
"Ternyata loli punya teman pria juga, kirain dia bakal nggak akrab dengan seorang pria." ujar ibu nya Lili
"Kalau dilihat, mereka juga tampak serasi." ujar ibu nya Lili yang melihat Vino dan putri nya yang sudah menjauh, ditambah tangan Vino yang masih setia menggenggam tangan Lili membuat mereka nampak serasi.
Di apartemen Revan, pria itu sedang berkutat dengan laptop nya. Dia sudah selesai makan malam dan langsung mengerjakan berkas yang menumpuk di meja kerja nya
"Malam minggu begini biasa nya kebanyakan orang jalan-jalan dengan pacar, tapi apa yang terjadi pada ku? serasa kencan dengan berkas saja." ujar Revan
"Pacar sendiri malah di biarkan!" ujar Revan
Tak lama kemudian Rania masuk ke dalam ruang kerja Revan sembari membawa kopi
Tok
Tok
Tok
"Masuk saja by, pintu nya tidak di kunci!" sahut Revan dari dalam ruangan nya
Rania masuk sembari membawa secangkir kopi dan camilan
"Ini kopi buat kamu!" ujar Rania setelah menaruh secangkir kopi dan camilan di meja sofa yang ada di ruang kerja Revan
"Terima kasih baby!" ujar Revan
"Sama-sama! ya udah aku keluar dulu, takut ganggu kamu." ujar Rania berjalan keluar dari ruangan Revan
Namun baru beberapa langkah, tangan kokoh Revan menarik tangan mungil Rania hingga Rania terjatuh di pangkuan Revan
"Ih!!! lepasin!!!" ujar Rania memberontak
"Tapi saya ingin memeluk mu by," ujar Revan menyandarkan kepala nya di bahu Rania
"Tapi aku masih banyak kerjaan!" ujar Rania
"Saya lelah by, izinkan saya bersandar di bahu mu sebentar saja." ujar Revan
"Baiklah! tapi sebentar saja." ujar Rania yang mulai terbawa suasana dan terbawa dengan pelukan kekasih nya yang begitu hangat dan membuat nya nyaman
"Kenapa pelukan nya sangat hangat dan nyaman." batin Rania
"Udah ah! lepasin aku!" ujar Rania
"Baiklah!" ujar Revan melepaskan pelukan nya
Jarak mereka berdua sangat dekat karena Rania berada di pangkuan Revan, mata mereka bertaut cukup lama dan…
Cup
Revan mengecup bibir Rania membuat pipi Rania langsung memerah
"Ih!!! kenapa kamu mencium ku secara mendadak sih??" ujar Rania mengomeli kekasih nya
"Berarti kalau saya meminta izin dulu kau akan memperbolehkan nya by," goda Revan
"B-bukan gitu maksud aku!" ujar Rania gugup
__ADS_1
"Tadi kau bilang jangan kenapa saya mencium mu secara mendadak, jadi kalau saya meminta izin dulu boleh dong mencium mu!" ujar Revan yang berhasil membuat Rania kehilangan kata-kata
"Dia menggemaskan sekali jika sedang kebingungan seperti itu!" batin Revan
"Aduh!!! ucapan nya sungguh telak! aku harus menjawab apa?" batin Rania
"Masa aku harus menjawab iya, kan malu!" batin Rania
"Baiklah! Rania tersayang, izinkan saya mencium mu!" ujar Revan
"Apa! aku bahkan belum menjawab ucapan nya tapi dia sudah meminta izin untuk mencium ku." batin Rania
Cup
Revan mencium bibir Rania dengan lembut, ******* nya dan memberikan gigitan tipis di bibir mungil Rania. Rania hanya bisa memejamkan mata nya, jujur saja dia juga terbuai dengan ciuman yang dilakukan oleh Revan
Setelah melihat Rania kehabisan nafas, Revan melepaskan ciuman nya dan mengelap bibir Rania yang nampak basah akibat ulah nya
"Bibir mu sangat manis by!" ujar Revan sembari menatap lekat wajah cantik kekasih nya
"Oh iya aku lupa belum mematikan kompor!" ujar Rania langsung beranjak dari pangkuan Revan dan berlari keluar dari ruangan kerja Revan dengan pipi yang merah merona
