
Adinda kini dengan orang tuanya sudah sampai di tempat tujuan yang seharusnya mereka datangi dari awal, karena ternyata jadwal mereka sedikit molor akibat urusan Papa nya yang tidak selesai juga.
Sesampainya di sana terlihat Adinda memilih untuk duduk di balkon kamarnya sambil melihat hiruk pikuk kendaraan yang lewat, dirinya memilih untuk tidak peduli dengan sekitarnya karena menurutnya dia datang ke tempat itu untuk menenangkan pikiran bukan malah sibuk dengan sesuatu urusan yang tidak jelas.
Hendra tadi sudah langsung menuju ke perusahaan tempat dirinya harus mengecek kira-kira ada masalah apa sedangkan Silvia sibuk mengurusi tanaman yang sudah lama ia tinggalkan.
"Permisi Nyonya, semuanya sudah siap Apakah mau langsung makan atau menunggu tuan Hendra pulang?"Panggil salah satu asisten rumah tangga yang selama ini ditempatkan keluarga Hendra untuk bertugas di tempat tinggal mereka sebab tidak mungkin pasangan suami istri itu harus selalu Stay di tempat itu karena mereka lebih nyaman berada di Indonesia mengurus semua bisnis milik suaminya dan juga mengurusi Adinda yang sekolah di sana namun sekarang sepertinya mereka sedang ingin mencoba suasana baru apalagi dengan keadaan yang menimpa anaknya takutnya menjadi bahan guntingan para tetangga yang hobinya selalu melihat kelemahan orang lain untuk menjadi sesuatu yang pantas untuk dibicarakan.
"kalau untuk menunggu mas Hendra sepertinya tidak bisa soalnya tadi dia ngomong katanya bakalan pulang malam, lebih baik Mbok Sri nya pergi-panggil non Adinda nya supaya menyusul ke meja makan soalnya saya juga sudah lapar sekali loh! "perintah Silvia sambil tersenyum karena dirinya juga menghargai semua pekerjaan dari asisten rumah tangganya itu Sebab mereka mau ditugaskan di Jerman yang jelas-jelas sangat jauh dari keluarga dan juga Hendra serta Silvia kebanyakan meninggalkan mereka sehingga mengurus segala sesuatunya sendirian tetapi tidak pernah mengecewakan sama sekali sebab semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan juga keinginan pasangan suami istri itu.
tok tok tok
Adinda yang sedang duduk termenung mengerutkan keningnya ketika mendengar ada yang mengetuk pintu dari luar, perasaan dirinya sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun tetapi kenapa malah sekarang ada yang mengganggunya disaat yang tidak tepat seperti ini.
"Siapa sih yang ganggu saja kegiatan orang lain, aku kan sudah ngomong kalau lagi pengen sendirian Nanti kalau aku mau apa pasti bakalan ngomong ke kalian semua! "omel Adinda kesel karena tidak ada yang bisa menghargainya dan juga sepertinya dirinya itu masih terlalu anak kecil jadi semua orang tidak peduli.
__ADS_1
"Maaf non, saya disuruh Ibu untuk memanggil non Adinda supaya menyusul beliau di meja makan karena Sekarang sudah hampir tengah hari!" sahut Sri yang tidak enak hati karena niat hati ingin memanggil majikannya itu tetapi sepertinya salah lagi dan juga Adinda sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun.
"Ya ampun Bibi aku kan sudah ngomong kalau lagi tidak ingin diganggu oleh siapapun, jadi tolong dong harga kan keinginanku itu jangan malah membuatku seperti begini! "jelas Adinda yang masih berusaha bersikap sopan meski terkadang hormon kehamilannya itu membuat ia ingin memarahi orang sekabupaten.
"Waduh tapi kalau saya kembali ke sana tidak membawa non Adinda pasti bakalan disalahkan lagi, jadi saya mohon kerjasamanya dan juga ini demi kebaikan non Adinda yang sekarang harus mengurusi dua orang! "jelas Mbok Sri berharap agar Adinda paham kenapa dirinya begitu ngotot agar wanita itu mau mengikuti apa yang ia inginkan yaitu bertemu dengan Silvia yang pasti juga Tengah menunggu anaknya untuk saat ini.
Adinda yang sedang tidak ingin berdebat mau tidak mau memilih untuk mengikuti perkataan asisten rumah tangganya itu, meski ada rasa kecewa karena mereka cenderung lebih memihak kepada Silvia dan juga Hendra sampai-sampai mengabaikan dirinya tetapi mau bagaimana lagi karena ia sekarang harus berada di posisi seperti itu.
sampainya di sana terlihat Silvia sedang tersenyum sambil menatap ke arah anaknya itu yang sedang memasang wajah cemberutnya, tetapi Silvia memilih untuk tidak membahasnya lagi yang penting intinya Adinda mau keluar dari kamar dan duduk bersama dengannya di situ saja itu merupakan sebuah keajaiban yang besar di dalam rumah tangga mereka.
"Kalau aku sih biasa saja tidak ingin terlihat bahagia karena kalau Bahagiaku itu adalah hasil paksaan ya sama saja bohong, lebih baik seperti begini saja hidup Aman damai dan juga tenang jauh dari gangguan semua orang yang hanya membuat hidupku berantakan serta memaksa untuk baik-baik saja! "jelas Adinda cuek dan memilih untuk menikmati hidangan yang ada di depan matanya.
silvia pun memilih untuk melakukan hal yang sama karena kalau terus memaksakan kehendak kepada Adinda tidak menutup kemungkinan wanita itu bakalan semakin bandel, yang penting intinya kandungan anaknya itu baik-baik saja sehingga menyiratkan bahwa cucu mereka tidak ada masalah sama sekali Sebab mereka tidak pernah menyalahkan kehadirannya karena mereka juga sangat mengharapkannya hanya cara Adinda untuk menghadirkannya ke dunia ini yang salah tetapi selepas dari isi itu mereka menerima dengan lapang dada apapun konsekuensi dari masyarakat nantinya.
