SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Takut 2


__ADS_3

"Hufft!!! Untung saja kak Revan sudah pergi, aku nggak siap untuk bertemu dengannya." batin Rania bernafas lega


Baru saja Rania hendak turun dari tempat tidur, pintu kamar itu sudah terbuka dan terlihatlah seorang pria tampan yang memakai pakaian formal berjalan mendekatinya dengan membawa nampan di tangannya.


Ya, Revan baru selesai membuat sarapan untuk kekasihnya. Pria itu akan terus berusaha membujuk Rania.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku tetap marah dengan nya? tapi bagaimana jika dia tidak bisa mengontrol emosi dan malah menyakiti ku?" batin Rania.


"Kau sudah bangun, by." ujar Revan sembari meletakkan nampan yang di bawa nya ke atas nakas.


"Mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?" tanya Revan.


"Aku mau mandi dulu!" ujar Rania bergegas menuju bathroom.


Setelah kurang lebih 15 menit di kamar mandi, Rania belum juga keluar.


"Apa yang harus aku lakukan? bagaimana ini, kenapa aku tidak sadar kalau aku tidur di kamar kak Revan?" ujar Rania mondar-mandir di kamar mandi.


"Tidak mungkin kan aku minta tolong kak Revan buat mengambil kan ku pakaian!" ujar Rania berpikir keras.


Setelah cukup lama berpikir, Rania memutuskan meminta bantuan Revan.


Ceklek


Pintu bathroom terbuka sedikit dan kepala Rania menyembul keluar.


Rania yang hendak memanggil Revan mengurungkan niatnya saat mendengar Revan sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.


"Apa?! belum ketemu juga!!!"


"Kalian sungguh meremehkan saya, apa kalian pikir saya memperkerjakan kalian menjadi mafia hanya untuk makan gaji buta, ha!!!"


"Menangkap satu orang saja tidak becus!!! pokok nya saya akan menunggu kalian sampai jam 7 malam, jika kalian masih belum bisa menemukan nya maka kalian lah yang akan saya bunuh!!!" ujar Revan dengan penuh emosi.


Rania yang mendengar nya nampak gemetaran dan tak dapat menahan air matanya.


"Kak Revan!" panggil Rania.


Revan yang mendengar suara gadis nya memanggil nya pun menoleh dan melihat kepala Rania yang menyembul keluar dari pintu bathroom.


"Iya sayang, ada apa?" ujar Revan berjalan mendekat.


"Em…b-bisa minta tolong ambilkan pakaian ku nggak kak?" ujar Rania dengan wajah memerah.


"Bisa! apa yang tidak bisa saya lakukan untuk mu, by?" ujar Revan penuh percaya diri.

__ADS_1


Revan melangkah keluar dari kamarnya.


Tak berselang lama, Revan kembali dengan membawa pakaian Rania.


"M-makasih kak!" ujar Rania langsung menutup pintu bathroom.


Setelah selesai memakai pakaian nya, Rania berjalan kearah cermin besar di wastafel.


"Kenapa rasanya aku masih belum percaya jika kak Revan seorang mafia? apa selama ini kak Revan hanya berpura-pura baik kepada ku? tidak mungkin orang kaya raya seperti kak Revan mencintai ku dengan tulus!" ujar Rania tanpa sadar menitikkan air mata nya.


Dari luar pintu bathroom, Revan nampak mengendor pintu.


"By, apa kau baik-baik? kenapa lama sekali?" teriak Revan.


"Iya kak, sebentar!" teriak Rania dengan segera membasuh wajah nya yang berlinang air mata.


Rania pun keluar dari bathroom membuat Revan bernafas lega.


"Kenapa lama sekali?" tanya Revan mendekat ke arah Rania.


Revan meraih wajah Rania dan menatapnya dalam-dalam.


"Kenapa mata nya sembab, kau habis menangis?" tanya Revan.


Rania menggelengkan kepalanya.


Rania yang tak ingin membahas nya lagi pun berjalan menuju sofa.


