
"Iya kak, aku nggak lama kok cuma mengambilkan makanan untuk kakak." ujar Rania langsung beranjak pergi ke dapur setelah Revan melepaskan cekal an tangan nya.
Tak berselang lama, Rania kembali masuk ke dalam kamar tempat Revan berbaring sembari membawa nampan berisi makanan dan air putih untuk Revan.
"Kenapa aku merasa kasihan ya melihat bos kejam itu terlihat sangat lemah tak berdaya seperti itu?" ujar Rania
Rania menaruh nampan yang di bawa nya di atas nakas dan duduk di tempat tidur yang kosong di sebelah Revan yang terlihat tertidur.
"Kak, bangun, makan dulu yuk." ujar Rania dengan lembut
"Kak Revan." ujar Rania memegang tangan Revan guna membangunkan bos kejam nya.
Revan perlahan membuka mata nya meskipun pandangan nya samar dan kepala nya terasa pusing tempat di sekitar nya terasa berputar, namun Revan masih bisa melihat wajah cantik gadis nya itu.
Revan berusaha untuk bangkit meskipun tubuh nya sangat lemas.
"Biar ku bantu kak." ujar Rania yang melihat Revan kesusahan untuk duduk.
Rania berusaha membantu Revan duduk, Rania sangat kesusahan membantu Revan duduk karena tubuh nya yang mungil dibandingkan dengan tubuh kekar Revan.
Setelah melewati usaha yang melelahkan dan menguras banyak tenaga, Rania berhasil membantu Revan duduk.
"Gila, berat juga bos kejam ini! kayak nya kebanyakan dosa deh karena terlalu dzolim sama pegawai nya termasuk aku," batin Rania
"Sekarang tenaga ku serasa habis, lemes banget rasanya." batin Rania
"Tapi aku harus tetap semangat, kasian bos kejam lagi sakit. Jia you Rania!!!" batin Rania
Rania dengan telaten mulai menyuapi Revan makan setelah melihat Revan yang sangat lemah bahkan hanya untuk memegang sendok sampai tak terasa makanan di piring habis tanpa sisa.
"Ini minum nya kak." ujar Rania memberikan gelas berisi teh hangat kepada Revan.
Revan meminum teh hangat itu sampai tandas.
"Gimana kak? apa udah enakan?" tanya Rania
"Sudah tidak lemas tapi kepala saya masih pusing dan sakit!" jawab Revan
"Sakit kepala? minum Paramex nyeri otot obatnya!!" ujar Rania terkekeh.
"Paramex? apa itu paramex?" ujar Revan mengernyitkan keningnya.
"Masa gak tau sih kak, apa itu paramex?" ujar Rania terkekeh
"Paramex ya kereta kak!" ujar Rania menahan tawa nya
"Apa hubungan kereta dengan sakit kepala?" ujar Revan
"Ya ampun kak, jadi kakak beneran gak tau apa itu paramex?" ujar Rania dan dibalas anggukan oleh Revan
"Paramex itu loh kak, obat yang terkenal itu loh. Masa gak tau sih!!!" ujar Rania
"I don't know, by. Never heard it." ujar Revan
"Gimana mau tau, hidup nya aja kaku, datar dan lurus bahkan bercanda saja nggak pernah." gumam Rania
__ADS_1
"Oh iya by, handphone saya ada dimana ya?" ujar Revan
"I don't know sir!" ujar Rania
"Apakah kau tidak melihat nya?" tanya Revan
"Tidak! mungkin di saku kakak kali." ujar Rania
Revan langsung merogoh saku kemeja dan celana nya, namun handphone nya tetap tidak di temukan.
"Tidak ada!" ujar Revan
"Baby, bolehkah saya meminjam handphone mu sebentar?" ujar Revan
"Eh…iya kak, bentar." ujar Rania terkejut karena dia sempat tertegun dengan ucapan Revan yang memanggil nya baby.
Rania mengambilkan handphone nya di atas nakas dan memberikan nya kepada Revan
Revan menelpon sekertaris sekaligus asisten pribadi nya yang tak lain adalah Farhan.