"apa sudah ada kabar dari Arga sampai saat ini, soalnya dari kemarin ponselnya aku hubungi selalu di luar jangkauan kayak orangnya lagi terbang sampai-sampai sulit untuk dihubungi? "tanya Adinda kesal karena harga itu seperti menghilang Ditelan Bumi padahal biasanya selalu saja menampakkan batang hidung di hadapannya setiap saat tanpa bosan.
__ADS_1
"loh Mama pikir kamu tanya Brengsek itu yang tak membuat kamu jadi galau tidak jelas sampai mengabaikan Arga yang tiap hari harus memperhatikan kamu dan juga menemani kamu, Siapa suruh selama ini mengabaikannya ya kalau sekarang misalnya dia pergi dan tidak mau dihubungi oleh Kamu jangan marah ataupun kecewa karena setiap orang itu punya pola tingkat kesabaran berbeda-beda!"jelas Silvia yang hanya ingin membuat agar Adinda sadar kalau sebenarnya Arga itu sangat tulus kepadanya tidak ada kebohongan di dalam semua sikapnya bahkan terlihat begitu Ingin dan juga mencoba memberikan keamanan kepada orang tuanya.
Adinda sebenarnya sangat sensitif ketika ada pembahasan seperti begini Apalagi itu menyangkut Kevin, yang jelas-jelas sudah menolak kehadirannya dan juga anak mereka Maka dari itu Kalau dipaksa untuk mengingat kembali pria itu rasa-rasanya seperti melupakan harga dirinya yang sudah coba Ia bentuk dan juga ia bentengi agar tetap kokoh.
"Aku baik-baik saja kok dan pasti akan bisa berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan caraku sendiri tidak peduli dengan orang-orang di masa lalu yang sangat membuat aku jengkel, Lagian aku merasa bahwa pilihan ini merupakan pilihan yang terbaik yaitu tidak usah bergantung dengan orang lain terserahlah Arga mau pergi dengan siapapun yang penting Intinya jangan pernah menampakan batang hidungnya kembali di hadapanku! "omel Adinda kesel membuat Silvia hanya menggelengkan kepalanya karena sepertinya Adinda itu tidak rela berpisah dengan Arga hanya saja gengsinya itu terlalu kelebihan tinggi sampai-sampai malas untuk mengakui hal sepenting itu.
" Ya sudah kamu Nikmati saja kehidupan kamu seperti ini Dan intinya Tolong jangan pernah marah atau menyesali apa yang sudah ada di dalam diri kamu, Dia anak Malaikat tidak punya salah sama sekali dan juga dialah yang akan membantu kamu agar bisa menempuh semua dosa yang sudah kamu lakukan sebelum atau sesudah ini jadi jangan pernah mengeluh lagi ya! "bujuk Silvia karena menurutnya saat ini merupakan saat yang paling tepat ketika dirinya harus berbicara secara perlahan kepada Adinda agar tidak Mengulangi kesalahan yang sama dan juga tidak mengulangi sesuatu yang seperti begini berulang kali.
Adinda Sebenarnya masih mencoba untuk menerima anaknya itu hanya saja Percayalah kalau Kejadian ini secara tiba-tiba dan tidak pernah IA duga sebelumnya, Jadi intinya dia tidak akan pernah melakukan hal gila seperti kemarin-kemarin yaitu mencoba untuk menggugurkan anak tersebut karena Biar bagaimanapun anak tersebut adalah darah dagingnya dan hubungan yang paling dekat diantara mereka yaitu dirinya masa iya iya harus melenyapkannya tanpa melihat dulu matahari.
"Permisi Nyonya Dan juga Non Adinda itu di luar ada tamu, katanya dia mengenal Tuan Hendra jadinya singgah ke sini ketika tahu bahwa Tuan dan nyonya sedang berkunjung ke negara ini!"jelas Mbok Sri membuat Silvia mengerutkan keningnya karena menurutnya kalau memang tamu tersebut mengenal Hendra Ya seharusnya sadar kalau sekarang itu Hendra tidak ada di rumah.
"kira-kira siapa ya Bi, Soalnya aku tidak pernah merasa mengenal orang-orang di sini terlalu dekat? "tanya Silvia memastikan sedangkan Adinda memilih untuk masuk ke dalam kamarnya karena ia juga sudah selesai makan dan juga tidak ingin bertemu dengan orang asing.
"ya Bibi juga kurang tahu sih Tetapi lebih baik dipastikan Sendiri Saja, karena kebetulan Sekarang orangnya lagi duduk di ruang tamu Soalnya Bibi tidak mungkin menyuruhnya masuk ke dalam sini kan jika belum memberitahukan langsung kepada Nyonya! "jelas Mbok Sri membuat Silvia tersenyum karena memang seperti begitulah kelakuan asisten rumah tangganya itu selalu saja pengertian dan juga tidak pernah mengambil keputusan sendiri tanpa mengatakan dulu kepadanya
__ADS_1
"Nanti saya susul ke sana tetapi Saya harus menghabiskan semuanya ini dulu, kalau bisa dikasih minum dulu saja biar dianya tidak bosan menunggu!"perintah Silvia dan langsung Segera dilaksanakan oleh Mbok Sri yang mempunyai jiwa cepatan karena begitulah seorang yang selalu ingin bekerja pasti tidak bakalan tenang tanpa harus melakukan sesuatu.