
Silvia tentu saja dengan antusias mengatakan semuanya tentang pertemuan antara dirinya dengan Devon tadi, meskipun terkesan sangat tidak menyenangkan karena di awal ia sangat tidak menyukai kehadiran pria itu namun intinya semua bisa aman dan terkendali karena ternyata Devon tidak tersinggung dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Silvia.
"Sebenarnya Mama juga tidak tega sih karena niatnya datang ke sini kan untuk bertemu dengan Adinda, hanya saja kakak tahu sendiri kan anak kita itu seperti apa kalau selesai makan pasti bakal langsung ke kamar dan menutup pintu dari dalam! "jelas Silvia membuat Hendra hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan karena memang kepribadian Adinda sekarang itu benar-benar sangat berbeda.
"Ya semoga saja dia tidak kapok-kapok datang ke sini, soalnya kasihan sih anak orang rela setelah meeting selesai di kantornya Papa langsung saja menuju ke sini tanpa singgah ke tempat lain dulu! Tadi juga dia sempat tanya Adinda itu masih suka ngemil kayak dulu lagi tidak, karena katanya dia punya recommended cemilan yang paling enak di sini hanya saja Papa bilang Kalau Adinda sekarang lagi tidak bisa memakan sesuatu yang siap saja! "jelas Hendra mengingat Bagaimana antusiasnya Devon ketika ingin bertemu dengan Adinda tadi sewaktu mereka berdua masih berada di kantornya Hendra.
"Adinda sekarang ini aku saja bingung Mas, harus seperti apa agar membuat sikapnya bisa kembali seperti dulu lagi! Belum lagi kalau ditanya dia ngidamnya apa pasti jawabannya tidak menginginkan sesuatu, padahal mama kan khawatir takutnya anaknya itu bakalan ngeces soalnya ngidamnya kan tidak dituruti sama Maminya! "sungut Silvia yang setiap kali merasa jenah ketika ia menawarkan sesuatu secara cuma-cuma kepada Adinda pasti bakalan langsung ditolak anaknya itu karena katanya tidak ingin apapun dan juga sedang tidak merasakan apa yang namanya ngidam Padahal sejatinya semua wanita hamil di dunia ini pasti tahu dan juga pasti merasakan hal tersebut.
"Semenjak Arga pergi sepertinya anak itu memang tidak ada niatan untuk memenuhi ngidam nya, padahal sebenarnya ya sangat bagus untuk kondisi mereka berdua jika nafsu makannya berkurang Ya otomatis bisa diganjal dengan memakan sesuatu yang manis!"orang tua mana yang tidak bakalan kebingungan ketika anaknya yang sedang kondisi hamil seperti itu dan posisinya kehamilan Adinda itu sudah mau memasuki trimester ketiga ya Otomatis pasti sedang merasa lapar yang sangat karena bayi di dalam perutnya itu sudah mulai tumbuh lebih besar lagi Jadi otomatis membutuhkan asupan gizi dan juga vitamin serta makanan yang berlimpah karena harus dibagi dua dengan ibunya dan juga dirinya.
"Mau bagaimana lagi Pah? Semua sudah kita upayakan tetapi sepertinya ya tetap begini saja, nanti saja mungkin siangan juga Mama bakalan mengajak dia ke dokter soalnya di sini kan alatnya lebih canggih kemudian sudah bulan lalu kan kami pergi mengecek kehamilannya Jadi sekarang sudah waktunya untuk berkunjung kembali!"jelas Silvia Terserah Kalau Adinda mau menolak atau tidak yang penting intinya wanita itu tetap pada pendirian bakalan mengurus anaknya dan juga cucunya Yang sebentar lagi pasti bakalan terlahir ke dunia dalam kondisi yang sempurna mengingat bibit dan bobot keluarga Baratayuda yang tidak bisa dianggap remeh.
"syukurlah kalau begitu Soalnya Sepertinya kita tidak boleh terlalu mengabaikan dengan kondisi Adinda mengingat seperti perkataan dokter dari awal, kalau kehamilannya sekarang itu masih rentan sebab usianya yang masih muda dan juga ini merupakan yang pertama!"ujar Hendra menyetujui keinginan istrinya itu karena memang harusnya seperti begitu jika Adinda malas tahu dan tempo dulu dengan kondisinya ya Otomatis mereka sebagai orang tua harus gerak cepat dan juga bisa menghandle semuanya agar Adinda tidak bisa seenak hatinya mengabaikan sesuatu yang memang dari awal merupakan hasil dari perbuatannya.
