
Rania akhirnya masuk ke dalam kamar nya.
"Kenapa kehidupan ku jadi seperti ini, di kelilingi oleh orang-orang yang mengerikan? aku sangat takut!!!" ujar Rania bersandar di pintu kamarnya.
Tok…
Tok…
Tok…
"Sayang, apa kau di dalam?" panggil Revan dari luar kamar Rania.
"Iya kak! bentar!" ujar Rania membukakan pintu kamar nya.
"Sayang, kau sedang apa?" tanya Revan.
"Itu…Cuma lagi main handphone aja kak!" ujar Rania tersenyum kaku.
"Yakin…Kau tidak sedang berbohong kan?!" ujar Revan.
"Yakin kak!" ujar Rania.
"Coba mana handphone mu?" ujar Revan.
"Itu di atas me--" ujar Rania terpotong saat tidak melihat handphone nya di atas meja riasnya.
"Lah, handphone ku kemana? kok nggak ada di meja situ? bukanya biasa nya aku taruh di situ?" batin Rania.
"Ini handphone mu! jadi kau berbohong, by!" ujar Revan mengeluarkan handphone Rania dari saku celananya.
"Akibat dari berbohong nih! jadi ketahuan kan!!" batin Rania.
"Jadi kau sedang apa tadi?" tanya Revan penuh selidik.
"Aku cuma duduk di tadi!" ujar Rania menunduk.
"Maafin aku kak, udah berbohong sama kakak!" ujar Rania merasa bersalah dan takut terkena hukuman oleh Revan.
"Iya, aku maafkan. Tapi jangan di ulang lagi!" ujar Revan mengelus rambut Rania lembut.
"Ya sudah, aku mau keluar sebentar! kau jangan melakukan apapun, cukup diam di kamar saja. Di depan ada pengawal yang menjaga mu, jika kau memerlukan sesuatu bisa katakan kepada mereka!" ujar Revan.
"Iya kak!" ujar Rania
Cup
Revan mencium kening Rania dan berlalu pergi keluar dari unit apartemen.
"Apa kak Revan pergi ke markas mafia nya?"
"Seperti nya begitu, tadi kan kak Revan janjian bertemu dengan kak Vino dan mereka berniat membunuh penjahat."
__ADS_1
"Kenapa aku dikelilingi oleh orang yang menyeramkan?" ujar Rania.
Di tempat lain tepatnya di markas mafia King Revin, nama markas milik Revan dan Vino. Kedua pria tampan itu sudah berada di ruang penyiksaan.
"Menurut mu kita apakan pria penghianat itu Vin?" ujar Revan menyeringai tajam.
"Kau pasti sudah tau apa yang aku pikirkan Van!" ujar Vino.
Revan dan Vino yang semula duduk di sebuah kursi, kini mendekat ke arah seorang pria dengan tubuh di ikat dengan tali.
"Kenapa kau berani mengkhianati kepercayaan kita, ha?!!!" bentak Revan.
"Apakah kau tidak terima dengan harga tanah yang kita tawarkan?!" ujar Revan.
"Mungkin dia terlalu rakus bro, jadi tidak terima dengan harga yang kita tawarkan!" timpal Vino.
"Cepat katakan, kenapa kau berkhianat, ha?!!" bentak Revan.
"M-maafkan saya tuan!" ujar pria itu.
"Aku tidak membutuhkan maaf mu. Aku hanya membutuhkan penjelasan mu!!!" ujar Revan.
"M-maaf tuan, saya sudah berjanji tidak akan mengatakan nya kepada siapapun." ujar pria itu.
"Jadi kau lebih mementingkan janji mu dari pada nyawa mu itu!!!" ancam Revan.
"Aku beritahu, jika kau tidak mengatakan nya maka nyawa mu akan melayang. Tapi jika kau mengatakan nya maka nyawa mu akan ku pertimbangkan." ujar Revan.
"B-baiklah, saya akan mengatakan nya!" ujar pria itu.
"Si Repan memang raja nya mengancam. Semua orang pasti akan mengikuti apa yang di ancam nya. Benar-benar sahabat ku itu!!!" batin Vino.
