
Setelah membersihkan diri selepas pergulatan panasnya dengan Puja, Sofyan langsung mengajak Vino ke gambarnya, namun sebelum itu, dia mengantar Puja ke salon terlebih dahulu. Disana Puja sudah disambut Iis dengan wajah keheranan, karena tak biasanya Puja terlambat datang.
"Tumben siang baru dateng, biasa juga pagi." ucap Iis penuh selidik.
"Kan anak bujang yang satu lagi pulang, wajar kalau kesiangan. Repot banget tadi dirumah." bohong Puja.
"Masa? yakin hanya karena itu doang? enggak ada tugas lain?" sindir Iis.
"Iya ih, enggak percayaan kamu mah." ucap Puja.
"Enggak percaya lah, Puja mana bisa dipercaya kalau urusan ranjang!" ucap Iis sembari menekankan kata 'ranjang'.
"Iih.. apa sih, udah tua juga su'udzon aja." ucap Puja.
"Coba sini aku periksa dulu lehernya, pasti dibalik jilbab kamu ada..." Iis tak melanjutkan ucapannya begitu mendapat pelototan tajam dari Puja.
"Diam! malu ih kedengeran sama karyawan." bisik Puja.
"Tuh kan berarti bener, emang dasar ya, udah tua juga masih aja aktif di ranjang." ceplos Iis.
"Ya harus atuh is, biar makin lengket dan harmonis, lagian selama masih sama-sama kuat, apa salahnya." ucap Puja tak tahu malu. Ah dia memang dari dulu tak pernah berubah, tidak tahu malu jika menyangkut hal itu-itu. Hanya saja penampilannya kini berubah, Puja sudah berhijab dan menutup auratnya secara sempurna, nyatanya Sofyan berhasil membawa Puja ke jalan yang lebih baik. Selama ini Sofyan memperlakukannya seperti ratu, Puja benar-benar beruntung mendapatkan Sofyan.
"Diih!! apa enggak encok?" tanya Iis.
"Enggak ada kamusnya kang Sofyan encok saat bercinta. Suami kamu kali." tudung Puja.
"Enggak lah, suami Iis juga sama masih oke dan kuat banget membuat kasur bergoyang." ucap Iis tak mau kalah.
"Udah ah, malu atuh ibu-ibu ngomongin ranjang mulu. Gimana rame enggak tadi?" tanya Puja.
"Lumayan lah, jaman pelakor banyak ibu-ibu dateng ke salon takut suaminya diambil orang" celoteh Iis.
"Ya bagus atuh Is, salah satu ikhtiar untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Tapi sebenarnya kalau soal suami selingkuh mah gimana pribadinya sih, kalau emang dasarnya gatel dan enggak puas sama satu perempuan mah mau segimana cantik istrinya tetep aja ngelirik perempuan lain. Malah enggak jarang loh pelakor yang malah lebih jelek dari istri sah." ucap Puja.
"He,em.. bener tuh, eh bentar Puja ini si Dila nelfon entah mau apa." ucap Iis sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Beberapa saat kemudian...
"Bubuuuuuun....!" Dila berteriak sambil berlari dan berhambur kepelukan Puja yang tengah membaca majalah. Puja tersenyum lalu balas memeluk Dila, anak Iis yang sangat lengket dengannya.
"Dari mana aja, kok enggak bareng mamah kamu kesini?" tanya Puja.
"Tadi mamah suruh nyuci sama beberes dulu bun, pegel niih." ucap Dila manja.
"Duh anak bunda, mana yang pegel sini bunda pijitin." ucap Puja sembari melihat tangan dan jari-jari lentik Dila yang dijulurkan dan diperlihatkan kepadanya.
__ADS_1
"Eh, jangan bun.." tolak Dila.
"Loh kenapa?" tanya Puja.
"Nanti bunda capek, udah ah aku bawa oleh-oleh loh dari bandung kemaren." ucap Dila sembari mengeluarkan sebuah kotak kue dari paper bag yang dibawanya.
"Ini aku bawa bolu susu lembang kesukaan bunda." ucap Dila.
"Oh ya ampuuun bunda jadi ngerepotin." ucap Puja.
"Iih kayak kesiapa aja loh." ucap Dila sambil memeluk Puja.
"Hmmm,, mamanya sama bapaknya mah cuma dibeliin boleh pisang, buat bundanya mah bolu susu lembang, dasar anak durhakim!" celetuk Iis.
"Bun ada yang cemburu tuh" ucap Dila.
"Udah biarin aja, mendingan kita sama-sama makan bolunya." ucap Puja.
