
"Kau seperti nya harus alih profesi, Van! sudah seperti pujangga saja!" ujar Vino.
"Terserah! papa tetap disini dulu ya sampai papa sembuh! nanti kalau semuanya sudah beres kita kembali ke Mansion!" ujar Revan.
"Iya, Van. Kamu hati-hati!" ujar Papa Danu.
"Iya, Pa!" ujar Revan.
Revan pun pergi ke kota S, dimana pujaan hati nya berada.
Perjalanan dari kota J ke kota S dengan mengendarai mobil ditempuh dalam waktu 10 jam. Rasanya Revan tak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Seperti nya Revan tidak sadar jika dia sudah memutuskan hubungan nya dengan Rania.
Mobil yang dikendarai Revan langsung menuju ke tempat Wedding Organizer milik Rania.
Sesampainya di tempat Wedding Organizer milik Rania atau yang dikenal dengan nama 'Rani Wedding Organizer', Revan langsung turun menuju bangunan itu.
"Selamat datang di Rani Wedding Organizer, kami siap melayani dengan sepenuh hati!!!" sapaan seseorang dengan ramah.
"Ada yang bisa kami bantu tu-an--" ujar orang tadi yang tak lain adalah Rania. Gadis itu terkejut melihat kehadiran mantan kekasih nya itu.
"Rania! ternyata benar kau di sini!" ujar Revan merasa senang melihat kekasih nya.
"Untuk apa anda kesini, tuan?" ujar Rania dingin.
"Apakah Anda ingin menggunakan jasa WO kami? tunggu sebentar, saya akan mengambil katalog nya dulu!" ujar Rania hendak pergi.
"Rania tunggu! aku ingin mengobrol empat mata dengan mu!" ujar Revan mencekal tangan Rania.
"Seperti nya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!" ujar Rania.
"Siapa bilang? kita harus bicara dulu, Rania." ujar Revan tak melepaskan Rania.
"Lepaskan saya tuan!!!" ujar Rania meronta.
"Tidak akan!" ujar Revan menatap Rania tajam.
"Lepaskan atau saya akan berteriak jika anda telah melecehkan saya!!!" ancam Rania.
"Teriak saja! dengan begitu saya akan diminta pertanggungjawaban untuk menikahi mu!!!" ujar Revan santai.
__ADS_1
"Lepaskan saya, tuan!!!" ujar Rania terus memberontak.
Entah mengapa pemberontakan dari Rania membuat Revan kesal. Hingga tanpa sadar Revan mencengkeram tangan Rania dengan kuat.
"Awh!!! sakit!!!" ujar Rania meringis kesakitan.
Bugh
Satu pukulan keras mendarat mulus di wajah Revan, membuat pria itu jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan, ha?! siapa kau? berani sekali kau menyakiti Rania!!!" ujar pelaku yang menonjok wajah tampan Revan.
"Harusnya aku yang tanya siapa kau?" ujar Revan sembari memegang sudut bibir nya yang mengeluarkan darah akibat pukulan yang cukup keras tadi.
"Lagipula aku ini kekasih nya, jadi aku bebas melakukan apapun terhadap nya!!!" ujar Revan menatap pria itu tajam.
Pria itu adalah Dafa Winston, seorang pengusaha kaya yang selama ini membantu Rania.
"Jadi kau kekasih brengs*k nya itu!!! heh! sudah bisa tertebak dari mukanya!!!" ujar Dafa mengejek.
"Siapa kau?!" ujar Revan kesal.
"Dia kekasih baru saya!!!" ujar Rania.
Jantung Dafa serasa berhenti berdetak. Dafa seakan tak percaya mendengar ucapan Rania yang mengakuinya sebagai kekasih nya. Oh…rasanya sangat membahagiakan.
"Tidak…Tidak mungkin!!!" ujar Revan tak percaya.
"Tidak mungkin bagaimana? Rania memang kekasihku, bukan begitu, sayang!" ujar Dafa merangkul pinggang Rania dengan tersenyum.
"Hanya dalam waktu satu bulan kau sudah melupakan ku? impossible!" ujar Revan.
