SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Mengatur pola makan


__ADS_3

"Tidak mengapa jika kau tidak ingin bercerita, tapi kenapa saya tidak pernah melihat keluarga mu datang menjenguk mu kecuali Lili." ujar Revan


"Sebenarnya saya di usir dari rumah." ujar Rania keceplosan


"Apa!!! kenapa kau bisa di usir dari rumah?" ujar Revan yang berpura-pura terkejut


"Aduh!!! mulut ku ini licin banget sih, pakai acara keceplosan segala lagi. Aku harus gimana ini?" batin Rania bimbang


"Rania!!! kenapa kau melamun?" ujar Revan yang membuyarkan lamunan Rania


"Eh? maaf pak." ujar Rania


"Jadi kenapa kau sampai di usir dari rumah perasaan saya lihat ayah mu itu terlihat sangat menyayangi mu." ujar Revan


"Ah Bodo amat lah, mending aku ceritain aja sama bos kejam ini. Siapa tau dia bisa jadi pahlawan kesiangan dan nolongin aku seperti waktu itu." batin Rania


"Jadi, waktu itu adik tiri saya menangis dan mengurung diri di kamar terus ayah dan ibu sangat khawatir dengan nya. Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar adik saya agar adik saya mau menceritakan masalah nya. Tapi setelah ayah keluar dari kamar adik saya, ekspresi wajah ayah langsung memerah. Saat itu saya sedang mencuci piring dan di suruh kumpul di ruang keluarga, jujur saya bingung melihat ekspresi wajah ayah yang seperti itu." ujar Rania


"Setelah aku ikut berkumpul, ayah langsung memarahi ku dan mengusir ku dari rumah tanpa menjelaskan alasan nya." sambung Rania


"Jadi sampai sekarang kau belum mengetahui apa alasan ayah mu mengusir mu?" ujar Revan


"Belum pak." ujar Rania


"Sebenarnya alasan ayah mengusir ku dari rumah karena Salsa menceritakan hal yang tidak-tidak tentang aku dan kamu waktu kita makan nasi goreng berdua, tapi aku nggak bisa menceritakan alasan nya kepada mu pak. Bagaimana pun yang Salsa ceritakan itu tidak benar, jadi biarlah anda tidak mengetahui alasan nya. Jujur saya malu kalau harus menceritakan nya." batin Rania


"Baiklah! sekarang kau tidak perlu memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan mu." ujar Revan dengan lembut


"Iya pak." ujar Rania tersenyum


"Oh iya! apa kau sudah menemukan tempat tinggal setelah keluar dari rumah sakit?" ujar Revan


"Belum pak! mungkin setelah saya keluar dari rumah sakit saya akan mencari kontrakan." ujar Rania


"Sebenarnya saya ingin kau tinggal di apartemen saya saja." ujar Revan santai


"Nggak usah pak! saya nggak mau merepotkan anda." ujar Rania


"Saya tidak merasa di repot kan." ujar Revan


"Meskipun anda merasa tidak di repot kan tapi saya tetap merasa tidak enak." ujar Rania

__ADS_1


"Tapi jika kau tinggal di apartemen saya, itu bisa menghemat uang mu. Kau tidak perlu membayar biaya tempat tinggal dan uang mu bisa di tabung untuk keperluan yang lain." ujar Revan


"Tapi saya tetap merasa tidak enak, apalagi saya gratis tinggal di apartemen anda. Itu sudah sangat berlebihan untuk saya." ujar Rania


"Selagi saya masih bisa sendiri, saya tidak ingin merepotkan orang lain." sambung Rania


"Baiklah! jika kau tidak ingin tinggal di apartemen saya tanpa membayar, kau bisa melakukan sesuatu untuk saya. Anggap itu sebagai bayaran nya." ujar Revan


"Apa yang harus saya lakukan pak?" ujar Rania yang nampak ragu


"Kenapa aku jadi cemas dan ragu gini ya? aku takut jika bos kejam ini menjadikan ku tunggangannya. Aku nggak mau menjadi penghangat ranjang nya, aku nggak mau jadi pemuas nafs* nya." batin Rania dengan pikiran kotor nya


