
Adinda sebenarnya tidak merasa nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Mamanya itu, karena seolah-olah dirinya merupakan anak kecil yang bisa saja diperlakukan seperti itu karena nanti takut bakalan sewaktu-waktu akan kabur dan juga melakukan hal yang tidak tidak.
wanita itu bahkan memasang tatapan cemberutnya sepanjang menuju ke ruangan dokter Olivia, sedangkan Silvia memilih untuk Bodoh amat tidak peduli sama sekali dengan Sikap yang ditunjukkan oleh putrinya itu sebab menurutnya Adinda itu bukan anak kecil jadi Segala sesuatu harus dibujuk ataupun dirayu dengan cara apapun itu.
"Mama please deh jangan mempermalukan aku seperti ini dong, Ini perut aku sudah buncit ya orang tahu bahwa aku itu hamil Makanya kalau mama mau membuat seperti ini mereka pasti mengira bahwa aku merupakan korban pemaksaan! "omel Adinda tidak terima tetapi Silvia malah terkekeh geli mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
"kamu itu bukan hasil korban pemaksaan tetapi hasil korban kebodohan diri sendiri, orang semua pasti bakalan berpikir seperti yang Mama pikirkan jadi kamu tenang saja jangan merasa khawatir juga soalnya orang-orang seperti kamu ini harus segera dibasmi dari muka bumi!" omel Silvia yang tidak terima ketika Adinda bersikap seperti dirinya merupakan seseorang yang teraniaya dan juga Tengah di perlakukan tidak baik oleh kedua orang tuanya.
Ceklek
kedua orang yang sibuk berbincang di dalam ruangan dokter Olivia Tengah menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar, jika Olivia sudah tahu siapa itu berbeda dengan pria yang ada di sampingnya yang merasa heran dengan Silvia yang tengah menggandeng seorang wanita tetapi dalam keadaan hamil.
"permisi apa saya mengganggu?" tanya Silvia pelan soalnya tidak enak juga kan kalau mengganggu seseorang yang sedang menerima tamu seperti itu kan rasa-rasanya sangat tidak sopan dan juga sepertinya sudah mengganggu privasi orang lain.
"Oh tidak seperti itu juga sih soalnya memang aku dari tadi sering menunggu kamu loh, tadi kan telepon makanya aku menggosongkan jadwalku di siang ini supaya mungkin bisa bertemu dengan kalian secara langsung! "sahut Olivia sambil tersenyum karena dirinya dulu sangat mengenal dekat Silvia yang merupakan tetangga depan rumahnya dan juga teman nongkrong ketika para suami Mereka pergi bekerja.
"Wah syukurlah kalau begitu soalnya aku juga tidak enak hati kalau misalnya mengganggu perdebatan dan juga perbincangan antara Si a dan juga si B, Apalagi itu kayaknya wajahnya si B sedang ditekuk seperti itu. "ejek Silvia sambil menatap ke arah sosok pria yang dari tadi tidak mengedipkan matanya menatap ke arah Adinda yang juga sedang menatap ke arahnya dengan Tatapan yang tidak suka.
Ehemm
Silvia dan Olivia berdehem secara bersamaan karena merasa lucu dengan tingkah yang ditunjukkan oleh Devon dan juga Adinda saat ini, kalau Devon dengan wajah penasaran dan juga tidak percaya kalau sosok yang ada di hadapannya ini merupakan Adinda orang yang taat diingin sekali ia temui tetapi sepertinya tidak bisa karena ditolak oleh silvia.
__ADS_1
sedangkan Adinda merasa tidak suka dengan tatapan Devon yang seolah-olah sedang mengulitinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, padahal ada pembahasan lain yang mungkin bisa dibahas dengan orang tua tidak perlu harus melihatnya seperti itu karena rasanya sangat tidak nyaman dan juga risih.
"kalian pikir di dunia ini hanya ada kalian saja orang lain tidak ada gitu, lain kali itu jangan bertingkah aneh-aneh hanya membuat malu diri sendiri dan juga membuat malu kami orang tua yang rasa-rasanya tidak pernah mengajar anak sopan santun. "omel Olivia yang pura-pura marah sambil menatap tajam ke arah Devon yang malah cengingisan karena ketahuan sedang menatap Adinda Intens bahkan bisa dibilang untung juga itu salivanya tidak turun menetes kemana-mana.
"Astaga Mama kenapa sih ngomongnya sampai sedramatis itu, barang untuk dilihat ya Kenapa tidak dilihat masa iya diabaikan begitu saja padahal rasa penasarannya dari tadi? "ujar Devon yang jelas saja tidak terima.
ya Devon sekarang ada di ruangannya Olivia ketika tadi Silvia baru habis menghubungi Mamanya itu mengatakan bahwa mereka akan pergi mengunjungi Olivia untuk memeriksa keadaan Adinda, maka dari itu ketika Devan mendengarnya karena kebetulan dia juga sedang berada di samping mamanya langsung saja antusias untuk menunggu Adinda dan juga Silvia di dalam ruangan Olivia itu.
