
"Dan jika itu sampai terjadi maka anda akan menyesal!" ujar Farhan.
"Belum lagi Rania yang pastinya akan sangat kecewa kepada anda!"
"Saya tahu seperti apa sifat Rania, tuan. Dia pasti akan pergi meninggalkan anda jika rahasia ini terbongkar karena selama ini Rania selalu tersakiti!"
"Saya akan berusaha menutupi semua nya dari Rania, tapi jika Rania sendiri mengetahui nya maka saya akan membantu Rania untuk menjauh dari anda tuan!"
"Saya sudah menganggap Rania seperti adik saya sendiri, saya menyayangi nya seperti saya menyatakan Hana. Jadi maaf jika suatu saat saya berkhianat dan menyembunyikan Rania untuk menjauh dari anda!" ujar Farhan.
"Baiklah! aku akan menerima keputusan mu, mungkin itu konsekuensi dari apa yang telah ku perbuat!" ujar Revan.
"Aku pasti akan mencari Rania sampai ke ujung dunia jika sampai hal itu terjadi!!!" batin Revan.
"Syukurlah jika kau tidak apa-apa, Van! aku bisa bekerja dengan tenang!" ujar Vino.
"Aku balik ke kantor dulu!" ujar Vino berpamitan, diikuti oleh Kaivan dan Angga.
"Aku juga pamit, Van!"
"Tentang masalah yang tadi aku akan langsung memerintahkan anak buah ku untuk menyelidiki nya." ujar Kaivan.
"Iya, terima kasih!" ujar Revan.
"No problem brother! bye! kepala ku udah cenat-cenut!" ujar Kaivan langsung pergi.
"Itu anak pikiran nya selalu di penuhi dengan reproduksi sp*rm* terus!!!" ujar Angga.
"Biasa naik gunung turun lembah!" ujar Revan.
"Kadang suka bingung dengan Kaivan, kenapa dia bisa sukses sedangkan pikiran nya hanya enak-enak!" ujar Vino.
"Kau lupa jika dia punya asisten dan sekertaris yang berkompeten." ujar Revan.
"Oh iya benar!" ujar Vino.
"Bagaimana bisa aku bersahabat dengan Kau!? jujur saja aku merasa menyesal bersahabat dengan nya. Lebih baik dulu tidak saling mengenal saja!!!" batin Farhan.
Tak berselang lama setelah kepergian Kaivan. Vino, Angga, dan Farhan pun berpamitan pulang.
Revan berniat untuk membujuk kekasih nya yang sedang marah kepada nya.
Tok
Tok
Tok
"Sayang! buka pintu nya, aku mau masuk!" ujar Revan sedikit keras.
Hening...
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari dalam kamar Rania.
Sudah lah sayang, jangan ngambek terus kayak gadis perawan aja!!!" celetuk Revan.
"Kan Rania memang masih perawan!" ujar Revan meralat ucapan nya.
"Aku kangen sayang! keluarlah! pengin dipeluk oleh mu!" rengek Revan.
Tetap tidak ada sahutan dari dalam.
"Apa orang yang sedang PMS selalu seperti ini? Hah!"
"Bagaimana cara nya aku membujuk nya?" ujar Revan mengacak-acak rambut nya dengan berjongkok di depan pintu.
Melihat Revan yang frustasi membuat Bi Ijah mendekati tuan nya.
"Apa non Rania belum keluar juga, tuan?" tanya Bi Ijah.
"Iya Bi!"
"Apa semua anak perawan akan seperti ini, Bi? eh maksud ku, apa semua gadis yang sedang PMS akan sensitif seperti ini?" ujar Revan.
"Kenapa pikiran ku jadi ikutan aneh seperti Kaivan?! benar-benar virus berbahaya tuh anak!" batin Revan merutuki diri sendiri.
"Banyak gadis yang jadi semakin sensitif seperti itu tuan. Kalau marah susah membujuk nya terus kalau lagi manja salah ngomong sedikit langsung jadi singa!" ujar Bi Ijah.
"Kira-kira bagaimana cara ku membujuk nya, Bi?" tanya Revan.
"Oh iya tuan, non Rania dari tadi pagi belum makan!" ujar Bi Ijah lagi.
"Baiklah! biar aku buatkan makanan untuk nya." ujar Revan bergegas menuju dapur.