"Mama mau ke kamar Adinda nya dulu soalnya mau kasih tahu supaya dia bersiap-siap agar kami bisa berangkat, takutnya jangan sampai di sini macet seperti di Jakarta kan tidak lucu sampai di sana sore Terus pulangnya tengah malam tidurnya besok pagi! "jelas Silvia kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang kini mulai sibuk dengan ponselnya memeriksa pesan-pesan dan juga email yang masuk karena Biar bagaimanapun Ia datang ke tempat ini tidak bisa untuk duduk-duduk santai saja karena ada masalah Yang harus bisa diselesaikan secepat mungkin supaya setelah itu dirinya dan juga Silvia bakalan lebih serius Lagi mengurus Adinda yang tidak mau diurus oleh siapapun.
tok tok tok
"Adinda kamu di dalam? Boleh Mama masuk soalnya ada yang pengen Mama ngomongin ke kamu, ini penting Nak Tolong jangan mengabaikan Mama seperti yang biasa-biasanya kamu lakukan! "ujar Silvia menjelaskannya dengan nada penuh permohonan.
__ADS_1
"Iya Ma ada apa sih, Aku baru saja tidur dengan tenang eh tahu-tahunya mama malah nongol? Bisa tidak urusannya ditunda sebentar lagi soalnya aku belum mendapatkan tidur siang nih, Sudah begitu badanku lemah semua rasanya sudah tidak ada tulang-belulang yang tersisa?"pinta Adinda penuh permohonan karena ia yakin jika Silvia datang ke tempat ini pasti ada sesuatu hal yang penting yang menyangkut dirinya maka otomatis ya dengan tegas menolaknya dengan berbagai alasan rupa-rupa terserah nanti kalau mau menjadi kenyataan tidak masalah yang penting intinya ia tidak ingin pergi ke manapun.
Silvia memasang tatapan menyelidik ke arah putrinya itu sebab menurutnya Tadi Adinda terlihat baik-baik saja tidak ada masalah yang serius, Kenapa mendadak sekarang jadi terlihat lemah seperti itu seolah-olah dirinya Baru saja habis melakukan kerja berat?
"kamu Tolonglah ya Jangan berbohong kepada Mama Soalnya mama ini sudah senior urusan seperti begini, jadi lebih baik sekarang kamu bersiap saja nanti setengah jam Mama bakalan tunggu di bawah agar kita bisa segera check kondisi terbaru kamu di dokter yang ada di sini! Ingat tidak boleh menolak kalau tidak Mama benar-benar marah lho ke kamu, karena selama ini apa yang Mama Harapkan tidak pernah kamu lakukan seolah-olah Kami membawa kamu ke sesuatu yang tidak sehat. "tegas Silvia yang benar-benar tidak ingin dibantah karena memang cara berbicara dengan Adinda ya harus seperti itu tidak usah ada kehalusan dan juga nada menjadi dalamnya karena otomatis wanita itu pasti bakalan tidak peduli dan juga cuek.
"ya masih ada hari esok kan masa iya segala sesuatunya harus dilakukan hari ini juga, seolah-olah besok itu bakalan gempa bumi dan juga tsunami jadi sudah tidak bisa lagi ditunda? "tanya Adinda yang ngotot kalau dirinya tidak ingin pergi ke manapun tetapi Percayalah Silvia punya 1001 Cara agar anaknya itu tetap bakalan mau pergi tanpa harus menundanya.
"Oh jadi ceritanya kamu mau mempermainkan Mama sekali lagi, dengan cara menolak apa yang disuruh padahal itu sebenarnya untuk kebaikan kamu juga kan? jadi anak bisa tidak nurut sama orang tua sedikit saja tidak terlalu banyak kok yang Mama minta dari kamu, jangan terlalu egois juga dengan mementingkan diri kamu sendiri sampai-sampai melupakan kalau ada kehidupan lain yang sedang bergantung kepada kamu saat ini. "tidak marah tidak juga menuntut tetapi kata-kata yang dilontarkan oleh Silvia itu penuh dengan ketegasan berharap agar anaknya itu bisa paham Bagaimana jadinya menjadi seorang ibu yang mempunyai tanggung jawab yang begitu besar yaitu mengurus keluarga dan juga mengurus anak serta diri sendiri.
Adinda tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana Karena dirinya sangat paham dan juga hafal benar Bagaimana sikap Silvia ketika setiap kali permintaannya selalu ditolak mentah-mentah olehnya, bukan hanya sekali bahkan tidak terhitung sudah ratusan kali OTW ribuan mungkin karena dirinya selalu menolak dan juga tidak menginginkan perhatian dari siapapun yang menurutnya hanya akan membuat sesuatu yang ia tidak harapkan dalam hidupnya bakal menjadi subur dan juga menyusahkannya suatu saat nanti.
"Dasar anak kurang ajar bisa-bisanya loh menutup pintu kasar sekali seperti itu padahal jelas-jelas aku masih berdiri di sini, semoga saja jangan menjadi keterusan kalau tidak hidungku bisa patah tidak jelas seperti ini!"omel Silvia yang benar-benar tidak suka dengan kelakuan anaknya itu masa iya melakukan sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain seolah-olah dirinya yang berdiri di depan pintu itu hanya bayangan saja yang Numpang lewat tetapi sosok manusianya tidak ada sama sekali.
