
"Iya by, kan bos jadi tidak ada yang akan memarahi!" ujar Revan.
"Aku yang menggaji mereka, kalau mereka tidak taat aturan dan macam-macam maka akibatnya akan fatal!!!"
"Dan aku yang paling berkuasa tidak akan ada yang melawan!" ujar Revan.
"Aku yang akan marah!"
"Masa iya karyawan nya dipaksakan harus disiplin sedangkan bos nya santai!" ujar Rania
"Jadi seperti itu ya…menindas orang dengan mengandalkan kekuasaan! hebat!" ujar Rania yang tidak
"Iya by, jangan marah!" ujar Revan langsung membuka matanya dan langsung duduk.
"Sudah tidak marah kan?" tanya Revan
"Siapa bilang!" ujar Rania.
"Jangan marah, by." ujar Revan
Rania mendengus dan membuang muka ke arah berlawanan.
"Jangan seperti ini by, jangan marah!" ujar Revan membujuk Rania, namun Rania justru keluar dari kamarnya.
"Huh! aku harus jaga sikap dan ucapan sekarang! mulut dan lidah ku ini benar-benar harus dibawa ke psikiater, karena kelakuan mereka yang tidak bisa di jaga aku jadi kena imbas nya." ujar Revan segera turun dari tempat tidurnya menuju bathroom.
Setelah hampir satu jam membersihkan diri, kini Revan sudah tampak rapi dengan setelan jas nya.
Revan menghampiri Rania yang sedang memasak, dia memeluk gadis nya dari belakang.
"Apa kau masih marah, by?" tanya Revan.
Rania diam dan fokus kepada apa yang dimasak nya. Revan tahu jika gadis nya itu sedang marah kepada nya. Karena tidak ingin menambah amarah dari kekasihnya membuat Revan memilih duduk di meja makan.
Tak berselang lama Rania berjalan ke meja makan dengan membawa dua piring berisi sandwich dan segelas kopi.
Rania dan Revan memulai sarapan dalam keadaan hening tanpa ada yang memulai mengobrol.
Setelah selesai mencuci peralatan memasak nya Rania kembali masuk ke dalam kamar nya untuk mengambil tas nya dan bergegas keluar dari apartemen.
"Kau ingin pergi kemana, by? biar aku antar!" ujar Revan menahan tangan Rania yang hendak pergi.
Rania hanya menatap Revan dengan datar tanpa menjawab. Revan yang tahu kemana kekasih nya itu akan pergi pun langsung menarik tangan Rania pelan menuju basement.
Tak lama kemudian, Revan dan Rania sudah sampai di gedung perusahaan R'P Group. Rania terkejut melihat Revan membukakan pintu untuk nya dan mengulurkan tangannya. Namun Rania menghiraukan nya dan memilih turun sendiri dan berjalan masuk ke gedung itu.
__ADS_1
Revan mengikuti Rania hingga di depan ruangan gadis nya bahkan Revan menghiraukan tatapan pegawai nya yang menatap nya dengan bingung.
Tanpa disengaja Fendy keluar dari ruangan nya menuju ruangan divisi marketing informatika.
"Pagi kak Fendy!" ujar Rania tersenyum.
"Pagi juga Rania!" ujar Fendy membalas senyuman Rania.
"Oh iya Ran, ini ada sedikit kesalahan laporan keuangan bulan ini, tolong beritahu ketua divisi mu!" ujar Fendy.
"Siap kak!" ujar Rania
Fendy mengangguk dan dan segera masuk kembali ke dalam ruangan nya.
Sementara Revan, matanya terasa panas melihat interaksi di depan nya, nafasnya memburu dengan dada naik turun.
"Tahan Revan…tahan daripada Rania kembali marah!" batin Revan berusaha keras menahan kekesalan di hati nya.
Rania berlalu masuk ke dalam ruangan nya tanpa menghiraukan Revan.
"Oh astaga…aku bahkan ditinggalkan tanpa kata-kata!" ujar Revan.
Revan kembali ke ruangan nya dengan wajah yang masam dan tidak enak di pandang.
"Ada apa dengan tuan Revan? kenapa wajah nya menjadi jelek begitu?" ujar Farhan penuh tanda tanya.