"Aku tidak akan menyerah kan mahkota ku kepada seseorang yang belum terikat dengan ku. Mimpi apa aku, kenapa jadi panik gini? Oh My God, mahkota ku yang berharga, tenang saja aku akan menjaga nya untuk di berikan kepada orang yang tepat." batin Rania panik


"Aku juga tidak mau di perlakukan bak seorang budak seperti di drama yang aku tonton. Aku juga nggak mau jadi pemuas nafs* seperti di novel online yang pernah ku baca." batin Rania


Rania larut dalam pemikiran nya, dia membayang kan kehidupan menjadi seorang budak seperti di dalam drama yang pernah di tonton nya. Mungkin karena Rania terlalu sering menonton drama membuat nya jadi sangat takut, biasalah nama nya juga Rania sang drama lovers sejati.


Ditambah dengan hobi membaca nya, dia sangat suka membaca novel. Hal itu membuat tubuh nya bergetar hebat sekarang ini membayangkan menjadi tokoh di dalam novel yang berperan menjadi pemuas nafs*


"Hal yang kau lakukan sangat mudah dan tentu nya itu sangat menyenangkan menurut mu." ujar Revan


"Kau hanya perlu menjaga dan mengatur pola makan saya." ujar Revan


"Maksud anda apa?" ujar Rania bingung namun agak lega mendengar nya


"Kau hanya perlu menyiapkan makanan untuk saya, pagi, siang dan malam." ujar Revan


"Untuk sarapan, kau bisa membawa nya ke kantor beserta makan siang nya dan untuk makan malam…saya akan makan malam bersama mu di apartemen." ujar Revan


"Apa!!!" ujar Rania terkejut mendengar ucapan Revan yang terakhir


"Apa kau keberatan?" tanya Revan sembari menaikan alis nya sebelah


"T-tidak pak." ujar Rania gugup


"Saya juga memberi keringanan untuk mu. Jika kau sedang kurang sehat atau tidak sempat memasak, tugas kau hanya membelikan makanan untuk saya." ujar Revan


"Apa kau keberatan dengan tawaran saya. Jika memang kau keberatan, saya tidak akan memaksa." ujar Revan walau dalam hati dia tidak ingin Rania hidup kesusahan


"Nggak kok, saya sama sekali tidak keberatan." ujar Rania sembari tersenyum kaku

__ADS_1


"Iya pak! Terima kasih karena sudah banyak membantu saya." ujar Rania


"Sama-sama. Kau tidak perlu sungkan dengan saya sekarang. Jika di luar kantor, saya ingin kau menganggap saya seperti kepada seorang teman bukan seperti atasan dengan bawahan." ujar Revan


"Apakah saya harus menganggap anda seperti teman saya sendiri?" ujar Rania


"Iya, apa kau tidak mau menganggap saya seperti teman mu?" ujar Revan


"Bukan begitu pak, saya tidak enak aja." ujar Rania


"Kau tidak perlu sungkan, sahabat mu menganggap Vino juga sudah seperti teman sendiri." ujar Revan


"Baiklah! saya akan mencoba nya


"Baiklah! jika kau setuju, saya akan menelpon para pelayan dulu untuk membersihkan apartemen itu." ujar Revan


Revan langsung beranjak dari duduk nya


berjalan menjauhi Rania dan mengambil handphone nya untuk menghubungi seseorang


"Syukurlah aku sudah mendapatkan tempat tinggal, ya…walaupun harus dengan persyaratan meladeni makanan Yang mulia bos kejam ini. Tapi itu tidak mengapa daripada bingung harus tinggal di mana." batin Rania


Setelah selesai menelpon seseorang, Revan kembali duduk di samping brankar sembari pandangan mata nya tidak pernah lepas dari sosok Rania


"Syukurlah Rania menerima tawaran ku, dengan begini aku akan tetap berdekatan dengan Rania dan mendapatkan perhatian dari nya." batin Revan


...****************...


Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini


Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik


Jangan lupa vote, like and komen yah


Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig


love you all 🥰🥰🥰


ig : aliffiaazizah_


bisa di follow ig nya yah

__ADS_1


__ADS_2