
Silvia ingin sekali memarahi Adinda karena menurutnya sudah sangat keterlaluan sampai-sampai dengan Begitu teganya mengatakan dengan gamblang tidak menginginkan anak dalam kandungannya, padahal seharusnya anaknya itu sadar jika bayi di dalam kandungan yaitu tidak ada salah sama sekali Jadi untuk apa bersikap seolah-olah kehadirannya itu merupakan sebuah malapetaka yang hebat.
"Kamu kenapa selalu mengatakan hal itu? cobalah kamu lihat mama kamu sekarang, kalau misal nya dia dulu punya pikiran seperti kamu maka otomatis tante yakin kamu tidak akan pernah ada di dunia ini! jadi seorang wanita itu tidak boleh egois Maunya harus didengar tetapi tidak mau mendengarkan orang lain, hati orang tua mana Yang pasti tidak bakalan tenang kalau sampai anaknya punya pemikiran pendek seperti kamu! "ujar Olivia yang sebenarnya sangat tidak nyaman ketika Adinda tetap bertahan bahwa anak dalam kandungannya itu sama sekali tidak Diharapkan kehadirannya di dalam kehidupannya untuk saat ini.
Adinda menghembuskan nafasnya kasar karena yang ia inginkan saat ini adalah orang lain mengerti dengan apa yang dipikirkannya, sebab Biar bagaimanapun memaksa agar tetap suka dengan sesuatu yang sangat membuat kita tidak nyaman itu terasa begitu menyiksa dan juga membuat segala sesuatunya menjadi tidak bagus untuk dipandang.
" Tidak apa-apa kalau dia punya pemikiran seperti itu karena memang kebiasaannya dari dulu seperti itu tidak pernah berubah, tolong periksa saja untuk memastikan keadaan cucuku Seperti apa di dalam sana! apa dia dalam keadaan baik-baik saja tidak ada yang sedang menyiksanya atau mungkin Dia kelaparan gitu, soalnya maminya tidak pernah memberikan asupan gizi yang sempurna untuk dia!"Silvia sudah tidak peduli lagi dengan perasaan Adinda karena memang seperti itulah kenyataannya jika Adinda tidak pernah peduli dengan anak yang ia kandung dan juga bahkan menganggap anak itu sebagai sesuatu yang pantasnya untuk dibuang saja tidak boleh harus terlalu diperhatikan sampai segitunya karena nanti akan membuat pusing dan juga tidak nyaman orang-orang di sekitarnya.
Adinda memilih pasrah dengan cara naik ke atas ranjang tempat pasien biasa diperiksa kemudian sedikit menyingkap bajunya ke atas, karena selama kehamilan ya tidak pernah dirinya melakukan USG maka dari itu sekarang Dokter Olivia akan melakukannya untuk memastikan jenis kelamin bayi tersebut dan juga keadaannya seperti apa.
Olivia mulai mengusap pelan gel di atas perutnya Adinda yang sudah semakin membuncit itu, Lalu setelah itu mulai mengarahkan alat USG untuk mendeteksi keadaan bayi kemudian letaknya dan juga kelaminnya dan ketika terdengar suara detakan jantung bayi di dalam perutnya Adinda memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain karena tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyelimutinya.
"wah Selamat ya Adinda ternyata anak Kamu ini perempuan dan Sepertinya dia bakalan imut seperti kamu, Aduh tante juga pengen deh diberikan cucu seperti ini sudah kelihatan cantik dan juga manis dan semoga saja bisa membawa berkah untuk kehidupan kamu."Olivia Bukannya ingin bersandiwara tetapi memang begitulah kenyataannya jika anaknya Adinda masih di dalam kandungan saja sudah terlihat nampak sekali Aura perbedaannya maka dari itu wanita itu memilih untuk berkata jujur mungkin dengan begitu Adinda bakalan berubah pikiran dan akan menerima kehadiran anaknya itu di dalam kandungannya saat dia lahir nantinya.
"ini denyut jantungnya juga bagus sekali kedengarannya kemudian posisinya juga pas hanya satu saja yang kurang yaitu berat bayi kamu, sepertinya sangat tidak normal kalau bayi yang sudah masuk usia bulan keenam tetapi beratnya masih begitu! "jelas Olivia membuat Adinda tertegun karena mana bisa bayinya itu membesar ketika dirinya saja selalu mogok makan dan memilih untuk tidak menelan apapun yang nantinya bakalan membuat anak di dalam kandungannya itu tumbuh dengan baik.
"Coba lihat ke arah layar monitor supaya kamu lihat betapa kecilnya anak kamu ini, kalau jadi tante pasti bakalan merasa bersalah soalnya gara-gara keegoisan kamu dia yang tidak tahu apa-apa harus mendapatkan karmanya! "ujar Olivia yang sengaja memalingkan wajah Adinda ke arah layar monitor USG agar wanita itu bisa memperhatikan dengan jelas karena dari tadi memang Adinda selalu membuang muka menoleh ke arah lain.