"Eh aku tidak suka ya kalau kamu melihatku seperti itu, Awas jaga itu mata kamu itu aku bakalan colok dengan colokan listrik yang ada di situ.: ancaman Adinda kasar membuat Devon sedikit bergidik ngeri karena ternyata wanita itu memang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah tingkah lakunya.
"Waduh kamu dari dulu sampai sekarang tetap Barbar ya? jangan seperti itu dong masa iya cantik-cantik galaknya tidak hilang-hilang, Biar Begini aku itu pria paling tampan di sini dan kalau saat aku kuliah dulu merupakan Most Wanted di kampus! "ujar Devon percaya diri lagi Tidak ada salahnya kan kalau membanggakan diri tepat di depan orang yang ingin kita banggakan supaya mungkin bisa masuk dalam perhitungan sebagai jodoh dunia akhiratnya Adinda atau gimana lah itu.
silvia dan Olivia hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat interaksi antara kedua orang itu yang sepertinya Memang dari awal sudah tidak ada persambungan sama sekali , karena terbukti jika Devon ingin lebih akrab dengan Adinda Tetapi wanita itu malah memilih untuk membangun benteng pertahanan yang begitu tinggi.
"dasar tidak peka sama sekali! aku berdiri di situ sudah mau hampir sejam lebih tetapi kamunya baru sadar sekarang, untung juga aku belum pingsan kalau sudah pingsan kamu yang bakalan tanggung jawab! "sarkas Adinda tajam karena menurutnya tempat yang tadi diduduki oleh Devon itu seharusnya diduduki oleh pasien yang mau diperiksa oleh mamanya Jadi kalau ada apa-apa ya jelas dirinya bakalan menyalahkan pria tersebut yang menurutnya terlalu keasikan melamun sampai-sampai lupa dengan keadaan sekitar.
Devan memilih hanya menggaruk kepalanya secara perlahan Soalnya dari tadi dirinya itu pasti selalu disalahkan oleh Adinda, tapi mau bagaimana lagi yang penting intinya ia sangat bersyukur karena tidak perlu perjuangan yang begitu panjang sehingga dapat bertemu dengan Adinda seperti saat ini.
"Oh iya jadi kamu mau memeriksakan kandungan, kalau boleh Tante tahu sekarang sudah berapa bulan? "tanya Olivia penasaran daripada membiarkan Devon dan juga Adinda berdebat Terus rasa-rasanya waktu tidak akan pernah cukup untuk melayani mereka berdua yang sepertinya tidak puas itu.
"kamu ngapain di situ? silakan Keluar sana kalau kamu tidak keluar maka Jangan harap aku bakalan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Mama kamu, Memangnya kamu pikir kamu itu siapa sambil berdiri tenang di situ tidak bertengkar sama sekali? "Adinda setiap kali melihat Devon pasti akan merasa kesal entah apa yang dilakukan oleh pria itu di masa lalu sampai-sampai membuat dendam yang dirasakan oleh Adinda rasanya tidak akan berkurang sama sekali.
__ADS_1
Devon tersenyum sambil memasang wajah yang sangat menggelikan karena dirinya baru sadar kalau ternyata ia masih bertahan di situ untuk apa coba, kecuali Adinda merupakan istrinya Makanya kalau saat wanita itu periksa Tidak ada salahnya dong kalau ia menemaninya tetapi mereka berdua itu kan bukan siapa-siapa jadi sangat tidak masuk akal kalau dirinya masih tetap berada di situ.
hanya saja Devon itu kan punya 1001 Cara untuk memberikan alasan, Maka jangan salahkan kalau kali ini otaknya yang cerdas itu mulai berfungsi dengan benar.
"eh jangan kamu lupa ya kalau orang yang bakalan memeriksa kamu itu adalah Mamaku, Jadi kalau aku misalnya menemaninya untuk memeriksa pasien kan tidak ada salahnya sama sekali dong? jangan sampai kamu mengamuk terus Mamaku bakalan kenapa-napa Ya siapa mau tanggung jawab, Jadi sebelum hal itu terjadi tidak ada salahnya kan kalau aku mau waspadai hal tersebut dari awal? "jawaban Devon yang nyeleneh membuat semua orang di ruangan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak percaya ada orang yang Devon itu di dunia.
"Astaga Devon tolong deh mengerti dengan kondisi mama dan juga kondisi Adinda yang benar saat ini sedang tidak ingin bercanda, Kamu kalau dobel satu kali lagi ngomong Yang aneh-aneh jangan menyesal kalau mama bakalan telepon security di depan untuk datang menyeret kamu pergi dari sini! "ancam Olivia dengan tatapan menusuknya sebab menurutnya Jika dia akan bertingkah seperti itu terus ya jangan salahkan kalau pekerjaannya tidak akan pernah habis-habis.