"Aku tahu kamu pasti hanya beralasan belum mematikan kompor supaya saya tidak mengetahui pipi mu yang memerah seperti kepiting rebus itu!" ujar Revan yang gemas melihat tingkah gadis nya
"Akhir nya aku bisa keluar dari ruangan itu, sungguh rasa nya seolah tidak bisa bernafas!" ujar Rania sambil mengatur nafas nya
Setelah itu Rania pun memutus kan untuk ke kamar nya dan mengunci pintu kamar nya
Di posisi Vino dan Lili, mereka berdua kini sedang fokus memilih bumbu dapur
"Menurut mu bumbu dapur apa saja yang penting?" ujar Vino
"Sesuai selera bagaimana?" ujar Vino bingung
"Ya sesuai masakan yang mau anda buat?" ujar Lili
"Tapi saya tidak bisa masak Loli, saya hanya bisa masak air!" ujar Vino kesal
"Ih!!! kenapa anda ikut ikutan ibu sih manggil nya loli?" ujar Lili kesal
"Karena kau memang pantas di panggil loli!" ujar Vino terkekeh
"Ya nggak lah! oh iya aku lupa, kalau anda tidak bisa masak kenapa mau beli bahan makanan mendingan beli makanan nya aja." ujar Lili
"Kalau nggak minta masakin sama ibu nya." ujar Lili
"Karena saya ingin belajar masak!" ujar Vino santai
"Bilang dong dari tadi pak jadi saya nggak perlu emosi kayak gini!" ujar Lili
"Kalau menurut saya, jika anda ingin belajar masak mending beli semua bumbu makanan nya!" ujar Lili
"Baiklah!" ujar Vino langsung mengambil semua bumbu-bumbu yang ada di super market
"Stop pak!" ujar Lili
"Ada apa?" tanya Vino
__ADS_1
"Maksud saya bukan beli semua bumbu dapur yang ada di sini pak Vino yang terhormat! tapi membeli satu merk bumbu dapur yang menurut bapak cocok!" ujar Lili
"Baiklah!" ujar Vino menurut dan langsung memilih merk bumbu dapur yang menurut nya menarik
Setelah selesai memilih bumbu dapur, Lili dan Vino mencari bahan masakan lain nya sampai setengah jam lama nya mereka pun selesai berbelanja dan sedang membayar di kasir
"Saya minta mulai besok kau mengajari saya cara memasak!" ujar Vino setelah melakukan pembayaran
"Apa? saya yang ngajarin anda masak?" ujar Lili
"Iya loli, siapa lagi jika bukan kau!" ujar Vino
"T-tapi saya nggak terlalu pintar memasak pak!" ujar Lili
"No problem! kau hanya tidak pintar memasak bukan tidak bisa." ujar Vino santai
"Saya kira anda akan menyewa chef untuk mengajari anda memasak!" ujar Lili
"Saya malas mencari chef! jadi kau atau tidak mengajari saya masak!" ujar Vino
"Gimana ya pak!" ujar Lili ragu
"Padahal saya ingin menambah kan gaji kau dua kali lipat, tapi kalau tidak mau tidak apa-apa saya bisa cari pegawai yang lain yang mau mengajari saya memasak!" ujar Vino
"Saya mau pak!" jawab Lili dengan cepat
"Sudah ku dugong pasti jika ku naikan gaji nya dia mau mengajari ku memasak!" batin Vino
"Bodo amat lah dikira mata duit an yang penting gaji nya naik dua kali lipat hanya dengan mengajari nya masak!" batin Lili
"Baiklah! besok setelah dari apartemen Revan kau ajari saya memasak!" ujar Vino
"Siap pak!" ujar Lili
"Kalau begitu saya permisi dulu, ibu pasti sudah kelamaan nunggu." ujar Lili
"Biar saya antar kau dan ibumu pulang!" ujar Vino
"Tidak usah pak! saya kesini naik motor!" ujar Lili
"Baiklah! hati-hati." ujar Vino
"Iya pak!" ujar Lili sembari berjalan meninggalkan Vino
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
__ADS_1
bisa di follow ig nya yah