"Eh, enggak usah bun. Bawa buat dirumah aja, buat ayah sama Aa Bagja." ucap Dila.
"Buat Vino juga kan." Goda Puja.
"Iih enggaklah, enggak usah dikasih dia mah nyebelin bun!" ucap Dila kesal.
"Iya tapi nyebelin. Kenapa sih harus dia yang anak bunda, kenapa enggak Dila aja." ucap Dila cemburu.
"Ya nanti kalau kamu nikah sama Vino, Dila juga jadi anak bunda. hehe" Goda Puja.
"Iih enggak mau bundaaa...!" Dila semakin kesal.
"Terus maunya sama siapa?" tanya Puja.
"Sama Aa Bagja." ucap Dila manja.
"Oohh... mau sama Aa Bagja katanya mamah Iis, gimana mah?" tanya Puja kepada Iis.
"Halaah mana mau Bagja sama yang masih ngompol dicelana." ceplos Iis.
"Enggak ih, mamah jangan fitnah." protes Dila.
"Emang kenyataannya gitu, udah bun jangan diterima jadi mantu, enggak bisa ngapa-ngapain. Masak aja enggak becus, tidur masih ngompol. Mana mau si Bagja." ucap Iis kepada Puja. Puja hanya terkekeh melihat pertengkaran anak dan ibu tersebut lalu membawa Dila ke pelukannya karena saat ini Dila tengah badmood. Namun tiba-tiba Alya datang.
"Assalamu'alaikum" sapa Alya.
"Waalaikumsalam" jawab mereka berbarengan. Alya mencium tangan Puja dan Iis. Lalu duduk disofa yang masih kosong.
__ADS_1
"Tante ini Alya bawa rendang ayam sama pesmol ikan." ucap Alya sembari menyimpan sebuah tantangan keatas nakas.
"Ya ampuun ngerepotin calon mantu, rajin banget, ini Alya yang masak?" tanya Puja.
"Iya tante. Diajarin umi." ucap Alya sopan.
"Nah, itu baru anak gadis, pinter masak, rajin, anggun kayak Alya." celetuk Iis membandingkan dan menyindir Dila.
"Bun, lihat tu bun mamah durhakim!" ucap Dila merengek manja kepada Puja.
"Udah jangan digubris, nanti biar bunda kutuk jadi sarang tawon." ucap Puja.
"Jangan bun, nanti bapak kesepian." ucap Dila.
"Ya enggak, bapak kamu kan jadi tawon nya. hahah...!" Puja tertawa puas. Iis lagi-lagi hanya menggeleng pelan. Sedangkan Alya, dalam hati kecilnya ada rasa cemburu kepada Dila yang terlihat begitu disayang oleh Puja. Namun dia menutupi semua itu dengan tetap tersenyum.
"Oh iya, rumah jahit umi kamu pasti lagi dapet banyak orderan ya Al, sebentar lagi kan mau puasa." ucap Puja.
"Alhamdulillah tante, lumayan rame. Apa tante mau dibikinin Baju?" tanya Alya.
"Iya, besok kesana sekeluarga, pengen jahit buat baju keluarga. Mau couplean." ucap Puja.
"Dila diajak kan bun?" tanya Dila.
"Iya diajak dong sayang, kamu kan anak bungsu bunda." ucap Puja sembari mengelus rambut Dila.
"Yeeyy.. bunda emang terbaikkk!!" ucap Dila sembari mengacungkan kedua jempolnya.
//
Sementara ditempat lainnya, Vino tengah cemberut karena ternyata pakan ikan yang kata Sofyan cuma sedikit itu nyatanya menumpuk hingga membentuk sebuah gunungan kecil.
"Ini mah banyak atuh yah, mau sebulan juga belum kelar." ucap Vino saat mereka berasa di sebuah gudang penyimpanan pakan didarat yang dulunya warung ceu Imas kini dibeli Sofyan dan dijadikan gudang untuk menyimpan pakan.
"Ya enggak semua, sepuluh karung aja, paling 3 kali balikan lah." ucap Sofyan.
"Nanti habis itu bantu kasih makan ikan." ucap Sofyan tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah menambah tugas yang tadinya hanya mengangkut pakan, kini ditambah harus memberi makan ikan.
"Loh yah? kok jadi makin banyak sih tugasnya?" protes Vino.
"Sekalian ngapasih, biar punya otot kamu tuh, enggak lemes. Mau kamu jadi laki-laki gemulai?" tanya Sofyan.
"Ya enggak lah yah." jawab Vino merengut.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1