
Ikhsan mengantar Shilla ke sebuah toko perhiasan karena ingin memilih cincin pertunangan mereka, dan kini tinggallah Alya dan Damar yang duduk berdua.
"Kuliah semester berapa Al?" tanya Damar.
"Baru semester dua," jawab Alya.
"Oh," jawab Damar yang hanya bisa ber-oh ria karena sikap Alya yang begitu dingin dan berbicara seperlunya saja.
"Kalau Kak Damar kerja dimana?" tanya Alya yang mulai berani bertanya.
"Kerja di perusahaan xx xxxxxx, hanya karyawan biasa, tidak seperti Ikhsan yang jadi bos," jawab Damar.
"Ya setidaknya sudah kerja Kak, banyak yang masih nganggur di luaran sana, harusnya Kak Damar bersyukur," ucap Alya.
"Tentu saya sangat bersyukur Al, apalagi kalau punya istri seperti kamu," ucap Damar.
"Hah?" Alya terkejut mendengar penuturan Damar.
"Eh, enggak itu saya hanya salah ucap, hehe" Damar tersenyum kikuk.
Alya sendiri hanya bisa tersenyum kaku, entah kenapa perasaannya jadi merasa bersalah kepada Vino. Padahal dia dan Damar tidak melakukan apa-apa. Tapi dia merasa tak enak hati. Ah, kenapa sekarang dia jadi merindukan Vino. Sejak tadi di otaknya hanya ada Vino, Vino dan Vino.
"Hey, kok malah melamun?" tanya Damar.
"Eh, enggak kok Kak, Alya hanya bingung mau ngobrolin apa," ucap Alya.
"Ngobrolin hobby aja gimana? Siapa tahu hobby kita sama," cetus Damar.
"Hobby ya, emang hobby Kak Damar apa?" tanya Alya.
"Kamu dulu deh yang sebutin hobby kamu," ucap Damar.
"Alya hobby baca, terutama novel romantis," ucap Alya.
"Tukang halu dong?" ucap Damar sambil terkekeh kecil.
"Ish, enggak lah Kak, enak aja," ucap Alya sambil cemberut.
"Terus kenapa kok hobby baca novel? memang apa yang menarik?" tanya Damar.
"Alya suka baca novel karena kehidupan di dalam novel itu terlalu sempurna, biarpun ada masalah segera dapat diatasi, pokoknya suka aja, otak kita jadi traveling dan merasa jadi pemeran utama dari cerita itu. Seru dan merasa punya pengalaman, apalagi kalau setting tempatnya di luar negeri, berasa udah keliling dunia aja, hehe" ucap Alya menjelaskan.
"Kalau mau traveling kenapa harus baca novel dulu, aneh kamu Al," ucap Damar sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Namanya juga hobby, kalau udah suka ya seperti itu adanya. Kalau kak Damar apa hobby nya?" tanya Alya.
"Melukis dan membaca juga," ucap Damar.
"Wow, seniman dong? bolehlah sekali-sekali Alya minta dilukis," ucap Alya.
"Boleh tentu saja boleh," jawab Damar.
"Oh iya, hobby baca apa? novel juga?" tanya Alya.
"Apapun bukunya saja baca kecuali novel," ucap Damar.
"Kenapa?" tanya Alya.
"Karena saya lebih suka yang realistis dari pada haluistis," jawab Damar sambil terkekeh. Alya ikut tertawa bersama Damar, dari sana Alya dan Damar semakin akrab, Alya sudah tak canggung lagi dan menganggap Damar seperti kakaknya sendiri. Sehingga dia lebih terbuka dan leluasa untuk bercerita tentang hal-hal yang dianggapnya sedikit pribadi.
//
"Vin, sedang ada masalah apa antara kamu dan Alya?" tanya Sofyan saat mereka sedang duduk di saung apung selepas bekerja. Sofyan yang melihat gelagat aneh putra bungsunya itu merasa heran dan penasaran. Karena tak biasanya Vino bekerja begitu giat dan membantunya di tambak tanpa di suruh dahulu seperti biasanya.
"Enggak ada apa-apa Yah," jawab Vino sambil menunduk menikmati bekal yang dimasak oleh Puja.
"Jangan bohong sama Ayah, jujurlah." Ucap Sofyan.
"Apa ini karena perasaan kamu ke Dila?" tanya Sofyan dengan sorot mengintimidasi.
"Hah? A-ayah tahu dari mana?" Vino gelagapan.
"Ternyata benar," jawab Sofyan sambil menghembuskan nafasnya.
"Maaf Yah, Vino.."
"Iya Ayah faham, sudahlah sekarang lebih baik kamu perbaiki hubungan kamu dan Alya. Dila sudah menjadi Kakak ipar kamu, jodohnya memang sama Bagja. Jadi lelaki jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan," ucap Sofyan menasehati. Dia jadi teringat saat patah hati dulu, saat Ratna memutuskan menikah dengan Ilyas, lalu kemudian menikah dengan Marvel. Dua kali Sofyan mengalami patah hati karena wanita yang sama.
"Ayah bicara begitu karena enggak pernah ngerasain rasanya patah hati," ucap Vino.
"Siapa bilang enggak pernah? Justru karena Ayah pernah merasakannya mangkanya Ayah semangatin Vino," ucap Sofyan.
"Masa? Emang Mamah pernah selingkuh?" tanya Vino.
"Bukan Mamah, tapi Uwa kamu," ucap Sofyan.
"Hah? Uwa? Uwa Ratna maksudnya?" tanya Vino.
__ADS_1
"Iya, Uwa kamu dulu yang bikin Ayah patah hati. Dua kali malahan," ucap Sofyan sambil memandang jauh ke depan. Hamparan air dan hembusan angin terasa begitu menenangkan hatinya.
"Ayah jangan ngada-ngada deh," ucap Vino tak percaya.
"Ayah serius, Ayah ditinggal nikah dua kali sama Ratna. Saat itu Ayah begitu terpuruk, dan Mamah kamu wanita yang berhasil membuat Ayah move-on. Wanita yang berhasil menghilangkan perasaan itu tanpa bekas sedikitpun." ucap Sofyan sambil memejamkan matanya. Dia tersenyum saat mengingat kenangannya bersama Puja ketika masih muda dulu.
"Kenapa Ayah bisa jatuh cinta ke Mamah? padahal karakter Mamah dan Uwa beda jauh," tanya Vino.
"Ayah juga enggak tahu, semuanya mengalir begitu saja. Dan Ayah baru menyadari perasaan itu ketika Mamah kamu pergi," ucap Sofyan.
"Mamah pernah pergi?" tanya Vino.
"Sering bukan pernah lagi. Malah pernah pergi ke Jakarta pas hamil Bagja, kalau diceritakan mah panjanglah. Yang jelas Ayah hanya ingin mengingatkan Vino, jangan sampai Vino menyesal saat wanita itu sudah pergi. Seperti Alya misalnya, mungkin aja Vino udah punya perasaan sama Alya tapi Vino belum menyadari. Nanti kalau Alya sampai bersama laki-laki lain, baru Vino sadar. Tapi saat itu udah terlambat. Kan nyesek banget? mangkanya lebih baik perjuangan apa yang halal, yang halal buat Vino itu Alya bukan Dila." ucap Sofyan panjang lebar.
Baru kali ini Vino melihat sisi Sofyan berbicara panjang lebar. Biasanya sikap Sofyan sangat dingin dan tak banyak bicara. Tapi saat ini Vino merasa seperti memiliki seorang teman bukan hanya sosok ayah.
"Alya blokir nomor Vino Yah, dia juga bilang akan menggugat cerai Vino. Vino bingung harus bagaimana," ucap Vino sendu.
"Ya disusul kerumahnya," ucap Sofyan.
"Ada Bang Ikhsan Yah, dia udah tahu. Vino yakin Bang Ikhsan enggak bakal biarin Vino bawa Alya pulang," ucap Vino.
"Jadi masalahnya di Ikhsan? Ya udah nanti Ayah telfon Ikhsan. Kalau dia masih kekeh. Biar Ayah jewer telinganya," ucap Sofyan.
"Ayah kok kayak deket banget sama Bang Ikhsan?" tanya Vino penasaran.
"Dulu kecilnya Ayah sering bantu ngasuh Ikhsan pas Uwa kamu belum nikah sama Marvel," ucap Sofyan.
"Oohh.. makasih ya Yah udah mau bantuin Vino," ucap Vino sambil memandang Sofyan dengan rasa haru.
"Ayah bantuin kamu karena enggak mau pacar Ayah sampai sedih," ucap Sofyan.
"Pacar Ayah?" tanya Vino membeo.
"Mamah kamu," ucap Sofyan.
"Oohh istrinya Ayah yang manja dan nakal itu?" ucap Vino sambil terkekeh.
"Jangan pernah mengejek istriku!" ucap Sofyan galak.
"Iya lah iya istri Ayah yang kalem dan baik hati, Sholehah paripurna." ucap Vino memuji-muji Puja.
"Itu baru bener," ucap Sofyan sambil memeluk Vino dengan rasa bangga. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka ngobrol sedekat ini, panjang lebar, ngalor ngidul dari cirata sampai Amerika.
__ADS_1