"sudah lihat kan? merasa bersalah tidak Lihat kondisi anak kamu yang hanya sekepal itu, coba menurut kamu Jika kamu posisi seperti dia kira-kira merasa tersiksa tidak?"karena Olivia dekat dengan keluarga dari Baratayuda maka dari itu dirinya tidak segan-segan untuk memarahi dan juga mengingatkan Adinda agar tidak salah melakukan sesuatu yang nantinya bakalan ia sesali di kemudian hari dan Percayalah apa yang dia rasakan itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.
__ADS_1
Silvia menggosok pelan perut Adinda sambil tersenyum menatap ke arah layar yang terpampang jelas dihadapannya itu, dirinya begitu bahagia karena setelah beberapa bulan Akhirnya bisa melihat dengan jelas keadaan cucunya yang selama ini sudah ia harapkan kehadirannya.
"baik-baik di sana ya my princess, Ingat jangan rewel Soalnya Mami kamu lebih rewel daripada kamu! nanti kalau kamu ingin sesuatu ngomong saja biar Oma yang bakalan menyiapkannya untuk kamu, Tapi percayalah Kalau Oma sama Opah selalu menyayangi kamu sampai kapanpun dan tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian! "bisik Silvia yang jelas didengar oleh Adinda membuat wanita itu hanya bisa mendongakkan kepalanya ke atas karena benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menjawab apa yang dikatakan oleh Mamanya tadi.
setelah selesai semuanya kini Adinda dan juga Silvia sudah kembali duduk di hadapan dokter Olivia yang tengah menuliskan resep agar bisa mereka Tembus di apotek nantinya, wanita itu merasa ada yang janggal dengan kondisi kehamilan Adinda Yang sepertinya sangat berbeda dengan kehamilan yang lainnya.
"kamu selama ini minum vitamin tidak? ingat ya jangan pernah egois karena nanti keegoisan kamu itu balik menyerang kamu dan tidak akan pernah kamu sadari, karena apa yang kamu tabur itulah yang bakalan kamu tuai Dan saya yakin itu yang akan kamu rasakan nantinya kalau tetap seperti ini terus! "tegas Olivia Soalnya dari tadi itu sepertinya Adinda ogah-ogahan mendengar apa yang ia sarankan dan juga apa yang ia katakan sampai membuat dirinya merasa Jengah sendiri.
"Kalau sampai Tante mendengar anak kamu kenapa-napa percayalah kamu bakalan tuntut, Soalnya ini merupakan kelalaian kamu sebagai seorang ibu dan Tante sebagai seorang dokter jelas saja tidak terima jika ada pasiennya yang mengabaikan sesuatu yang harus ia perhatikan!"tegas Olivia yang sebenarnya hanya ingin mengancam Adinda karena menurutnya jika wanita itu tidak dikatakan seperti begitu maka ia tidak akan pernah berubah sama sekali.
Devon yang mendengar suara Mamanya sudah lebih meninggi membuat dirinya langsung segera masuk ke dalam, Terserah mau dibilang tidak sopan atau apapun itu yang penting intinya dirinya ingin memastikan keadaan Adinda baik-baik saja atau tidak Dan mungkin saja wanita itu sedang membutuhkan sesuatu?
Adinda yang sedang menundukkan kepalanya langsung mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Devon, dirinya Ya tentu saja tidak setuju jika pria itu terlalu banyak ikut campur urusannya dan berbuat seolah-olah menjadi orang yang paling benar di dunia ini.
"Kamu ngapain datang ke sini? ada ya keluarga dokter yang kurang ajar kamu sampai tidak punya sopan santun, Memangnya Menurut kamu aku tidak bisa menjaga diriku sampai-sampai harus perlu bantuan kamu? " tanya Adinda yang tidak terima sedangkan Olivia hanya menggelengkan kepalanya saja.
"ya Tuhan astaga Devon Kamu kenapa harus datang ke sini sih Nak? Mama tadi itu hanya sedang ingin ngomong ke Adinda tetapi karena mungkin terlalu pelan ya makanya nada bicara Mama sedikit ditinggikan, Tolonglah jangan menjadi orang yang terlalu ingin tahu dan juga memaksa harus kamu juga ikut campur dalam segala masalah yang mereka hadapi! " jelas Olivia.
"Maafkan aku mah kalau memang seperti begitu aku bakalan pergi dan tidak akan mengganggu, tetapi sebelum itu Bolehkah aku berbicara berdua dengan Adinda karena ada hal penting yang harus kami bahas? "tanya Devon mau minta izin kepada Olivia dan juga menoleh ke arah Silvia berharap agar dirinya bisa memberikan izin kepada Devon untuk menanyakan sebagaimana kondisi Adinda saat ini.