Adinda sebenarnya ogah-ogahan untuk bersiap-siap seperti yang tadi dikatakan oleh Silvia kepadanya, hanya saja Ia juga merasa tidak tega ketika mamanya itu menginginkan yang terbaik tetapi selalu saja dirinya menolak dan juga tidak pernah mau melakukannya.
"Hei bocah yang ada di dalam perutku sekarang ini semua itu gara-gara kamu, kalau bisa kamu keluar sekarang juga Biar aku tidak usah lagi diperlakukan seperti ini over protektif membuat tidak nyaman. "nah tuh kan bayi yang belum lahir saja pasti bakalan disalahkan oleh ibu hamil itu seolah-olah kehadiran bayi tersebut bukan atas kesalahan yang ia lakukan.
Kini singkat cerita mereka berdua sudah berada dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit yang terbesar dan juga intinya terdekat dengan kediaman mereka, Soalnya takutnya karena terlalu lama di perjalanan alhasil akan membuat Adinda berupa pikiran dan memilih untuk kembali pulang dan itulah yang diwaspadai oleh Silvia dari awal sebab bukan hanya sekali Adinda melakukan hal itu tetapi sudah berkali-kali.
__ADS_1
Sedangkan Hendra memilih untuk menuju ke kantornya menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena ingin pulang dan memastikan Apakah Devon tidak nyasar, sebab Biar bagaimanapun itu merupakan anak dari kliennya yang terpenting di negara itu dan juga merupakan teman masa kecilnya Adinda waktu dulu dia dengan kedua orang tuanya masih tinggal di Indonesia.
Adinda memilih untuk duduk di depan loket pendaftaran membiarkan Mamanya itu yang kocar-kacir ke sana kemarin untuk menanyakan persyaratan apa saja untuk bisa memeriksakan kondisi kesehatan di tempat itu, bukan tidak mampu langsung menuju ke ruangan dokter saja hanya saja Silvia itu yang memang kebiasaannya seperti itu tidak ingin terlalu mencolok di manapun dirinya berada.
Adinda memilih sibuk dengan ponselnya terserah Silvia mau melakukan apapun karena ini semua akan atas keinginan wanita tersebut, Jadi kalau misalnya Silvia kesusahan ke sana kemari ya itu merupakan risiko masing-masing dirinya tidak ingin ikut campur yang penting intinya ia sudah mau hadir dan juga menunggu di tempat itu sudah merupakan sebuah anugerah yang luar biasa.
"Adinda kita langsung ke bagian obgyn saja ya! Soalnya tadi Mama sudah sempat menghubungi Mamanya Devon karena katanya dia Kerjanya di sini juga dan bagian tersebut, jadi hal itu sepertinya tidak membuat kita kesulitan untuk bisa segera masuk ke dalam Soalnya Mama takut nanti kamu bakalan kabur!"jelas Silvia membuat Adinda mengerutkan keningnya karena Kapan Mamanya itu mendapatkan nomor dari wanita yang dimaksud olehnya tadi.
"Memangnya Mama tahu dari mana kalau mamanya telepon itu dokter di bagian obgyn?"tanya Adinda penasaran.
"Ya dari Papa lah soalnya kan Papanya dia pun itu kan bekerja sama dengan Papa jadi pasti sedikit-sedikit membahas hal-hal yang mengarah ke pribadi, Lagian kita juga kan dulu pernah saling mengenali mereka hanya kamunya saja yang sudah pikun akibat terlalu fokus dengan satu orang yang tidak berguna. "sindir Silvia membuat Adinda merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya menanyakan sesuatu yang tidak penting kepada Mamanya dan akhirnya dirinya pulalah yang kena semprot.
"Ternyata kalian suami istri ini suka sekali ya menstalking kehidupan orang lain, pada kehidupan kita saja tidak ingin dicari tahu oleh orang lain kenapa sih Kalian keponya minta ampun? "omel Adinda tidak terima tetapi Silvia memilih untuk menarik tangan anaknya itu agar segera mengikutinya ke tempat tujuan daripada menggubris dikatakan Adinda pasti pembahasannya tidak akan pernah habis sama sekali.
"Permisi suster sudah Buat janji dengan dokter Olivia, apa boleh kami masuk sekarang untuk bertemu dengan beliau? "tanya Silvia yang kebetulan di depan ruangannya dokter Olivia ada meja suster untuk bisa memberikan status medis milik pasien.
"Oh iya beli orang di dalam kebetulan sedang kosong soalnya kan Hampir mau mendekati jam makan siang, jadi Biasanya jam-jam seperti begini jadwalnya kami kosongkan agar bisa beristirahat selama beberapa jam. "jelas suster tersebut yang ketiga Silvia melihat name tag nya ada nama Claire di sana.
"Oke makasih ya Sus, kalau begitu kami permisi dulu masuk ke dalam untuk bertemu dengan dokter Olivia. "pamit Silvia yang tetap dalam agenda menarik tangan Adinda agar anaknya itu tidak bisa kabur.
__ADS_1