
"Kenapa aku merasa seolah kak Revan itu memperalat ku ya?" batin Rania terus melangkah
Kini Rania sudah berada di lantai tertinggi gedung itu dan hendak melangkah menuju ruangan Revan.
Saat Rania masuk ke dalam ruangan Revan, terlihat lah seorang wanita cantik berpakaian minim sedang duduk di sofa ruangan itu.
"Wah!!! ternyata si oli udah ada disini, kasian banget deh harus nungguin orang yang pergi menghilang entah kemana." batin Rania
"Hei gadis kampungan! you ngapain kesini? dan ada di mana my honey Revan?" ujar Zhao lie menatap Rania sinis.
"Tadi kak Farhan bilang ke saya kata nya pak Revan sedang ada meeting mendadak." ujar Rania
"Kak Farhan bilang nona Zhao lie datang ke sini , jadi saya di suruh menyampaikan nya kepada anda." sambung Rania
"Kenapa Revan tidak langsung menghubungi ku saja?" ujar Zhao lie
"Karena kamu suka bikin masalah oli," batin Rania
"Mungkin sibuk!" ujar Rania melangkah keluar dari ruangan Revan
"Hei tunggu!" ujar Zhao lie
"Ada apa ya?" ujar Rania
"Kenapa harus kamu yang diberitahu oleh Revan? kenapa bukan pegawai nya yang lain?" ujar Zhao lie
"Karena aku cukup akrab dengan kak Farhan!" ujar Rania
"Dan juga bos kejam itu!" batin Rania
"Ya sudah kamu pergi sana! ngapain masih tetap di sini!" ujar Zhao lie
"Dia sendiri yang memanggil ku, sekarang dia sendiri yang marah! untung aku masih memiliki kesabaran!" batin Rania sembari melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa Revan nggak mengabari ku sih?! malah memberi kabar pada gadis kampungan itu." ujar Zhao lie kesal
"Honey, you are evil!!!" ujar Zhao lie
"Jangan-jangan gadis kampungan tadi memang sedang menggoda Revan? lihat saja nanti jika gadis itu mendekati Revan, aku nggak akan segan-segan menyingkirkan nya!!!" ujar Zhao lie dengan amarah yang berapi-api.
Karena kekesalan yang sudah memuncak, akhir nya Zhao lie memutuskan untuk meninggalkan ruangan Revan dan perusahaan R'P Group.
Di tempat yang berbeda, tepat nya di perusahaan MHS' GROUP, Vino sedang memikirkan cara untuk lebih dekat lagi dengan Lili.
"Bagaimana cara nya supaya aku bisa lebih dekat dengan Lolipop?" ujar Vino
"Ternyata berjuang memang cukup susah dan memakan waktu, nasib menjadi jomblo jadi tidak tahu perjuangan mendapatkan hati seseorang yang kita cintai." ujar Vino
"Ayo Vino! semangat!!! ujar Vino menyemangati diri sendiri
Waktu terus berjalan hingga tanpa sadar siang telah berganti sore. Rania kini sudah bersiap untuk pulang.
__ADS_1
"Ran, ayo pulang!" ujar Citra
"Iya, ayo!" ujar Rania
Rania dan Citra berjalan beriringan keluar dari perusahaan R'P Group dengan saling mengobrol.
Rumah Citra dan apartemen milik Revan yang kini ditinggali oleh Rania itu satu jalur, jadi mereka bisa pulang bersama.
"Rania, apa rumah kamu pindah?" ujar Citra
"Nggak kok! hanya saja aku sekarang tinggal di apartemen sepupu ku." ujar Rania
"Oh gitu…kirain rumah kamu pindah." ujar Citra terkekeh
"Kamu mah bisa aja!" ujar Rania tertawa
Mereka berdua saling tertawa dan bercanda, sampai tidak sadar ada sebuah mobil mewah mengikuti mereka.
Tak terasa kini Citra dan Rania sudah sampai di rumah Rania.
"Aku nggak sadar Ran, kalau kita sudah sampai di rumah ku." ujar Citra
"Kamu sih bercanda terus sampai nggak sadar kan, untung aja nggak kelewatan!" ujar Rania
"Kan kalau kelewatan kamu bisa ngingetin aku!" ujar Citra tersenyum memamerkan deretan gigi nya.
