
Revan keluar dari apartemen, pikiran nya teringat dengan Rania yang dulu. Seorang gadis cerewet yang sering membuat nya kesal yang pada akhirnya menaklukkan hati nya
" Saat dia menyebut kata bos, aku jadi teringat dengan nya yang dulu. Gadis cerewet yang sering membuat ku kesal dan dulu dia memanggil ku bos kejam " ujar Revan
" Sungguh menggemaskan, aku tidak akan membiarkan siapapun yang melukai mu hidup dengan tenang baby " ujar Revan dengan tatapan tajam
Kini Revan sudah berada di mobil nya dan segera melajukan mobil nya menuju supermarket terdekat
...----------------...
Revan sudah sampai di supermarket dan sedang memilih bahan makanan
" Hei bro! kau ada di sini rupanya " ujar seseorang yang tak lain adalah Vino
" Bro sedang apa kau disini " ujar Revan
" Biasalah! sebagai anak yang berbakti jadi aku menemani mama belanja " ujar Vino menyindir sahabat nya
" Cih! kau menyindir ku " ujar Revan menatap Vino tajam
" Hehe " ujar Vino cengengesan
" Tunggu bro! aku tidak sedang bermimpi kan, ini tidak salah kau sedang berbelanja " ujar Vino
" Memang nya kenapa? tidak boleh kalau aku berbelanja " ujar Revan
" Ya boleh sih! tapi aneh saja seorang Revan Pratama berbelanja, biasa nya kau menyuruh si Farhan untuk berbelanja bulanan " ujar Vino
" Aku ingin mencoba hal baru, biasa biar menjadi calon suami idaman " ujar Revan
" Calon suami idaman konon! calon istri nya mana bang " ujar Vino
" Tunggu saja! sebentar lagi Revan Pratama akan menemukan pasangan yang tepat " ujar Revan
" Kau tinggal tunggu undangan dari ku saja " ujar Revan
" Cih! pacar saja belum punya sudah mengkhayal untuk menikah " ujar Vino
" Eh bro! kenapa belakangan ini kau tidak ke kantor " ujar Vino
" A- aku sedang sibuk dengan tugas kuliah " ujar Revan gugup
" Biasa nya kau bisa membagi waktu untuk kuliah dan bekerja " ujar Vino
" Hei! otak ku juga butuh istirahat, biarkan Farhan menggantikan ku. Jadi suatu saat aku bisa memberikan salah satu cabang perusahaan ku kepada nya " ujar Revan
" Kau sungguh baik bro " ujar Vino
" Bagaimana pun orang tua Farhan dan orang tua mu yang sudah memberi ku kasih sayang " ujar Revan
" Terus aku kau kasih apa? sungguh malang nasib ku " ujar Vino mendramatisir
" Hei! kau kan sudah memiliki segalanya " ujar Revan
" Iya juga " ujar Vino
" Baiklah! begini saja kau boleh meminta bantuan ku jika kau sedang kesulitan " ujar Revan
" Aku akan membantu mu " ujar Revan
" Kalau kesulitan dengan jodoh, apa kau bisa menolong ku? " ujar Vino
" Akan aku usahakan " ujar Revan
__ADS_1
" Baiklah! aku setuju " ujar Vino
Saat kedua orang itu sedang mengobrol, datanglah wanita paruh baya yang berjalan menghampiri mereka
" Tadi katanya mau nolongin mama, tapi sampai sini malah menghilang dan ninggalin mama. Dasar anak nakal!!! " ujar wanita paruh baya itu yang tak lain adalah mama nya Vino sambil menjewer telinga Vino
" AW!!! sakit ma!!! " ujar Vino meringis kesakitan sambil memegangi telinga nya
Sedangkan Revan yang menyaksikan hal itu hanya berusaha keras menahan tawa
" Dasar anak nakal!!! katanya mau nolongin mama malah menghilang " ujar mama Vino yang bernama Tina
" Udah ma, Vino malu di liatin sama Revan " ujar Vino
" Kamu ngarang aja, mana ada Revan " ujar Tina
" Itu Revan ma " ujar Vino menunjuk Revan yang sedang menahan tawa
" Eh! Revan kamu kenapa nggak mengeluarkan suara sih nak, kan Tante jadi nggak tau " ujar Tina kepada Revan
