
Revan menangis dan tertawa secara bersamaan, sungguh emosinya tidak stabil.
"Lihat saja nanti pasti akan ku culik dan ku masukkan karung kau manager sialan!!!" ujar Revan menunjuk-nunjuk botol wine yang diminum nya.
"Ada apa dengan si bos? dia sudah seperti orang gila saja yang tiba-tiba tertawa dan menangis!!!" batin Fin.
"Apa mungkin karena gadis yang bernama Rania itu? wah....wah hati bos sudah porak-poranda oleh seorang gadis! aku jadi penasaran seperti apa rupa gadis pujaan bos Revan itu!?" batin Fin.
Hari sudah malam, Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Waktu yang tepat untuk bobo manis, bahkan sudah ada yang menjelajah dunia mimpi.
Lain halnya dengan Revan yang baru tiba di apartemen nya dengan berjalan sempoyongan karena menolak dipapah oleh Fin. Revan langsung membuka pintu apartemen nya dan hendak berjalan menuju kamarnya. Tapi langkah nya terhenti melihat seorang gadis yang terbaring meringkuk di sofa ruang tamu.
Revan mendekat ke arah gadis itu yang tak lain adalah Rania. Memandangi wajah cantiknya dan memeluk nya erat membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.
"K-kak Revan udah pulang?" tanya Rania panik karena wajah mereka yang sangat dekat, bahkan Rania bisa mencium aroma alkohol dari nafas Revan.
Tanpa aba-aba Revan mengecup bibir Rania dan bukan hanya sekedar kecupan karena nyatanya kecupan mendadak tadi kini berubah menjadi ciuman panas dan bergairah.
Revan yang di bawah pengaruh alkohol dengan mudah nya menggendong Rania dan merebahkan tubuh Rania di atas ranjang dengan bibir yang masih bertautan. Revan menindih tubuh Rania dan mencekal tangan Rania agar tidak memberontak.
"Hah…hah…hah…" deru nafas keduanya memburu.
Rania yang merasakan sisa rasa alkohol dari mulut Revan pun kepala nya langsung pusing mungkin karena tubuhnya tidak bisa mentolerir alkohol.
Revan terus mencium Rania dengan buas hingga ciuman nya turun ke leher dengan tangan nakal nya yang sudah merem*s gunung kembar Rania dengan lembut.
Saat Revan hendak membuka kancing piyama yang dikenakan oleh gadis nya, dirinya menghentikan aksinya karena teringat dengan perkataan polos gadis nya.
"Astaga!!! hampir saja aku khilaf!!!" untung saja Revan sadar akan perlakuan nya.
"M-maaf,"
"Aku tidak bermaksud merendahkan mu!"
Nafas Revan memburu, gairahnya sudah di ubun-ubun. Namun Revan menahan nya agar tidak menyakiti gadisnya.
Rania berusaha bangun dan berlari menuju kamarnya setelah Revan turun dari atas tubuh nya.
__ADS_1
"Hah!"
"Untung saja dia belum melakukan hal itu kepada ku, karena setelah ini mungkin aku akan pergi dari sini!" ujar Rania tersenyum getir.
Tubuhnya yang lelah dan sedikit pusing akibat sisa alkohol di mulut Revan pun membuat Rania terlelap.
Sementara Revan sedang meratapi kebodohan nya yang hampir saja melewati batasan pacaran nya bersama Rania.
"Kau bodoh Revan!!! Rania pasti trauma melihat tindakan ku yang diluar batas tadi."
"Aku harus bagaimana sekarang? Rania pasti takut jika aku mendekati nya!"
"Kenapa aku merasa Rania bakalan pergi meninggalkan ku? tidak…tidak… tidak mungkin dan tidak akan aku biarkan yang menjadi milikku pergi meninggalkan ku!!!"
"Aku harus meluluhkan nya lagi!"
Revan menyusun rencana untuk kembali mendapatkan hati gadis nya yang mungkin sedang trauma dengan nya.