Pria itu menceritakan siapa dalang di balik pengkhianatan nya tanpa ditutupi sedikit pun.
"Jadi semua ini ulah Reno lagi?! dasar baj*ng*n tengik itu orang!!!" ujar Vino geram.
"Ternyata dalang nya itu Reno! seperti nya sebentar lagi kita akan reuni Vin! aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan nya, Vin!" ujar Revan.
"Reuni kepala kau botak Van, kita itu harus membalas apa yang telah Reno lakukan, malah masih mikirin reuni!" ujar Vino kesal dengan Revan.
"Kau masih belum pro aja, berapa lama kamu berteman dengan ku Vin?!" ujar Revan gemas dengan Vino yang tidak memahami perkataan nya.
"Kan kita udah berteman dari embrio Van, gitu aja tidak tahu!" ujar Vino.
"Punya sahabat satu gini amat ya…Makin kesini makin kesana!!!" ujar Revan.
"Sudahlah! lepaskan dia, tapi tetap harus kalian awasi. Aku masih takut dia berkhianat lagi!" ujar Revan.
"Baik tuan!" ujar anak buah Revin.
"Dan untuk ku Fin, kau cari tahu lebih dalam tentang permasalahan tadi!" ujar Revan.
__ADS_1
"Baik tuan!" ujar Fin cepat tanggap.
"Sekarang aku mau pulang!" ujar Revan berjalan keluar dari ruang penyiksaan.
"Hei tunggu, datang telat giliran pulang langsung gerak cepat!" gerutu Vino mengikuti Revan.
...****************...
Sesampainya di apartemen, Revan langsung mencari Rania. Pria tampan itu mendapati Rania sedang duduk di kursi yang ada di balkon.
"Sayang, kau sedang apa?" tanya Revan duduk di samping Rania.
Rania yang sedang mencari ide untuk melarikan diri pun pucat pasi.
"A-aku cuma lagi cari udara, kak!" ujar Rania.
"Kau tidak kelelahan kan?" tanya Revan penuh selidik.
"Nggak kak! aku dari tadi cuma di kamar" ujar Rania.
Revan memeluk tubuh mungil yang berhasil memporak-porandakan hati nya itu.
"Jujur aku merinding di peluk sama kak Revan, diakan habis bunuh orang pasti masih ada jejak darah ataupun keringat nya!" batin Rania.
"Tapi kenapa kemejanya tetap bersih ya? dan aroma tubuh nya juga masih khas kak Revan, eh maksudnya kemeja nya juga masih wangi!" batin Rania.
"Sayang, apa kau sudah makan siang?" tanya Revan.
"Belum!" ujar Rania.
"Bagaimana jika kita makan di luar sembari jalan-jalan? kau tadi bilang jika kau bosan kan jika di rumah terus!" ujar Revan.
"Iya, tapi apa kakak tidak sedang sibuk?" ujar Rania.
"Tidak! sesibuk apapun pekerjaan ku jika kau menginginkan sesuatu pasti akan aku kabulkan, by!" ujar Revan.
"Benarkah? semua keinginan ku akan kakak turuti?" tanya Rania.
"Iya sayang!" ujar Revan mencium pipi Rania gemas.
"Apakah jika aku ingin pergi dari kehidupan mu, kakak akan melepaskan ku?" batin Rania.
"Kau tahu Rania … aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini, aku rela mengorbankan nyawa demi keselamatan mu!!!" ujar Revan menatap Rania intens.
"Jadi, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mu bahagia!" ujar Revan.
"Aku ke kamar sebentar, by!" ujar Revan hendak bangkit dari duduk nya. Namun Rania memeluknya begitu erat.
"Hei, ada apa sayang? Kenapa kau jadi manja sekali, hm?" ujar Revan mengusap punggung gadis nya lembut.
"Emang nggak boleh peluk pacar sendiri? atau jangan-jangan kakak berbohong dan punya pacar lagi di belakang ku?" ujar Rania melepaskan pelukan nya dan menatap Revan dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Deg