
"Terimakasih sayang!" Revan memeluk Rania sangat erat.
"Kak!" Rania melepaskan pelukan nya dan duduk di pangkuan Revan.
"Ada apa, sayang?" tanya Revan terkejut sekaligus senang dengan sikap Rania.
"Kenapa sekarang kakak jadi kurus, wajah kakak juga jadi kusam terus mata nya jadi kayak panda. Pasti kakak makannya nggak teratur, tidur nya juga kan?"
"Please kak, jaga kesehatan kakak. Masa baru aku tinggal satu bulan udah berubah. Kalau bukan diri kakak sendiri yang jaga kesehatan siapa lagi? sakit itu nggak enak kak!"
"Pokoknya seminggu ke depan kakak harus makan yang teratur dan tidur yang cukup, kalau nggak aku kasih hukuman!" ujar Rania.
"Iya sayang, maaf ya. Tenang aja kalau kamu yang merawat ku pasti aku akan jadi baik kok!" ujar Revan.
"Dasar bos nyebelin!" gerutu Rania.
"Nyebelin tapi suka kan?" ujar Revan menaikturunkan alis nya.
"Apaan sih!"
"Sudah malam sayang. Kita tidur yuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan!" ujar Revan perhatian.
"Iya kak, tapi tidurnya di peluk ya!" ujar Rania tersenyum manis.
"Baiklah!" ujar Revan langsung menggendong Rania menuju kamar nya dengan semangat.
Pria itu meletakan tubuh gadis nya dengan pelan dan lembut. Setelah itu, Revan merebahkan diri nya di samping Rania dan memeluk gadis nya erat. Lengan Revan di jadikan bantalan oleh Rania.
"Mau dibacakan dongeng sekalian tidak?"
"Emangnya nya aku anak kecil yang minta dibacakan dongeng sebelum tidur!" ujar Rania memukul dada bidang Revan pelan.
"Siapa tahu kamu masih mau dibacakan dongeng, lagipula tubuh mu kan masih mungil jadi tidak ada salahnya jika dibacakan dongeng!" ujar Revan terkekeh.
"Kak Revan!!!"
"Apa sayang?"
Rania mengerucutkan bibirnya, kesal dengan tingkah Revan yang sangat suka menggoda nya.
"Ya sudah sini peluk!" ujar Revan.
Rania merajuk hendak menjauh dari Revan.
"Sayang! maaf! jangan ngambek ya!"
"…"
"Sayang! jangan ngambek!" rengek Revan.
"Tapi kak Revan jangan nyebelin!"
"Iya sayang!" ujar Revan langsung memeluk Rania erat.
Rania dan Revan pun langsung tertidur dengan berpelukan.
Pagi hari yang cerah, secerah suasana hati orang yang sedang jatuh cinta. Rania mulai terjaga dari tidurnya.
"Eugh!" lenguh Rania sembari meregangkan otot-otot tubuh nya.
__ADS_1
"Astaga! jadi aku tidur berpelukan semalaman dengan kak Revan, kirain mimpi tapi beneran donk!" ujar Rania.
Perlahan Rania memindahkan tangan kekar Revan yang melingkar di pinggang nya dan segera turun dari tempat tidur.
Rania berjalan menuju bathroom untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu, Rania menuju dapur, membuatkan sarapan untuk kekasihnya.
Dengan cekatan, Rania memasak sarapan.
Sementara itu, di dalam kamar Revan mulai terjaga dari tidurnya saat tidak merasakan keberadaan kekasihnya.
"Sayang…" ujar Revan dengan suara parau.
"Sayang…kamu dimana?" ujar Revan langsung bangkit dari tempat tidur nya dan mencari keberadaan Rania.
Revan melangkah keluar dari kamar dan melihat sosok gadis cantik yang sudah mencuri hati nya hingga habis tak bersisa.
Revan langsung mendekati gadis nya dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis nya.
"Kenapa pergi dari kamar tanpa pamit, hm?" ujar Revan.
"Ya ampun kak, aku kan cuma pergi ke dapur, membuatkan sarapan untuk kakak!" ujar Rania masih fokus dengan kegiatan nya.
"Setidaknya tunggu aku bangun dulu! apa kau tahu, aku sangat khawatir tadi saat kau tidak ada di kamar. Aku pikir kau pergi meninggalkan ku!" ujar Revan.
"Ya ampun kak, overthinking banget sih!" ujar Rania.