" Revan nggak kuat menahan tawa Tan, melihat kalian berdua " ujar Revan tertawa geli
" Kamu masih sama seperti dulu, kenapa kamu sekarang jarang main ke mansion Vino nak " ujar Tina sambil menepuk pundak Revan
" Maaf Tan, Revan belum ada waktu untuk main ke mansion Vino " ujar Revan
" Kamu benar-benar anak kesayangan Tante Van " ujar Tina
" Tante bisa saja " ujar Revan
" Kamu belanja sendirian Van " ujar Tina
" Iya Tante " ujar Revan
" Kenapa harus malu Tan " ujar Revan
" Benar banget, nggak kayak anak satu ini yang malu buat belanja di supermarket " ujar Tina sambil melirik Vino
" Kata siapa ma, Vino nggak pernah malu kok buat belanja di supermarket " ujar Vino yang merasa tersinggung
" Tapi mama nggak bilang kamu kok, berarti kamu sadar kalau lagi di singgung " ujar Tina
" Tau ah " ujar Vino
" Maaf Tan, Revan permisi dulu sudah kelamaan belanja nya " ujar Revan
" Tumben buru-buru banget Van, mama kamu udah nggak sabar ya " ujar Tina terkekeh
" Bukan mama aku Tan yang nunggu tapi calon… " ujar Revan hampir keceplosan
" Calon apa Van? apa kamu udah punya calon istri ya " ujar Tina
" Bukan Tante, itu calon Juru masak di mansion Revan " ujar Revan asal
" Jangan-jangan kau udah punya pacar ya bro " ujar Vino
" Sembarangan! aku masih jomblo " ujar Revan panik
" Hayo jangan berbohong! kau pasti lagi dekat kan dengan pegawai mu itu yang namanya Rania " ujar Vino
" Kata siapa? yang ada kau yang sedang dekat dengan sahabat nya Rania " ujar Revan
" Apa!!! jadi kamu sudah punya pacar!!! kenapa nggak bilang sama mama? " ujar Tina
__ADS_1
" Biasalah Tan, dia kan suka berbohong " ujar Revan terkekeh
" Awas kau Revan!!! " ujar Vino kesal dengan sahabat nya
" Tante Revan duluan " ujar Revan berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Tina
Setelah membayar semua belanjaan nya Revan langsung bergegas menuju apartemen nya
Sesampai nya di apartemen, Revan langsung meletakan barang belanjaan nya di dapur dan segera mencari gadis nya
" Baby, kau dimana " ujar Revan sembari mencari gadis nya
Revan menemukan gadis nya sedang duduk di kursi yang ada di balkon apartemen sembari melihat pemandangan sore hari
Revan perlahan mendekati gadis nya dan langsung memeluk gadis nya dari belakang
" Sayang! kamu membuat ku kaget " ujar Rania kesal
" Hehe maaf by " ujar Revan terkekeh
" Kenapa kamu lama sekali belanja nya " ujar Rania
" Apa kau merindukan ku " bisik Revan di telinga Rania
" Iya! aku bosan di sini sendiri " ujar Rania
" Kenapa kau menggemaskan sekali by " ujar Revan mempererat pelukan nya
" Menggemaskan gigimu, aku lagi kesal di bilang menggemaskan " ujar Rania
" Benarkah! jadi kau sedang kesal " ujar Revan merubah posisi membuat Rania duduk di pangkuan nya
" Hei apa yang kamu lakukan turunkan aku " ujar Rania saat berada di pangkuan Revan, tapi hal itu malah membuat Revan semakin memeluk nya erat
" Kalau saya tidak mau menurunkan mu, kau mau apa? " ujar Revan semakin meledek Revan
" Kalau kau tidak menurunkan ku maka sendal ku akan terbang ke muka mu " ujar Rania
" Benarkah " ujar Revan
" Aduh!!! kepala ku pusing banget " ujar Rania meringis kesakitan
" By, kau kenapa " ujar Revan panik
" Aku nggak papa, tapi tadi saat kepala ku pusing aku seperti melihat bayangan aneh di pandangan ku " ujar Rania
" Apa ingatan nya muncul kembali " batin Revan
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang author bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
bisa di follow ig nya yah
__ADS_1