Devon akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan tersebut tetapi sebelum itu pria itu mendekati Adinda lalu mencubit gemas hidungnya, dan setelah itu langsung berlari ketika melihat Adinda sudah mulai mengeluarkan taringnya seolah-olah ingin menerkam Devon saat itu juga.
"kurang ajar ini orang mau cari perkara denganku ya? Awas saja kalau aku ketemu kamu lagi Aku bakal menghajar kamu sampai sukses, dari dulu sampai sekarang hobi sekali menjawil hidungku Memangnya kamu pikir tidak sakit apa? "sarkas Adinda kasar karena hidungnya sekarang itu mau merah belum lagi kulitnya yang begitu putih bersih membuat bekasnya begitu terlihat jelas sedangkan Devon sudah ngacir keluar dari ruangan mamanya tetapi Percayalah bukan berlari jauh ia malam duduk ngobrol dengan suster yang ada di depan itu.
Silvia hanya mengusap pelan lengan anaknya itu karena dirinya tahu Devon tadi sudah memancing emosinya Adinda membuat anaknya itu rasa-rasa dan sangat tidak nyaman berada di situ, hanya saja ia ingin Adinda terbiasa mengendalikan emosinya tidak perlu harus terlalu egois Bukankah Tidak ada salahnya kalau Devon mengajaknya bercanda?
"sudah kamu jangan seperti itu dong? dia itu kan merupakan sahabat kamu jadi tidak ada salahnya kan kalau dia mengajak kamu bercanda, kalau kamu setiap hari kerjaannya serius terus gimana anak kamu keluar cantik kalau mamanya saja wajahnya ditekuk setiap saat? "bujuk Silvia membuat Adinda bertambah kesal karena Lagi Dan Lagi anak di dalam kandungannya itu yang bakalan dibawa-bawa setiap kali mengatakan sesuatu.
"Kamu itu kenapa sih dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah? emosinya kamu itu tante Sampai heran loh sampai mau meledak-meledak itu gimana ceritanya sih, jangan terlalu seperti itulah ingat kamu sedang dalam kondisi hamil Kalau mungkin orang mengajak kamu bercanda agar lebih rileks Ya setidaknya Nikmati saja yang penting intinya tidak merugikan kamu kan? "Olivia bukan ingin membela Devon hanya saja sedari tadi yang memperhatikan interaksi antara Adinda dan juga orang-orang sekitarnya memang terlihat begitu tidak nyaman dan juga seperti memusuhi semua orang yang berada di dekatnya.
Adinda menghembuskan nafasnya secara perlahan berkali-kali agar tetap rileks dan juga nyaman, dirinya sebenarnya tidak terlalu marah hanya saja Entah mengapa setiap kali melihat pria yang menatap Intens ke arahnya membuat emosinya tiba-tiba muncul di permukaan seperti itu karena Mungkin trauma atau apalah itu.
"Maafkan saya Tante, tadi itu anak tante yang membuat saya jadi emosi ya mau tidak mau tiba-tiba ya bakalan seperti begini responnya . "sahut Adinda yang tidak enak hati tetapi Olivia tidak mempermasalahkannya toh mood setiap ibu hamil akan berbeda-beda ada yang hobinya tersenyum kemudian suka bercanda tetapi ada yang hobinya marah-marah sampai melahirkan pun tetap seperti itu tidak berubah sama sekali.
__ADS_1
"Oh iya kalau boleh Tante tahu sekarang usia kehamilan kamu sudah berapa bulan, terus kendala apa yang selama ini kamu alami dan juga apa yang membuat kamu tidak nyaman? "tanya Olivia perlahan karena Silvia sudah menelponnya dan mengatakan Semuanya dari awal tentang apa yang terjadi maka dari itu wanita tersebut bertanya secara halus agar mungkin Adinda tidak tersinggung Ataupun mungkin merasa tidak nyaman dengan apa yang ia tanyakan nantinya.
"ini anak sudah di dalam perut saya selama 5 bulan lebih mau masuk bulan ke-6, padahal Dari awal saya sudah tidak suka dengan kehadirannya sama sekali karena mengganggu pergerakan yang akan saya lakukan nantinya! maka dari itu saya ingin agar cepat memasuki bulan ke-9 supaya dia cepat keluar dan saya bisa melanjutkan sekolah lagi, soalnya kalau dia masih tetap di sini Saya tidak akan bisa melakukan apapun! "ujar Adinda yang sangat frustasi dengan keadaannya saat ini membuat Olivia menatap ke arah Silvia yang terlihat wajahnya memerah menahan tangis karena anaknya itu sepertinya mahasis saja tetap pada pendirian menolak bayi yang di dalam kandungannya sendiri padahal harusnya ia sadar bayi itu merupakan darah dagingnya hasil dari perbuatannya juga bukan hasil dari orang lain lalu menitipkan kepadanya kan tidak mungkin sama sekali itu luar dari kenyataan.