"Tapi aku kan nggak tau rumah kamu." ujar Rania.
"Dasar pikun, belum juga genap 24 tahun umur mu, tapi pelupa nya udah akut kayak nenek-nenek 70 tahun!" ujar Rania mengomel
"Ya maaf Ran, jangan marah-marah gitu dong, nanti cepat tua loh!" ujar Citra sembari tersenyum manis
"Kamu mah selalu aja bisa membujuk ku!" ujar Rania yang akhir nya ikut tersenyum
"Kan kita friends Ran, walaupun kita belum kenal lama tapi aku sangat yakin kalau kamu itu gadis yang baik!" ujar Citra
"Bisa aja! ya udah aku langsung pamit pulang ya, sudah sore nih!" ujar Rania
"Iya Ran, hati-hati di jalan ya. Ingat! jangan ngelamun and pikun kayak aku tadi!" ujar Citra terkekeh
"Ya nggak akan dong Citra, aku kan bukan orang yang suka pikun!" ujar Rania
"Bye bye!" ujar Rania melambaikan tangan nya
"Bye!" ujar Citra membalas lambaian tangan Rania
Rania pun melanjutkan jalan nya pergi dari rumah Citra menuju apartemen Revan.
Baru melewati beberapa rumah yang ada di sekitar rumah Citra, namun…
Ada tangan kekar yang menggenggam tangan nya, Rania yang terkejut pun langsung berbalik dan…
__ADS_1
Tangan nya langsung di tarik hingga tubuh nya menyentuh dada bidang orang tersebut.
Mata Rania terbelalak setelah melihat orang yang menarik tangan nya.
"K-kak Revan!" ucapan yang tertahan pun akhir nya lolos dari mulut Rania
Kini posisi Revan dan Rania sedang berpeluang dengan Revan menatap wajah cantik Rania lekat, Rania berusaha sekuat mungkin untuk menormalkan ekspresi wajah nya yang sedang gugup melihat ketampanan Revan yang semakin bertambah setiap hari nya. Jujur saja jantung gadis itu berdetak tak karuan saat berdekatan dengan Revan dengan posisi yang cukup intim.
Rania yang tersadar langsung berusaha melepaskan diri dari pelukan Revan, namun semakin gadis itu mencoba melepaskan diri maka Revan malah semakin mempererat pelukan nya.
"Aduh!!! kenapa bos kejam ini nggak mau melepaskan ku sih?" batin Rania merasa gelisah saat berada dalam posisi berpelukan dengan bos kejam nya.
"Apa aku sudah bersikap berlebihan saat ini? tapi, aku sungguh tidak bisa melepaskan nya begitu saja!" batin Revan
"Pak! lepaskan saya!!" ujar Rania
Namun, Revan tetap terdiam seolah tak mendengarkan ucapan Rania.
Cup
Revan akhir nya mencium kening Rania, setelah itu baru melepaskan pelukan nya.
"Apa maksud nya ini? kenapa dia terlihat begitu santai saat mencium ku? apakah dia memang sesantai itu saat mencium semua wanita?" batin Rania
"Apa mungkin sebenarnya bos kejam ini seorang playboy cap buaya darat?!" batin Rania
Rania yang baru tersadar jika Revan sudah melepaskan pelukan nya, langsung terburu-buru berjalan menjauh sebelum Revan melihat nya.
Tapi bukan Revan nama nya jika tidak menyadari gadis nya berjalan menjauh dari nya. Bagaimana pun juga penglihatan Revan sangat lah bagus, dia seperti memiliki seribu mata disekitar nya.
Revan memilih membiarkan Rania menjauh dari nya, Revan menyeringai saat melihat punggung gadis nya yang menjauh. Entah apa yang sedang ada di pikiran Revan saat ini.
Rania yang tidak melihat Revan mengikuti nya pun bernafas lega.
"Huh! syukurlah dia sudah tidak mengikuti ku lagi!" ujar Rania
"Aku benar-benar nggak habis pikir dengan sikap bos kejam itu yang seenak jidat mencium ku!!!" ujar Rania
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
__ADS_1
bisa di follow ig nya yah