
Kang Sofyan memejamkan matanya saat menerima pijatan demi pijatan dariku. Sepertinya dia sangat menikmatinya.
"Kalau capek, istirahat. Mijetnya nanti lagi aja" ucapnya.
"Enggak kok, enggak capek" jawabku.
"Udah dulu aja, kang Sofyan masih mau benerin jaring yang bolong-bolong" ucapnya.
"Ya udah" jawabku sambil menghentikan pijatanku.
"Eh, kang.." ucapku menghentikannya.
"Iya kenapa?" tanyanya.
"Tangkapin ikan ya, pengen bakar ikan" ucapku seraya tersenyum.
"Mau ikan apa?" tanya kang Sofyan.
"Adanya ikan apa?" aku balik bertanya.
"Ikan mas, Nila, gurame juga ada, bawal, patin" ucapnya.
"Nila aja deh kang, yang gede ya..." pesanku.
"Nangkap sendiri aja, kalau mau, tuh disebelah sana, pake itu" ucapnya sambil menunjuk ke arah jaring penangkap ikan.
"Emang boleh?" tanyaku.
"Ya boleh, tinggal pilih mau yang mana" ucapnya.
"Ajarin ya... nangkepnya" ucapku manja.
__ADS_1
"Ayo..." ajaknya. Setelah mengambil jaring penangkap ikan, aku dan kang Sofyan berjalan menyusuri bambu tambak, kang Sofyan terus memegangi tangan dan pinggangku agar tak terjatuh.
Setelah sampai ditambak yang berisi ikan dewasa/siap panen, kang Sofyan langsung menyuruhku duduk dan melempar pakan yang kami bawa. Ikan-ikan itu bermunculan ke permukaan.
"Lucu ikannya ih, banyak banget. Puja malah enggak tega mau bakarnya" ucapku.
"Ada-ada aja" ucapnya sambil mengacak pelan rambutku.
"Topinya enggak dipake" ucapnya setelah menyadari aku yang tak memakai topi.
"Eh, iya lupa kang"
"Panas loh, udah balik ke saung ikannya biar akang yang nangkep" ucap kang Sofyan.
"Enggak apa-apa sebentar doang" ucapku.
"Ya udah" jawabnya lalu dengan cekatan kang Sofyan menyerok ikan-ikan itu dengan jaring penangkap ikan.
"Itu yang gede" tunjukku.
"Satu aja?" tanyanya.
"Satu aja, kalau banyak-banyak nanti kang Sofyan rugi, kalau rugi enggak akan bisa kasih Puja duit" jawabku bercanda. Kang Sofyan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu membawa ikan yang ku pilih tadi. Setelah itu, kami kembali lagi kesaung.
Setelah membersihkan ikan itu dan menusuknya dengan bambu, kang Sofyan menghidupkan api di hawu (Tungku yang terbuat dari tanah liat) yang sudah berisi kayu-kayu dan ranting-ranting kecil. Aku mengambil ikan itu dan melumurinya dengan garam dan kecap.
Setelah api menyala, dan menghasilkan bara merah, aku mulai membakar ikan itu.
"Bakar ikan aja enggak bisa" ucap kang Sofyan yang berada dibelakangku. Tangannya memegangi tanganku dan mengajariku cara membakar ikan dengan benar, wajah kami cukup dekat, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Tak sengaja kami saling memandang. Kang Sofyan mendekatkan wajahnya kewajahku. sedangkan tangan satunya melingkar diperutku.
Cup
__ADS_1
Bibir kang Sofyan menyentuh bibirku, lalu menyapu hangat ke setiap rongga mulutku, menyesapnya dengan lembut dan perlahan. Aku memejamkan mataku menikmati ******* demi ******* yang membuatku merasa terbang ke awan. Sebelum terlarut semakin dalam, kang Sofyan melepas pangutan kami. Lalu aku spontan membuka mataku. Kami saling memandang dan seketika menjadi salah tingkah.
"Nanti ikannya gosong" ucapnya dengan wajah gugup.
"I-iya" jawabku pelan sambil menundukkan wajahku. Ish! kenapa rasanya jadi gugup begini sih, ini lagi jantung melompat-lompat kayak mau loncat. Aku membuang pandanganku ke arah lain untuk menutupi rasa gugupku.
Setelah beberapa menit, akhirnya ikan itu sudah matang. Kang Sofyan meletakkannya di atas daun pisang, yang sempat dibawanya dari rumah.
Setelah itu kami menikmati makan siang bersama dengan lauk ikan bakar dan juga sambel goang (sambel korek/bawang). Ternyata makan ikan bakar diatas saung apung seperti ini rasanya sangat nikmat. Apalagi makannya bersama orang yang kita cintai. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan, Puja!
"Enak kang ikannya" ucapku sambil menikmati ikan bakar itu dengan lahap.
"Padahal yang kerja kang Sofyan, tapi yang ngabisin ikannya malah kamu!'' ucapnya meledek. Aku tak perduli dan masih melanjutkan menikmati ikan bakar itu, apalagi bagian kepala dan matanya, enak sekali.
"Kebiasaan kalau makan sampai belepotan gini" ucapnya sambil menyusut bekas kecap dipipiku. Pipiku bersemu merah, lagi-lagi kang Sofyan bersikap manis. Kalau begini terus, aku rela deh ikut tiap hari ke tambak.
********
Setelah terdengar kumandang adzan, aku dan kang Sofyan bersiap-siap untuk kembali kerumah.
Sesampainya di warung tempat penitipan motor, tak sengaja kami bertemu dengan seorang wanita yang menatap nanar kearah kang Sofyan.
"Kang Sofyan" sapanya.
"Risma" ucap kang Sofyan.
"Dia siapa kang?" tanya wanita itu.
"Ini Puja, istri kang Sofyan" jawab kang Sofyan pelan. Aku melihat raut tak enak dari wajah kang Sofyan.
"Puja? bukan Ratna?" tanyanya.
__ADS_1
"Bukan" jawab kang Sofyan singkat. Aku semakin tak mengerti, dia itu sebenarnya siapa? kenapa wajahnya terlihat sedih saat kang Sofyan mengenalkan aku sebagai istrinya?