
"Aku benar-benar nggak habis pikir dengan sikap bos kejam itu yang seenak jidat mencium ku!!!" ujar Rania
Rania terus berjalan hingga dia sampai di apartemen milik Revan. Rania berjalan menuju lift dan saat pintu lift terbuka, Rania di kejutkan oleh sosok orang yang dihindari nya.
:"What!!! kenapa bos kejam ini bisa sudah ada di lift?" batin Rania dengan wajah terkejut nya
"Jangan-jangan dia hantu atau penyihir lagi! ih serem deh! tapi hanya ada satu cara yang harus ku lakukan." batin Rania
"Yaitu mengambil langkah seribu!!!" batin Rania dengan gerakan cepat ingin melarikan diri dari situ.
Namun, siapa sangka Revan lebih cepat dari nya. Revan dengan cepat menarik tangan Rania untuk masuk ke dalam lift Alhasil, tenaga Rania tentu saja kalah telak dengan tenaga Revan yang membuat nya harus ikut masuk ke dalam lift.
Pintu lift tertutup, Revan masih tetap menggenggam tangan Rania dan kini tatapan mereka berdua saling beradu.
"Apa kau ingin melarikan diri dari saya?" tanya Revan dengan wajah datar nya
"T-tidak! s-saya tidak menghindari kakak kok!" ujar Rania mengelak
"Tapi kenapa dari tadi kau semakin menjauh dari ku!!!" ujar Revan yang kesal karena Rania dengan jelas menjauhi nya untuk kedua kalinya.
"Saya hanya tidak nyaman saja kak!" ujar Rania
"Tidak nyaman kenapa? apa yang membuat mu tidak nyaman, hm?" ujar Revan
"Apa kau tidak ingin para pegawai ku melihat kedekatan kita? begitu?" sambung Revan dengan amarah yang meningkat.
"Iya kak! saya nggak nyaman jika pegawai yang lain melihat hubungan kita yang cukup dekat." ujar Rania
"Dan saya tidak ingin hal itu mengganggu konsentrasi beker…" ucapan Rania melayang begitu saja saat benda kenyal menempel tanpa pamit di bibir nya.
Revan menekan tengkuk Rania pelan untuk memperdalam ciuman nya, perlahan Revan ******* bibir Rania. Ciuman yang awal nya lembut kini berubah menjadi ciuman yang panas saat Revan memaksa Rania untuk membuka mulut nya.
Revan mengabsen tiap inchi bagian yang ada di dalam mulut Rania. Kini pandangan mata Revan mengarah pada leher jenjang Rania yang nampak seperti menggoda nya
"K-kak!" suara desah*n pun akhir nya lolos dari mulut Rania saat Revan mulai mencium leher Rania hingga meninggal kan dua tanda kepemilikan.
"Stop kak!!!" ujar Rania sekuat tenaga mendorong tubuh Revan menjauh.
"Astaga! kenapa aku jadi kelepasan seperti ini? semoga Rania tidak marah kepada ku!" batin Revan
"Apa yang kakak lakukan? apa kakak pikir aku itu sekelas dengan oli yang tidak tau malu itu, hingga kakak dengan mudah nya ingin memperlakukan ku seperti nya?" ujar Rania marah
"Maaf!" lirih Revan
"Saya tidak bermaksud melakukan nya tadi, itu sungguh di luar dugaan!" ujar Revan
__ADS_1
"Hiks…hiks…" Air mata Rania akhirnya tumpah membasahi pipi nya.
Hingga saat pintu lift terbuka, Rania langsung berlari keluar dari lift tersebut. Revan yang melihat gadis nya berlari sembari menangis pun akhirnya mengejar Rania.
"Rania…tunggu!" ujar Revan sembari melangkah lebar mengejar Rania.
Rania tak menghiraukan suara Revan yang memanggil nya.
"Kenapa semua orang selalu merendahkan ku? aku sempat merasa jika bos kejam itu sangat menghargai ku dan tidak akan merendahkan ku, tapi ternyata sama saja!" ujar Rania terus berlari.
