
"Ini pak, Rania kepala nya pusing dan sakit." ujar Lili berusaha menolong Rania namun karena mata nya perih jadi sedikit kesusahan
"By, kau kenapa?" ujar Revan mencoba menopang tubuh Rania yang hendak terjatuh
"Kepala ku pusing dan sakit, terus seperti ada bayangan yang samar!" ujar Rania
"Apa ingatan nya mulai kembali?" batin Revan
"Apa sangat sakit?" tanya Revan dan hanya mendapatkan anggukan dari Rania
"Baiklah! kita ke rumah sakit sekarang." ujar Revan menggendong Rania meninggalkan Vino dan Lili yang masih terdiam
"Loli kau kenapa?" ujar Vino khawatir langsung mendekati Lili
"Kak… mata ku kemasukan debu perih banget hiks…" ujar Lili menangis terisak
"Cup cup cup…tenang lah ada kakak disini." ujar Vino langsung membawa Lili ke dalam pelukan nya
"Perih banget kak…" ujar Lili menangis semakin keras
"Ya ampun nasib ku gini banget sih!!! niat nya berbohong demi kebaikan yang lain nya malah kemasukan debu beneran seperti ini." batin Lili sambil menahan rasa perih nya
"Dari pada kemasukan debu lebih baik jatuh dari pohon yang tinggi, kemasukan debu lebih menyiksa dari pada jatuh dari pohon yang tinggi." batin Lili
Ya, Lili memang dari kecil sangat anti dan sangat takut yang nama nya kemasukan debu atau serangga mata nya. Dia selalu menangis keras jika mata nya kemasukan debu atau serangga karena menurut nya hal itu sangat menyakitkan dan menyiksa lebih dari segala nya
"Coba saya lihat mata nya yang kemasukan debu." ujar Vino dengan sangat lembut
Vino melihat mata Lili yang sudah memerah dan meniup nya agar debu nya menepi ke pinggiran mata
"Bagaimana? apa masih sakit?" ujar Vino sembari menghapus air mata Lili yang sudah membasahi pipi nya
"Masih perih kak! tapi udah mendingan." ujar Lili dengan mata yang masih menutup
"Coba kau buka pelan-pelan mata nya." ujar Vino sembari membelai pipi Lili
Lili menuruti ucapan Vino dan mulai membuka mata nya perlahan
"Bagaimana sudah tidak sakit kan?" ujar Vino menatap Lili dengan tatapan teduh
"Iya kak! cuma masih perih sedikit." ujar Lili
"Ayo ikut kakak!" ujar Vino menarik tangan Lili dengan lembut
"Kemana kak?" tanya Lili bingung
Vino membawa Lili ke dalam kamar mandi
"Mau ngapain kak?" ujar Lili
"Katanya ingin sembuh, coba kau cuci muka mu." ujar Vino
"Iya kak!" ujar Lili
__ADS_1
Lili langsung membasuh wajah nya menggunakan air
"Bagaimana?" ujar Vino
"Udah sembuh kak udah nggak perih lagi." ujar Lili
"Syukurlah!" ujar Vino
"Oh iya kak! kayak nya tadi ingatan Rania mulai kembali." ujar Lili yang teringat dengan sahabat nya
"Dari mana kau tahu jika ingatan Rania sudah kembali?" ujar Vino bingung
"Tadi pas mata ku kemasukan debu kan aku nangis terus Rania berusaha menenangkan ku tapi tiba-tiba kepala nya pusing dan dia bilang seperti ada bayangan samar." ujar Lili
"Feeling aku sih kayaknya Rania mengingat masa lalu nya karena dulu pas aku kemasukan debu aku selalu nangis dan dia selalu menenangkan ku supaya aku berhenti nangis." sambung Lili
"Masuk akal ucapan mu Loli." ujar Vino
"Apa kau ingin menjenguk Rania ke rumah sakit?" tanya Vino sembari menatap lekat wajah Lili
"Apakah boleh kak?" tanya Lili
"Tentu saja boleh karena tidak ada yang melarang mu menjenguk sahabat my sendiri." ujar Vino mengusap rambut Lili dengan lembut
"Makasih kak!!!" ujar Lili tersenyum senang
"Manis nya senyum mu." batin Vino
"Sama-sama, ayo!" ujar Vino menggandeng tangan Lili keluar dari apartemen Revan
Di sebuah rumah sakit, Revan sedang duduk menunggu dokter yang sedang menangani Rania keluar dari ruangan rawat
Revan tampak khawatir dan frustasi dengan keadaan gadis nya
"Apakah sudah saat nya aku mengungkapkan perasaan ku kepada Rania secara resmi." ujar Revan
"Seperti nya apa yang di katakan Lili memang benar, setelah ini Rania pasti akan mengingat masa lalu nya dan dengan begitu dia akan melupakan kebohongan yang telah ku perbuat." ujar Revan
"Apa yang harus ku katakan setelah Rania sadar nanti?" ujar Revan frustasi
"Tidak mungkin kan setelah Rania sadar aku langsung mengungkapkan perasaan ku kepada nya," ujar Revan
Revan larut dalam pemikiran nya sendiri dan sekarang dia sedang melamun
Tak berselang lama, Lili dan Vino sampai di rumah sakit tempat Rania di rawat. Mereka langsung menuju ruang rawat Rania dan melihat Revan sedang melamun sendirian
"Hei bro!" ujar Vino namun tidak mendapatkan sahutan dari Revan
"Revan!"
