
"Aku senang kak Revan udah nggak datar dan kaku seperti dulu lagi!" batin Rania
"Syukurlah Rania mau memaafkan ku!" batin Revan.
"By! lapar…" ujar Revan manja.
"Mau sarapan?" tanya Rania.
"Iya tapi yang masakan mu!"
"Itu yang di meja makan juga masakan ku!"
"Benarkah?" tanya Revan
"Iya, ayo kak!" jawab Rania
"Baiklah!" ujar Revan
Revan dan Rania menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama.
Revan menarik kursi untuk Rania.
"Silahkan nona!" ujar Revan membungkuk.
"Apaan sih kak!" ujar Rania sembari memukul lengan Revan.
"Aduh! sakit by!" ujar Revan meringis kesakitan.
"Nggak usah pura-pura kak!"
Revan mendengus kesal, niat hati ingin mendapat perhatian dari Rania kini malah niat nya sudah terbongkar.
Setelah selesai sarapan, tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi. Rania hendak membuka pintu namun Revan melarang nya.
"Biar aku saja!" ujar Revan
Revan membuka pintu apartemen dan terlihat lah seseorang pria yang sangat dikenal nya sedang tersenyum ke arah nya bersama dengan seorang gadis cantik.
"Kenapa kau datang kemari?" ujar Revan dingin.
"Kenapa nada bicara mu terdengar mengusir ku?" bukanya menjawab, pria itu malah menerobos masuk ke apartemen dengan menggandeng tangan gadis cantik tadi.
Ya, mereka adalah Vino dan Lili yang sengaja datang ke apartemen Revan.
Rania yang berada tak jauh di belakang Revan pun merasa cukup terkejut.
"Rania!"
"Lili!"
Lili langsung memeluk Rania erat, dia cukup merindukan sahabat kesayangan nya itu.
"Hai Rania!" sapa Vino.
"Pak Vino!" sapa Rania setelah melerai pelukan nya.
"Jangan formal begitu Ran, panggil saja aku kak! santai saja!" ujar Vino tersenyum.
Rania mengangguk.
"Silahkan duduk dulu Kak!"
__ADS_1
"Lili juga duduk dulu!"
Revan menggandeng tangan Rania untuk mengajak nya duduk.
"Kalian seperti mau menyeberang jalan saja pakai gandengan tangan!" sindir Vino.
"Terserah!" ketus Revan.
Rania hanya tersenyum kikuk mendapat perlakuan aneh dari Revan karena memang mereka terlihat seperti ayah dan anaknya yang hendak menyeberang.
Setelah duduk Rania menatap Lili dengan tatapan menyelidik.
"Kau kenapa by? kenapa kau melihat mereka seperti itu?" tanya Revan.
"Kak Vino dan Lili ada hubungan apa?" ujar Rania.
"Apakah sangat terlihat Ran?" ujar Vino terkekeh.
"Sudah ketebak sih kak!"
"Dasar Lili jahat!" ujar Rania.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?!" ujar Revan kesal karena merasa tidak diajak.
"Jangan bilang Ran! biarkan saja si muka kaku itu penasaran!" ujar Vino.
"Rania kekasih ku, jadi dia akan menuruti perkataan ku!"
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan, by?" tanya Revan.
"Menurut kakak, kita sedang membicarakan apa?" bukanya menjawab, Rania justru bertanya balik.
"Suka-suka aku mau membela siapa?" ujar Rania santai.
Revan hanya bisa mendengus kesal, sekarang pria itu tidak berani memarahi atau pun menghukum gadis nya karena itu akan membuat gadis yang sangat dicintainya itu pergi jauh dari kehidupan nya.
"Sebentar!!!" ujar Revan. Hal itu membuat Rania, Lili dan Vino berhenti mengobrol.
"Kalian berdua ada hubungan apa?" tanya Revan dengan tatapan menyelidik yang menjurus ke Vino dan Lili.
"Akhirnya nih orang sadar! walaupun otaknya masih loading!" celetuk Rania.
"Loading? maksudnya apa, by?" tanya Revan
"Astaga!!! Revan Pratama yang terhormat!!! kau polos atau bagaimana?!" ujar Vino geram.
