
" Revan, Vino, mama keluar dulu ya. Kalian lanjut ngobrol saja " ujar Melinda
" Iya ma " ujar Revan
" Iya Tante " ujar Vino tersenyum
Melinda langsung keluar dari ruangan itu, karena takut mengganggu obrolan Revan dan Vino
" Cih! dasar sahabat tidak ada akhlak, mama nya sendiri malah di cuekin " ujar Vino
" Biarin! bukan urusan mu " ujar Revan ketus
" Terserah! aku mengalah karena aku tidak akan menang berdebat dengan mu " ujar Vino
" Kalau sudah tahu kenapa pakai mengajak ku berdebat!!! " ujar Revan
" Biarin!!! " ujar Vino kesal
" Hei bang Vino Mahesa, jangan marah marah nanti kau lekas tua " ujar Revan meledek sahabat nya
" Apa kau bilang tadi!!! bang? kau memanggil ku bang? hei!!! harus nya aku yang memanggil mu bang karena kau lebih tua dari ku " ujar Vino semakin naik darah
" Makanya jangan suka marah kan jadi cepat tua, lihatlah aku yang selalu tenang, bersabar, baik hati, tidak sombong dan suka menolong " ujar Revan dengan percaya diri nya
" Cih!!! kata siapa kau tidak suka marah dan suka menolong, bukanya kau suka menindas orang dan marah marah tidak jelas pada pegawai mu " ujar Vino makin kesal
" Hehe, kau tidak asik lah diajak bercanda selalu saja membongkar aib ku " ujar Revan sedih
" Memang kenyataan nya begitu kan " ujar Vino yang gantian membuat kesal Revan
" Kau memang selalu benar bro " ujar Revan
" Hei sahabat gak ada akhlak!!! apa untung nya menindas orang coba? " ujar Vino
" Ya … biar keliatan berkuasa dan berwibawa gitu " ujar Revan
" Berkuasa dan berwibawa apa, yang ada malah keliatan angker dan menyeramkan!!! " ujar Vino
" Hei!!! kalau orang ganteng ekspresi wajah yang seperti apa pun tetap ganteng " ujar Revan
" Cih!!! siapa bilang, bahkan semua pegawai mu sangat takut kepada mu " ujar Vino
" Hei bro!!! kau munafik sekali " ujar Revan
" Munafik bagaimana? " tanya Vino bingung
" Wajah mu juga sebelas dua belas dengan wajah ku tapi kau hanya mengumpat ku saja. Introspeksi diri bro!!! " ujar Revan
" Iya juga ya, hehe " ujar Vino cengengesan
" Sudah lah, aku mau mencoba menelpon temanya Rania. Siapa ya namanya? " ujar Vino
" Idih!!! mau nelpon tapi nggak tahu nama nya siapa " ujar Revan sambil menggeleng kan kepala nya
" Kan tadi yang aku kirimkan ada namanya " ujar Revan
" Eh! iya lupa " ujar Vino
" Shut!!! kau jangan berisik aku mau telepon dia dulu " ujar Vino
" Baiklah!! " ujar Revan
Vino langsung menelpon sahabat nya Rania yang tak lain adalah Lili
📲 : " Halo! ini siapa ya? " ujar orang dari seberang telepon
📱 : " Ini siapa ya? apa benar ini nomor nya Lili? " tanya Vino
📲 : " Iya benar, saya ibu nya Lili. Tapi anda siapa ya? " ujar ibu nya Lili
📱 : " Saya atasan nya Lili Tante, nama saya Vino. Maaf Tante, Lili nya ke mana ya " ujar Vino
📲 : " Oh! jadi anda bos nya Lili, maaf Lili nya lagi pergi sama ayah nya " ujar ibu nya Lili
__ADS_1
📱 : " Oh gitu ya Tante, ya udah nanti saya telepon lagi. Maaf sudah mengganggu anda " ujar Vino
📲 : " Iya gak papa " ujar ibu nya Lili
Panggilan dimatikan oleh Vino dan panggilan terputus
" Bagaimana bro? apa benar itu nomor dari teman nya Rania? " tanya Revan
" Iya benar " ujar Vino dengan wajah datar
" Kenapa wajah mu tambah jelek? " ujar Revan meledek sahabat nya
" Hei!!! kau menghina ku!!! " ujar Vino
" Ya maaf, santai aja kali bro!!! sebenarnya kau kenapa? " ujar Revan
" Sebenar nya yang mengangkat telepon nya bukan Lili, tapi ibu nya " ujar Vino
" Hahaha, ternyata yang mengangkat telepon nya malah ibu nya. Pantas wajah mu tambah jelek " ujar Revan tertawa geli
" Hei!!! berani nya kau tertawa ya " ujar Vino
" Biarin!!! " ujar Revan