"Mau sarapan sekarang?" ujar Revan menjatuhkan bokong nya di sebelah Rania.


"Iya!"


Revan dengan semangat menyuapi Rania makan. Hati nya terasa tenang karena seperti nya Rania sudah tidak merajuk lagi.


Rania hendak keluar untuk membawa piring dan gelas kotor untuk di cuci di dapur.


Namun Revan menahan nya dan malah menarik tangan Rania hingga gadis cantik itu terjatuh di pangkuan Revan.


"Sayang! ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." ujar Revan.


"Ada apa kak?" ujar Rania.


"Apa jika suatu saat nanti aku mengecewakan mu, kau akan memaafkan ku?"


"Apa jika suatu saat aku melakukan kesalahan fatal yang mungkin akan melukai mu, kau akan tetap berada di sisi ku?" Revan bertanya dengan menatap Rania intens.

__ADS_1


"Entahlah kak! aku juga sudah sering di kecewakan dan juga aku sangat tidak suka di bohongi. Jujur saja, aku tidak tahu seberapa kuat hati ku ini. Mungkin jika hati ku sudah sangat terluka, aku akan tetap pergi dari kehidupan kakak. Aku bukan tipe orang yang sangat sabar kak!" ujar Rania


Deg.


Mendengar kata pergi dari mulut Rania membuat hati nya terasa tertusuk pedang. Sangat sakit…


"Tidak! aku mohon jangan pergi dari kehidupan ku by, aku tidak mau kau pergi dari kehidupan ku by. Aku sangat menyayangi mu!" ujar Revan dengan berlinang air mata.


"Memang nya apa yang kakak lakukan?" tanya Rania.


Revan terdiam, dia tidak bisa berkata-kata. Entah kenapa perkataan Rania sangat sesak di hatinya.


"A-aku hanya mengatakan jika seandainya aku melakukan kesalahan by!" ujar Revan.


"Tapi kenapa terlihat seperti nyata, jika kakak melakukan kesalahan? apa kakak menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Rania.


"Tidak…A-aku tidak menyembunyikan sesuatu dari mu, sayang!" ujar Revan tergagap.


"Kak Revan nggak mau langsung jujur sama aku, berarti kak Revan benar-benar kejam!" batin Rania


"Aku harus memikirkan cara untuk keluar dari jeratan kak Revan. Aku nggak mau hidup bersama seorang pembunuh seperti kak Revan, aku takut suatu saat dia membunuhku jika sudah tidak mempunyai target lagi!" batin Rania


"Ya udah, aku ke dapur dulu!" ujar Rania bangkit dari pangkuan Revan dan keluar dari kamar Revan menuju dapur.


Revan membiarkan Rania pergi begitu saja, biasanya Revan akan melakukan segala cara usil dan nakal agar bisa berlama-lama dengan Rania.


"Aku sungguh merasa takut jika Rania mengetahui jika aku seorang mafia dan dia akan pergi dari kehidupan ku!" batin Revan.


"Aku tidak akan bersemangat hidup jika Rania pergi dari kehidupan ku, mungkin lebih baik aku mati daripada melihat Rania pergi jauh dari ku bahkan pergi bersama pria lain!!!" batin Revan.


Ponsel nya berdering menandakan ada orang yang menghubungi nya.


📱 : Halo Vin, ada apa kau menghubungi ku?


📲 : Aku sudah membereskan pengkhianat itu dan membunuhnya!


📱 : Hebat! Terimakasih Vino, aku segera ke markas sekarang juga!


📲 : Sip bro, aku tunggu!


Revan mematikan panggilan telepon nya dan berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaian nya.


Tanpa disadari oleh Revan, Rania berdiri di sebelah pintu kamar Revan dan mendengar percakapan Revan dengan Vino. Rania terkejut mendengar jika Vino juga seorang mafia.


"Kenapa jadi seperti ini? aku kira kak Vino bukan mafia tapi ternyata malah rekan nya kak Revan." batin Rania.

__ADS_1


Rania akhirnya masuk ke dalam kamar nya.


__ADS_2