Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Pov Sofyan 2 (isi hati)


__ADS_3

Setelah kejadian itu hubunganku dengan Puja sedikit membaik, aku berusaha untuk bersikap lebih lembut padanya, keesokan harinya, aku mengajak Puja ke tambak milikku dibendungan. Saat akan naik keperahu kecil milikku, Puja terlihat ragu-ragu. Sepertinya Puja tidak pernah naik perahu kecil seperti ini. Ekspresinya sangat lucu saat baru naik perahunya bergoyang-goyang. Aku membantunya, dan memegangi tangannya dan juga pinggang rampingnya. Sepanjang perjalanan menuju saung apung, Puja terus mencelupkan jari-jemarinya kedalam air bendungan, sepertinya dia sangat menikmati momen seperti ini. Puja terlihat sangat cantik dengan anak rambut yang sesekali berterbangan karena angin yang bersemilir. Aku terus memandanginya, semakin dipandang, malah semakin manis dan cantik.


Akhirnya kami sampai ditambak, aku meminta Puja untuk menunggu dikamar yang berada disaung apungku agar Puja tidak kepanasan. Setelah hari menjelang siang, aku beristirahat dari pekerjaanku yang melelahkan, aku membakar ubi hasil panen dari kebun emak, karena merasa lapar, aku lupa membawa makanan ke saung apung ini. Tapi ternyata tanpa ku sangka, Puja sudah keluar dari kamar sempit itu dan tengah memandangiku yang tengah melahap ubi bakarku. Sepertinya Puja terlihat ingin, tapi dia gengsi mengatakannya. Dengan sedikit paksaan akhirnya Puja menerimanya. Dan benar dugaanku, Puja terlihat sangat lahap memakan ubi bakar itu, sampai noda hitam dari kulit ubi yang dibakar menempel dipipinya. Lucu sekali, dan terlihat sangat menggemaskan. Aku mengelus lembut pipinya, namun aku malah larut dan terbawa suasana.


Entah kenapa aku selalu bernafs* jika berada didekat Puja, Puja benar-benar menjeratku dengan pesonanya. Untungnya temanku datang saat aku hendak mencium Puja, jika tidak, mungkin saja aku sudah melahapnya ditambak itu. Aku merasa semakin tidak waras karena terus berfikiran mesum ketika berada didekat Puja. Kami memutuskan untuk pulang kerumah, Puja bilang dia kebelet buang air kecil. Sesampainya dirumah, ternyata sudah ada Toni dan Melodi.

__ADS_1


Aku merasa Toni menyukai Puja, dari tatapannya dan sikapnya tersirat jelas perasaan Toni untuk Puja, dan aku mengepalkan tanganku saat mendengar obrolan mereka yang bilang bahwa Toni sempat main ke kos-kosannya Iis, saat Puja kabur kemarin. Padahal, saat kerumah suami Ratna, aku menanyainya dan dia bilang tidak tahu. Sial*n Toni!


Aku marah, aku merasa dadaku terbakar saat membayangkan Puja dan Toni bertemu dibelakangku. Aku jadi berfikir mereka memiliki hubungan khusus.


Saat Melodi dan Toni sudah pulang, aku langsung menanyainya, dan aku semakin murka saat Puja mengatakan jika dia dan Toni memang dekat. Aku marah-marah dan terus mencacinya, menghinanya dan mengatakan bahwa Puja murahan! tapi, Puja malah mendekatiku, dan merayuku dengan tingkah nakalnya. Tentu saja, setelah itu aku kembali mengagahinya diatas ranjang dengan penuh gairah bercampur emosi, aku melampiaskannya. Puja benar-benar memiliki sesuatu yang membuatku merasa kecanduan. Entahlah, yang jelas tubuhnya benar-benar indah dan sangat menggoda. Aku selalu saja tidak tahan jika berada didekatnya.

__ADS_1


Aku malah melampiaskan kekesalan dan rasa sakit hatiku kepada Puja dengan cara menyakitinya berulang-ulang. Dan juga sengaja membuatnya cemburu dengan kedekatanku bersama Melodi. Padahal, aku dan Melodi hanya bicara seperlunya saja, aku menyuruh Mahmud yang menemani Melodi untuk keperluan penelitiannya. Aku sendiri fokus bekerja. Aku hanya terlihat dekat dengan Melodi saat didepan Puja saja, karena aku merasa geram Puja terlihat seperti tidak cemburu sama sekali.


Siang itu, Melodi memintaku untuk mengantarnya kerumah ku, katanya ada yang ingin dibicarakannya dengan Puja, tapi saat aku sampai dirumah, aku melihat Toni sedang memeluk Puja. Aku murka lalu memukulnya dan menghajarnya. Rasanya aku ingin menghabisinya saat itu karena berani-beraninya menyentuh istriku. Aku yang diselimuti amarah, menampar Puja begitu saja. Aku sakit melihatnya dengan pria lain, aku tidak rela, aku tidak ikhlas milikku disentuh tangan pria lain. Puja hanya milikku seorang. Hanya milik Sofyan Ali. Namun karena perbuatanku yang sudah keterlaluan, Puja meminta cerai. Dia bahkan sampai bersujud dikakiku agar aku membebaskannya. Enak saja! pasti setelah bercerai dia akan bersama dengan si Toni sopir brengs*k itu! tidak, tidak akan aku biarkan.


Apalagi saat Puja mengatakan perasaanya, bahwa dia telah jatuh cinta kepadaku. Aku sangat senang saat itu dan semakin tidak ingin kehilangan Puja. Aku meminta maaf pada Puja, dan berkata aku akan melepaskannya agar Puja berhenti menangis. Dan benar saja, karena terbawa susana akhirnya kami berakhir diatas ranjang. Setelah percintaan panas itu, Puja kembali bertanya dan memastikan tentang ucapanku. Tentu saja dengan tegas aku mengatakan aku tidak akan menceraikannya sampai matipun tidak akan pernah. Sampai kapanpun, Puja hanya milikku. Milik Sofyan Ali.

__ADS_1


Setelah itu, aku merasa lapar lalu menyuruh Puja untuk menyiapkan makanan. Puja menurut, walaupun hanya berlauk mie goreng dan telur ceplok tapi aku menganggapnya istimewa. Setelah makan, Puja menawarkan diri untuk memijatku, tentu saja aku mau. Ternyata bukan hanya tubuhnya saja yang enak, tapi pijatannya juga enak. Karena Puja sudah memijatku aku menyuruhnya untuk meminta sesuatu padaku sebagai hadiah, karena sejak menikah, aku belum pernah memberinya apapun. Hanya uang saja, tapi ternyat uang itu masih utuh. Dan saat dia mengatakan apa yang diinginkannya, aku hanya diam membeku. Mulutku tergembok dengan rapat, entahlah kemana hilangnya kunci itu hingga aku tak bisa membuka mulutku barang sedikitpun.


'Kang Sofyan udah kasih buat Puja sayang, akang juga cinta sama Puja' begitulah isi hatiku yang komat kamit tanpa bisa didengar. Sepertinya, Puja harus belajar ilmu batin agar bisa mendengar isi hatiku.


__ADS_2