__ADS_1
"gimana Adinda kamu mau kan ngomong berdua sama Devon? dia dari kemarin ingin berbicara sama kamu masa iya kamu tega membiarkan dia harus menunggu lagi, tolong nak jadi orang jangan terlalu egois dan lebih mementingkan diri sendiri alhasil kamu membuat orang lain yang bakalan kecewa?"tawar Silvia yang benar-benar Melihat kesungguhan di dalam wajahnya Devon dan juga sepertinya pria itu benar-benar menyimpan penuh perhatian terhadap sahabat masa kecilnya itu.
"Ya sudah aku bakalan pergi dengannya nanti dia juga yang bakalan mengantarkan aku pulang karena aku juga suntuk berada di rumah terus tidak melakukan apapun, nanti Mama tolong tembus obat di apotek ya dan terima kasih untuk Tante karena sudah mengingatkanku Nanti aku pasti bakalan balik lagi ke sini kalau sampai anakku kenapa-napa!"jelas Adinda sambil tersenyum membuat Olivia dan juga Silvia menghembuskan nafas lega karena tidak percaya jika Adinda Akhirnya bisa berpikir lebih jernih dan juga lebih dewasa lagi serta tidak membuat sebuah keputusan yang salah di dalam hidupnya ini.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu ya aku janji pasti bakalan memulangkan anak Tante tetap pada waktunya, ddan kalau misalnya ada hal-hal yang tidak terkendali yang terjadi kami bakalan langsung Segera mengabarkan kepada Tante agar tidak merasa cemas!"ujar Devon lalu menarik tangan Adinda agar ikut dengannya karena ini merupakan saatnya bersenang-senang dan membawa sahabatnya itu berkeliling menikmati dunia karena tidak mungkin Adinda harus Terpuruk di dalam kehidupannya serta tidak mengalami perubahan sama sekali.
"Astaga kamu bisa pelan-pelan tidak? dia itu wanita hamil deh bukan wanita ramping dan juga seksi seperti biasa yang kamu bawa, dan juga Adinda jangan pernah terkecoh ataupun mau dengan segala macam wujud rayuannya karena dia itu merupakan seorang casanova kurang ajar!"omel Olivia membuat Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ternyata Mamanya itu malah membuka kartu Dengan mengatakan hal yang tidak-tidak dan dirinya takut jangan sampai nanti Adinda bakalan ilfil kepadanya.
"Tante Tenang saja mau didandani seperti apapun anak ini aku tetap tidak akan pernah mau dengannya, sebab menurutku semua pria itu sama saja jika sudah mendapatkan enaknya pasti bakalan langsung dibuang seperti sampah! "jelas Adinda sambil menatap sini ke arah Devon Yang sepertinya Tengah mencerna perkataan ambigu wanita itu yang rasa-rasanya pasti ada sangkut pautnya dengan kehidupan yang terjadi kepada Adinda saat ini.
"Astaga Mama setidaknya tinggikanlah harga diri anakmu ini jangan malah menjatuhkannya seperti itu dong, nanti kalau mama sampai tua tidak punya calon menantu pun sama saja nanti aku juga yang bakalan disalahkan! "omel Devon lalu memilih untuk menarik tangan Adinda agar segera pergi dari situ soalnya berlama-lama berdekatan dengan Olivia rasa-rasanya sangat tidak bagus dengan kepentingannya nantinya.
"Siapa suruh kamu cari perkara dengan Mama! "sahut Olivia tidak mau kalah lalu tersenyum karena dirinya Yakin sekarang Deven pasti Tengah menahan emosi terhadapnya.
"anak Kamu itu kenapa sih dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, hobinya hanya membuat kehebohan di manapun dia berada dan juga sukanya membuat orang lain merasa emosi? "tanya Silvia sambil terkekeh geli ketika melihat Devon dan juga Adinda sudah mau keluar meninggalkan ruangan Olivia itu.
"Dia memang seperti itu tapi percayalah Dia selalu merasa rindu dengan Adinda makanya ketika mendengar kalau kalian ada di sini dia begitu antusias sampai-sampai asal kamu tahu saja ya pertemuannya dengan suami kamu itu sebenarnya belum selesai, tetapi karena ngebet pengen banget ketemu sama Adinda makanya dia meminta izin kepada Hendra agar bisa segera menemui Adinda dan meetingnya itu pun langsung ditunda lagi akhirnya suamiku sore ini harus kembali menemui suami kamu!"sungut Olivia membuat Silvia hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Adinda dan juga Devon sudah berjalan menuju parkiran dengan Devon yang banyak berbicara sedangkan Adinda memilih untuk diam.
"kamu itu Kenapa berubah sekali tidak seperti dulu? padahal dulu kamu adalah wanita yang paling aku sukai di dunia ini karena ceria kemudian suka sekali membuat aku tertawa, ya Meskipun kebanyakan kamu selalu mengerjakanku dan mengatakan bahwa aku merupakan pria yang tidak berguna melainkan Arga adalah yang terpenting?"tanya Devon tetapi Adinda tidak menggubrisnya sama sekali apalagi mendengar nama Arga yang disebut seperti itu rasa-rasanya membuat wanita itu merasa muak dan juga tidak peduli lagi dengan percakapan yang ada.
__ADS_1