Farhan segera masuk kedalam ruangan Revan.
"Tuan!" ujar Farhan berhasil membuyarkan lamunan Revan.
"Hei!!! kenapa kau masuk ke ruangan ku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?!" ujar Revan kesal.
"Saya bahkan sudah mengetuk pintunya sampai tangan saya memerah sejak anda belum masuk ke dalam ruangan anda!" ujar Farhan tersenyum kaku sembari memperlihatkan tangan nya yang memerah.
"Benarkah? kenapa saya tidak melihat mu di luar tadi?" ujar Revan.
"Ya karena anda terlalu fokus berjalan!" ujar Farhan.
"Ya sudah lupakan! ada apa kau ke ruangan saya?" ujar Revan.
"Hanya mengantarkan berkas ini tuan, silahkan ditandatangani." ujar Farhan sembari menyerahkan berkas yang di bawa nya.
Revan membaca berkas itu sekilas kemudian menandatangani nya.
"Ini! kau bisa kembali ke ruangan mu!" ujar Revan sedikit mengusir.
__ADS_1
"Baik tuan!" ujar Farhan menunduk hormat dan keluar dari ruangan tuannya.
"Sebenarnya ada apa dengan tuan bos? kenapa mukanya seperti sedang kesal? seram sekali!" gumam Farhan.
Sementara di ruangan sang CEO, Revan masih merasa kesal melihat sikap Rania dan Fendi yang cukup akrab.
Revan yang melihat itu seolah harga dirinya runtuh seketika. Karena dilihat dari sudut manapun, Revan lebih unggul dari Manager pemasaran itu.
"Tidak bisa dibiarkan! aku harus secepatnya mendapatkan maaf dari Rania. Jika aku tidak bergerak cepat, mungkin saja manager sialan itu akan merayu Rania." ujar Revan
Waktu kini sudah memasuki waktu makan siang, Revan sudah mengirim pesan chat kepada Rania sejak satu jam yang lalu, namun belum di balas dan yang lebih parahnya sudah di baca.
Revan yang sudah tidak tidak bisa menahan kekesalan nya, akhirnya memutuskan untuk mendatangi ruangan Rania. Biarlah semua pegawainya tahu jika Rania Aprilia adalah kekasih CEO mereka
Revan melangkah menuju ruangan kekasihnya dengan gagah tentunya dengan raut wajah datar tanpa menjawab sapaan dari pegawai nya.
Setelah masuk kedalam ruang divisi marketing informatika, Revan dikejutkan oleh sosok sekertaris sekaligus asisten nya yang berada di dekat Rania.
Revan yang hendak marah-marah diurungkannya mendengar percakapan keduanya.
"Rania…ini kakak bawakan roti untukmu." ujar Farhan.
"Kakak tahu pekerjaan mu sangat menumpuk tapi kamu harus tetap makan biar makin semangat." ujar Farhan mengeluarkan roti yang di beli nya dari kantong plastik.
"Makasih kak! aku terharu loh!" ujar Rania tersenyum manis.
"Kan sudah kakak bilang dari awal jika kakak menganggap kamu seperti adik kakak sendiri." ujar Farhan
"Kakak akan menyayangi mu seperti kakak menyayangi Farhana!" ujar Farhan.
"Makasih kak!" ujar Rania
"Ya sudah ini roti nya dimakan. Kakak suapi jadi kamu cepat menyelesaikan pekerjaan mu." ujar Farhan
"Aku bisa makan sendiri kak!" ujar Rania sungkan.
"Tidak apa, biar kakak suapi kamu."ujar Farhan.
Rania pun menerima tawaran Revan karena dirinya juga memang masih banyak pekerjaan.
Revan yang melihat interaksi antara Rania dan Farhan entah mengapa tidak jadi marah, justru merasa bahagia.
"Ternyata hubungan Farhan dan Rania sedekat kakak adik. Untung saja aku belum memarahi Farhan!" gumam Revan.
Revan yang merasa lega karena gadis nya ternyata sedang bersama Farhan pun akhirnya memutuskan untuk kembali keruangan nya.
__ADS_1