
Siang harinya Vino dan Alya akhirnya pulang kerumah Puja dan Bagja setelah menghabiskan waktu mereka di Villa. Alya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum manis dibibirnya saat mengingat betapa Vino sangat manis saat diatas ranjang tadi pagi. Alya dapat merasakan jika Vino juga sangat menikmati percintaan mereka. Tapi mungkin saat ini Vino masih malu untuk mengakui semua itu.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat jam, mereka akhirnya sampai dirumah. Dan ternyata Rumah sedang dalam keadaan kosong. Vino mengambil kunci cadangan di dalam ranselnya, kemudian membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa karena perutnya merasa lapar. Dia menaruh tas ransel didalam kamarnya kemudian ke dapur mencari lauk pauk dan nasi. Ternyata hanya ada nasi putih, tak ada lauk apapun karena memang tadi Puja hanya memasak bayam dan tempe goreng untuk sarapan.
"Masa aku makan pakai garem doang" keluh Vino.
"Kenapa? lapar?" tanya Alya yang tiba-tiba berada dibelakangnya.
"Hm!" jawab Vino singkat.
"Aku masakin mie ya, mau?" tawar Alya.
"Boleh deh, tapi tetep dikasih nasi. Lapar soalnya." ucap Vino.
"Iya, kamu tunggu dimeja makan aja." ucap Alya. Bio tak menjawab dan melengos begitu saja menuju meja makan. Dengan cepat Alya memasak mie rebus dengan satu telur dan sedikit sayuran dan juga cabai rawit agar Lebih bervariasi. Dia menuangkan nasi kedalam piring kemudian setelah mienya matang, menyajikannya ke hadapan Vino.
"Ini," ucap Alya.
"Makasih." Ucap Vino.
"Sama-sama," jawab Alya. Dengan lahap Vino memakan mie rebus buatan Alya, rasanya memang seperti mie rebus biasa, tapi entah kenapa Vino merasa mie rebus ini istimewa.
"Rasanya lain." ucap Vino yang kini menuangkan nasi kedalam mangkuk mie rebusnya.
"Lain gimana?" tanya Alya.
"Lebih enak dari biasanya." ucap Vino dengan wajah datar. Alya tersenyum senang.
"Itu karena aku buatnya ditambah bumbu rahasia." ucap Alya.
"Bumbu apa?" tanya Vino.
"Bumbu cinta." jawab Alya malu-malu.
Uhukkk!!
Vino sampai tersedak mendengarnya, sejak kapan Alya jadi cenntiil begini.
"Minum dulu." Alya menyodorkan segelas air putih kehadapan Vino. Vino mengambilnya dengan tergesa dan menegak habis air putih itu.
"Lain kali jangan suka ngagetin orang." ucap Vino.
"Siapa yang ngagetin? kayak gitu kok dibilang ngagetin." ucap Alya.
"Terserah deh, udah jangan ngajak ngomong. Aku mau ngelanjutin makannya." ucap Vino.
__ADS_1
"Aku minta." ucap Alya sambil membuka mulutnya.
"Bikin sendiri ngapa, ganggu orang aja. Lagian ini udah diaduk-aduk, apa kamu enggak jijik?" tanya Vino.
"Enggak kok. Kenapa harus jijik," ucap Alya sambil menyentuh tangan Vino dan mengarahkan sendok berisi mie itu ke mulutnya.
"Haaamm! enak!" ucap Alya sambil tersenyum. Vino menatap Alya dengan tatapan haru, Alya sukses memporak-porandakan perasaannya saat ini. Dia jadi merasa bersalah sudah menyakiti Alya dengan ucapannya.
"Kebiasaan kalau makan belepotan." ucap Vino sambil mengelap sudut bibir Alya yang terkena remahan nasi. Alya menangkap tangan Vino dan menciumnya dengan lembut. Lalu balas menatap Vino dengan tatapan penuh cinta. Mereka saling berpandangan, sampai tak sadar akan kedatangan Sofyan.
Ehem!
"Udah pulang Vin?" tanya Sofyan yang sontak membuyarkan lamunan mereka.
"A-ayah. Eh, iya yah Vino baru aja sampe." jawab Vino tergagap.
"Katanya tiga hari, kenapa udah pulang aja?" tanya Sofyan.
"Itu karena Alya alergi dingin yah, kasihan badannya bentol-bentol karena enggak kuat sama udara disana." ucap Vino menjelaskan.
"Ooh, iya lain kali cari tempat yang panas aja, misal ke pantai gitu apa kemana kek, jangan yang dingin-dingin." ucap Sofyan.