"Revan!"
"Revan Pratama!" ujar Vino sembari menepuk pundak Revan membuat Revan tersadar dari lamunan nya
__ADS_1
"Kenapa kau mengagetkan ku hah!!!" ujar Revan kesal
"Tuan Revan Pratama yang terhormat! aku sudah memanggil mu tiga kali tapi kau tetap asik dengan lamunan mu itu, jadi dengan terpaksa dan berat hati aku mengagetkan mu." ujar Vino
"Sebenarnya kau sedang memikirkan apa?" tanya Vino
"Aku sedang bingung, apa yang harus ku lakukan jika ingatan Rania sudah kembali?" ujar Revan
"Jujur aku juga ikut bingung memikirkan hal itu bro." ujar Vino
"Maaf jika saya lancang, saya cuma mau memberikan saran. Menurut saya sih setelah ingatan Rania kembali mending bapak bersikap seperti dulu lagi tapi tetap berusaha cari kesempatan untuk PDKT karena jika bapak langsung mengungkapkan perasaan maka kemungkinan besar Rania akan syok dan bakalan menolak cinta bapak." ujar Lili
"Saran mu bagus tapi saya harus PDKT yang bagaimana? jujur saya tidak pernah mengejar cinta seseorang." ujar Revan
"Menurut saya bapak berusaha untuk dekat dengan Rania dan memberikan Rani sedikit perhatian, saya yakin lama-kelamaan hati Rania bakalan tersentuh. Oh iya pak, anda juga harus tetap bersikap seperti dulu jangan terlalu posesif sama Rania." ujar Lili
"Baiklah! saya akan mengikuti saran dari ku. Terima kasih saran nya." ujar Revan
"Iya pak, sama-sama." ujar Lili
"Aku salut dengan mu Loli, meskipun kau sahabat nya Rania tapi kau tetap membantu Revan dalam menyelesaikan masalah nya dengan Rania." batin Vino
Mereka terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing
Tak lama kemudian pintu ruang rawat terbuka dan dokter keluar menghampiri Revan
"Bagaimana keadaan Rania dok?" ujar Revan khawatir
"Nona Rania belum sadarkan diri tuan, tapi menurut pemeriksaan seperti nya nanti setelah sadar ingatan nona Rania sudah kembali." jelas dokter
"Apakah kami boleh menjenguk Rania dok?" tanya Lili
"Boleh! silahkan, tapi jika nona Rania sudah sadar segera panggil saya untuk di periksa lebih lanjut." ujar dokter
"Baik dok! terima kasih." ujar Lili tersenyum
"Sama-sama nona," ujar dokter berlalu pergi
Revan langsung masuk ke dalam ruang rawat Rania diikuti oleh Lili dan Vino
"Kau sebentar lagi akan sadar by dan mengingat semua masa lalu mu setelah itu kau akan melupakan kebersamaan kita. Jujur aku bingung dengan apa yang ku rasakan, di satu sisi aku bahagia melihat kau akan mengingat masa lalu mu yang arti nya penyakit mu akan sembuh tapi di sisi lain aku sedih karena kau akan menganggap ku bos mu lagi dan hidup ku akan kesepian." batin Revan setelah duduk di kursi sebelah brankar sembari menggenggam tangan Rania
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
__ADS_1
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah