
Sementara itu di tempat lainnya Puja tengah gelendotan mesra kepada Sofyan. Dia memainkan dada Sofyan yang kini sudah menjadi tempat favorit dan kesukaannya selain bola dragon Ball dan keris sakti.
"Sayang, ada yang mau Puja omongin." ucap Puja manja.
"Ada apa hm?" tanya Sofyan sembari menciumi rambut Puja yang wangi.
"Puja sama Iis pengen buka salon, boleh enggak?" tanya Puja.
"Buka salon dimana?" tanya Sofyan.
"Di ** *******, kan rumah kontrakan Risma itu kosong kang, akang kan udah terlanjur kontrak 2 tahun, sayang kalau enggak dipake, lebih baik dimanfaatin. Pinggir jalan soalnya tempatnya rame." ucap Puja.
"Tapi akang enggak mau loh kamu sampai kelelahan dan ketika kang Sofyan minta hal akang kamu alesan capek." ucap Sofyan.
"Yang kerja si Iis sama nanti cari karyawan satu orang apa dua orang, kita modalin aja. Jadi Puja mah disana paling cuma jadi mandor aja hehe.." ucap Puja.
"Mau ikut-ikut kang Sofyan gitu?" tanya Sofyan.
"Enggaklah, akang mah juragan tapi sering ikut nyelem, ikut kerja juga gak mau diem, kalau Puja mah entar cuma ongkang-ongkang kaki aja hehe..." jawab Puja.
"Diem aja cuma mau duitnya aja gitu hm" ucap Sofyan sembari mencubit gemas hidup Puja.
"Sakit loh, senengannya nyubit hidung." ucap Puja kesal.
"Nyubit ini aja boleh enggak?" bisik Sofyan sembari memilin Choco chip Puja.
"Eungh...! nakal ih!" ucap Puja sembari meremaas terong kukus milik Sofyan.
"Dasar penggoda!" bisik Sofyan sembari menggigit kecil cuping Puja.
"Kang, udah ih. Gak bosen apa itu-itu mulu. Mesti deh tiap deketan langsung kesetrum." ucap Puja kesal. Pasalnya Sofyan setiap hari tak pernah absen meminta jatah kepadanya, bisa sampai tiga kali sehari atau bahkan lebih. Puja kan malu, emak selalu menyindir nya.
"Biasanya juga mau, kenapa jadi enggak mau?" tanya Sofyan.
"Bukan enggak mau, tapi punya Puja udah lecet kang, akang gempur terus. Lagian nih, saran dokter kalau mau cepet jadi itu seminggu tiga kali bukan sehari tiga kali kang." jelas Puja.
"Jadi akang puasa nih??" tanya Sofyan dengan tampang melas.
"Puasa gimana? tadi shubuh udah dikasih, barusan juga di kasih kayak gitu masih bilang puasa." ucap Puja.
"Hehe.. baru dia kali, kalau bisa tujuh kali." bisik Sofyan sambil terkekeh karena Puja langsung mengerucutkan bibirnya membuat Sofyan semakin gemas.
"Kang, gimana soal tadi, boleh enggak?" tanya Puja.
"Modalnya besar enggak?" tanya Sofyan.
"Enggak tahu, ya modal awal paling sekitar sepuluh jutaan lah." jawab Puja.
"Ooh, tunggu panen dulu ya." ucap Sofyan.
__ADS_1
"Enggak usah kang, pake uang yang ada di Puja aja." jawab Puja.
"Tapi kan kmaren udah dipake buat biayain operasi adiknya Iis sayang, apa masih ada?" tanya Sofyan.
"Masih ada, masih cukup kok." jawab Puja.
"Tapi jangan sampai kamu jadi kekurangan buat kebutuhan kamu sendiri loh. Akang panen masih sebulan lagi." ucap Sofyan.
"Enggak kok sayang tenang aja. Yang penting akang juga dukung Puja ya." ucap Puja.
"Iya, inget enggak boleh capek-capek, akang enggak mau kalau jatah kang Sofyan sampai dikurang-kurangin." pesan Sofyan.
"Iya iya ih, yang difikirin itu mulu." ucap Puja. Sofyan hanya tersenyum lalu memeluk Puja dengan posessive.
//
"Jadi makin Mahmud mau melamar Iis anak saya?" tanya Ibunya Iis.
"Iya bu. Saya ingin menjadikan Iis sebagai istri saya." ucap Mahmud.
"Apa kak Mahmud sudah tahu bagaimana pekerjaan dan seluk beluk tentang Iis?" tanya ibunya Iis.
"Sudah bu, dan saya Terima semua itu apapun kekurangan Iis akan saya terima. dengan pernikahan ini kami akan berjuang untuk saling melengkapi satu sama lain." ucap Mahmud.
"Kalau ibu sih terserah Iis saja nak Mahmud. karena yang menjalani kan Iis. Ibu hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk kalian berdua." ucap ibunya Iis.
"Tidak ada alasan untuk menolak, lagi pula Iis memang sudah waktunya menikah. Tidak mungkin selamanya jadi tulang punggung keluarga, dia juga berhak bahagia. Ibu akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan kami sendiri." ucap ibunya Iis.
"Soal itu ibu tenang aja ya, saya janji saya akan bantu ibu dan Raihan, kami sudah saling sepakat kok bu. Kami akan sama-sama berusaha." ucap Mahmud.
"Iya bu, ibu tenang aja ya." ucap Iis.
"Tapi Is kalian kan mau menikah, masa ibu masih dinafkahi sama kamu?" tanya ibunya Iis.
"Enggak apa-apa bu. Itu sudah jadi kewajiban kami sebagai anak. Anggap itu bakti kami bu, jangan merasa tak enak." ucap Mahmud.
"Iya nak. Terimakasih ya sudah mau menerima Iis." ucap ibunya Iis.
"Iya bu, Sama-sama. malah saya yang merasa sangat beruntung bisa mendapatkan Iis." ucap Mahmud.
"Oh iya bu, ini sudah malam jadi saya permisi pamit pulang dulu ya bu." ucap Mahmud.
"Iya nak Mahmud, kabar-kabar aja ya kalau mau kesini lagi." ucap ibunya Iis.
"Iya bu, semoga Raihan cepat pulih seperti sedia kala. Assalamu'alaikum." pamit Mahmud.
"Aamiin. Waalaikumsalam, Hati-hati di jalan nak Mahmud." pesan ibunya Iis.
"Iya bu." jawab Mahmud. Setelah itu Mahmud dan Iis jalan beriringan hingga kehalaman tempat motor Mahmud diparkir.
__ADS_1
"Akang, besok manggilnya jangan ibu lagi, mamah atuh." ucap Iis.
"Iya, besok panggil mamah. Ya udah akang pulang dulu ya." ucap Mahmud.
"Hati-hati dijalan ya kang." ucap Iis sembari mengalungkan tangannya dileher Mahmud.
"Iya, kamu juga hati-hati." jawab Mahmud sembari melingkarkan tangannya dipinggang Iis.
"Kenapa hati-hati segala?" tanya Iis bingung.
"Karena nanti banyak nyamuk genit yang gigitin kamu." ucap Mahmud.
"Ish! sama nyamuk aja cemburu." ucap Iis.
"Iya lah, karena kalau cantiknya seperti kamu mah nyamuk aja jadi nafsuu" bisik Mahmud. Mereka saling berpandangan sejenak lalu kembali menyatukan bibir mereka. Hanya sebentar karena takut di grebeg warga.
//
"Mud dari mana aja ditungguin dari tadi." ucap emaknya Mahmud.
"Habis dari..."
"Udah sini ayo duduk. Ada yang mau emak bicarakan." ucap emaknya Mahmud.
"Ada apa mak?" tanya Mahmud ketika mereka sudah sama-sama duduk.
"Tadi, pas emak jenguk si Nensi, emak enggak sengaja ketemu sama Imas." ucap emaknya Mahmud.
"Ceu Imas?" ulang Mahmud.
"Iya Mud. Tadi dia datang sama anaknya, ih meni cantik Mud, shalehah lagi, kalem banget anaknya. Katanya sebentar lagi lulus dari pondok." ucap emak.
"Iya Mahmud udah tahu mak." jawab Mahmud.
"Terus kapan?" tanya emak.
"Kapan apa mak?" tanya Mahmud.
"Kapan kamu lamar dia?" tanya Emaknya Mahmud.
"Hah? kok jadi ngelamar? Mahmud enggak ada hubungan apa-apa sama dia mak." jawab Mahmud.
"Tapi tadi ceu Imas bilang katanya kamu udah kenalan sama dia, udah cocok. Tadi dia udah manggil-manggil emak bu besan segala didepan orang-orang." ucap emak.
"Apa??"
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Ceu Imas semakin didepan buahahaha.
__ADS_1