"Iya yah" jawab Vino dan Alya bersamaan.
"Dila sama mamah kalian ke Salon, kalau Bagja kan udah mulai masuk kerja hari ini." jawab Sofyan.
"Ya udah yah, kalau gitu Alya masak dulu." ucap Alya yang hendak beranjak ke dapur.
"Enggak usah Al, nanti biar mamah Puja nyari makanan jadi aja. Beli diwarung nasi. Kalian baru sampe istirahat aja." ucap Sofyan.
"Enggak apa-apa kok yah, Alya enggak capek." ucap Alya kekeh.
"Besok aja masaknya ya. Udah kamu ajak Alya istirahat Vin." titah Sofyan kepada Vino.
"Kalau gitu Alya bikinin teh ya yah, ayah pasti capek habis pulang kerja." ucap Alya menawarkan.
"Ya udah atuh kalau maksa mah." ucap Sofyan.
"Aku juga mau bukan ayah aja yang mau." ucap Vino yang tak mau kalah.
"Iya, nanti aku bikinin dua." ucap Alya, setelah itu dia pergi ke dapur.
//
Jam kerja Bagja sudah usah, dia yang sudah kangen berat kepada Dila langsung buru-buru membereskan barang-barangnya dan memasukkan nya kedalam tas. Lalu dengan tergesa dia berjalan kelaur dari dalam kantor, namun saat didepan pintu masuk dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita.
__ADS_1
Bugh!
"Maaf, maaf saya enggak sengaja." ucap Bagja sambil mengulurkan tangannya. Wanita itu menerima uluran tangan Bagja dan seketika itu juga dia memekik kaget.
"Loh kak Bagja?" tanya wanita itu.
"Kamu kenal saya?" tanya Bagja sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kenal dong kak, apa kak Bagja lupa sama aku. Aku yang dulu pernah ditolongin sama kak Bagja pas aku dihadang preman-preman." ucap wanita itu. Bagja mencoba mengingat-ingat, namun dia tak ingat apapun.
"Maaf saya enggak ingat, mungkin kejadiannya udah lama kali." ucap Bagja.
"Iya memang udah lama sih, tapi kita kan masih satu kampus, kak Bagja kakak kelas aku. Masa lupa, kita juga enggak sengaja sering papasan di kampus." ucap wanita itu mencoba mengingatkan.
"Siapa sih?" tanya Bagja yang bingung.
"Aku Anya kak." ucap wanita itu yang ternyata bernama Anya.
"Anya, iya saya sepertinya pernah denger, tapi udah lupa wajahnya." ucap Bagja.
"Iya, mungkin karena kak Bagja itu terlalu serius dalam belajar jadi enggak pernah memikirkan soal perempuan." ucap Anya.
"Iya kali. Ya udah saya duluan, masih ada urusan penting." ucap Bagja yang buru-buru pamit karena sudah tak sabar ingin bertemu Dila.
"Iya kak, hati-hati." pesan Anya. Anya tersenyum senang menatap kepergian Bagja yang semakin lama semakin menjauh.
'Aku enggak nyangka kita ketemu disini, bertahun-tahun aku mencari kamu kak, dan ternyata kita bertemu ditempat ini. Kamu semakin tampan dan manis, tidak ketinggalan cuek bebeknya yang membuat aku semakin kelepek-klepek.' ucapnya di dalam hati.
//
"Dil, Dila?" Bagja masuk dengan tergesa ke dalam salon mencari keberadaan Dila. Namun dia tak menemukan Dila dimanapun.
"Mah, Dila mana?" tanya Bagja kepada Iis.
"Tadi sih tiduran di sofa, entah deh sekarang dimana." jawab Iis yang masih beres-beres. Bagja mencoba menghubungi Dila, namun ternyata tas Dila masih berada di atas sofa.
"Tasnya masih disini berarti orangnya juga masih disini." gumam Bagja. Tak lama kemudian Dila keluar dari dalam kamar mandi dan langsung disambut dengan pelukan penuh cinta oleh Bagja.
"Aa cariin kemana-mana tahunya didalam toilet. Aa kangen banget." ucap Bagja sambil memeluk Dila dengan mesra.
"A, masih ada mamah sama bunda loh." ucap Dila mengingatkan. Bagja tersadar lalu menengok kearah Puja dan Iis yang sedang tertawa cengar-cengir.
"Ya ampun, anak mamah jadi bucin akut begini." ucap Puja sambil terkekeh. Tak menyangka anak kulkas 50 pintu itu akan menjadi seorang pria bucin seperti ayahnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1