Panggilan terhubung
📲: "Halo Rania! ada apa? tumben sekali kamu menelpon kakak, udah kangen mendengar suara merdu kakak ya. Tenang saja nanti juga ketemu." ujar Farhan
📱 : "Farhan!!! hari ini saya akan datang ke perusahaan siang hari, jadi untuk meeting hari ini cancel untuk besok!!!" ujar Revan kesal
📲 : "T-tuan Revan! maaf tuan, saya kira Ra--"
Tut…tut…Tut
Disisi Farhan, pria itu melongo karena panggilan telepon nya langsung dimatikan oleh tuan nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tuan Revan? kenapa pagi-pagi begini tuan Revan sudah menghubungi ku dan pakai handphone nya Rania lagi." ujar Farhan berpikir
"Jangan-jangan…" ujar Farhan yang sudah berpikiran kemana-mana
"Oh astaga Farhan, buanglah pikiran kotor mu jauh-jauh." ujar Farhan
"Tapi tetap aja aku negatif thinking terhadap tuan Revan, masa iya dia pagi-pagi udah sama Rania." ujar Farhan
"Ah sudahlah, lupakan pikiran buruk mu itu Farhan! lebih baik sekarang mandi dan berangkat bekerja!" ujar Farhan langsung beranjak turun dari tempat tidur nya.
Di apartemen milik sang bos kejam, Revan kini tengah menatap dengan intens kepada Rania yang duduk bersebelahan dengan nya di tempat tidur.
"Astaga!!! kenapa dia menatap ku seperti itu sih? aku jadi takut tau!" batin Rania
"Kak, aku mau mandi dulu, aku harus bekerja." ujar Rania berusaha melarikan diri
"Tapi saya belum mengizinkan mu untuk pergi." ujar Revan
"Tapi aku harus bekerja kak," ujar Rania
"Aku bukan pemilik perusahaan itu jadi aku tidak bisa seperti kakak yang dengan mudah nya berangkat siang." lanjut Rania
"Siapa bilang?" ujar Revan
__ADS_1
"Aku yang bilang dan di peraturan perusahaan pun semua pegawai harus berangkat tepat waktu jika tidak ingin mendapatkan sanksi." ujar Rania
"Karena saya kekasih yang baik, maka saya mengizinkan mu untuk berangkat bekerja bersama saya nanti siang." ujar Revan dengan santai nya.
"What!!! kapan aku jadi pacar kakak?" ujar Rania tidak terima,
"Aku kan belum mengatakan jika aku mau jadi pacar nya." batin Rania
"Sejak saya mengungkapkan perasaan saya." ujar Revan
"Tapi kan aku belum menjawab nya kak." ujar Rania
"Saya tidak ingin kau repot-repot menjawab nya, by. Karena saya juga tidak menerima penolakan dari mu," ujar Revan
"Dan untuk nanti malam saya akan mengungkapkan perasaan saya secara resmi kepada mu," lanjut Revan
"Tapi kak--" ujar Rania yang langsung di potong oleh Revan
"Saya tidak menerima penolakan dan alasan dari mu, by. Itu hanya akan membuang tenaga mu saja." ujar Revan
"Menyebalkan!" ujar Rania mengerucutkan bibir nya karena gagal untuk protes
Cup
Revan mencium singkat bibir Rania.
"Well,well,well. Tidak ada yang bisa mengalahkan berdebat dengan orang menyebalkan seperti nya." batin Rania
"Tapi aku tidak mencintai nya dan dia selalu seenaknya dengan ku, apa aku akan kuat menjadi kekasih bos kejam ini?" batin Rania
"Kau tenang saja by, saya akan berusaha membahagiakan mu dan saya akan menjadikan mu orang yang paling bahagia di dunia ini." ujar Revan penuh keyakinan
Rania tertegun mendengar ucapan Revan, Rania menitikkan air mata nya mengingat diri nya yang sudah tidak dianggap oleh keluarga nya.
"Hei by, kenapa kau malah menangis?" ujar Revan langsung membawa Rania ke dalam pelukan nya.
"Apa ada yang mengganjal di pikiran mu?" ujar Revan sembari mengelus rambut Rania lembut
Rania menumpahkan segala beban pikiran nya di pelukan Revan.
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah
__ADS_1