rania lama tidak masuk kerja." ujar Revan
Revan akhirnya menelpon pantry untuk membawakannya makanan.
...****************...
Kini waktu sudah menunjukan saatnya pulang kerja. Rania sudah bersiap untuk pulang. Gadis itu membereskan pekerjaan nya dengan cepat agar terhindar bertemu dengan Revan.
Namun harapan nya pupus karena Revan sudah menunggunya di lobi perusahaan.
"Selamat sore, sayang!" sapa Revan saat suasana kantor sudah cukup sepi.
"Kita jalan-jalan kau mau tidak?" bujuk Revan.
"Atau mau makan di luar, kau ingin makan apa?" tanya Revan.
Rania mengabaikan Revan keluar dari lobi perusahaan. Revan mencekal dan menarik tangan Rania hingga tubuh mungil gadis itu menabrak dada bidang Revan.
"Lepasin pak!" ujar Rania memberontak di dalam pelukan Revan.
"Tidak akan!" ujar Revan
"LEPAS!" dengan tenaga penuh, Rania mendorong tubuh Revan hingga mundur satu langkah.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, by?" ujar Revan mulai tersulut emosi.
"Aku ingin pergi dari hidup orang yang sombong!" ujar Rania tegas.
"Apa maksud mu?" tanya Revan.
"Kamu belum paham juga? aku jelaskan aku benci dengan orang yang sombong dan suka memanfaatkan kekuasaan, aku sangat membencinya!!!" ujar Rania.
"Maksudnya, kau membenciku?"
"Iya, aku membenci mu, aku sudah muak dengan kesombongan mu!!!"
"Tidak akan aku melepaskan mu, sekalipun kau sangat membenciku!"
__ADS_1
"Aku tetap mencintai mu, by!"
Revan mencengkeram lengan Rania dan langsung membawa gadis itu ke dalam mobil mewahnya.
"Lepasin pak!" ujar Rania terus memberontak.
"Diam!" sentak Revan.
Rania langsung terdiam dan mengikuti langkah Revan ke dalam mobil nya.
Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga 10 menit kemudian mobil mewah Revan sudah sampai di basement apartemen nya.
Revan menarik tangan Rania menuju unit apartemen nya.
Tok
Tok
Tok
Bi Ijah yang mendengar suara pintu diketuk dengan sigap langsung membukanya.
"Selamat sore tuan!" ujar Bi Ijah menunduk hormat.
"Hm!" ujar Revan berjalan masuk menarik Rania menuju kamar nya.
"Ada apa dengan tuan Revan? kenapa tuan membawa nona Rania ke dalam kamar nya? bukankah mereka belum menikah, jadi apa yang mereka lakukan di dalam kamar?" ujar Bi Ijah takut terjadi sesuatu yang tidak baik di dalam kamar tuan nya.
Sementara di dalam kamar, Revan menghempaskan tubuh Rania di atas tempat tidur nya.
"Mulai hari ini, aku melarang mu untuk keluar dari apartemen ini kecuali jika bersama dengan diriku. Untuk keperluan yang kau perlukan akan aku penuhi semua, apartemen ini akan di jaga ketat oleh pengawal saat aku pergi. Jadi kau tidak memiliki kesempatan untuk kabur!!!" ujar Revan penuh penekanan.
"Kenapa kakak selalu memaksa orang lain untuk menuruti ucapan kakak? apa kakak pikir semua orang tidak mempunyai keinginan masing-masing? aku kecewa sama kakak, aku pikir kakak orang yang baik dan lembut tapi ternyata aku salah, sifat asli seorang Revan Pratama adalah egois, sombong, dan pemaksa!" ujar Rania dengan kilatan amarah.
"Sayang, aku mohon kau menurut saja dengan ku. Aku tidak ingin menyakiti mu dan membentak mu!" ujar Revan menghela nafas panjang untuk meredakan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Kalau mau pukul atau tampar lakukan saja! kalau mau bentak juga silahkan bentak aku saja, nggak perlu di tahan kak!!!" ujar Rania.