"Dasar bos kejam mesum! aku membenci mu Revan pratama!!!" ujar Rania
Rania membuka pintu apartemen dan langsung masuk, setelah masuk dia langsung mengunci pintu nya kembali.
Rania menjatuhkan tubuh nya di balik pintu sembari terisak, harga diri nya serasa runtuh karena tindakan bos kejam nya yang menurut nya sudah di luar batas.
"Meskipun kak Revan hanya mencium ku tapi itu sudah keterlaluan!" ujar Rania
Tok
Tok
Tok
Revan yang sudah sampai di depan apartemen nya langsung saja menggedor pintu apartemen nya.
"…" Namun tidak ada sahutan dari dalam apartemen.
Revan sangat frustasi, dia tidak menyangka Rania bisa marah seperti sekarang ini. Revan terus menyesali perbuatan nya yang sudah melebihi batas kepada Rania.
"Kau bodoh Revan!!!" ujar Revan yang sudah menjatuhkan tubuh nya di atas lantai sembari bersandar di dinding sebelah pintu apartemen nya.
"Kenapa aku bisa melakukan hal yang di luar batas seperti ini?!" ujar Revan
"You are crazy, Revan!!! Rania pasti sulit untuk memaafkan ku!" ujar Revan yang tanpa sadar menitikkan air mata nya.
"Maaf kan aku by, itu semua sungguh di luar dugaan ku!" lirih Revan.
Revan terus menggedor pintu apartemen nya sambil terus memanggil nama Rania, hingga tanpa sadar Revan terlelap masuk ke dalam alam mimpi nya.
Dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang mengintai kegiatan Revan, orang itu segera menghubungi bos nya.
📱 : "Halo bos! aku sudah mengetahui kelemahan nya."
📲 : "Bagus! kau bisa langsung kembali ke markas, aku akan memikirkan rencana dulu."
__ADS_1
📱 : "Siap bos!"
Panggilan pun berakhir.
...----------------...
Hari semakin larut, kedua insan yang tengah dilanda kesedihan pun sudah tertidur masuk ke dalam mimpi mereka.
Di dalam apartemen, Rania yang tadi sudah tanpa sadar tertidur pun terjaga kembali saat mendapat panggilan alam dan di lihat nya jam menunjukkan 11 malam.
Rania pun bergegas menuju bathroom untuk menuntaskan panggilan alam. Setelah itu Rania kembali ke pintu depan apartemen dan merasa bingung saat tidak mendengar suara Revan lagi.
"Apa bos kejam itu udah pulang ya? kenapa udah nggak ada suara nya?" batin Rania.
"Kenapa aku jadi memikirkan nya?" ujar Rania langsung menggeleng kan kepala nya agar tersadar dari keanehan nya.
Tapi karena rasa penasaran yang tinggi dan memuncak, Rania akhir nya bangkit dari duduk nya dan membuka pintu apartemen.
"Astaga!!! ternyata dia masih di sini, aku kira bos kejam ini sudah pulang." ujar Rania sembari memperhatikan wajah Revan.
"Kenapa wajah nya sangat pucat? apa dia sakit?" ujar Rania mengernyitkan dahi nya.
"Astaga!!! tubuh nya sangat dingin! aku lupa jika sekarang cuaca sedang sangat dingin dari biasanya ditambah bos kejam ini hanya memakai kemeja tipis saja!" ujar Rania
"Apa yang harus aku lakukan?" ujar Rania bingung
"Jika aku biarkan, itu tidak mungkin karena bagaimana pun dia sedang kurang sehat." ujar Rania
"Tapi…jika aku membawa nya masuk, itu akan membuat nya memanfaatkan status sakit nya." sambung Rania
Setelah berpikir cukup lama, Rania pun memapah Revan masuk ke dalam apartemen menuju salah satu kamar yang kosong di apartemen itu.
Dengan susah payah Rania berhasil membawa Revan ke dalam kamar,,, maklum saja, tubuh Rania sangat mungil sehingga membuat nya kesusahan memapah tubuh kekar Revan.
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
__ADS_1
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah