
Dila kini sudah berada di sebuah cafe untuk memenangkan dirinya. Sejak tadi dia hanya menatap makanan dan minuman didepannya tanpa memakannya. Pikirannya jauh menerawang soal perjodohan Alya dan Bagja.
"Apa aku menyerah saja? Alya sahabat aku, Aa Bagja juga sepertinya enggak suka sama aku. Boro-boro suka yang ada dibentak-bentak mulu. Bunda juga kepengen punya mantu idaman seperti Alya, tapi rasanya kenapa sakit banget yah, apa ini yang namanya patah hati? tapi aku harus kuat. Aku harus bisa ngelupain perasaan aku." ucap Dila mencoba menyemangati dirinya sendiri. Lalu setelah itu dia mengetik pesan kepada seseorang untuk memastikan sesuatu. Dan seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alya. Dila ingin menanyakan perasaan Alya kepada Bagja.
(Al, lagi apa?) Dila.
ting
(Lagi istirahat nih, baru selesai shalat dzuhur) Alya.
(Oh, aku mau tanya sesuatu, tapi kamu jawab jujur ya...!) Dila.
Ting
(Tanya apa?) Alya.
(Kamu suka enggak sama Aa Bagja? maksud aku, kamu ada perasaan enggak sama dia?) Dila.
ting
(Loh kok ujug-ujug tanya itu?) Alya.
(Aku enggak sengaja denger kalian akan dijodohkan oleh bunda dan tante Risma) Dila.
Ting
(Masa sih? kamu enggak lagi bercanda kan?) Alya.
(Enggak. Aku serius. Terus gimana? aku penasaran nih.) Dila.
Ting
(Kalau itu benar, tentu aja aku enggak nolak. Aku enggak munafik, Aa Bagja adalah laki-laki idaman semua perempuan termasuk aku) Alya.
(Oh, selamat ya) Dila.
Ting
(Belum juga terjadi udah selamat-selamat aja) Alya.
(Kalian pasti jodoh lah, udah pasti itu mah. Ya udah Al, aku mau makan dulu dah laper nih) Dila.
__ADS_1
Ting
(Oke) Alya.
Dila memasukkan ponselnya kedalam tas kecil miliknya. Dia merasa semakin frustasi dan juga sesak. Ternyata Alya memiliki perasaan yang sama untuk Bagja.
//
Malam hari.
"Dila dari mana aja baru pulang?" tanya Iis.
"Main kerumah temen." jawab Dila lesu.
"Temen yang mana? maghrib-maghrib baru pulang. Enggak pantes anak perawan kelakuannya begitu." ucap Iis.
"Ma, please lah, Dila capek jangan diinterogasi terus." jawab Dila lalu masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Brakk!!
"Dila kenapa mah?" tanya Mahmud yang muncul dari arah dapur.
"Entah tuh, ditanyain malah melengos kedalam kamar, enggak sopan sama orang tua." ucap Iis.
"Kang kok jadi belain dia sih, Iis kan cuma mau mendidik Dila supaya bersikap lebih dewasa dan lebih sopan dalam bersikap kepada orang tua." ucap Iis.
"Tapi jangan dibentak-bentak juga. Dia anak perempuan loh, memperlakukannya harus secara halus. Memang kamu suka dikasarin? coba posisikan diri kamu sebagai perempuan, mana ada perempuan yang suka dikasarin?" tanya Mahmud.
"Terus aja dimanja, lihat tuh udah besar belum becus ngapa-ngapain." ucap Iis. Mahmud mengelus dadanya lalu memeluk Iis dari belakang.
"Sabar atuh sayang, banyakin sabarnya, akang yakin anak kita juga akan berfikir dewasa suatu saat nanti. Udah ayo siapin makan, kang Mahmud udah lapar nih." ucap Mahmud.
"Iya tapi..."
"Udah ayo. Dila biar akang yang nasehatin." ucap Mahmud.
"Ya udah, Iis siapin makan malam dulu ya." ucap Iis yang pada akhirnya melunak.
//
Sementara itu dirumah Sofyan Puja dan ketiga prianya sedang menikmati makan malam bersama, seperti biasa yang berisik dan bersuara hanya Puja dan Vino. Sedangkan Bagja dan Sofyan diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Mah, ayah tadi kejaam banget sama Vino mah, ngasih kerjaan makin hari makin banyak dan bikin kesel. Vino sampai capek mah. Padahal minggu depan udah mulai masuk kuliah." ucap Vino mengadu.
"Apa iya? tapi mamah dukung ayah kamu, biar kamu makin semangat dan tambah kuat sayang. Inget kamu itu calon kepala keluarga harus bisa kerja dong masa mau main terus." ucap Puja menasehati.
"Iya tapi. enggak kerja kasar juga kali mah." ucap Vino.
"Tapi perempuan suka yang kasar." ucap Puja sambil melirik Sofyan.
"Jadi ayah suka kasarin mamah?" tanya Vino yang salah mengartikan ucapan Puja.
"Enggak bukan gitu sayang, itu..."
"Udah lanjut makannya jangan banyak omong." ucap Sofyan yang tak suka jika sedang makan sambil bicara.
"Tapi yah, Vino enggak terima loh kalau ayah kasarin mamah!" ucap Vino nyolot. Sofyan hanya menggeleng lalu menatap Puja dengan tatapan penuh arti. Wah, sepertinya malam ini Sofyan akan menghukumnya sampai pagi.
Setelah semua selesai makan malam dan kembali kedalam kamar masing-masing, Puja yang tengah membereskan piring dimeja makan teringat akan rencana perjodohan nya dengan Risma tadi siang. Dia mencoba menghampiri Bagja ingin bicara dari hati ke hati.
Klek!
Benar dugaan Puja, Bagja masih sibuk dengan laptop dan pekerjaannya.
"Besok lagi atuh sayang, kerja juga kudu tahu waktu." ucap Puja yang kini duduk disisi Ranjang.
"Nanggung mah, tinggal sedikit lagi. Rasanya belum plong kalau belum selesai." ucap Bagja.
"Mama juga rasanya belum plong karena sampai sekarang kamu belum ngenalin calon menantu." ucap Puja. Bagja mematikan laptopnya dan berbalik kearah Puja.
"Ada apa mah, langsung saja." ucap Bagja.
"Kalau mama minta kamu untuk segera menikah gimana? mama mau jodohin kamu sama anak sahabat mama." ucap Puja.
Deg
Bagja tersenyum kecil. Apa jangan-jangan anak sahabat yang dimaksud mamanya adalah Dila? mamanya akan menjodohkannya dengan Dila?
"Apa mama yakin dia wanita yang tepat untuk Bagja? karena..."
"Mama yakin seratus persen. Dia cantik, baik, pokoknya cocok sama kamu." sela Puja.
"Bagja mau." jawab Bagja dengan mantap karena difikiran nya Puja akan menjodohkannya dengan Dila. Walaupun dia sendiri merasa ragu apakah Dila bisa menjadi istri yang baik untuknya tapi melihat kedekatan Dila dan mamanya sudah cukup membuat Bagja menerima perjodohan ini. Dila adalah wanita yang bisa mengambil hati sang mama, itu adalah nilai plusnya. Apalagi jika berdekatan dengan Dila sesuatu miliknya selalu bangun dan meronta-ronta, Bagja tak menampik dia sudah terpikat dengan pesona Dila. Namun dia sangat pandai menutupi itu semua dengan sikap dingin dan cueknya. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitupula selera Sofyan dan Bagja yang sama-sama suka wanita nakal dan menantang.
__ADS_1
"Yes..! ya udah kalau gitu, mama telfon temen mama dulu mau kasih tahu kalau kamu udah setuju. Dia pasti senang." ucap Puja. Setelah itu Puja keluar dari kamar Bagja dengan hati senang dan berbunga-bunga. Sedangkan Bagja memilih membaringkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamarnya. Dia terbayang-bayang saat Dila mencium bibirnya ditaman tadi, walaupun singkat tapi hingga sekarang Bagja dapat merasakan bibir manis nan kenyal milik Dila. Bagja terpejam dan menyentuh bibirnya dengan jarinya lalu membayangkan ciuman yang lebih lama bersama Dila.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