" Sudah lah, aku lelah bercanda dengan mu terus " ujar Vino
" Baiklah, untuk saat ini aku mengalah. Tapi hari ini saja " ujar Revan
" Baiklah!!! " ujar Vino
" Bro! itu di minum jus nya " ujar Revan
" Nah gitu pengertian sedikit sama sahabat, tahu aja lagi haus " ujar Vino
" Dari tadi nawarin minuman nya dong " ujar Vino
" Hehe, maaf lupa " ujar Revan cengengesan
" Silahkan " ujar Revan
Vino langsung meminum jus nya dengan nikmat karena sedang dalam kondisi sangat haus
" Ah … segar nya tenggorokan " ujar Vino
" Biasa saja kali " ujar Revan
" Itu di minum jus nya bro, sudah di bikin kan oleh mama tersayang masa gak di minum " ujar Vino
" Males!!! minum saja sendiri, aku mau buat kopi dulu " ujar Revan beranjak dari duduk nya
" Udah enak di bikin kan jus sama mama, malah mau bikin kopi sendiri " ujar Vino
" Biarin!!! " ujar Revan langsung pergi menuju dapur
Sesampainya di dapur, ternyata ada mama nya sedang membuat kopi untuk papa nya
" Nak, kamu ngapain di sini? " tanya Melinda
" Mau bikin kopi ma " jawab Revan
" Sini, biar mama buatkan " ujar Melinda
" Tidak usah ma! Revan bisa buat sendiri " ujar Revan langsung menolak
" Biar sekalian nak, mama juga mau buat kopi untuk papa " ujar Melinda
" Revan sudah sering buat kopi sendiri, jadi tidak perlu di buat kan " ujar Revan
" Baiklah!!! mama pergi dulu " ujar Melinda
" Iya ma " ujar Revan
" Sok baik banget, asli nya menelantarkan anak sendiri " batin Revan kesal
__ADS_1
Revan langsung membuat kopi untuk dirinya sendiri dan kembali ke ruang kerja nya
" Van! nanti ajak Vino makan malam ya " ujar Melinda
" Iya ma " ujar Revan singkat dan langsung kembali berjalan menuju ruang kerja nya
Sesampai nya di ruang kerja nya dia langsung masuk dan duduk di sebelah Vino dengan memasang wajah datar nya
" Hei!!! kau kenapa? muka nya datar amat, nggak ada tanjakan atau pun turunan " ujar Vino tertawa keras
" Nggak papa! kau memang sahabat yang menyebalkan!!! " ujar Revan kesal
" Hei!!! kenapa marah nya jadi sama aku, sebenarnya kau kenapa? " ujar Vino
" Itu ada orang sok baik " ujar Revan masih dengan wajah datar nya
" Siapa? apa orang tua mu? " ujar Vino
" Iya, kau benar " ujar Revan
" Memang nya mereka kenapa? " tanya Vino
" Hei!!! kau tidak peka sekali dengan sahabat sendiri " ujar Revan
" Hehe, aku memang tidak tahu bro. Memang nya kenapa? " ujar Vino
" Kau tidak memperhatikan sikap mereka yang terlihat aneh " ujar Revan
" Aneh bagaimana? " tanya Vino
" Sikap mereka terlihat aneh semenjak mereka pergi ke Australia saat usia ku masih 15 tahun " jawab Revan
" Papa yang tadi nya ramah dan banyak bicara menjadi dingin dan irit bicara. Kau memperhatikan nya tidak? " ujar Revan
" Eh iya!!! kau benar bro, sikap om Danu tidak sehangat dulu. Bahkan dulu dia juga sering meledek ku saat aku main ke sini " ujar Vino menanggapi ucapan Revan
" Seperti ada yang mereka sembunyikan. Tapi apa ya? " ujar Revan berpikir
" Mana ku tahu bro!!! " ujar Vino
" Gak nanya!!! " ujar Revan yang kesal dengan sahabat nya yang kadang lemot kalau di ajak bicara
" Lah terus … bukanya tadi kau bertanya kepada ku " ujar Vino
" Nggak!!! " ujar Revan
" Lah terus kau nanya dengan siapa? " ujar Vino
" Nanya dengan diri sendiri " ujar Revan
" Ih!!! serem kau bro, sudah mulai bicara sendiri. Mendingan kita ke rumah sakit jiwa saja " ujar Vino
" Sembarangan ngomong nya, aku masih waras dan sehat " ujar Revan dengan suara meninggi
" Hehe, kirain kau sudah … " ujar Vino terpotong oleh kata kata Revan
" Sudah gila maksud nya " ujar Revan menahan amarah nya
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah
__ADS_1