Sementara Bi Ijah melongo dengan sikap Revan.
"Tuan Revan seperti nya sangat menyayangi nona Rania. Semoga hubungan kalian langgeng!" ujar Bi Ijah berjalan menuju dapur untuk membantu tuan nya memasak.
Setelah berkutat selama kurang lebih satu jam di dapur, Revan telah menyelesaikan masakan nya sendiri tanpa bantuan Bi Ijah.
Revan hanya menanyakan resep masakan yang tidak diketahui nya kepada Bu Ijah dan meminta pendapat tentang rasa masakan nya.
Kini ayam tepung, telur dadar, sayur kangkung, air putih dan teh manis lengkap dengan buah dan puding coklat tersaji di nampan.
"Itu yang di piring Bibi makan saja, aku sengaja masak lebih untuk Bibi!" ujar Revan.
"Terus, bagaimana dengan anda? Apa tuan mau Bibi buatkan makanan!" ujar Bi Ijah sungkan.
"Tidak perlu, Bi! aku makan nanti saja. Sekarang masih kenyang!" ujar Revan.
"Bibi habiskan saja makanannya!" ujar Revan langsung pergi ke kamar Rania.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Tak ada sahutan....
Revan mencoba menekan handle pintu dan pintu langsung terbuka.
"Perasaan tadi dikunci pintunya!" gumam Revan.
Revan langsung masuk ke dalam kamar Rania dan melihat Rania sedang duduk di sofa sembari memainkan ponsel nya.
"Ngapain kakak kesini? bukannya udah asik ngobrol dengan teman-teman kakak sampai lupain aku!" ujar Rania kesal.
"Ha! tapikan kakak hanya keluar sebentar, sayang. Lagipula kau juga mengunci pintu kamar mu dan tidak memperbolehkan ku masuk!" ujar Revan berusaha tenang.
"Sebentar kakak bilang, sekarang udah sore tau kak! harus nya kakak membujuk ku agar aku mau membuka pintu, bukanya malah pergi lama! jahat!" ujar Rania.
Revan terperangah, tak percaya dengan ucapan kekasih tercinta nya itu.
"Bukankah tadi dia yang mengusirku, kenapa sekarang aku seperti menjadi tersangka kejahatan?" batin Revan.
"Sayang, tadi aku ada urusan penting jadi tidak membujuk mu!" ujar Revan.
"Jadi, urusan itu lebih penting dari pada aku…kak Revan jahat! aku marah!" ujar Rania kesal.
"No! kau sangat penting dalam hidupku, baby! dan urusan tadi sangat mendesak, aku tidak bisa menunda nya." ujar Revan hendak meraih tangan Rania, namun langsung ditepis oleh kekasihnya itu.
"Rania sayang, please jangan marah seperti ini!" ujar Revan frustasi.
Rania masih terdiam. Hal itu membuat Revan kesal sendiri, bagaimana pun juga Revan adalah orang yang memiliki temperamen tinggi dan mudah marah.
"Sayang! jangan memancing emosi ku!" ujar Revan dengan nafas memburu.
Rania takut melihat perubahan wajah Revan. wajah nya memerah dengan rahang yang mengeras dan mata yang sangat tajam, sungguh raut wajah menyeramkan yang pernah Rania lihat.
"Ada apa ini? kenapa muka kak Revan kelihatan marah? aku takut!" batin Rania.
"Rania…apa kau tidak pernah merasakan seberapa besar cinta ku kepada mu dan rasa sayang ku kepada mu?!" ujar Revan dengan sorot mata tajam.
"A-aku…"
"Apa kau tidak bisa membalas rasa cinta ku ini?" ujar Revan.
"B-bukan gitu kak!" ujar Rania.
Revan tak menanggapi ucapan Rania, dia mendekati Rania membuat gadis itu menjauh hingga mentok ujung sofa.
Revan mencengkeram pinggang Rania dan meraih tengkuk gadis itu hingga kedua bibir mereka saling menempel. Revan ******* bibir Rania penuh penekanan, lidahnya berusaha menerobos masuk ke dalam mulut gadis nya. Hingga Revan membelitkan lidahnya ke lidah Rania. Ciuman mereka kali ini sungguh panas.
Hah…hah…hah…
__ADS_1