Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Merenggang


__ADS_3

"Kang Sofyan sebaiknya pulang" ucapku dingin.


"Kang Sofyan enggak bisa ninggalin Ratna dalam kondisi rapuh seperti ini" jawabannya lagi-lagi membuat hatiku terasa diremas.


"Ada atau enggak ada kang Sofyan disini, enggak akan berpengaruh apapun ke kak Ratna.Yang dibutuhkan kak Ratna hanya kak Marvel dan lagi... kak Ratna sekarang sedang hamil anak kak Marvel, jadi... sebaiknya kang Sofyan menjauh dari kak Ratna! jangan buat dia bertambah stress karena harus menghadapi laki-laki yang gagal move on kayak kang Sofyan!" ucapku tegas.


"Ratna hamil?" tanyanya tak percaya.


"Iya. Tolong kang Sofyan pulang aja!" ucapku. Kang Sofyan nampak frustasi.


"Terus kamu pulang sama siapa?" tanya kang Sofyan.


"Enggak usah mikirin aku pulang sama siapa, banyak laki-laki yang mau nganterin aku!" ucapku ketus.


"Kalau gitu kang Sofyan enggak akan pulang kalau enggak sama kamu" ucapnya tegas.


"Aku yakin, itu hanya alasan kang Sofyan aja, supaya dapat celah buat deketin kak Ratna lagi kan?" tanyaku sinis.


"Anggap aja begitu" ucapnya.


"Oke" aku mangut-mangut sambil menggigit bibir bawahku.


"Aku fikir, setelah apa yang kita lakukan bisa membuat kang Sofyan melupakan kak Ratna. Tapi ternyata..." aku tak melanjutkan ucapanku karena rasa sesak yang semakin mendera.


"Itu hanya ***! Enggak akan mengubah apapun. Tetap Ratna dihati kang Sofyan, enggak akan tergantikan oleh siapapun" jawabnya.


"Ya, Puja tahu dan Puja juga sadar diri kok" ucapku lalu pergi keruangan tempat kak Ratna dirawat. Saat di dalam, ternyata Toni dan Melodi masih disana. Melodi tengah tertidur pulas di sofa, sedangkan mas Toni tengah duduk dikarpet sambil memainkan ponselnya.


"Mas Toni enggak pulang?" tanyaku sembari ikut duduk disampingnya.


"Enggak lah, kasian bu Ratna. Nyonya besar juga berpesan agar menjaga bu Ratna dan Melodi untuk sementara sampai nyonya besar sampai kesini" jelasnya.

__ADS_1


"Bu Inggrid mau kesini?" tanyaku.


"Iya" jawab mas Toni sambil mengangguk.


"Mas Toni lagi lihat film apa, kok kayaknya serius banget" tanyaku.


"Film action, mau lihat?" tanyanya.


"Emang boleh?" tanyaku. Mas Toni mengangguk lalu aku duduk didekatnya dan menonton film itu dengan jarak yang sangat dekat.


Entah karena aku merasa lelah, atau memang sudah ngantuk berat, lama-lama aku memejamkan mataku dan akhirnya tidur dengan menyender ke pundak mas Toni.


********


Pagi harinya, aku terbangun dengan posisi berbaring dikursi tunggu rumah sakit dengan bantalan paha kang Sofyan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan melihat wajah kang Sofyan yang juga tengah tertidur. sambil terduduk dan menengadah.


"Kang Sofyan" ucapku. lalu bangkit untuk berganti posisi menjadi duduk. Kang Sofyan ikut terbangun.


"Udah bangun kamu!" ucapnya ketus dengan wajah dinginnya.


"Kenapa? bingung karena tidur disini? kecewa karena gagal tidur sama si Toni?" tanyanya sengit.


Aku bingung harus menjawab apa. Lalu memutuskan untuk diam saja tanpa menyahuti.


"Pantesan di ajak pulang enggak mau, ternyata mau pacaran sama si Toni!" ucapnya nyelekit.


"Puja cuma enggak sengaja ketiduran" ucapku pelan.


"Alah, alesan! sekalinya murahan tetap aja murahan!" ucapnya kasar.


"Terserah deh, Puja mau lihat kak Ratna dulu" ucapku sambil beranjak berdiri, namun lenganku keburu dicekal olehnya.

__ADS_1


"Ayo pulang! Ratna udah dijagain mertuanya!" ucapnya dengan tatapan marah.


"Ya udah, tapi Puja mau pamitan dulu, masa maen pulang gitu aja" ucapku tak kalah sengit.


"Alesan! paling juga mau ketemu sama si Toni!" jawabnya.


"Please,! 5 menit aja. Enggak lebih" ucapku memohon.


"Saya ikut!" ucapnya ketus.


"Ya udah ayok" ucapku.


Setelah itu kami berpamitan pada kak Ratna, sebenarnya aku merasa tidak enak karena tidak bisa menjaga kak Ratna. Tapi tante Inggrid meyakinkanku bahwa kak Ratna akan baik-baik saja. Dia dan yang lain akan menjaga kak Ratna dengan baik. Dengan berat hati dan perasaan berkecamuk akhirnya aku ikut pulang dengan kang Sofyan.


********


Sebulan sudah sejak kecelakaan kak Marvel, tapi jasadnya hingga kini tidak ditemukan. Kak Ratna terlihat sangat terpukul dan akhirnya ibu mertuanya meminta kak Ratna untuk pindah ke Jakarta. Aku senang, karena kak Ratna dikelilingi orang-orang baik yang menyayanginya. Setelah kepergian kak Ratna ke Jakarta, kang Sofyan terlihat lebih murung. Aku sudah tidak perduli, dan hubungan kami sejak pulang dari rumah sakit hingga kini malah semakin merenggang. Kami hanya bicara seperlunya. Entahlah, lama-lama kang Sofyan malah semakin sulit tergapai. Aku merasa pernikahan ini tidak punya masa depan.


Pagi itu Melodi dan mas Toni kembali datang kerumah ini, tentu saja karena Melodi ingin meminta bantuan kang Sofyan untuk mengerjakan beberapa tugasnya.


"Yang ke tambak, saya sama Melodi aja. Kamu pulang aja" ucap kang Sofyan pada mas Toni.


"Tapi..." mas Toni merasa ragu lalu melirik ke arahku.


"Enggak apa-apa kak, lagian buat apa sih ke tambak rame-rame. Melodi cuma sebentar kok, foto-foto aja sama tanya-tanya" sela Melodi.


"Ya udah, berangkat sana" ucapku sembari masuk kedalam rumah. Entah sampai kapan kang Sofyan akan menyakitiku. Rasanya aku capek sekali.


Sore harinya kang Sofyan pulang dengan wajah sumringah.


"Puja, si Melodi tu ternyata anaknya lucu ya, humoris dan gampang bergaul. Temen-temen kang Sofyan aja pada seneng sama dia" ucapnya saat berpapasan denganku didapur.

__ADS_1


"Iya kang" jawabku pelan.


'Apa aku menyerah saja ya?' gumamku saat melihatnya masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2