"Bukan overthinking sayang! tapi aku memang takut jika kau memang pergi meninggalkan ku!" ujar Revan.
"Iya-iya maaf, besok aku tunggu kakak bangun dulu baru keluar kamar."
"Nah gitu, nurut!"
"Bisa lepaskan dulu nggak? kalau kayak gini aku nggak bisa masak!" ujar Rania kesal karena Revan memeluknya sangat erat.
"Tidak mau!" ujar Revan tetap memeluk Rania bahkan kini Revan menciumi ceruk leher Rania.
"Kak! lepas! geli!" ujar Rania.
"Tidak mau!"
"Ih!!! bandel banget sih dibilangin!!! cuci muka dulu sana, mukanya udah jelek sama bau mulut lagi!" ujar Rania.
"Benarkah?"
"Baiklah, aku cuci muka dulu!" ujar Revan.
Revan percaya dengan ucapan gadisnya. Padahal walaupun dia tidak mandi sekalipun selama seminggu, Revan masih tampan dan wangi. Bahkan nafas nya bau aroma mint yang menyegarkan.
"Ya ampun dia percaya, lucu banget sih!" ujar Rania terkekeh.
Rania kembali fokus dengan masakan nya. Tak berselang lama, masakannya pun matang. Rania segera menyusun masakannya di meja makan. di sana sudah ada Revan yang duduk manis sembari memandangi wajah cantik kekasih hati nya.
"Ngelihatin nya gitu banget sih!" ujar Rania sambil menata makanan nya.
"Biarin! yang penting ngelihat pacar sendiri bukan pacar orang lain."
"jadi ada niatan ngelihat orang lain!!!" ujar Rania kesal.
"Bukan gitu maksudnya sayang! aku kan cuma ngomong aja!" ujar Revan memelas.
__ADS_1
"Dasar buaya." ujar Rania.
"Iyain aja daripada kena marah! kayak lagi PMS aja marah-marah terus." gumam Revan.
"Emang lagi PMS, kenapa? masalah?" ujar Rania.
"E-enggak gitu sayang…" ujar Revan tak bisa berkata-kata.
"Buruan sarapan, habis itu aku mau pulang!" ujar Rania mengambilkan makanan untuk Revan.
"Loh kok pulang sih! sini aja sayang!" ujar Revan.
"Nggak mau! kasihan Bu Ren sendirian!" ujar Rania.
"Kamu nggak kasihan, aku sendirian!" ujar Revan memelas.
"Kan kamu ada anak buah mu!" ujar Rania.
"Beda sayang. Nggak ada yang peluk pas bobok!" ujar Revan manja.
"Kan bisa di peluk sama anak buah mu itu!" ujar Rania terkekeh.
"Sayang! aku masih normal ya!" ujar Revan.
"Hehe, maaf kak!" ujar Rania.
"Ya udah nanti aku anter pulang, tapi kita tetap kencan ya…"
"Kalau aku telfon diangkat!" ujar Revan.
"Iya kakak…tapi kalau mau nganterin aku pulang nanti aja soal nya kan aku harus kerja di gedung sebelah apartemen ini!" ujar Rania.
"Oh iya lupa."
"Udah sekarang buruan makan."
"Iya cantik!"
Setelah itu, Revan dan Rania pun makan dalam diam.
Setelah makan, Rania kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Sementara Revan membersihkan diri di kamar tamu.
Setelah kegiatan bersih-bersih nya selesai, Rania tampak kebingungan karena tidak membawa pakaian ganti. Gadis itu pun memaksakan diri untuk keluar dari Bathroom dengan mengenakan Bathrobe.
"Kau cantik sekali by jika tampil natural seperti ini!" ujar Revan yang kini sudah berada di dalam kamar.
"Please deh kak, jangan memuji ku terus…malu tau!" rengek Rania.
"Baiklah! ini pakaian untuk mu!" ujar Revan sembari memberikan sebuah paper bag kepada Rania.
"Pakaian siapa ini kak?"
"Pakaian untuk mu lah! itu pakaian baru!" ujar Revan.
"Ya ampun…nggak perlu repot-repot seperti itu kali. aku jadi nggak enak hati tau, kayak merasa menyusahkan kakak gitu!" ujar Rania.
"Sstt! jangan pernah merasa seperti itu!"
"Aku tulus mencintai mu sayang, jadi jangan pernah merasa direpotkan seperti itu lagi!" ujar Revan meletakan jari telunjuknya di bibir Rania.
__ADS_1
"Aku terhura please!!!"