
Keesokan harinya pernikahan Risma dan Mahmud digelar secara tertutup dengan dihadirkan beberapa orang saksi termasuk Sofyan dan Puja. Awalnya Puja tak mau ikut, tapi Sofyan memintanya untuk ikut agar tak ada kesalahfahaman lagi diantara mereka. Sofyan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melibatkan Puja dalam hal sekecil apapun, tak ada lagi yang ditutup-tutupi.
Dan setelah ijab qobul selesai diucapkan dan kata sah menggema diruangan sempit itu, kini Risma dan Mahmud telah sah menjadi sepasang suami istri membuat Puja bernafas lega, setidaknya Risma tak akan mengusik pernikahannya dengan Sofyan lagi. Walaupun dia sendiri tak tahu bagaimana kedepannya akankah ada kerikil atau bebatuan yang lebih besar mengganggu hubungan pernikahan mereka.
"Selamat ya Risma. Semoga pernikahan kamu dan Mahmud samawa." ucap Puja tulus walaupun masih terselip rasa kesal pada wanita yang tengah dipeluknya itu. Kini mereka tengah berada dikamar Mahmud, kamar yang dijadikan kamar pengantin ala kadarnya.
"I-iya. Maafin Risma ya." ucap Risma lirih.
"Aku bakalan maafin kamu kalau kamu bisa lupain kang Sofyan dan memulai kehidupan baru kamu bersama Mahmud." ucap Puja.
"Aku..."
"Ya, aku tahu kamu pasti sulit melupakan kang Sofyan. Karena suami aku itu memang luar biasa. Tapi enggak ada salahnya kan mencoba menerima Mahmud sebagai suami kamu, aku yakin perlahan-lahan perasaan itu hilang." ucap Puja mencoba bijak.
"Makasih Puja, sekali lagi aku minta maaf." ucap Risma.
"Iya. Oh iya, ini ada sedikit hadiah untuk pernikahan kalian. Dipake ya." ucap Puja seraya menyerahkan bungkusan kado kepada Risma.
"I-ini apa Puja?" tanya Risma.
"Nanti dibuka aja." ucap Puja seraya tersenyum tipis.
"Aku malah jadi ngerepotin kamu pake ngasih hadiah segala." ucap Risma.
"Aku enggak repot kok. Cuma ngabisin duit doang dimana repotnya?" ucap Puja sambil terkekeh kecil.
"Yang repot kang Sofyan banting tulang. Tapi aku salut sama kamu, bisa gitu meluluhkan perasaan kang Sofyan sampai bisa move on dari teh Ratna." ucap Risma.
__ADS_1
"Ya bisa dong, aku kan agresif! enggak pasif kayak kamu. Tiap hari aku kasih servis gimana enggak kelepek-kelepek coba!" ucap Puja ceplas-ceplos.
"Ish kamu mah Puja kalau ngomong enggak disaring dulu." ucap Risma malu.
"Kamu praktekin juga ke Mahmud, perjaka ting-ting seperti mereka kudu disosor duluan. Kalau perlu ambil kendali permainan, kamu yang diatas, buat dia merem melek.. hehe" saran Puja.
"Ngomong apa sih kamu." ucap Risma bertambah malu.
"Dikasih resep kok nolak, itu resepnya supaya suami makin sayang dan cinta." ucap Puja.
"Udah ah, kamu mah makin ngaco.!" ucap Risma sambil menoyor tangan Puja.
"Ya udah aku keluar dulu ya, suami kamu pasti udah gak sabaran pengen ngekepin kamu." ucap Puja kembali menggoda Risma. Kemudian dia berjalan menuju pintu keluar.
"Puja.. tunggu!" ucap Risma.
"Kenapa lagi?" tanya Puja.
"Iya sama-sama Risma." jawab Puja. Setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar itu.
Klek!
"Udah kasih hadiahnya? lama banget?" tanya Sofyan yang sudah menunggunya.
"Udah, ayuk pulang, Bagja nanti keburu rewel." ajak Puja.
"Bukan cuma Bagja aja yang rewel. Tapi ayahnya juga." goda Sofyan.
__ADS_1
"Ish! kenapa ayahnya ikut-ikutan rewel?" tanya Puja.
"Ya iyalah. Udah sebulan lebih gak dapet jatah." jawab Sofyan.
"ish dasar aki-aki mesuum!" ejek Puja.
"Akang masih gagah begini dibilang aki-aki?" ucap Sofyan tak terima. Puja tak menggubris dan memilih untuk menemui Mahmud dan emaknya untuk berpamitan.
"Puja pulang dulu ya mak, Mud. Sekali lagi selamat ya, jagain Risma." ucap Puja.
"Iya teh, sekali lagi terimakasih banyak." jawab Mahmud.
"Oh iya Mud, ini ada sedikit hadiah. Jangan dilhat isinya ya, tapi keikhlasannya." ucap Puja seraya menyelipkan amplop tebal ke tangan Mahmud.
"Teh, enggak usah ngerepotin. Kang Sofyan juga udah ngasih tadi" tolak Mahmud.
"Ya beda lagi atuh Mud, ini kan dari saya. Udah terima aja, bisa kamu pake buat keperluan Risma." ucap Puja memaksa.
"Ya udah teh kalau maksa Mahmud terima, makasih banyak teh." jawab Mahmud sembari menerima amplop tebal tersebut.
Setelah itu, Puja dan Sofyan akhirnya pulang kerumahnya. Namun Sofyan masih dalam mode kesal karena dikatai 'aki-aki' oleh Puja.
"Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Puja.
"Fikir aja sendiri!" jawab Sofyan sewot.
"Ish, gitu aja marah." ucap Puja seraya mendekat kearah Sofyan lalu mengalungkan tangannya ke leher Sofyan.
__ADS_1
"Mau diatas apa dibawah?" tanya Puja menggoda Sofyan yang langsung membuat mata suaminya berbinar-binar.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