"Terserah anda mau bilang apa!!!" ujar Rania berjalan menuju ruangannya, meninggalkan Revan dan Dafa yang sedang saling menatap tajam seolah mengibarkan bendera permusuhan.
"Jadi kau mantan kekasih nya yang brengs*k itu? kau pasti menyesal kan telah memutuskan Rania!" ujar Dafa dengan tatapan mengejek.
"Haha, sudah aku duga sih! tapi menyesal pun percuma karena Rania sudah terlanjur sakit hati. Jadi nikmatilah penyesalan mu itu!!!" ujar Dafa berlalu meninggalkan Revan.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja!!!" ujar Revan kesal pun meninggalkan gedung WO itu untuk mencari apartemen di dekat gedung WO.
__ADS_1
Namun, karena kesal Revan tak fokus berjalan dan membuatnya menabrak seseorang hingga berkas-berkas yang di bawa orang itu berserakan.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja!" ujar wanita paruh baya itu.
Revan tak mendengarkan ucapan wanita paruh baya itu dan terus melangkah keluar dari gedung WO itu.
"Anak zaman sekarang memang kurang etika, dia yang nabrak malah tidak meminta maaf sama sekali!" ujar wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya menatap punggung tegap Revan yang melangkah menjauh.
"Kenapa dada ku merasa sesak ya? detak jantung ku juga tiba-tiba berdetak cepat!" ujar wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Reni. Wanita itu memegangi dada nya yang sesak.
"Tante kenapa?" tanya Dafa yang baru keluar dari ruangan Rania.
"Tante juga nggak tahu! tiba-tiba dada Tante sesak!" ujar Reni bingung.
"Kita ke rumah sakit saja, Tan!" ujar Dafa khawatir.
"Tidak perlu! Tante baik-baik saja!" ujar Tante Reni.
"Baiklah, jika memang Tante tidak mau!! Dafa pamit dulu ya, Tan. Ada pekerjaan yang harus Dafa kerjakan!" ujar Dafa.
"Iya nak, hati-hati!" ujar Tante Reni.
Dafa menyalami Tante Reni dan pergi dari gedung itu.
Sementara itu, Revan sudah menyewa apartemen mewah di dekat gedung Rani Wedding Organizer. Kini tengah berdiri di depan jendela apartemen yang luas memandang gedung tempat kekasihnya bekerja.
"Arrgghh!!! sial!!!" teriak Revan menggema di ruangan kedap suara itu.
"Semudah itu kau melupakanku, Rania?! masih kurang kah perhatian dan kasih sayang ku selama ini untuk membuat mu membalas cintaku?!" ujar Revan.
Mata Revan terbelalak saat melihat gadis pujaan hati nya keluar dari gedung itu bersama dengan pria menyebalkan tadi.
"Damn!!! tidak bisa dibiarkan! aku harus memberi pelajaran kepada pria brengs*k yang telah meracuni otak gadis ku!" ujar Revan.
Revan semakin murka ketika penglihatan nya yang sangat tajam melihat Rania yang sedang berjalan dengan terus bercanda bersama Dafa.
Revan segera menghubungi anak buah nya yang sengaja ditugaskan memantau gedung Rani Wedding Organizer itu di setiap sudut untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Rania bersama pria pengganggu itu.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini! aku sangat yakin bahwa Rania sebenarnya masih mencintai ku!!!" tekad Revan menguatkan hati dan menyemangati dirinya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Rania berusaha menahan tangisnya. Jujur saja Rania merasa senang melihat Revan yang menjemputnya. Namun, perasaan kecewa lebih mendominasi saat dirinya tersadar. Bodoh…bodoh…bodoh!!! kenapa dia harus mengingat sosok bos kejam yang telah memporak-porandakan hati nya? sosok pria yang sangat tampan dengan sejuta pesona yang sangat perhatian dengan nya! Sungguh sosok sempurna itu selalu muncul di pikiran nya setiap hari tanpa absen sekalipun.
"Kenapa kamu harus muncul lagi di hadapan ku, kak? bukankah urusan kita sudah selesai dan impas? kenapa tidak cukup kau muncul di dalam lamunan ku dan mimpiku setiap hari nya?" batin Rania