Tanpa sadar Revan tertidur di sofa dengan otak yang dipenuhi oleh gadisnya.
Keesokan harinya, di pagi yang indah namun tak seindah hubungan duo R itu.
"*Seperti nya gadis itu sedang bertengkar dengan tuan Revan, pantas saja dari tadi tuan Revan belum keluar dari kamarnya."
"Gadis kampung seperti dia memang tidak tahu di untung udah di kasih kemewahan masih aja ngelunjak*!!!" batin Lia geram dengan Rania.
Rania dan Bi Ijah nampak sudah selesai memasak dan menata nya di meja makan.
Tak berselang lama Revan keluar dari kamarnya bertepatan dengan Rania yang sudah selesai menata makanan.
"Kok aku jadi gugup begini, dan kenapa kak Revan nggak pakai pakaian kerja nya?" batin Rania saat melihat Revan keluar dengan mengenakan kaos santai dan celana pendek.
"Sudah kuduga pasti Rania izin tidak masuk kerja." batin Revan
Rania hendak kembali masuk ke dalam kamar nya namun tangan nya dicekal saat berjalan melewati Revan.
"Rania tunggu…"
__ADS_1
"Aku ingin bicara sebentar dengan mu!" ujar Revan
"Mau bicara apa lagi kak?!"
"Seperti nya nggak ada lagi yang bisa kita bicarakan!" ujar Rania berusaha melepaskan genggaman tangan Revan namun Revan malah mempererat genggaman nya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Revan langsung menggendong Rania dan membawanya ke balkon kamar gadis itu.
Revan mendudukkan Rania di kursi balkon.
"Rania!"
"Maafkan aku!" ujar Revan
"Aku tahu aku salah! karena aku sangat cemburu dengan manager sialan itu sampai aku mabuk-mabukan dan hampir merenggut kehormatan mu!"
"Aku minta maaf Rania!" ujar Revan menunduk layaknya anak kecil yang dimarahi ibunya.
"Aku udah maafin kakak, tapi aku belum bisa melupakan kejadian semalam. Mungkin menurut kakak kejadian semalam itu biasa saja, tapi menurutku itu adalah kejadian yang sangat tidak aku inginkan."
"Maaf aku masih belum bisa memaafkan dan melupakan kejadian semalam kak!" ujar Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu kesalahanku itu fatal by, tapi aku mohon kau jangan pergi meninggalkan ku!!! aku tidak mempunyai penyemangat lagi jika kau pergi!!!" Revan berlutut didepan Rania, memeluk kaki Rania dan memohon. Pria tampan yang terkenal kejam itu bahkan tak bisa lagi menahan tangisan nya.
"Hanya kau penyemangat ku by! aku mohon beri aku kesempatan lagi…aku janji aku pasti akan berubah. Tidak akan nakal lagi kepadamu!" image Revan yang kejam sudah seratus persen luntur jika menyangkut gadisnya.
"Baiklah! tapi kak Revan harus benar-benar menepati janjimu untuk tidak nakal lagi!" Rania tidak tega melihat bos kejam nya yang memohon bahkan sampai berlutut di depannya. Apalagi saat melihat ekspresi wajah Revan yang sangat menggemaskan saat memohon tadi membuat nya langsung luluh.
Revan dengan cepat mengangguk "Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi!!!"
"Tadi kata-katanya gombal banget kak!" ujar Rania
"Siapa yang gombal? saya bicara dari hati. Lagipula saya memiliki orang tua serasa tidak memiliki!" ujar Revan tersenyum getir.
"Stop! kakak nggak boleh ngomong kayak gitu!"
"Tapi memang seperti itu kenyataan nya by. Sudahlah lupakan itu!"
__ADS_1
Rania mengangguk, gadis itu tidak ingin melihat kekasih nya bersedih. Namun ada rasa bahagia di hati Rania saat melihat perubahan dalam diri pria itu, yaitu sudah bisa mengekspresikan perasaan nya.
"Aku senang kak Revan udah nggak datar dan kaku seperti dulu lagi!" batin Rania