"Memang tidak tahu!" ujar Revan
"Pusing sendiri aku bicara dengan mu!" ujar Vino
"Ya sudah tidak perlu bicara! kau cukup diam!" ujar Revan dengan suara sedikit meninggi membuat Vino langsung diam.
"Wow!!! bos kejam sungguh berkuasa sampai bisa membungkam mulut pak Vino yang cerewet!!!" batin Rania
"Wih!!! keren juga pak Revan, pantas saja Rania suka!!!" batin Lili
"Sudahlah kak, jangan bertengkar!!!" ujar Rania menengahi perdebatan Revan dan Vino yang tidak jelas.
Rania beranjak dari duduk nya untuk membuatkan minuman.
"Kau ingin kemana, by?" ujar Revan menghentikan langkah Rania.
__ADS_1
"Mau ke dapur sebentar!" jawab Rania.
"Kau duduk saja, biar Lia yang membawa minuman nya!" ujar Revan menarik tangan Rania untuk kembali duduk.
"Lia!!!" ujar Revan sedikit berteriak.
Lia yang merasa pria pujaan hati nya memanggil namanya pun langsung buru-buru menghampiri tuan yang dicintai nya.
"Ada yang bisa aku bantu tuan?" ujar Lia setelah sampai di hadapan Revan.
"Bawakan minuman dan cemilan!" ujar Revan dengan wajah datar nya.
"Baik tuan!" ujar Lia tersenyum manis.
"Sebentar!" ujar Vino menghentikan langkah Lia yang hendak kembali ke dapur.
"Kau Lailat Sunandar kan? anak nya pak Sunandar yang katanya selama ini tinggal di Thailand itu?"
"Iya, kok kamu tau!" ujar Lia tersenyum, dalam hati merasa menang karena seorang Vino Mahesa seorang pengusaha sukses dan tampan tentunya mengenali dirinya.
"Harapan ku selanjutnya!!!" batin Lia.
"Bapakmu yang ceria! dia bilang kau seorang calon model, kenapa sekarang malah bekerja menjadi pelayan di apartemen Revan!" ujar Vino
"Kak Vin kenal dia?!" ujar Lili kesal.
"Hanya sekedar tahu saja!" ujar Vino
"Awas saja jika kak Vin cuci mata di belakang ku!!!" bisik Lili mengancam.
"Tidak akan sayang!!!" ujar Vino.
"Aku disini hanya sedang mengisi pengalaman saja agar mengetahui tidak enaknya menjadi orang yang derajatnya lebih rendah dari ku!!!" ujar Lia melirik ke arah Rania. Dan hal itu tak lepas dari penglihatan Revan.
"Sudah! sekarang kau pergi bawakan minuman dan camilan! atau mau saya pecat!!!" ujar Revan menatap tajam Lia.
"Baik tuan!" ujar Lia menurut.
"Ada yang sudah posesif tingkat dewa nih!!!" ujar Vino terkekeh.
"Mending kau diam! kalau kau iri lebih baik cari pacar saja!" ujar Revan telak.
"Cih! Erosi terus!!!" ujar Vino
"Emosi!!! kau yang selalu membuat ku…"
"Tersenyum! iya kan?" ujar Vino memotong perkataan Revan.
"Emosi!!!" ketus Revan
"Sudah cukup!!! kak Revan sama kak Vino bisa diam nggak? dari tadi debat terus! nggak capek apa?!" ujar Rania yang dari tadi sangat terganggu dengan perdebatan Revan dan Vino yang tidak berfaedah.
Revan dan Vino langsung terdiam mendengar ceramah dari Rania. Mereka lupa jika Rania masih gadis yang sama, seorang gadis yang terkenal dengan kecerewetan nya.
Dan benar saja, Rania langsung menceramahi dua anak manusia itu hampir setengah jam. Revan dan Vino langsung menyesal dan meminta maaf kepada Rania dan Lili yang merasa terganggu dengan perdebatan mereka, karena Revan dan Vino tidak ingin diceramahi panjang kali lebar kali tinggi lagi oleh Rania, sungguh ceramah nya sudah seperti rumus matematika yang tiada habisnya.
Setelah beberapa abad, Lia baru keluar membawakan minuman dan camilan kepada tuan dan para tamu.
Lia berjalan dengan anggun meliukkan tubuhnya bak model sembari membawa nampan. Lia mendekati Rania menyajikan minuman nya.
Byur…
__ADS_1