Tatapan Revan berubah tajam, pria itu mendekati Rania yang kini terduduk di tempat tidurnya. Rania yang melihat wajah menyeramkan Revan langsung memejamkan matanya. Jujur saja dia takut dengan Revan.
Namun di luar dugaan, Revan mencium pucuk kepala Rania dan berlalu pergi dari kamar itu.
"Kenapa aku tidak di pukul dan dimarahi? dan apa ini? kenapa dia malah mencium ku?" ujar Rania
"Sebenarnya apa salah ku? kenapa kak Revan sangat posesif terhadap ku?" ujar Rania.
__ADS_1
Kini waktu menunjukkan pukul 11 malam, Rania sudah tertidur di kamar Revan.
Saat dirasa keadaan sudah aman dan hening, Revan menyelinap masuk ke dalam kamarnya, seperti Robbery Bob dalam game pencuri handal.
Revan berjongkok memandangi wajah gadis nya lekat kemudian mencium kening Rania dengan penuh kasih. Sudut bibir nya terangkat tipis membentuk senyuman.
Pandangan Revan teralihkan saat ponsel di saku celana nya berdering, tak ingin gadis nya terbangun dan mengetahui diri nya menyelinap layak nya ninja membuat Revan berjalan ke arah balkon.
Rania yang sebenarnya belum tertidur, namun saat mendengar suara pintu terbuka membuatnya terpaksa berpura-pura tertidur.
Entah mengapa hati Rania di buat penasaran melihat Revan mengangkat malam-malam mendorong nya untuk mengikuti Revan menuju balkon.
Dengan jantung yang berdetak kencang, Rania berusaha mendengar percakapan Revan dengan orang yang ditelepon nya, entah mengapa dia takut jika seseorang yang menghubungi kekasih nya adalah pacar baru Revan.
"APA!!!"
"Dasar tidak becus!!! Bagaimana kalian dengan mudah nya melepaskan pemilik tanah itu tanpa mengancam nya lebih dulu?!"
"Kau segera cari orang itu, jangan sampai orang itu kabur terlalu jauh. Saya minta besok pagi kau sudah membawa nya ke markas."
"Apa?! jadi keluarga nya sudah tahu jika dia berurusan dengan mafia tanah."
"Sial!!!"
"Kau bungkam keluarga nya, jika mereka masih memberontak lenyap kan saja seluruh keluarga nya."
Rania yang mendengar percakapan Revan di telepon, tubuhnya langsung gemetaran dengan mulut terbuka. Tak ingin Revan mengetahui keberadaan nya membuat Rania bergegas ke tempat tidur.
Revan masuk ke dalam kamar nya dengan berusaha mengontrol emosi nya. Pria itu merebahkan tubuhnya di samping Rania dan memeluk tubuh mungil Rania yang tidur membelakangi nya.
Tubuh Rania menegang seketika, jantung nya terasa berhenti berdetak. Ada rasa tidak percaya jika kekasihnya ternyata bergulat dalam dunia hitam. Rasa takut menggerogoti hatinya.
"Ternyata kak Revan seorang mafia berdarah dingin. Pantas saja dia terkenal akan kekejaman nya." batin Rania
"Aku takut dengan mu kak, bagaimana cara ku keluar dari jeratan mu jika kau sangat posesif seperti ini?" batin Rania
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Rania.
Rania berusaha menahan tangisnya, dia takut jika Revan mengetahuinya. Rania berpikir keras untuk lepas dari jeratan Revan hingga tanpa sadar terlelap dalam tidur nya.
...****************...
Pagi hari telah tiba, sinar matahari bersinar terang membuat seorang gadis cantik terganggu dalam tidur nya.
Gadis itu tampak menggeliat dalam tidurnya dan bernafas lega saat menyadari diri nya tertidur sendiri.
__ADS_1
"Hufft!!! Untung saja kak Revan sudah pergi, aku nggak siap untuk bertemu dengannya." batin Rania bernafas lega.